
"Oppa duduk sini!" pinta Mauren kepada Sean sambil menepuk-nepuk bangku kecil dari kayu.
Sean segera naik keatas bak mobil pick up, ia lalu duduk disebelah Mauren.
Sean kini sudah mengenakan topi yang terbalik dan mengenakan masker supaya orang tidak dapat mengenalinya.
Mereka menunggu pembeli datang dan tidak susah karena mereka sudah berlangganan membeli sayur di orang tua Mauren.
"Beginilah Oppa kehidupan kami, bangun jam 2 pagi hanya untuk mencari sesuap nasi," ucap Mauren.
Sean merangkul Mauren lalu mengecup kening sang istri, dia bangga mempunyai istri pekerja keras seperti Mauren.
"Jangan berkecil hati! Apapun pekerjaan itu jika halal sah-sah saja," ucap Sean.
"Oi... mau jualan apa mesra-mesraan?" tanya Emak-emak memakai jilbab warna merah muda.
Mauren berdecak karena ada yang mengganggu kemesraannya dengan sang suami, dia lantas melayani pembeli tersebut.
"Mau beli apa Mak.e?" tanya Mauren.
"Kentang 2 kilo, Tomat sekilo, Cabe ijo sekilo, sama bawang putih setengah kilo"
Dengan cepat Mauren mengambil dan menimbang satu persatu yang disebutkan tadi, Sean masih memperhatikan apa yang dilakukan sang istri.
Mauren berubah menjadi gadis sederhana tanpa make up dan rambutnya diikat tinggi membuat kecantikannya natural.
"Oppa, tolong ambilkan plastik hitam disana!" pinta Mauren.
Sean mengambilnya dan Mauren menyuruh untuk membukakan plastik itu tetapi nihil, plastik hitam itu sulit terbuka membuat Sean kesal.
"Sulit sekali Oren membuka plastik hitam ini," ucap Sean yang sedang serius berusaha membuka selembar plastik hitam itu.
Mauren yang sedang menimbang kentang meliriknya tetapi tiba-tiba plastik yang di pegang Sean direbut oleh Emak-emak tadi. Beliau membukanya dengan mudah lalu menyerahkannya kepada Sean yang ternganga menatapnya.
"Gitu aja gak bisa Mas. Cemen!" ucap Emak-emak itu sambil menunjukan jempol terbalik kepada Sean.
Cemen! Cemen! Cemen! Cemen! Cemen!
Cemen! Cemen! Cemen! Cemen! Cemen!
Cemen! Cemen! Cemen! Cemen! Cemen!
Kata-kata itu terngiang-ngiang ditelinga Sean. Untuk pertama kalinya ia diremehkan oleh orang lain karena masalah sepele yaitu tidak bisa membuka selembar plastik.
Mauren menyentuh tangan Sean, ia menggelengkan kepalanya pertanda jangan di lawan apalagi emak-emak pasti urusannya bakal panjang.
Sean menghela nafas, ia tersenyum kepada Mauren.
Mauren lalu memasukan pesanan emak-emak tadi kedalam plastik dan segera menyerahkannya kepada emak tadi. Setelah terjadi pembayaran, beliau langsung pergi meninggalkan Sean yang masih mendongkol.
Cih! Aku sudah diremehkan.
Awas saja!
"Bapak kemana neng?" tanya emak-emak lain.
"Sedang sakit, jadi hari ini saya yang gantiin berjualan. Mau beli apa Mak.e?"
"Bawang merahnya sekilo aja, eh neng... bawangnya lagi mahal ya neng. Emang nih lagi musim ujan bikin bawangnya pada busuk, tuh lihat bawangnya eneng pun berair. Bla... bla... bla... bla... (ngoceh tidak jelas)"
Emak-emak ini beli sekilo seperti beli seton. Cih! Banyak bac*t. Batin Sean.
Pembeli mulai berdatangan membuat Mauren kewalahan lalu menyuruh Sean membantunya untuk melayani pembeli.
Sean melayani mereka yang kebanyakan emak-emak rempong itu.
"Mas saya beli cabe keriting sekilo, bawang putih sekilo, bawang merah sekilo sama bunga kol yang besar itu 2 biji aja. Nih, buat masak sop untuk cucu saya, dia suka sekali sop bunga kol. Ih.. jika makan lahapnya minta ampun"
__ADS_1
"Yang mana cabe keriting? Kau lucu juga Buk, aku tidak tanya ibu masak apa kok malah curhat. Cih! Aku mana peduli," jawab Sean mulai kesal.
Tetapi Mauren menyikut Sean, ia memberi kode untuk tidak menyaut omongan emak-emak.
"Ibu ini menyebalkan, Oren. Aku tidak tanya dia masak apa kok dia malah curhat"
Mauren segera memasukan pesanan ibu tadi dan menyerahkannya sebelum ibu rempong tadi marah.
Setelah itu Mauren melayani pembeli lain tanpa menggubris celotehan Sean.
"Mas, bawang merah sekilo berapa?" tanya emak-emak lain.
"33 ribu," jawab Sean singkat.
"Mahal amat, Mas"
"Ingin murah tanam sendiri kau!" jawab Sean ketus.
"28 ribu ya, Mas?" tawar emak-emak itu merayu Sean.
"Jiaaah... mana bisa, Buk? Ibuk tidak kasian dengan petaninya? Mereka menanam bawang sampai kehujanan bahkan sampai ada yang tersambar petir"
Emak-emak rempong itu semakin merayu Sean.
"Dimana Mas sampai ada yang tersambar petir?"
"Di TV, Buk. Ibuk tidak melihat berita? Ibuk bagaimana bisa melewatkan berita yang sangat penting itu. Ibuk harusnya jika mendengar berita itu langsung lapor ke Pak Lurah, bagaimana sih Ibuk ini?" ucap Sean berdebat dengan emak-emak.
Mauren yang mendengar ucapan Sean hanya menahan tawa sambil melayani pembeli lain.
"Untuk apa lapor ke Pak lurah, Mas?" tanya ibu itu penasaran.
"Lapor ke Pak lurah buat surat keterangan tidak mampu membeli bawang 33 ribu. Cih! Harga sudah murah minta murah. Pergi sana kau jauh-jauh!" ucap Sean malah mengusir emak-emak itu.
Mauren menyikut Sean, ia melototi Sean karena malah sang suami berkata ketus kepada pembeli dan terlihat ibu itu mulai marah.
"Siapa suruh kau beli disini?" ucap Sean mengusir ibu itu.
"Mbak, itu suamimu ya? Bisa betah Mbak sama dia?" ucap pembeli lain.
Sabar Mauren. Dia jiwa presdir jadi semua orang ia maki tanpa rasa berdosa. Batin Mauren melihat kelakuan sang suami.
Sean semakin kesal, Mauren hanya tersenyum lalu menyuruh Sean untuk bersabar. Mauren memberikan air putih kepada Sean supaya bisa menenangkan pikirannya.
"Oppa jangan galak-galak dengan pembeli! Mereka bukan pegawai Oppa, mereka pelanggan kita," ucap Mauren.
Sean berdecih lalu mencoba mengontrol emosinya. Dia menghela nafas panjang lalu mulai melayani pembeli lagi.
"Beli apa Oma?" tanya Sean secara halus kepada perempuan tua itu.
"Saya mau beli apa ya Mas?"
"Jiaaaah... kok malah tanya saya?"
"Terus saya harus tanya siapa?"
"Mana saya tahu?"
"Masnya harus tahu dong, bagaimana si Mas melayani pembeli jika tidak tahu?" ucap nenek-nenek itu membuat Sean pusing.
Mauren yang menyadari sang suami akan emosi lagi segera melayani nenek itu.
"Mau beli apa, Nek?" tanya Mauren sopan.
"Beli singkongnya jika ada"
"Nah, itu tau Oma mau beli apa," ucap Sean kesal.
__ADS_1
"Maaf saya kadang pikun"
Cih! Menyebalkan. Kenapa aku selalu mendapat pembeli menyebalkan? Batin Sean.
Sean melirik jam tangannya dan mereka ternyata berjualan belum ada satu jam membuat Sean harus menyabarkan diri.
Dia melihat Mauren yang sibuk melayani pelanggan yang tidak ada habis, ia terpesona dengan Mauren yang berkeringat membuat Sean tidak mengedipkan matanya.
Cantik sekali istriku.
Sean berinisiatif mengambil sapu tangan lalu mengelap keringat Mauren.
Mauren yang sedang mengambil cabe tersenyum kearah Sean.
"Semangat sayangku," ucap Sean sambil mengusap kepala Mauren.
"Cieeeeee.... ci cuit.....," ucap pembeli yang melihat keromantisan mereka.
Mauren tersipu malu, ia menghentikan Sean yang bersikap romantis kepadanya. Mauren lalu menyuruh Sean untuk melayani pelanggan yang tidak ada habisnya.
"Mas cabe setannya sekilo sama cabe rawit ijo setengah aja"
Sean kebingungan. Cabe Setan? Batinnya.
"Cabenya udah mati ya, Buk? Kok jadi setan?" ucap Sean.
"Masnya gemesin deh, mau Emak jadiin mantu mau?"
"Jaminannya apa Buk jika jadi menantu ibuk?"
Ibu itu bercerita jika ia mempunyai banyak sawah dan kebun. Dia juga bercerita jika ia mempunyai anak gadis yang cantik tetapi belum laku-laku.
Mauren yang mendengarnya hanya bisa menahan tawa sambil melayani pembeli lain. Dia heran, kenapa Sean begitu mudah dekat dengan orang?
"Berarti ibuk orang kaya?" tanya Sean sambil membungkus cabe itu setelah bertanya kepada Mauren cabe setan itu apa.
"Ya gitu deh," ucap ibu itu bangga sambil melirik ibu-ibu lain dan sepertinya niatnya hanya untuk memanasi ibu-ibu lain.
"Berapa, Mas?" tanya ibu itu.
"Semua 30 ribu"
"Mahal amat, Mas. Kurangin dong!"
"Kata ibuk orang kaya? Kok masih nawar?"
"28 ribu ya? Harga cabe masih murah kok"
"Mana bisa, Buk? Cabe sekarang mahal yang murah cabe-cabean"
Mereka melanjutkan perdebatan panjang mereka. Terlihat mereka beradu mulut menunjukan bakat bibir lemes mereka. Mauren yang menyadari itu langsung mengiyakan jika ibu itu boleh membayar 28 ribu dan Sean yang mendengarnya terlihat heran bercampur kesal.
"Kenapa kau kasihkan, Oren?" tanya Sean.
"Persoalan 2 ribu perak saja kalian sampai ribut, Oppa"
"Haruslah, dalam bisnisku saja jika minus 1% bisa membuat rugi pendapatan sahamku"
Mauren menengok kearah Sean, "Oppa, kita hanya jual cabe jadi jangan dibandingkan dengan bisnis milik Oppa," ucap Mauren heran.
"Kita harus memperjuangkan harga cabe-cabean! Jangan mau di tawar!"
Mauren menggeleng-gelengkan kepalanya dengan sifat suaminya yang sangat sinting itu. Dia melanjutkan melayani pembeli yang tiap menit selalu berdatangan.
5 jam kemudian.
Sean sudah sangat kelelahan karena sedari tadi melayani pembeli. Dia juga merasa pengap karena memakai masker dari tadi. Dia melepasnya lalu membuat wajah tampannya terlihat.
__ADS_1
"Tuan?" ucap sang asisten yang tiba-tiba datang dan mengagetkan Sean.