Mendadak Menikah (Sean & Mauren)

Mendadak Menikah (Sean & Mauren)
Akhirnyaaaaaaaa


__ADS_3

"Kalian sudah tahu belum? Manajer baru tampan banget. Dia tipe pria idamanku," ucap Desy sambil membayangkan ketampanan Daren.


Desy dan Lala sedari tadi hanya membicarakan Daren, pria blasteran bule dan memiliki senyuman yang manis. Sedangkan Mauren hanya terfokus mengetik berkas milik karyawan lain, ia tidak peduli dengan manajer baru itu, baginya hanya Sean yang paling tampan.


Tapi tiba-tiba karyawan lain menyuruh Mauren untuk menyerahkan berkas ke ruangan manajer, ia mengiyakannya dan segera menuju kesana.


Tok... tok... tok... tok...


Mauren mengetuk pintu lalu mendengar suara familiar yang menyuruhnya untuk masuk, betapa terkejutnya saat yang ia lihat adalah Daren, pria simpanannya dulu.


Daren juga terlihat sangat terkejut melihat Mauren. Gadis yang pernah disukainya.


Mereka pernah menjalin hubungan secara diam-diam saat Mauren masih sekolah.


Mereka sering bertemu di sebuah cafe, Daren yang suka pada pandangan pertama dengan Mauren memutuskan untuk mengajaknya berkenalan.


Waktu itu Mauren sedang galau berat karena mengetahui Reza berselingkuh dan memutuskan ajakan Daren untuk berpacaran pada hari dimana mereka berkenalan.


Mereka menjalin hubungan selama 2 bulan tetapi Daren tidak mengetahui jika ia hanya menjadi simpanan Mauren.


"Dunia memang sempit ya Mauren?" tanya Daren.


"Iya," jawab Mauren sambil menyodorkan berkas di meja Daren.


"Ku dengar pacarmu itu telah menikah dengan gadis lain. Aku turut berduka cita"


"Kau senang karena aku telah menerima karma yang dulu telah menyakitimu?"


Daren menghela nafas, ia berdiri dari kursinya lalu mendekati Mauren. "Aku tidak pernah membencimu, aku bukan lelaki pendendam," ucap Daren berdiri bersedekap di depan Mauren.


Mauren melangkah mundur lalu segera berjalan menuju pintu tetapi tangannya dipegang oleh Daren membuatnya seketika terhenti. Mauren menepis tangan Daren, ia menatap wajah pria bule itu dengan tajam.


Terlihat sorot mata Daren masih menyukai Mauren, gadis yang pernah dicintainya.


Diruangan Sean.


Sean sangat malas ketika Alana datang mengunjunginya, teman yang selalu disayanginya kini menjadi rasa benci tak tertahankan. Gadis yang sangat keras kepala itu selalu memaksa Sean untuk segera menikahinya. Padahal Sean sudah ratusan kali menjelaskan jika perasaannya kepada Alana hanya sebatas teman saja.


Alana mendekati Sean yang terduduk di kursi termahalnya, ia naik ke pangkuan Sean membuat pria itu sangat syok.


Sean menatap lekat wajah Alana yang hanya berjarak beberapa centi darinya.


"Kau ingin turun atau aku akan menghancurkan perusahaan Papamu?" tanya Sean dengan sorot mata yang tak main-main.


Bukannya takut tetapi Alana malah tertantang, ia mencium bibir Sean dan menyesapnya kuat. Tangan Sean mendorong tubuh Alana tetapi gadis itu makin memasukan lidah kedalam bibir Sean.


Disaat bersamaan Mauren yang membawa setumpuk berkas masuk ke ruangan Sean yang tak terkunci itu. Sialnya saat itu Asisten Kim tidak ada diruangannya yang maka dari itu Mauren bisa masuk tanpa dihalangi Asisten Kim. Pemandangan yang menyakitkan hati melihat sang suami sedang berciuman mesra dengan wanita lain, ia menjatuhkan setumpuk berkas ke lantai yang menimbulkan suara cukup keras.


Bruuuuuk.

__ADS_1


Sean dan Alana yang tak menyadari kehadiran Mauren dengan cepat melihat kearah sumber suara tetapi hanya berkas yang tercecer yang mereka lihat.


Mauren sudah kabur duluan, ia berlari dengan air mata berjatuhan. Yang ia harus lakukan adalah menenangkan diri di toilet.


Gadis itu terduduk di kloset sambil mengelap air matanya yang berlinang.


Dia menepuk dadanya sekencang mungkin supaya bisa menghilangkan rasa sakit di hatinya tetapi percuma saja, sekeras Mauren memukulnya tetapi rasa sakit di lubuk hati jauh lebih menyakitkan.


Kenapa rasa sakit ini datang lagi?


Kenapa aku selalu melihat apa yang harusnya tidak kulihat?


Oh Tuhan apa ini caramu untuk menunjukan jika Oppa bukanlah yang terbaik untukku?


Aku harus bagaimana?


Di ruangan Sean.


Sean menampar pipi Alana, ia sangat geram dengan gadis itu. Alana hanya bisa menangis, untuk pertama kalinya Sean menampar pipi wanita yang dulu sangat disayanginya.


Sorot mata Sean sangat murka sedangkan Alana hanya menundukan kepala.


"Pergilah sebelum aku benar-benar menghancurkan perusahaan Papamu! Aku tidak main-main Alana"


Disaat bersamaan Asisten Kim datang, ia melihat berkas tercecer di depan pintu, ia juga melihat sang Tuan murka dan Alana yang menangis memegang pipinya.


Dia sudah menduga jika ini akan terjadi.


Asisten Kim menarik tangan Alana secara halus, Alana menurut untuk diajak pergi dari ruangan itu. Dia sudah tidak ingin berdebat dengan Sean.


Setelah memastikan mereka keluar, dengan cepat Sean mengambil ponselnya dan menelpon Mauren, ia bisa mendengar suara istrinya yang serak. Dia yakin Mauren sedang menangis.


Mauren menutup telponnya, ia mengelap air matanya dan tak lupa mencuci muka.


Make upnya luntur dan bibirnya tidak merona lagi, tapi ia tidak memikirkan semua itu.


Lebih baik ia memikirkan bagaimana caranya supaya hatinya tidak sakit lagi.


Mauren melangkah menuju ruangan Sean, dalam perjalanan ia murung dan menundukan kepala.


5 menit kemudian.


Mauren masuk ke ruangan Sean, ia menutup pintu lalu berjalan ke arah Sean yang sedang terduduk di kursi termahalnya.


Sean menatapnya dengan mata nanar, gadis yang selalu ceria kini menjadi menyedihkan.


Mata yang bengkak, rambut yang diikat tetapi tidak rapi, wajah yang tanpa make up membuat Sean menjadi iba.


Sean berdiri dari kursi direkturnya, ia mencoba mendekati Mauren.

__ADS_1


"Mari kita bercerai Tuan"


Sebuah kalimat yang membuat Sean menghentikan langkahnya, matanya mendelik dan darah menjadi naik karena emosi.


"Tuan pernah mengatakan jika suatu saat ingin menceraikanku 'kan? Inilah saat yang tepat," ucap Mauren menunduk tidak berani menatap Sean.


"Oren. Kau membuatku sangat marah kali ini. Lancang sekali mulutmu mengatakan seperti itu! Aku menarik ucapanku, aku tidak akan menceraikanmu. Aku mencintaimu," ucap Sean setengah berteriak.


"Itu tidak masuk akal Tuan. Anda kaya raya, sangat tampan, mempunyai segalanya dan anda mengatakan mencintai saya? Buktinya apa? Leluconmu itu tidak lucu Tuan!" ucap Mauren berteriak.


"Bukti? Mari kita buktikan sekarang!" ucap Sean menatap tajam Mauren.


Sean berlari ke arah pintu, ia menguncinya dan menyimpan di saku celananya.


Sean membuka jas hitam dan melemparnya ke lantai nampak ia juga melepaskan dasinya.


Mauren terkejut dan ingin melarikan diri tetapi tidak ada tempat untuk berlari menjauh dari Sean.


Sean menarik tubuh gadis itu dan mulai melum*t bibir Mauren, tangannya mulai bergerilya ke seluruh tubuh gadis itu. Tak lupa ia melepaskan ikat rambut Mauren dan membiarkannya tergerai indah.


Lidah mereka saling beradu dalam kenikmatan yang tak tertahankan.


Setelah puas berciuman, Sean mendorong tubuh Mauren untuk terbaring di sofa besarnya, ia menciumi leher sang istri dan turun sampai ke dada. Dengan sigap Sean melepas semua pakaian Mauren dengan paksa karena sang istri memberontak.


Dia tidak menghiraukan teriakan Mauren, itu malah membuatnya semakin bergairah.


Mereka kini sama-sama telanjang, Sean tersenyum menyeringai dan saatnya untuk melepas keperjakaannya sedangkan Mauren terlihat syok ketika sesuatu dipaksa memasuki tubuhnya.


Setengah jam kemudian.


Sean memeluk Mauren dan menciumi kepala sang istri, ia sudah lega mengeluarkan apa yang harus dikeluarkan. Dia merasa kelelahan setelah push up setengah jam, mereka yang masih tanpa sehelai benang terlihat banyak mengeluarkan keringat walaupun suhu ruangan itu sangat dingin.


Mauren terlihat masih syok, ia menatap langit-langit ruangan itu, lidahnya yang kelu membuatnya sulit untuk menelan ludah.


Perawanku telah hilang. Batin Mauren.


"Nah, aku telah menanam bibit segarku disini. Aku ingin sekali mempunyai bayi laki-laki," ucap Sean sambil mengelus perut sang istri


Mauren menelan ludah, padahal ia belum siap memiliki seorang anak.


Entah kenapa ia menjadi kaku untuk berbicara, ia hanya bisa melirik wajah Sean yang berada di sebelahnya.


"Ka ka ka kau su sungguh li licik op oppa"


________________


Hallo ini author terima kasih telah membaca novel ini.


mohon dukungannya dengan like, komen, rate5 dan vote..

__ADS_1


VOTE nya jangan lupa gaessss


__ADS_2