Mendadak Menikah (Sean & Mauren)

Mendadak Menikah (Sean & Mauren)
Bab 110 : Pria misterius


__ADS_3

"Aku tidak mau bercerai dengan Oppaku. Kenapa Bapak malah seperti itu? Bapak bukannya mendukung kami malah meminta kami bercerai. Aku kecewa dengan Bapak"


Bapak hanya terdiam, mungkin keputusannya memang tidak bisa diterima dengan dua pasangan sejoli itu. Bapak hanya bisa berdoa yang terbaik untuk mereka berdua dan berharap mereka segera mendapat momongan secepatnya.


"Maaf. Bapak hanya ingin terbaik untukmu, Mauren"


"Aku tau Pak. Tapi semua ini aku yang menjalani, semoga saja Bapak selalu mendukung setiap keputusanku. Dan lagi pula rahimku tidak benar-benar rusak jadi kemungkinan masih bisa hamil lagi walau sangat kecil"


Ibu Mauren langsung memeluk Mauren, dia juga seorang perempuan pasti beliau juga merasakan apa yang dirasakan Mauren saat ini. Ibu mengelus perut Mauren, ia berdoa semoga Mauren segera hamil lagi.


"Oh ya Sean. Maaf jika Bapak lancang, kau seorang presdir yang sangat terkenal di negeri ini, apakah selamanya kau akan menyembunyikan pernikahan kalian?"


"Saya sudah mengatur semuanya Pak, saya pasti akan membongkar hubungan kami di publik saat waktu yang tepat"


Seminggu kemudian.


Mauren bangun pagi. Dia langsung mandi menggunakan sabun termahal milik Sean. Dia membuka lembaran baru dan mulai melakukan aktivitas seperti biasanya. Hari ini dia akan mulai bekerja lagi sesuai keinginannya walaupun awalnya Sean menentang. Tetapi pada dasarnya Mauren sangat keras kepala membuat Sean mengalah dan membiarkan Mauren bekerja.


Tok... tok... tok...


Pintu kamar mandi di ketuk oleh Sean dengan keras.


"Cepat kau Oren! Lama sekali kau. Jangan pakai sabunku!" teriak Sean.


Mauren tidak menggubris ucapan Sean, ia mandi dengan santainya di dalam bak mandi penuh keharuman sabun termahal milik Sean. Dia bermain-main busa sampai Sean harus mendobrak pintu kamar mandi.


Braaak...


"Jiaaaah... sudah kuduga kau pasti menghabiskan sabunku," ucap Sean sambil mengambil botol sabunnya.


"Heeeeem wangi sekali....," goda Mauren sambil mencium lengannya.


Sean menatap kesal, dia lalu melepas semua pakaiannya dan masuk ke dalam bak mandi membuat Mauren terkejut.


Mauren menyuruh Sean keluar tetapi pria itu tidak menggubrisnya.


"Sempit, Oppa"


"Mau yang luas masuk ke kolam renang saja kau!"


Mauren berdecak, ia menatap kesal Sean. Sean juga sama menatap kesal Mauren. Dengan iseng, Mauren menyipratkan air sabun ke wajah Sean hingga membuat mata Sean terkena air sabun.


"Aaaarghh... mataku... mataku perih... aaarggh..."


"Oppa... Oppa tidak apa-apa?" tanya Mauren khawatir.


Mauren dengan cepat mengambil air untuk membilas wajah Sean.


Setelah di rasa sudah tidak perih, Sean membuka matanya lalu menatap Mauren yang tersenyum imut seolah meminta ampunan.


"Nakal sekali kau Oren," ucap Sean sambil mencubit pipi Mauren.


"Ampun Oppa," rengek Mauren.


Sean melepas cubitannya lalu menyuruh Mauren untuk keluar dari kamar mandi.


Mauren berdecak, ia membilas badannya dulu di bawah guyuran air shower setelah itu mengenakan baju baju handuk dan keluar dari kamar mandi.


Mauren memakai seragam kerjanya lalu melirik kucing orennya yang sudah terduduk di sofa termahal milik Sean.


"Cimol sudah bangun? Mau makan? Sebentar lagi Mama akan berangkat kerja," ucap Mauren sambil mengancingkan bajunya.


Dia lalu berjalan ke arah lemari makanan, ia mengambil makanan kucing lalu menuangkannya sedikit demi sedikit di mangkok.


Terlihat Sean sudah keluar dari kamar mandi dan menghampiri Mauren.


"Sudah selesai mandinya? Cepat sekali?"

__ADS_1


"Untuk apa mandi berlama-lama, aku sudah tampan maksimal"


Mauren menatap jengah sambil memutar bola matanya, ia lalu melihat tangan Sean mengambil makanan kucing itu lalu Sean melahapnya membuat Mauren terkejut sambil menelan ludah.


"Apa ini? Enak juga," ucap Sean sambil menyomot makanan kucing itu lagi.


Mauren segera menyimpan bungkus makanan kucing itu, ia lalu membawa mangkok berisi makanan kucing itu kepada Cimol.


Sean mengikuti Mauren, ia lantas meraih jas lengkapnya lalu memakainya. Matanya terbelalak ketika melihat kucing oren sudah nangkring diatas sofa termahalnya.


"Cepat turun kau kucing sialan!" ucap Sean sambil menunjuk kucing itu.


"Meeeeeoow"


Sean juga sangat terkejut melihat Mauren memberikan makanan yang sempat ia cicipi kepada kucing laknat itu.


"Jadi itu makanan kucing?"


Mauren tidak menjawab, ia sangat ketakutan.


Rasa mual menjalar di perut Sean, ia langsung bergegas ke kamar mandi dan berusaha memuntahkan isi perutnya yang sudah terkontaminasi dengan makanan kucing itu.


Hueeeeek... hueeeeek... hueeeeek...


Dan disaat itu juga Mauren kabur bersama kucing orennya tak lupa ia membawa tas dan sepatu kerjanya.


Dia berlari kencang menuju apartemen Asisten Kim, ia menekan tombol bel berkali-kali membuat Asisten Kim terkejut lalu segera membuka pintu apartemennya.


"Ada apa Nona? Kenapa anda sangat panik?"


"Aku titip kucingku dan suruh orang suruhanmu untuk menjaganya. Oh ya kunci mobilku mana?" tanya Mauren panik.


"Untuk apa, Nona?


"Cepat berikan Kak Kim!"


Mauren langsung merebutnya dan berlari menuju lift dengan tergesa-gesa membuat Asisten Kim keheranan.


"Tuanmu kini dalam mode monster. Hati-hati Kak Kim!" teriak Mauren dari dalam lift yang pintunya belum tertutup sepenuhnya.


Asisten Kim mengernyitkan dahi, ia langsung masuk ke apartemennya lalu berganti pakaian jas lengkap, dia melirik kucing Mauren yang menatapnya.


"Kau sungguh menggemaskan kucing, entah kenapa malah Tuan Sean tidak menyukaimu?"


"Meeeeoow"


Setelah memakai jasnya, Asisten Kim lalu menyuruh orang suruhannya untuk mengambil kucing oren di apartemennya.


Setelah itu ia berjalan menuju apartemen teratas menghampiri sang tuan. Asisten Kim menunggu seperti biasanya di depan pintu.


Ceklek...


"Selamat pagi Tuan," ucap Asisten Kim seraya menunduk hormat kepada Sean.


Sean tidak menggubrisnya, ia berjalan melewati Asisten Kim.


Asisten Kim merasakan hawa yang berbeda dari sang tuan.


Ekspresi Sean kini datar seperti menyimpan kemarahan yang tertunda.


Sepertinya Nona Mauren membangunkan kemarahan Tuan Sean.


Pantas saja Nona Mauren terburu-buru berangkat bekerja.


"Tuan. Tadi Nona Mauren berangkat bekerja menggunakan mobil sendiri," ucap Asisten Kim sambil memasuki lift.


Sean hanya terdiam membuat Asisten Kim menyangka jika sang tuan sedang marah dengan Mauren.

__ADS_1


Asisten Kim tidak berani mengajak berbicara lagi sampai di dalam mobil.


Dia memilih diam daripada semakin membuat sang tuan marah.


Disisi lain Mauren tengah menyetir mobil, dia bisa menyetir mobil karena dulu sempat belajar menyetir mobil pick up milik Bapaknya.


Dia menyetir mobil dengan hati-hati karena ia belum mempunyai SIM.


Huh... setidaknya aku bisa lari dari kemarahan Oppa. Jika tidak pasti aku akan di bikin perkedel olehnya.


Salah Oppa juga sih main comot aja, hahaha enak 'kan Oppa makanan kucing?


Braaaak...


Terdengar benturan cukup keras dari belakang mobilnya. Mauren langsung menghentikan mobilnya lalu keluar dari mobil.


Dia bisa melihat motor Ninja biru tengah menabrak mobil mewahnya sampai lecet.


Mauren menatap orang itu yang turun dari motornya, orang itu melepas helm.


Nampak seorang pria tampan dengan rambut bercat pirang sedang menatapnya kesal.


"Kau bisa membawa mobil atau tidak?" tanya pria itu.


"Kenapa memangnya? Aku sudah menyetir dengan benar," bela Mauren.


Pria itu mendekati Mauren, ia lantas bersandar di mobil mewah Mauren.


"Jika kau melajukan mobilmu dengan pelan maka lajukanlah di lajur kiri bukannya malah di lajur kanan! Lihatlah motorku rusak gara-gara menabrak mobilmu!" ucap Pria itu membentak.


"Hei... itu juga salahmu. Kenapa kau mengendarai motor sangat kencang?"


Pria itu menaikan alisnya, ia mendekati Mauren sampai gadis itu mundur terpentok mobilnya sendiri.


Mauren ketakutan karena wajah pria itu hanya berjarak beberapa centimeter dari wajahnya.


"Aku minta ganti rugi," ucap pria itu.


"Aku tidak punya uang"


Pria itu malah tertawa membuat Mauren kebingungan.


"Mobilmu seharga milyaran tetapi kau mengaku tidak punya uang? Hahaha... jangan-jangan mobil ini hasil dari merampok?"


"Jangan sembarangan! Mobil ini milikku?"


"Berikan dompetmu!" pinta pria itu.


"Apa?"


Pria itu langsung membuka pintu mobil lalu ia mengambil tas Mauren dan mengambil dompet milik Mauren.


"Hei itu tidak sopan!" ucap Mauren marah.


Pria itu membuka dompet milik Mauren.


Dia tengah mencari sesuatu.


"Kau tidak punya uang? Kau tidak punya kartu debit atau kredit? Bahkan kau tidak punya SIM? Hem... enaknya dibawa ke kantor polisi ya?" goda pria itu.


"Kumohon jangan! Aku janji akan mengganti kerusakan motormu tapi tidak sekarang," pinta Mauren.


Pria itu langsung mengambil KTP milik Mauren.


"Aku akan menyita KTP mu, kau bisa mengambilnya nanti malam di Cafe Deluxe," ucap Pria itu.


Pria itu lalu berjalan kearah motornya sambil tersenyum mengejek. Dia memakai helm dan langsung menancapkan gas meninggalkan Mauren yang masih syok.

__ADS_1


__ADS_2