Mendadak Menikah (Sean & Mauren)

Mendadak Menikah (Sean & Mauren)
Bab 129 : Bab panjang


__ADS_3

Ini 2 bab tetapi kujadikan 1 bab jadi biar panjang dan puas bacanya.


plisss VOTE nya jangan lupa!


"Aku hanya kesal saja, ketika melihat dia seolah mengingatkanku kepada Papa yang mengkhianati Mama"


Sean mengingat masa lalunya saat ia hanya ingin dekat dengan sang Papa tetapi malah beliau lebih dekat dengan Arkan. Apalagi saat Arkan selalu tersenyum ceria kepadanya, ia merasa kesal dan muak dengan senyum palsu itu. Baginya senyuman Arkan hanyalah sebuah ejekan yang ditujukan kepadanya karena sudah merebut kasih sayang sang Papa darinya.


"Tuan? Ketika anda mempunyai sebuah keluarga anda seharusnya bersyukur karena masih memilikinya. Saya malah tidak tau wajah orang tua saya seperti apa, saya hanya bisa menerka-nerka pasti mereka sangat tampan dan cantik," ucap Asisten Kim sambil menatap luar mobil.


Sean menepuk bahu sang asisten, "Aku keluargamu. Jangan pernah merasa sendiri! Kau masih ingat saat kita pertama kali bertemu? Kau belum bisa berbahasa seperti kami. Kau masih kebingungan dan aku yang membantumu sampai lancar dengan bahasa kami. Kau temanku, Kim. Jangan pernah merasa hidup sendiri!" ucap Sean membuat Asisten Kim terharu.


"Bolehkah aku memelukmu, Tuan?"


Sean menganggukan kepalanya, Asisten Kim memeluk Sean dengan hangat. Dia sudah mengenal Sean hampir 11 tahun, suka duka sudah mereka lewati. Pertengkaran kecil sampai besar mewarnai hari-hari mereka.


Walaupun Sean selalu bersikap semena-mena dengan Asisten Kim tetapi sebenarnya ia sangat menyayangi temannya itu.


Setelah puas berpelukan, Sean merasa canggung lalu memalingkan wajah seolah malu.


"Lama sekali dua betina itu? Sudah hampir jam 9 malam. Huh! Menyebalkan," ucap Sean mengalihkan suasana yang canggung.


Asisten Kim tersenyum melihat sang tuan yang malu dengannya. Sampai ia menyadari hidungnya mengeluarkan darah segar. Sean yang tau langsung panik.


"Kau kenapa, Kim? Hidungmu berdarah," ucap Sean khawatir.


"Oh saya tidak apa-apa, Tuan"


Sean mengambil sapu tangannya, ia menyumbat darah pada hidung sang asisten dengan sapu tangannya.


Memang akhir-akhir ini Asisten Kim sangat kelelahan bekerja. Dia tidak pernah diberikan cuti oleh Sean.


Sean menelpon Mauren untuk segera kembali.


"Tuan. Saya hanya mimisan saja, anda tidak perlu khawatir"


"Hanya mimisan? Kau bahkan tidak pernah mimisan, Kim. Dimana mereka lama sekali? Huh..."


Mama dan Mauren kembali membawa banyak barang-barang. Mama merasa kesal ketika ia sedang berbelanja malah diganggu oleh Sean. Mama masuk mobil dengan cemberut.


"Kak Kim kenapa?" tanya Mauren melihat hidung Asisten Kim disumbat oleh sapu tangan.


"Dia mimisan Oren. Kim, kita tukar tempat duduk. Biar aku yang menyetir, kita ke rumah sakit," ucap Sean.


"Kau lebay sekali Sean. Dia hanya mimisan," ucap Mama.


Sean berdecih, ia tidak memperdulikan ucapan sang mama. Tetapi Asisten Kim tetap tidak mau bertukar tempat. Dia malah melepas sapu tangan milik Sean dari hidungnya.


"Lihat, Tuan! Darahnya sudah berhenti. Anda jangan khawatir!"


"Oppa harusnya memberi Kak Kim libur, dia juga butuh istirahat. Hari minggu saja dia masih meladeni Oppa kesana kemari," ucap Mauren membuat Sean terdiam.


"Saya tidak apa-apa, Nona. Memang tugas saya melayani Tuan Sean setiap hari"


"Mana bisa begitu Kak Kim? Kak Kim bukan robot, Kak Kim juga butuh istirahat," jawab Mauren.


Sean semakin terdiam, ia memang merasa memperobot sang asisten.


Sean berpikir untuk mencari asisten baru untuk membantu pekerjaan Asisten Kim.


"Tolong jangan mencari asisten baru, Tuan. Saya tidak rela jika Tuan Sean akan berpaling kepada saya," ucap Asisten Kim.


"Kim. Kau tidak akan pernah tergantikan oleh siapapun. Kau satu-satunya asisten sintingku"


Mama dan Mauren hanya saling memandang mendengar pembicaraan menggelikan itu.


Sampai mereka memotong pembicaraan dan menyuruh untuk segera pulang karena malam mulai larut.


Setelah memastikan darah terhenti dari hidung sang asisten, mereka mengantar sang Mama untuk pulang.


Dalam perjalanan mereka hanya fokus pada luar jendela.


"Bagaimana keadaan rumah, Mah?" tanya Sean mencairkan suasana.


"Sama seperti biasanya, sepupu kembarmu selalu buat onar. Mereka bertengkar sepanjang hari sampai Mama benar-benar pusing"


"Usir saja mereka, Mah! Biar tahu rasa"


"Inginnya seperti itu. Huh! Entah kenapa kalian memiliki sifat sama"


...----------------...


Sesampainya di apartemen, Mauren langsung merebahkan dirinya diranjang setelah mandi air hangat.


Dia melirik Sean yang merebahkan diri disebelahnya. Sean memeluknya lalu tangannya masuk ke kaos Mauren.


"Dalaman yang aku belikan sudah kau pakai?"


"Sebagian tidak muat Oppa"


"Ya sudah. Kasihkan orang lain saja!"


Tangan Sean bermain pada dada Mauren membuat gadis itu kegelian tetapi ia sangat menikmatinya.


Sean juga menciumi pipi sang istri tanpa ampun.


"Oppa? Aku menjadi terkenal. Fotoku beredar di internet bahkan ada yang menawariku untuk menjadi seorang model. Bagaimana menurut Oppa?"


"Tidak usah aneh-aneh kau! Kau cukup menjadi istriku saja tidak perlu menjadi model"


Mauren menganggukan kepala, nampak tangan Sean kini menjelajah pada bagian bawah Mauren. Mauren sudah tidak bisa menahan hasratnya, ia merem*s sang ular yang sudah menegang.

__ADS_1


"Tapi aku mengantuk, Oppa"


"Jangan mengantuk kau! 3 hari kita tidak melakukannya"


"Ayo cepatlah Oppa. Lakukanlah sesukamu! Nah, ini sudah kubuka bajuku"


"Terus kau mau diam seperti patung?"


Mauren menganggukan kepala sambil tersenyum. Tanpa menunggu lama Sean melepas seluruh pakaiannya lalu terjadilah skidipapap malam itu. (Tetapi Sean kecewa karena Mauren sedang menstruasi)


Disisi lain Asisten Kim tengah meminum obat penghilang sakit kepala. Memang akhir-akhir ini merasa badannya kurang vit karena kelelahan.


Setelah meminum obat, ia membaringkan diri disebelah Dokter Juna yang tiduran di ranjangnya.


"Anda sampai kapan tinggal disini, Dok?" tanya Asisten Kim.


"Kenapa? Kau tidak suka aku berada disini?"


"Anda harus pulang menemui istri anda"


Dokter Juna memeluk guling sambil menatap langit-langit kamar. Masalah demi masalah selalu datang menghampirinya, apalagi ia memergoki sang istri tengah berkencan dengan seorang pria kaya.


"Hidup ini berat sekali, Kim. Baru menemukan kebahagiaan tapi sudah kandas lagi. Harapanku memiliki seorang anak pun sudah hancur karena Anita meminta bercerai"


"Jika Kak Anita seperti itu maka tinggalkan saja, Dok! Dia tidak menghargai anda sebagai suaminya," ucap Asisten Kim kesal.


"Inginnya seperti itu tetapi hati tidak bisa berbohong jika aku tidak ingin bercerai"


"Lakukan yang terbaik menurut anda! Saya akan mendukung setiap keputusan anda"


"Meeeeeeow"


Terdengar suara kucing mengeong membuat kedua pria itu diam.


Asisten Kim lalu terduduk dan melihat kucing kesayangan Mauren masih berada di apartemennya dan belum dikembalikan.


Dia lalu mengambil makanan kucing dan memberikannya kepada Cimol yang sepertinya lapar.


"Makanlah Cimol!" ucap Asisten Kim sambil mengelus kucing oren itu.


"Bukankah kucing itu yang pernah kau selamatkan 2 tahun yang lalu?" tanya Dokter Juna.


"Benar, saya yang memberikannya nama Cimol karena saat itu saya menemukannya disamping penjual Cimol"


Asisten Kim mengelus kepala kucing itu, kucing itu menjadi saksi pertemuannya dengan Mauren. Ya... biar menjadi rahasia mereka berdua.


"Terus bagaimana dengan Lili?" tanya Dokter Juna.


"Lili sangat baik, saya sangat menyukainya"


Setelah kucing itu makan, Asisten Kim meletakan kucing itu kedalam kandang dan tidak lupa menguncinya lalu ia terduduk di bibir ranjang sambil memegang kepalanya.


"Kau masih menyukai Mauren?" tanya Dokter Juna membuat Asisten Kim terkejut.


"Cinta pertama memang tidak bisa dilupakan. Tetapi saya berusaha melupakan dia semampu saya dan hanya kehadiran Lili membuat saya sedikit melupakan Nona Mauren"


Sampai ketika ponsel Asisten Kim berdering yang ternyata dari Lili. Dia segera mengangkatnya, Lili sedikit kesal karena sedari tadi Asisten Kim tidak menghubunginya.


Asisten Kim menjelaskan jika ia bekerja dan sangat sibuk tetapi Lili tidak bisa menerima penjelasan dari sang pacar lalu menutup telponnya.


"Ada apa, Kim?" tanya Dokter Juna.


Asisten Kim tidak menjawab, ia mengambil jaket dan kontak mobilnya lalu berlari keluar membuat Dokter Juna keheranan.


Asisten Kim khawatir jika Lili marah kepadanya karena masalah sepele.


Dia berlari kearah mobilnya tetapi ponselnya berdering lagi ternyata dari Sean.


"Hallo, Tuan?"


"Cepat datang ke apartemenku, Kim!"


"Untuk apa, Tuan?"


"Mauren mengeluh perutnya sakit. Tolong kau belikan obat dan bawa ke apartemenku!" pinta Sean.


Asisten Kim mengiyakan ucapan Sean, ia lalu terdiam sejenak. Apakah ia harus memilih kepentingan Sean atau harus memilih pergi ke rumah Lili yang sedang marah kepadanya.


Mereka sama-sama penting. Aku harus memilih siapa?


Asisten Kim berdecak, ia masuk kedalam mobil lalu melajukan mobilnya ke apotek terdekat untuk membeli obat untuk Mauren. Dalam perjalanan ia mencoba menelpon Lili tetapi gadis itu tidak merespon.


Asisten Kim membanting ponselnya, ia tidak menyangka jika berpacaran akan serumit ini.


Setelah membeli obat, ia kembali ke apartemen lalu menuju apartemen milik Sean untuk menyerahkan obat itu.


"Kenapa Nona Mauren bisa sakit perut, Tuan?" tanya Asisten Kim.


"Kau tanya aku terus aku tanya siapa?"


Asisten Kim terdiam, ia melihat wajah Mauren yang merintih kesakitan.


Sean lalu memberikan obat kepada Mauren lalu gadis itu meminumnya dengan cepat.


Sean sangat khawatir ketika Mauren mengeluh perutnya sakit ketika akan skidipapap. Dia kebingungan sampai ia menelpon sang asisten untuk membelikan obat.


"Tuan? Apa mau panggil Dokter Juna? Dia berada di apartemen saya," tanya Asisten Kim.


"Kenapa tidak bilang dari tadi. Cepat panggilkan!"


Asisten Kim menelpon Dokter Juna untuk segera ke apartemen Sean. Dengan rasa malas Dokter Juna menuju apartemen Sean.

__ADS_1


"Ada apa Sean? Aku mengantuk sekali," ucap Dokter Juna.


"Istriku mengeluh sakit perut"


"Kau ikhlas jika aku memeriksanya?"


Sean seolah berpikir tetapi ia pada akhirnya setuju jika Dokter Juna memeriksa sang istri.


Dokter Juna menyuruh Mauren menaikan kaosnya tetapi Mauren menolak.


"Buka, Mauren! Atau mau ku buka 'kan?" tanya Dokter Juna.


"Ayo bertengkar Juna!" ucap Sean marah.


"Pergilah kalian! Aku hanya menstruasi kalian sampai heboh," ucap Mauren.


Asisten Kim dan Dokter Juna mengerutkan dahi. Tetapi Sean seolah masih panik karena sang istri mengeluh sakit perut.


Mauren meyakinkan Sean jika ia sudah tidak apa-apa walaupun sedikit nyeri.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Keesokan harinya.


Mauren berguling-guling di ranjang sambil memegangi perutnya yang sangat sakit. Kakinya menendang-nendang sampai tidak sengaja menendang Sean yang masih tertidur.


Duaaaaak


Bruuuuuk


Sean terjatuh diranjang, ia sangat terkejut ketika ia terjatuh.


Dia mencoba bangun dan melihat Mauren sedang berguling-guling di tempat tidur lalu Sean melirik jam yang menunjukan pukul 4 pagi.


"Kenapa lagi, Oren?" tanya Sean sambil bangun sambil naik ke tempat tidur.


"Huaaaaa... perutku sakit sekali, Oppa. Rasanya ingin mati"


"Coba minum obatmu lagi! Jangan bilang mau mati kau!"


Sean mengambil obat yang dibelikan Asisten Kim kemarin malam tetapi Mauren menepisnya membuat Sean semakin kebingungan.


Sean lalu menelpon Dokter Juna untuk naik ke apartemennya.


Dokter Juna lalu membangunkan Asisten Kim untuk menemaninya ke apartemen Sean.


Sesampainya di kamar Sean.


"Ada apa lagi Sean?" tanya Dokter Juna.


"Bagaimana ini? Istriku sangat kesakitan, coba resepkan obat terbaik untuk Orenku!"


"Kau membangunkanku pagi-pagi hanya untuk orang sedang menstruasi? Hey kau Mauren, anggap saja itu latihan sakit perut melahirkan!" ucap Dokter Juna.


Sean memukul punggung Dokter Juna membuat pria itu kesakitan. Dia tidak mau berdebat dengan Sean maka dari itu ia menelpon Dokter Ana untuk membawakan obat penghilang nyeri.


Sambil menunggu Dokter Ana datang, Dokter Juna menyuruh Sean mengoleskan minyak kayu putih pada perut Mauren.


"Sakit sekali, Oppa"


"Bertahanlah sayang"


Dokter Juna berdecih melihat pasangan aneh itu, ia memutuskan kembali ke apartemen Asisten Kim untuk tidur lagi sedangkan Asisten Kim masih menunggu mereka yang bermesraan di depannya.


"Kau kembali saja, Kim! Tidurlah lagi! Kau pasti sangat lelah," ucap Sean.


"Tapi, Tuan?"


"Kembalilah!"


Asisten Kim tersenyum, ia menundukan kepala lalu pamit untuk kembali ke apartemennya.


**


Sean dan Asisten Kim keluar dari mobil dengan penuh wibawa, mereka masuk ke area perusahaan dan langsung mengecek ruangan tiap ruangan para pegawainya.


Setelah memastikan Mauren baik-baik saja, Sean memutuskan berangkat bekerja walaupun pikirannya masih memikirkan Mauren yang diapartemen sendirian.


Sean memasuki ruangan pertama, selain melihat hasil kerja para pegawainya, ia juga memastikan kebersihan ruangan dan kerapian para pegawai. Sean terkenal sebagai pria disiplin.


"Tuan. Hari ini jam 10 pagi anda mempunyai jadwal mengelilingi kantor cabang Young Group untuk mengecek pekerjaan mereka," ucap Asisten Kim.


"Baiklah," ucap Sean.


Sean terfokus pada pegawainya yang berdandan terlalu menor dan memakai rok terlalu ketat.


"Hei kau yang berbaju biru. Besok aku tidak ingin kau memakai baju dan rok terlalu ketat. Dan berdandanlah yang wajar, kau disini bekerja atau fashion show?" ucap Sean.


"Maafkan saya, Tuan. Saya tidak akan mengulanginya lagi"


Sean lalu keluar dari ruangan itu lalu menuju ruangan lain dan begitu seterusnya. Dia ingin perusahaannya maju akan kebersihan dan kedisiplinan karena itu semua kunci kesuksesan sebuah perusahaan.


"Tuan. Anda nanti jam 2 harus menghadiri peresmian pembukaan hotel baru di kota sebelah," ucap Asisten Kim dibelakang Sean


"Setelah itu tidak ada jadwal lagi 'kan? Aku ingin segera pulang menemani Orenku dan sisanya kau urus saja"


"Iya, Tuan. Setelah itu anda bisa pulang"


Mereka berjalan menyusuri lorong tetapi tiba-tiba mereka dikejutkan dengan kedatangan Sera yang tiba-tiba.


"Cilup baaaaa..."

__ADS_1


Mereka berdua terkejut dan terlihat Sean memeluk Asisten Kim karena ulah Sera lalu hilanglah kewibaan mereka.


Bersambung...


__ADS_2