
Mauren berjalan kesana kemari melewati orang-orang yang sibuk menonton kembang api. Mauren menangis kebingungan mencari Sean.
"Oppa... oppa...," teriak Mauren mencari sang suami.
Orang-orang sekitar seolah tidak memperdulikannya. Dia lalu menjauhi kerumunan itu berjalan menurut instingnya.
Udara semakin dingin membuat Mauren semakin khawatir. Dia tak menyangka jika Sean akan meninggalkannya begitu saja.
"Oppa, aku takut oppa," ucap Mauren sambil menangis terisak.
Dia berjalan tak tentu arah sambil menangis. Dia takut jika bertemu orang jahat.
Tiba-tiba ada yang menepuk bahunya, ia cukup senang tetapi ternyata bukan Sean melainkan orang asing.
"Kenapa kau menangis?" (Bhs Prancis)
Mauren tidak paham, ia menggelengkan kepala. Pria asing itu membuka ponselnya lalu membuka penerjemah supaya komunikasi mereka lancar.
"Aku tersesat dan berpisah dengan suamiku," ucap Mauren.
"Dimana terakhir kalian bersama?"
"Di tempat pesta kembang api," jawab Mauren.
Pria asing itu menganggukan kepala, ia mencoba menggandeng Mauren tetapi Mauren menepisnya. Dia masih takut dengan orang yang baru di kenalnya.
"Ayo ikut denganku. Biar aku antar ke kantor polisi," ucap pria itu.
"Tidak mau. Terima kasih. Aku akan menunggu di sekitar sini saja. Aku yakin suamiku akan menjemputku," ucap Mauren.
Pria asing itu menghela nafas, ia tidak ingin memaksanya. Dia memberikan uang kepada Mauren lalu pergi meninggalkan gadis malang itu.
Setelah pria itu pergi. Mauren mencoba ke tempat pesta kembang api lagi. Untung dia tidak berjalan terlalu jauh, cukup 10 menit saja sudah sampai di tempat pesta kembang api tadi.
Dia duduk di pinggir jalan memandang orang-orang yang asyik berlalu lalang.
1 jam
2 jam
3 jam
4 jam
5 jam
Sean tidak kunjung datang, suasana malam hari semakin sepi dan udara dingin menusuk tulang. Mauren menangis, ia tidak menyangka jika Sean tidak menjemputnya.
Biasanya jika sedang kesusahan seperti ini pasti ada Asisten Kim yang menolongnya tetapi ia membuang pikirannya itu. Dia tidak ingin berhubungan lagi dengan Asisten Kim.
Tubuh Mauren semakin membeku karena suhu disana sangat dingin. Matanya mulai berkunang karena kedinginan dan kelaparan tetapi tiba-tiba ada pria yang di depannya dan ternyata itu Sean.
__ADS_1
"Oppa?" ucap Mauren kegirangan.
Mauren berdiri lalu memeluk Sean tetapi Sean mendorongnya lalu mulai berjalan meninggalkan Mauren.
Mauren mengikutinya walaupun kini Sean sangat dingin kepadanya tetapi ia cukup senang karena Sean masih mau menjemputnya.
Mereka menaiki mobil yang di sewa oleh Sean dan menuju ke hotel. Dalam perjalanan Mauren mengajak berbicara kepada Sean tetapi Sean tidak pernah menjawab.
Setelah sampai di hotel, Sean mengambil kopernya lalu menyuruh Mauren mengemasi barangnya.
"Cepat kemasi barangmu! Kita akan pulang malam ini juga," ucap Sean dingin.
"Tapi ini sudah jam 12 malam, oppa?"
"Jika tidak mau akan ku tinggal kau," jawab Sean sambil menatap tajam Mauren.
Mauren segera mengemasi barangnya setelah itu mereka menuju ke bandara malam itu juga. Mereka menggunakan pesawat pribadi sehingga Sean bisa menggunakannya kapanpun walau tengah malam begini.
Setelah sampai di bandara. Mereka masuk kedalam pesawat dan benar saja Sean masih terdiam tanpa kata. Sedangkan Mauren yang kelelahan akhirnya tertidur bersandar pada bahu Sean.
Keesokan harinya.
Mereka masih di dalam pesawat, Mauren melirik Sean ternyata masih tertidur. Mauren berinisiatif untuk membuat mie gelas dan kopi hangat untuk Sean.
Dia menyeduhnya dengan hati-hati dan saat ia mencoba mengangkat kopi panas itu tiba-tiba kopi itu terjatuh di kaki Mauren.
"Aaaaaaaaaaaa....," teriak Mauren membangunkan Sean.
Mauren mencoba terduduk di lantai pesawat, ia melepas sepatunya dan terlihat kakinya memerah.
Sean mengambil salep di kotak obat lalu memberikan salep pada kaki Mauren yang terkena air panas.
"Terima kasih, oppa," ucap Mauren.
Sean masih terdiam, setelah selesai ia kembali duduk dan menarik selimutnya sampai ke kepala lalu melanjutkan tidurnya.
Mauren hanya berdoa supaya Sean mempercayainya jika ia tidak pernah mengkhianati cinta Sean.
Kruyuuuuuk...
Perut Mauren berbunyi, dia begitu lapar karena semalaman belum makan.
Sean lalu membuka selimutnya dan menekan tombol diatasnya untuk memanggil pelayannya.
"Siapkan sarapan!" pinta Sean.
"Baik, tuan"
Mauren tersenyum tipis ternyata Sean masih peduli dengannya.
Dia lalu mencoba mengajak berbicara Sean.
__ADS_1
"Oppa?"
"Tutup mulutmu!" ucap Sean.
"Aku minta maaf oppa. Aku dan Kak Kim..."
"Diam kau!" bentak Sean membuat Mauren sangat terkejut.
Mauren menggigit bibirnya, ia mengelap air matanya yang berjatuhan. Dia kini merasa seperti istri-istri di indosiar. Tersakiti, terzolimi dan menyedihkan.
Setelah makanan datang, mereka segera menyantapnya. Mereka makan dengan diam tanpa bicara sepatah katapun. Mauren melirik Sean, Sean tidak memperdulikan Mauren.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Setelah sampai di negaranya. Mereka kini di jemput oleh Dasha. Dasha membantu membawakan koper mereka lalu mengantar mereka menuju apartemen.
"Kim sialan itu ada dimana?" tanya Sean pada Dasha di dalam mobil.
"Dia sedang ada di perusahaan. Kau harus memecatnya Sean sebelum ia melakukan korupsi lagi," ucap Dasha.
Sean terdiam memandang kaca mobil sedangkan Mauren melirik Sean. Dia menduga jika masalah ini pasti karena seseorang sengaja membuat Sean dan Kim bertengkar.
Sean menyuruh Dasha untuk mengantarkan Mauren ke apartemen lalu setelah itu Sean akan ke kantor menemui Asisten Kim.
Setelah sampai di apartemen, Mauren turun dari mobil dengan Dasha membawakan koper mereka ke lantai atas sedangkan Sean langsung ke kantor untuk menemui sang asisten.
Dalam perjalanan Sean sangat emosi, ia kini tidak mempermasalahkan sang asisten yang korupsi melainkan masalah Asisten Kim yang sempat bermalam dengan Mauren di apartemen Sean. Dia melajukan mobilnya dengan kencang dan setelah sampai dikantornya ia segera masuk menemui Asisten Kim.
BRAAAAK...
Sean menghampiri Asisten Kim, Asisten Kim terkejut melihat sang tuan yang sudah pulang dari bulan madunya.
Asisten Kim berdiri untuk menyalami sang tuan tetapi Sean dengan cepat memukulnya sampai Asisten Kim terjatuh di lantai.
"Brengs*k kau! Dasar pengkhianat! Bisa-bisanya kau tidur dengan istriku," ucap Sean sambil memukul Asisten Kim berkali-kali.
Asisten Kim mencoba menghindar karena terkejut mendengar ucapan dari Sean.
"Apa maksud anda, tuan?"
"Jangan pura-pura kau bangs*t! Kau tidur bersama Mauren di apartemenku saat aku sedang dirawat di rumah sakit waktu dulu," jelas Sean penuh emosi.
"Tuan, anda hanya salah paham. Memang saya waktu itu menemani nona Mauren tetapi kami tidak melakukan apapun," jawab Asisten Kim.
"Cih... munafik kalian. Kau mengecewakanku Kim. Aku masih bisa memaafkanmu saat kau korupsi 10 milyar dari uang perusahaanku, aku masih bisa memaafkanmu tapi untuk masalah menyangkut Mauren aku tidak bisa memberimu toleransi"
Asisten Kim mengerutkan dahi. Korupsi? Kapan dia pernah melakukan korupsi?
"Kapan saya korupsi, tuan?"
"Sialan. Tidak mau mengaku kau?" ucap Sean sambil melempar berkas bukti jika Asisten Kim melakukan korupsi di perusahaan Young Group.
__ADS_1
Asisten Kim tercengang ketika membaca kertas itu.
Apa ini? Bahkan sepeserpun aku tidak mengambilnya. Data ini sudah di sabotase.