
Setelah siap mandi, mereka berempat segera turun dari apartemen.
Mereka akan menuju ke kebun binatang sesuai permintaan Seina. Sedangkan Daleon tidak begitu tertarik dan asyik bermain game di dalam mobil.
Sean memangku Daleon sedangkan Mauren memangku Seina. Sean memperhatikan cara Daleon bermain game, sangat pandai dan lihai.
"Dale, dokter bilang apa kepadamu? Matamu akan sakit jika bermain ponsel terus," ucap Sean.
Daleon tidak menggubris ucapan sang papa. Dia asyik bermain game sampai membuat Sean sangat geram. Sean merebut paksa ponsel yang di genggam Daleon membuat anak kecil itu menangis kencang.
"Huaaaaa... mama... papa nakal...," rengek Daleon berpindah posisi menghampiri Mauren yang duduk di sebelahnya.
"Dale yang nakal, tidak boleh main game terus nanti mata Dale sakit," jawab Mauren.
Seina lalu duduk di tengah diantara papa mamanya. Sedangkan Daleon sudah di pangkuan Mauren.
Seina tidak berani meminta pangku kepada Sean. Karena Seina sangat takut kepada papanya.
Sean sering memarahinya bahkan jika sedang bertengkar dengan Daleon pasti Seina yang terkena marah.
Sean memainkan poni Seina, walaupun bukan anak kandungnya. Sean sangat menyayangi Seina seperti ia menyayangi Daleon. Tetapi menurut pandangan Seina, papanya sangat benci dengannya karena ia selalu terkena amukan papanya.
"Sein suka jika ke kebun binatang?" tanya Sean.
Seina menganggukan kepalanya.
Sean lalu mengangkat Seina ke pangkuannya. Sean menciumi pipi Seina membuat bocah itu kegelian.
"Papa, pacaran itu apa sih?" tanya Seina.
Sean dan Mauren mengerutkan dahi, ia heran kenapa Seina bisa bertanya seperti itu.
"Kenapa tanya itu?" ucap Sean.
"Kemarin Sein di kasih bunga sama coklat sama temen Sein. Lalu dia bilang mau gak jadi pacarnya? Karena Sein gak tau pacaran itu apa jadi Sein jawab iya," jelas Seina membuat Sean sangat terkejut.
Sean dan Mauren saling berpandangan, mereka sama-sama terkejut.
"Siapa nama temanmu? Biar papa sunat, kurang ajar! Masih kecil sudah pacar-pacaran. Lulus TK pun belum sudah main pacar-pacaran," ucap Sean kesal.
Seina menggigit bibirnya, jika tahu akan membuat marah papanya ia tidak akan bercerita. Seina lalu memeluk Sean dengan erat dan meminta maaf.
"Sudahlah, lain kali jika temanmu ada yang seperti itu segera laporkan papa," ucap Sean sambil mengelus punggung Seina.
Satu jam perjalanan menuju kebun binatang akhirnya mereka sampai juga.
Mereka segera turun dari mobil.
Daleon lalu di gendong oleh Sean dan Seina di gandeng oleh Mauren.
Mereka menuju ke loket untuk membeli karcis dan setelah mendapatkannya mereka segera masuk ke dalam kebun binatang terbesar di kota itu.
Pertama, mereka masuk area burung.
__ADS_1
Seina begitu antusias dan selalu cerewet bertanya apa nama burung-burung itu.
Yang membuatnya ia kagum adalah burung kakak tua yang selalu memanggilnya cantik.
Seina cukup berani, ia berani saat si burung kakak tua berdiri diatas kepalanya. Sean dengan cepat memfotonya dan sedangkan Daleon tidak tertarik sedikitpun.
"Dale mau foto dengan burung?" tanya Sean.
"Gak mau," jawab Daleon.
Sean tersenyum lalu mengajak melihat-lihat yang lain.
Seina terlihat sangat senang karena baru kali ini ia berkunjung di kebun binatang.
"Papa, itu jerapah," ucap Seina sambil menunjuk binatang berleher panjang itu.
Seina langsung mendekati jerapah itu walau hanya diluar pagar.
Mauren segera memfotonya lalu Seina berpose begitu imutnya.
Setelah itu, Sean mendekati Seina lalu menggendongnya dan meminta Mauren untuk memfotokan mereka bertiga.
CEKREK
CEKREK
CEKREK
Setelah itu mereka segera melanjutkan untuk melihat binatang yang lainnya sampai Seina merasa puas.
*****
Arkan, adik dari Arsean William kini sedang menunggu seseorang di cafe.
Arkan kini sangat tampan di usianya yang ke 27 tahun. Dia sangat mirip dengan Sean.
"Sudah menunggu lama?" tanya seorang gadis cantik siapa lagi jika bukan Alana.
"Baru beberapa menit yang lalu aku menunggumu," jawab Arkan.
Alana menyapu pandangan ke seluruh ruangan. Cafe itu terlihat sangat sepi dan hanya ada mereka berdua saja.
"Ini beneran hanya kita berdua disini?" tanya Alana.
Arkan menganggukan kepala lalu menjentikan jarinya untuk memanggil pelayan. Mereka lalu memesan makanan dengan menu spesial.
Sambil menunggu makanan, Arkan mengeluarkan sesuatu yang membuat Alana terkejut.
Sebuah kotak cincin ia keluarkan dan ia buka di depan Alana.
"Alana, aku menyiapkan mental ku untuk melakukan ini. Aku tidak mau hubungan kita hanya sebatas pacar saja. Aku ingin ke jenjang yang lebih serius. Jadi mau kah kau menikah denganku dan jadi ibu dari anak-anakku?" ucap Arkan melamar Alana, seorang wanita yang lebih tua 5 tahun darinya.
Sebuah iringan musik romantis mengaluni momen menegangkan bagi Arkan itu.
__ADS_1
Alana masih terpaku pada cincin berlian itu. Dia lalu memalingkan wajah dan menutup kotak cincin yang terbuka itu.
"Maaf, aku tidak bisa, Arkan"
Sebuah jawaban yang membuat Arkan sangat sedih. Mengapa Alana bisa menolaknya?
"Kenapa Alana? Kau tidak mencintaiku?" tanya Arkan.
"Kau tahu sendiri kan jika aku sudah kotor. Aku sangat malu dengan diriku yang menjijikan ini"
Arkan menggenggam tangan Alana, ia tahu jika Alana masih malu dengan dirinya yang pernah melakukan itu sebelum menikah. Bahkan diumurnya yang sudah 32 tahun ini ia masih takut untuk menikah.
"Tidak Alana, kau tidak kotor. Kau masih bersih," ucap Arkan menghibur Alana.
"Aku sudah ternodai Arkan. Aku tidak pantas untukmu"
"Hanya ternodai dari satu pria 'kan? Dan pria itu sudah meninggal lama. Kenapa menyesali semua itu? Itu sudah berlalu dan kau harus membuka lembaran baru Alana sayang dan untuk apa selama ini kita berpacaran 2 tahun? Bukankah untuk menuju ke jenjang pernikahan?" tanya Arkan.
Alana terdiam sejenak, ia cukup trauma dengan laki-laki dan ia mencoba berpacaran dengan laki-laki yang di bawah 5 tahun darinya. Dia memang sangat mencintai Arkan tetapi mengingat masa lalunya ia sangat malu.
"Alana, ku mohon buang semua pikiran negatifmu. Aku menerimamu apa adanya. Jika aku jijik denganmu pasti aku tidak akan mengajakmu berpacaran. Aku malah salut denganmu karena kau sudah jujur kepadaku," ucap Arkan. "Jadi maukah kau menikah denganku?" sambung Arkan sambil menggenggam erat tangan Alana.
Alana menganggukan kepala lalu meneteskan air mata. Dia sangat senang jika Arkan menerima ia apa adanya. Arkan lalu memeluk Alana, ia beranji akan membahagiakannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Setelah lelah berkeliling melihat macam-macam hewan. Sean mengajak ketiga cintanya untuk sekedar duduk melepas penat di taman yang sudah di sediakan.
Mauren membuka kotak bekal yang berisi makanan untuk kedua anaknya.
"Mama, Sheren haus," ucap gadis kecil itu.
Mauren memberikannya air putih lalu memberinya roti pisang kesukaannya.
Sedangkan Daleon meminta susu kotak dan buah strawberry yang dibawa dari rumah.
Mereka berdua nampak menikmati makanan mereka masing-masing.
"Oren sayang, besok aku harus keluar kota 3 hari. Bisa 'kan urus mereka tanpaku?" tanya Sean.
"Iya oppa, aku bisa. Bersama Kak Kim?"
"Iya, kami berencana membuka lahan perkantoran di kota itu," jawab Sean. "Untuk Daleon jangan biarkan dia diluar pengawasan," sambung Sean.
"Oppa terlalu mengkhawatirkan Daleon. Dia normal seperti anak pada umumnya," ucap Mauren dengan suara sangat pelan.
Sean menghela nafas karena Mauren tidak mengetahui tingkah aneh anaknya. Bahkan Sean menemui psikiater tanpa sepengetahuan sang istri.
"Oh ya oppa, bulan ini aku belum kedatangan tamu"
"Kau tidak KB? Aku sudah bilang 'kan jangan memaksakan diri!" ucap Sean marah.
"Aku masih ingin punya anak satu lagi, oppa"
__ADS_1