
Malam hari terasa sunyi.
Setelah lelah beraktivitas seharian ini, Sean merebahkan tubuhnya di samping sang istri, ia memeluk dan mengelus perut Mauren. Dia berharap semoga cepat bertemu si jabang bayi.
"Aku sudah menyiapkan nama untuk putraku. Arsevino Putra William Adinata," ucap Sean sangat senang.
"Panggilannya?"
"Vino"
"Dan jika perempuan?"
"Sudah ku bilang aku tidak ingin mempunyai anak perempuan"
"Oppa jangan bilang begitu! Oppa juga harus menyiapkan nama jika yang lahir anak perempuan," ucap Mauren kesal.
"Hmmm... Akan ku beri nama Arseina putri Sheren Adinata dan panggilannya Seina.
Mauren tersenyum, ia lalu membenamkan wajahnya di tubuh Sean tetapi tiba-tiba ia merasa mual dan ingin muntah.
Hueeeeek... Hueeeeek... Hueeeeek...
Dia lantas menjauhi Sean dengan menutup hidungnya.
Sean kebingungan karena ia baru saja mandi dan hanya menggunakan sabun batang saja.
"Bau Oppa tidak enak seperti e'ek ayam, hueeeek...," ucap Mauren yang merasa perutnya uring-uringan.
"Aku baru saja mandi Oren. Kenapa lagi kau? Aneh sekali," tanya Sean heran.
Mauren menyuruh Sean mandi lagi, ia sungguh tidak tahan dengan aroma busuk yang dikeluarkan oleh Sean. Padahal tubuh Sean sangat wangi dan segar tetapi entah mengapa aroma tersebut malah menjadi busuk di hidung Mauren.
Dengan terpaksa Sean mandi lagi walau hanya 5 menit saja, ia tidak mau berlama-lama mandi karena akan membuatnya sakit.
Kini setelah mandi, ia mendekati Mauren. Dan benar saja, gadis itu tidak merasakan mual lagi ketika dekat dengan Sean.
"Oppa sudah wangi," ucap Mauren sambil mengendus dada Sean.
Hidung kau yang bermasalah. Batin Sean kesal.
"Oppa?"
"Apa lagi kau?"
"Huh! Oppa selalu begitu, aku sedang hamil Oppa," gerutu Mauren.
"Apa lagi sayang?" ucap Sean berpura-pura baik tetapi dalam hati sangat kesal.
"Aku ingin tidur bertiga dengan Kak Kim. Oppa disini, aku di tengah dan Kak Kim disitu," ucap Mauren merengek seperti anak kecil.
"Kau mengidam apa cari kesempatan? Kurang ajar kau!"
Mauren terkejut mendengar ucapan Sean, ia menunjukan mimik wajah yang akan menangis dengan bibir yang di monyong-monyongkan membuat Sean tidak tega dengan Mauren.
"Kau termasuk aneh, bisa-bisanya meminta Kim tidur bersama kita," ucap Sean.
"Demi bayinya, Oppa"
"Kau masih di dalam perut sudah merepotkanku. Awas kau jika lahir nanti masih merepotkanku. Baru lahir kau ku suruh jadi presdir, biar kepala kau botak makin botak," ucap Sean sambil menunjuk perut Mauren.
__ADS_1
Mauren menjewer telinga Sean, ia kesal karena sang suami malah mengumpat ke janin yang ada di perutnya. Mauren menjewer sekeras mungkin membuat Sean kesakitan.
"Oppa jika berucap tidak pernah berpikir dulu, aku benci Oppa," ucap Mauren sambil melepaskan jewerannya.
Sean terkejut lalu meminta maaf, ia lalu mengelus perut Mauren, " Maaf my boy, Papa hanya bercanda. Jadi presdirnya setelah lulus TK saja ya, hehehe"
Mauren menepis tangan Sean, ia segera membalikan badannya membelakangi Sean. Sean meminta maaf lagi tetapi tidak di gubris oleh Mauren.
"Oren sayang, aku minta maaf"
"Hemm... Oppa sok lupa"
"Lupa dengan apa sayang?"
"Lupa dengan permintaanku tadi"
"Permintaan yang mana?"
"Yang tadi"
"Yang tadi yang mana?"
"Yang barusan"
" Yang mana?"
"Yang kubilang"
"Kau bilang apa tadi?"
"Yang itu"
Sabar Sean! Ibu hamil satu ini harus dihadapi dengan penuh kesabaran. Tidak hamil saja sudah merepotkanku apalagi saat hamil. Rasanya seperti menjadi iron man.
"Oppa?"
"Aku ingin tidur bertiga dengan Kak Kim"
Nah, tinggal bilang dari tadi kenapa? Harus muter-muter dulu ngomongnya. Yang ini, yang itu. Buat pusing saja kau. Batin Sean.
Sean mengambil ponselnya, ia menelpon Asisten Kim, " Cepat ke kamarku, Kim! Ibu negara mulai merengek lagi," ucap Sean sedikit kesal.
5 menit kemudian.
Asisten Kim kini sudah berada di kamar Sean dan Mauren, ia sangat terkejut saat mengetahui jika ia harus tidur bersama kedua pasangan aneh itu.
Dia tidak habis pikir jika Mauren memiliki mengidam yang cukup unik.
Sean menghela nafas, ia masih bisa mengabulkan permintaan Mauren yang kurang ajar itu karena Asisten Kim adalah teman dekatnya.
Mereka segera membaringkan diri di ranjang dan Sean tidak lupa menyuruh Kim untuk tidur menjauh dari Mauren.
Mauren melirik Asisten Kim, ia memandangi wajah mulus pria itu bahkan nyamuk pun sampai kepleset.
"Jika bayiku lahir aku ingin dia seperti Kak Kim yang tampan," ucap Mauren.
"Hei kau! Aku yang menghamilimu dan kau malah berdoa seperti itu. Apa menurutmu aku tidak tampan?"
"Oppa sangat tampan tetapi masih tampan Kak Kim"
__ADS_1
Asisten Kim menelan ludah, ia melirik Sean yang menatap tajam kearahnya.
Sedangkan Sean terngiang-ngiang ucapan Dokter Juna pagi tadi.
Ibu hamil selalu benar, Sean. Kau tidak boleh membantahnya.
Ibu hamil selalu benar, Sean. Kau tidak boleh membantahnya.
Ibu hamil selalu benar, Sean. Kau tidak boleh membantahnya.
Sialan! Awas saja Kau, Kim!
Akan ku buat perhitungan denganmu. Batin Sean.
"Sudah puas kau bisa tidur bersama, Kim? Tidak sekalian kau suruh Juna untuk tidur bersama kita disini?" ucap Sean marah.
"Ide bagus, Oppa. Suruh Dokter Juna kesini!"
"Dokter Juna sudah mempunyai istri, Nona," ucap Asisten Kim.
"Telpon saja dulu!" jawab Mauren.
Sean menepuk bibirnya sendiri, ia kini harus berhati-hati dalam setiap berucap kepada Mauren. Karena kini Mauren semakin gila dan tidak masuk akal.
Setengah jam kemudian.
Sean semakin mendongkol karena ia kini harus tidur berempat dengan Kim dan Juna. Entah kenapa kedua temannya sangat bodoh mau mengikuti perintahnya, ia mengusap dadanya untuk menyabarkan diri sendiri.
Untungnya mereka temanku. Jika tidak pasti sudah ku bunuh malam ini.
Sedangkan Mauren tersenyum sendiri karena bisa seranjang dengan 3 pria tampan dan mapan.
"Hei Juna. Kenapa istrimu Kau tinggal?" tanya Sean.
"Aku sedang galau Sean. Dia marah denganku dan mengunci pintu rumahku. Untung saja kau menelponku lalu aku cepat-cepat datang kesini," jawab Dokter Juna.
"Situasi macam apa ini? Huh! Gara-gara mengidam anehmu Mauren. Kita harus tidur berempat," ucap Sean kesal.
Kau yang bodoh, Sean. Kenapa kau turuti keinginan aneh istrimu itu? Hahaha. Batin Dokter Juna.
"Setelah Mauren tertidur kalian harus pergi!"
"Baik Tuan"
"Hem"
Mauren memeluk tubuh Sean. Dia berusaha untuk tertidur tetapi ketika mencium aroma tubuh Sean, ia merasa mual lagi. Sean dengan cepat mengambil minyak kayu putih lalu mengusapkannya di leher Mauren dan dibawah hidung gadis itu.
"Habislah kau, Sean. Malam ini tidur di sofa," ucap Dokter Juna.
Setelah dirasa membaik, Mauren langsung tertidur pulas.
Sean langsung mengecup pipinya dan menyelimutinya.
"Mimpi indah sayang"
"Cieee... sayang," ejek Dokter Juna.
Sean memandangi Juna dan Kim yang masih berbaring di diranjangnya.
__ADS_1
Dia segera menyuruh untuk bangun dari ranjang termahalnya.
"Ayo ikut aku mengobrol di depan kolam renang! Dan setelah ini kalian harus keluar dari apartemenku!"