
Ruangan bersuhu dingin ditemani segelas kopi hangat beraroma cukup harum.
Matanya tengah terfokus pada layar komputer di depannya. Mata yang dipaksakan untuk tetap terbuka membuat terasa cukup perih, bagaimana tidak semalam ini ia hanya tidur beberapa jam saja.
Asisten Kim menghela nafas panjang, ia ingin sekali tidur walau hanya satu jam saja. Tetapi itu tidak mungkin, ia harus menyelesaikan pekerjaan Sean.
Tok.. tok.. tok.. tok..
Suara pintu diketuk, ia melihat Mauren membuka pintu dengan membawa berkas di tangannya. Matanya pun terlihat seperti mata panda akibat kekurangan tidur.
Mauren menarik kursi lalu duduk menghadap Asisten Kim, ia menyodorkan berkas itu.
"Bagaimana keadaan oppaku?" tanya Mauren.
"Dia sudah pulih hanya saja ia harus beristirahat cukup banyak," jawab Asisten Kim sambil menandatangani berkas itu.
Mauren berdecak ia cukup kesal karena tidak bisa menjenguk Sean. Sebagai seorang istri sah ia ingin menemani suaminya dan menyemangatinya tetapi itu semua tidak mungkin. Dia adalah istri tersembunyi yang suatu saat terbongkar keberadaannya.
"Nona. Saya akan ke apartemen, paranormal itu akan datang siang ini. Anda mau ikut?" tanya Asisten Kim sambil menyerahkan berkas itu kepada Mauren.
"Bisakah aku ikut? Saat ini aku sedang bekerja"
"Bisa saja Nona, sementara ini saya yang menghandle perusahaan ini. Saya akan mengizinkan Nona untuk keluar bersama saya"
Mauren setuju lalu ikut bersama Asisten Kim menuju apartemen mewah tapi cukup horor itu. Dalam perjalanan mereka semua terlihat beberapa kali menguap, rasa kantuk tak kunjung hilang setelah meminum beberapa gelas kopi. Mauren selalu melirik Asisten Kim, ia takut jika pria itu tertidur saat sedang menyetir. Dan akhirnya Mauren mengajak mengobrol Asisten Kim, ia sedikit kepo tentang lelaki misterius itu.
"Kau orang negara lain ya? Dimana keluargamu? Kau tinggal sendiri di negara ini?"
"Saya orang Cina dan saya yatim piatu"
Ucapan Asisten Kim membuat Mauren terkejut, ia meminta maaf karena bertanya yang membuat Asisten Kim terlihat sedih.
Pria itu tersenyum sangat manis membuat Mauren memalingkan wajah dan tidak berani melihatnya lagi. Dia menyadari pria yang di dekatnya itu sangat tampan dan mengeluarkan pancaran yang sangat mempesona bagi setiap yang melihatnya. Tak heran pegawai di perusahaan itu banyak yang menyukai Asisten Kim.
Satu jam kemudian mereka sampai di apartemen nampak paranormal itu sudah menunggu. Mereka segera menuju ke apartemen Sean.
Setelah sampai paranormal itu melakukan ritulanya. Asisten Kim dan Mauren berada tepat di belakangnya.
"Poro dedemit sing ono nang kene, ngilango! ngilango! ngilango! Ojo ngganggu! Ojo ngganggu! Sejatine alammu kui uwes bedo," ucap paranormal itu.
Paranormal itu mengambil segelas air yang berisi ramalan doa-doa. Dia meminum air itu lalu menyemburkan ke wajah Mauren dan Asisten Kim membuat mereka sangat terkejut dan saling memandang.
"Iyuuuuuh... Kenapa kita yang disembur?" bisik Mauren ke Asisten Kim.
Asisten Kim menggelengkan kepala, ia lalu mengambil sapu tangan dan menyerahkan kepada Mauren. Mauren dengan jijik mengelap bekas air semburan itu dan Asisten Kim mengelap menggunakan tisu.
"Tuan dan Nona, saya sudah membersihkan hantu-hantu di ruangan ini. Saya pastikan tempat ini sudah aman untuk di tinggali dan kalian bisa melakukan asoy-asoy dengan tenang tanpa gangguan," jelas paranormal itu.
Asisten Kim dan Mauren saling memandang meresapi ucapan paranormal itu.
Setelah paranormal itu selesai, Asisten Kim mengantarnya sampai kebawah dan menyuruh Mauren tetap menunggu di apartemen.
Mauren terduduk disofa, ia memandangi foto Sean yang diambilnya dari internet. Dia begitu merindukan Sean, ia rindu setiap umpatan dari suaminya itu.
__ADS_1
10 menit kemudian.
Asisten Kim datang dan mengajak Mauren mengikutinya ke ruang ganti pakaian.
Asisten Kim menyuruh Mauren membuka lemari berpintu dua yang terbuat dari kayu jati kualitas terbaik di dunia.
Mauren mencoba membuka pintu itu tetapi selalu gagal untuk dibuka.
"Pintu yang satunya Nona"
"Cih! Aku pun tau," ucap Mauren yang seolah tidak mau salah.
Tuan dan Nona memang sama. Tidak mau salah ataupun disalahkan. Batin Asisten Kim.
Mulut Mauren ternganga melihat pakaian mahal berada di lemari itu, Asisten Kim menjelaskan jika semua pakaian itu dari Sean untuk Mauren. Dia bisa memakai pakaian itu kapanpun semau Mauren.
Dia melihat satu-persatu baju branded yang tidak mungkin bisa dibelinya walaupun bekerja berbulan-bulan. Bukan hanya baju saja, disana terdapat sepatu, tas dan aksesoris untuk wanita.
"Ku pikir Tuanmu itu sangat pelit"
"Tuan Sean untuk masalah benda atau barang tidak pernah pelit tetapi jika masalah uang Tuan Sean cukup pelit," jelas Asisten Kim.
Mauren tersenyum dan melanjutkan melihat-lihat setiao barang yang berada di lemari besar itu, sampai matanya terbelalak melihat sesuatu yang membuatnya terkejut.
Beberapa bikini tergantung di lemari, lantas ia mengambil salah satu darinya.
"Uhuuuuuuy... Biiii... kiiii... niiii..," ucap Mauren sambil menunjukan baju seksi itu dihadapan Asisten Kim.
Nona. Memang anda tidak punya malu sampai anda sangat yakin menunjukan itu dihadapan saya.
"Eh! Ini untuk apa ya?"
"Anda bisa memakainya saat berenang"
Mauren menganggukan kepala dan segera meletakan pakaian seksi itu pada tempat semula. Dia berjalan keluar dari ruang ganti pakaian dan menuju ranjang. Dia merebahkan tubuhnya di ranjang empuk itu.
"Nona. Kita harus segera kembali ke kantor," ucap Asisten Kim.
"Sebentar saja aku ingin memejamkan mataku, kau bisa tidur di sofa sepertinya kau juga sangat mengantuk, hoaaaam"
Mauren memejamkan mata dan seketika terlelap, Asisten Kim melihatnya cukup terheran mudah sekali gadis itu terlelap padahal belum ada 2 menit.
Rasa lelah dan mengantuk mulai menyerang, ia merebahkan tubuhnya di sofa sampai ikut terlelap.
5 jam kemudian.
"Bangun Asisten Kim! Sudah jam 5 sore," ucap Mauren.
Asisten Kim terbangun lalu terkejut, jantungnya begitu berdegup kencang mengetahui sudah pukul 5 sore.
Mereka segera mencuci muka dan berangkat lagi ke kantor. Perasaan was-was mulai menyerang Asisten Kim, ia sangat takut jika kakek Askar datang ke kantor saat ia tidak berada disana. Mauren melirik Asisten Kim, ia tersenyum melihat wajah pria itu sangat panik.
"Segitu takutkah dengan Tuan Askar? Kupikir dia sangat baik"
__ADS_1
"Tuan Askar sulit ditebak Nona, anda juga harus hati-hati terhadapnya," jelas Asisten Kim.
Tiba-tiba Asisten Kim mendapat telepon dari Mama Sean, beliau menyuruhnya untuk datang ke rumah sakit. Dengan cepat Asisten Kim menuju kesana.
Sesampainya di rumah sakit.
Asisten Kim menyuruh Mauren tetap berada di mobil. Mauren menghela nafas panjang padahal ia ingin masuk dan bertemu dengan suaminya itu.
Rumah sakit keluarga khusus dibuat untuk menangani keluarga dari Kakek Askar dan para petinggi-petinggi perusahaan miliknya terlihat sangat mewah dan bersih, rumah sakit ini tidak cukup besar tetapi didesain seolah seperti hotel bintang 5.
Hanya orang beruntung yang bisa masuk kedalam sini walaupun hanya sebatas untuk menjenguk saja.
Asisten Kim masuk ke kamar VVIP milik Sean, ia melihat sang Tuan sedang sendirian.
"Tuan menyuruh saya kesini?"
"Darimana saja kau? Mama ku menyuruhmu datang kesini sedari siang tetapi malah kau tidak mengangkat telpon," ucap Sean.
Asisten Kim kebingungan apakah ia harus berbicara yang sebenarnya atau harus berbohong.
"Maaf Tuan. Handphone saya mati jadi tidak bisa mengangkat telpon nyonya"
"Cih! Terus bagaimana keadaan Mauren?'
"Dia baik-baik saja Tuan bahkan ia ada di dalam mobil"
"Suruh dia kesini Kim! Aku sangat rindu dengannya," pinta Sean.
"Tapi Tuan saya harus beralasan apa supaya Nona Mauren bisa masuk kesini?" tanya Asisten Kim kebingungan.
"Terserah kau saja. Kau kan pandai membual"
5 menit kemudian.
Mauren masuk keruangan Sean tak lupa ia menebalkan lipstick dan bedaknya supaya wajahnya tidak kumal karena sehabis bangun tidur. Dia masih berdiri di depan pintu memperhatikan Sean yang lemah tak berdaya di ranjang.
"Kemarilah!" ucap Sean.
Mauren berjalan mendekati Sean lantas Sean menarik tubuhnya dan memeluk Mauren.
"Oppa jangan begini! Jika ada yang masuk bagaimana?"
"Kunci pintunya Kim! Dan kau tetap disitu saja!"
Asisten Kim mengunci pintu dan berdiri di depan pintu, ia memalingkan muka ketika Tuannya mulai meraba tubuh Mauren.
"Jangan begini oppa! Ada Asisten Kim dibelakang," ucap Mauren berbisik.
"Colok matanya jika melihat kita!" jawab Sean.
Sean lalu berusaha bangun dalam posisi terbaring ke posisi duduk, Mauren membantunya. Sean lalu sedikit menarik tubuh Mauren supaya lebih dekat dengannya. Tangan Sean mulai meraba paha dibalik rok pendek span hitam itu, tangannya mulai bergerak naik dan menyentuh ar*a k*wanitaan milik sang istri. Dia tersenyum lebar seolah menemukan harta karun sedangkan Mauren merasa risih.
"Ini yang selama ini kau kunci pakai gembok sialan itu. Sekarang enaknya diapakan ya?" ucap Sean menyeringai.
__ADS_1
Matilah aku! Bagaimana ini? Aku belum siap lagipula oppa masih sakit.
Asisten Kim tolonglah aku! Tolong bilang pada Tuanmu ini aku harus kembali ke kantor supaya aku bisa lepas dari macan yang haus akan nafsu ini.