Mendadak Menikah (Sean & Mauren)

Mendadak Menikah (Sean & Mauren)
Bab 112 : Sean VS Oren


__ADS_3

Sial! Aku memang belum sempat memperbaharui KTPku dan cincin pernikahanku aku simpan dirumah.


"Aku memang sudah punya suami," bela Mauren sekali lagi.


"Umur 19 tahun sudah kawin? Aku yang umur 22 tahun masih jomblo akut. Sudahlah jangan banyak alasan! Cepat duduk!" ucap Arkan.


Mauren menghela nafas, ia membalikan badan lalu melangkah meninggalkan Arkan tetapi Arkan mengingatkan KTP Mauren yang masih ada padanya membuat Mauren terhenti dari langkahnya.


Huuuuuftt. Sabar Mauren! Ambil KTP langsung cabut pergi.


Mauren lalu duduk diseberang Arkan membuat pria itu tersenyum girang. Arkan lalu memanggil pelayan dan memesan makanan sedangkan Mauren terdiam memperhatikan wajah Arkan yang tidak asing. Mulai dari aslinya, matanya, hidungnya, bibirnya dan senyumannya.


"Hei... kenapa kau memandangiku? Aku sangat tampan 'kan?" tanya Arkan dengan pedenya.


Pede sekali bule kopetan ini. Lihat rambutnya! Seperti orang gila di cat warna pirang.


"Jangan dipandang terus, Baby! Bukan muhrim, ayo ke KUA tanda tangani buku nikah terus bisa memandangiku dengan halal," ucap Arkan membuat Mauren semakin kesal.


Plaaaak..


Sebuah tempat tisu melayang mengenai jidat Arkan. Arkan tersenyum sinis menatap Mauren yang memelototinya.


Bukannya Arkan marah tetapi membuat ia semakin tertarik dengan Mauren.


"Permainanmu kasar juga, ya?" tanya Arkan.


Sampai ketika makanan datang membuat pembicaraan mereka teralihkan. Arkan segera menyantapnya sedangkan Mauren hanya memandang makanan itu. Pikirannya sangat kalut karena memikirkan apakah suaminya akan mencarinya terlebih lagi ia tahu jika Sean sangat posesif jika berhubungan dengan pria yang dekat dengannya.


"Makanan itu tidak akan menghampiri sendiri ke mulutmu jika kau hanya melihatnya saja. Mau aku suapin?"


Mauren berdecih, ia langsung menyantap makanan itu dengan tergesa-gesa. Tidak ada 10 menit makanan itu sudah habis, ia lalu menjulurkan tangannya untuk meminta KTP. Tetapi malah Arkan memberinya selembar tisu


"Apaan ini? Mana KTP ku?" tanya Mauren sambil melempar tisu itu kearah Arkan.


"Ini KTP mu. Tapi ini tidak gratis"


"Apa maksudmu? Aku sudah mau makan bersamamu. Cepat berikan KTP ku!"


"KTP ini harus di tukar dengan nomor telponmu"


Disisi lain Sean tengah terduduk di mobilnya dengan santai sambil menatap kearah luar. Sampai Asisten Kim memberi tahu jika Mauren kini berada di sebuah cafe bersama seseorang. Sean terkejut dan sangat marah, ia lantas menyuruh sang asisten untuk menuju ke cafe itu.


Awas kau, Mauren! Kurang apa lagi aku untukmu. Bisa-bisanya kau menemui orang lain dibelakangku.


Setelah selesai makan Mauren langsung keluar dari cafe itu, ia bernafas lega karena bisa keluar dari pria brengsek itu.


Mauren berjalan dari cafe dengan menunduk, kakinya sangat pegal karena aktivitas seharian ini yang sangat melelahkan. Dia mengangkat kepalanya melihat Sean yang menatapnya bersedekap sambil menyandar di mobilnya.


Mauren sangat terkejut sampai ia berhenti melangkah.


Mamp*s! Pasti Oppa akan marah.


Mauren berjalan mendekat dengan bibir yang ia gigit perlahan. Jantungnya berdegup kencang karena ketakutan jika mendapat pertanyaan dari Sean.


Setelah Mauren di depan Sean, Sean mengkode dengan kepalanya untuk menyuruh Mauren masuk mobil.


Mauren masuk mobil sambil melamun sampai kepalanya kepentok bagian atas mobil.


Duaaaak...


"Aaaaaw," rengek Mauren sambil mengelus kepalanya.


Terlihat Asisten Kim menahan tawa dan Sean diam tanpa ekspresi.


Asisten Kim lalu melajukan mobilnya, hanya keheningan yang terjadi diantara pasangan aneh itu.


Mauren memainkan jemarinya, ia melirik Sean yang terdiam fokus menatap depan.


"Eheeeem," Mauren berdehem mencairkan suasana tetapi Sean tidak bergeming.


"Oppa?" tanya Mauren lagi.


"Apa kau?" bentak Sean.


"Kenapa Oppa marah kepadaku?"


"Kau salah tapi tidak merasa bersalah, ya? Bertemu siapa kau tadi di cafe? Sialan! Beraninya kau diam-diam bertemu seseorang tanpa sepengetahuanku"

__ADS_1


"Dia yang menabrak mobilku tadi dan aku bertemu dengannya karena aku mau mengambil KTP ku yang disitanya, Oppa"


Sean menatap wajah Mauren. Dia menaikan alisnya dan memasang muka penasaran.


"Dia pria atau laki-laki?"


Mauren mengerutkan kening mencerna pertanyaan dari Sean yang sangat ambigu.


"Oppa bilang apa?"


"Tadi aku bilang apa? Hah?" tanya Sean kesal karena Mauren tidak mendengarkan pertanyaannya.


"Aku bertanya pada Oppa malah Oppa bertanya kepadaku"


"Aku juga bertanya padamu malah kau bertanya kepadaku"


"Jadi maksud Oppa apa?" tanya Mauren semakin bingung.


"Malah kau tanya padaku. Mau kau apa?"


Sepertinya Oppa sedang menstruasi, muter-muter mulu ngomongnya. Batin Mauren.


Gadis sinting ini malah membuatku pusing. Ingin sekali ku tarik bibirnya. Batin Sean


Mereka berdua membuatku pusing. Batin Asisten Kim.


"Tuan? Nona?" ucap Asisten Kim.


"APA?" ucap Sean dan Mauren bersamaan.


Sepertinya aku mengganggu pertikaian mereka. Batin Asisten Kim.


"Tidak jadi"


"Ayo bertengkar, Kim!"


"Iya Kak Kim, mengganggu kami saja"


Dddddrrrr.... dddrrrr.... dddrrrr....


Ponsel milik Sean berbunyi, ia mengangkatnya yang rupanya dari Dokter Juna.


"Tidak apa-apa. Cuman tertekan saja," jawab Sean.


"Kau ada masalah?"


"Tidak, hanya tertekan saja"


"Yasudah jika kau tidak mau cerita. Yang sabar, ya?" ucap Dokter Juna turut prihatin.


"SUDAH KUBILANG CUMAN TERTEKAN! AKU MENGAMBIL PONSEL DI KANTONG, TERUS NOMOR KAU TERTEKAN BANGS*T! SIALAN KAU! BIKIN EMOSI SAJA KAU!" umpat Sean kesal.


Oppa sedang mode monster. Berbahaya nih. Batin Mauren sambil bergeser menjauh di dekat pintu karena takut dengan Sean.


Sean mematikan ponselnya lalu melirik Mauren yang sudah menjauh darinya. Gadis itu tengah menatap kaca mobil tanpa merasa berdosa.


"Sini kau!" ucap Sean.


"Aku, Oppa?" tanya Mauren sambil menunjuk dirinya sendiri.


"Bukan, tapi pocong yang di ujung sana"


Mauren terkejut, ia mendekati Sean lalu memeluk Sean dengan erat. Sean melepaskan pelukan Mauren, ia menatap lekat wajah imut Mauren.


"Tadi kau menemui siapa? Pria atau wanita?"


"Aku susah bilang jika aku bertemu dengan orang yang menabrak mobilku dan dia pria"


"Apa kau bilang? Bagaimana? kau sudah minta ganti rugi kepadanya?"


"Uang Oppa 'kan banyak, kenapa minta ganti rugi"


Sean langsung menjewer telinga Mauren membuat gadis itu merengek kesakitan.


"Kau tau jika mobil itu lecet satu centi saja bisa mengeluarkan biaya ratusan juta untuk sekali perbaikan?"


"Mana ku tahu, Oppa. Ampun Oppa. Lepaskan telingaku, Oppa!"

__ADS_1


Sean melepas jewerannya, ia sangat kesal kepada Mauren yang selalu keras kepala dan tidak pernah menuruti perkataannya.


"Kim. Potong gaji Mauren termasuk jatah skincare dan kebutuhan lainnya, biar tau rasa dia," ucap Sean kepada Asisten Kim.


"Mana bisa begitu, Oppa? Oppa tidak pernah memberiku uang belanja tetapi malah seenaknya memotong gajiku"


"Diam kau! Itu hukumanmu karena selalu ceroboh dan tidak mau menuruti perkataanku"


Mauren menatap kesal kepada Sean, ia lalu bersedekap sambil menatap kaca mobil meluapkan kemarahan kepada sang suami yang semena-mena.


Oppa menganggapku apa? Jahat sekali.


Awas jika aku hamil lagi pasti aku akan balas dendam yang lebih ekstrim.


Ku pikir dia memang tidak sayang denganku, buktinya saat aku keguguran dia malah memaafkan ibunya yang jahat itu.


"Oppa memotong jatah uangku seenak jidat padahal kesalahanku sepele tetapi Oppa malah tidak marah kepada Mama dan Tante Oppa, padahal mereka sudah membunuh bayi kita. Ku pikir Oppa memang tidak sayang kepadaku," ucap Mauren sedih.


"Kau jika tidak tau jangan sok tau kau! Kartu debit dan kredit mereka sudah ku blokir selama 1 tahun. Mereka sudah tidak memiliki akses menggunakan kartu itu"


"Itu saja, Oppa? Ku pikir mereka masih banyak uang tanpa menggunakan kartu itu. Sedangkan aku? Tidak pernah di beri uang, gaji malah di potong. Malang sekali nasibku.


Sean tidak menggubris ucapan Mauren, ia mengambil headset lalu memasang di telinganya. Dia mendengarkan musik supaya ia tidak mendengar celotehan Mauren.


Laki-laki macam apa itu, menyebalkan!


Kling...


Bule kopet


Hai cantik


Sudah sampai rumah?


Mauren


Hmmm


Bule kopet


Besok malam ku jemput saat kau pulang kerja, ya?


Mauren


Tidak usah


Bule kopet


Kau tidak membutuhkan tasmu?


Tasmu ketinggalan lho


Mauren terkejut, ia teringat saat mengambil ponselnya lalu memberikan nomor telponnya, ia langsung kabur membawa KTP dan ponselnya saja sampai ia melupakan tasnya yang tertinggal di meja.


Dia menepuk jidatnya karena sangat ceroboh meninggalkan tas yang harganya sangat mahal pemberian dari Sean. Mauren melirik Sean, ia yakin jika Sean tau tas pemberiannya tertinggal pasti akan marah.


Mauren


Besok pagi-pagi saja kita bertemu di lampu merah jalan kenanga dan jangan buang tasku bahkan menjualnya!


Bule kopet


Ngapain di lampu merah? Sekalian bawa gitar kita ngamen disana, hehe...


Tinggal kau kirim alamatmu saja! Aku akan menemuimu disana


Apa sih bule kopetan ini? Dari minta nomor ponsel sampai minta alamat rumah.


Mauren


Tidak usah


Tunggu saja di lampu merah jalan kenanga jam 6 pagi dan kau harus sudah ada disana.


Bule kopet


Siap cantik.

__ADS_1


Selamat malam, semoga mimpi indah


Sampai jumpa besok.


__ADS_2