
Saat jam istirahat.
Mauren sedari tadi hanya memainkan makanannya, ia sudah kenyang dengan meminum sebotol susu. Suasana hari ini sangat tidak terduga membuatnya menjadi patah semangat.
Dia menyandarkan kepalanya di tembok, ia menunjukan raut muka yang sayu membuat kedua temannya khawatir.
"Sebenarnya aku tidak ingin ikut campur masalah rumah tanggamu sebaiknya kamu omongin baik-baik dengan suamimu itu," ucap Lala sambil mengelus bahu Mauren.
Mauren terdiam, ia menggigit bibirnya dan tak terasa air matanya menetes.
Tetapi tiba-tiba suasana kantin yang tadinya ramai mendadak berubah menjadi senyap dan tegang termasuk Lala dan Desy yang kini duduk terdiam tanpa bicara sambil menikmati makanannya. Mauren terkejut saat melihat Sean dan Kim sedang duduk menikmati makanan kantin yang berjarak 3 meja darinya.
Sean melirik Mauren tetapi Mauren seolah memalingkan muka.
"Kenapa Tuan Sean dan Asisten Kim makan di kantin ya? Baru kali ini mereka makan bersama di kantin khusus pegawai yang makanannya sangat rumahan ini," ucap Desy sedikit berbisik.
"Iya juga ya," jawab Lala.
Mauren tidak memperdulikan mereka, ia tetap menyandarkan kepalanya di tembok dengan mata yang sayu. Sesekali ia melirik Sean, ia bertambah syok ketika Sean mengelap mulut asistennya menggunakan tisu.
Beberapa detik yang lalu.
Sean menyantap makanan itu dengan lahap, sesekali melirik Mauren yang tengah lesu dan tidak memiliki semangat.
Tapi ketika Sean melihat pria di depannya, ia sangat geram saat ada sebutir nasi menempel di sudut bibir Asisten Kim.
Sean segera mengambil tisu dan mengelap nasi itu dengan jijik tetapi saat itu juga Mauren melihatnya.
Mauren berdiri lalu menggebrak meja, semua pegawai yang berada di kantin itu terkejut lalu memandang kearah Mauren.
Gadis itu segera beranjak pergi dari kantin dan memutuskan untuk bertapa di toilet.
"Lihatlah! Segitu cemburunya denganmu Kim," ucap Sean, "Bagaimana kau jika mencari pacar saja supaya bisa menutupi gosip kita yang menjijikan itu," sambung Sean.
"Maaf Tuan. Saya tidak berpikiran untuk mencari seperti itu. Hidup mati saya hanya untuk Tuan Sean"
Cih! Bikin merinding kau! Lihat saja jika kau jatuh cinta pasti seperti orang gila.
**
Suara helaan nafas terdengar menggema di toilet. Mauren tengah merenungkan dirinya dan memikirkan hal yang tak disangkanya.
Kejadian itu membuatnya merinding saat suaminya asyik bermesraan dengan seorang pria. Dia tidak menduga akan menikah dengan pria seperti itu.
Lamunannya tersadar ketika melihat sebuah notifikasi dari handphonenya yang rupanya dari Sean.
Kutunggu kau di ruanganku. Pesan dari Sean.
Mauren tidak menggubrisnya, ia segera berjalan keluar lalu melakukan pekerjaan yang membantu pegawai lain.
Hari ini ia tidak ingin bertemu Sean ataupun asistennya, emosinya akan naik jika bertemu salah satu dari mereka.
________________________________________
Dia melempar tasnya ke tembok yang tinggi, setelah itu kakinya segera naik ke kursi supaya bisa melompat dari tembok sekolah itu.
Setelah berhasil ia segera melarikan diri supaya tidak ada yang melihatnya kabur saat pembelajaran dimulai.
__ADS_1
Gadis berkepang dua itu segera memesan taksi online untuk menuju ke tempat favoritnya.
Didalam taksi ia selalu menatap foto yang tersimpan di galeri ponselnya, foto itu membuat Zara tersenyum sendiri.
Kak Reno. Aku ingin kakak menatapku sekali saja. Aku pasti sangat bahagia.
Setelah sampai di restoran Ananta dengan cepat ia segera memesan beberapa camilan, tak lupa matanya memandang ke setiap penjuru ruangan untuk mencari tahu keberadaan Reno.
Sampai ia melihat Reno sedang berinteraksi dengan salah satu pegawainya. Dia sangat tampan kali ini mengenakan jaz formal, sepertinya ia baru saja pulang dari tempat-tempat bisnis lainnya.
Zara mencoba ke kamar mandi supaya ia bisa menatap Reno lebih jelas lagi.
Dia berjalan sambil menatap Reno sampai tidak melihat jika ada pegawai Reno yang sedang mengepel lantai.
Seketika ia terjatuh.
Gubraaaaaaak
Dia berteriak kesakitan dan rok sekolahnya menjadi basah karena terkena air pel itu.
Reno yang tau segera menghampiri dan menolongnya.
"Kamu tidak apa-apa dik?" tanya Reno yang khawatir dan segera membantunya berdiri.
Zara hanya menatap wajah Reno dengan lekat sampai ia tidak mendengarkan pertanyaan dari Reno.
"Hey!" ucap Reno membuyarkan lamunan Zara.
**
Sean terlihat menunggu kedatangan Mauren, ia sampai tidak konsentrasi pada pekerjaannya. Dia sangat gelisah sampai waktunya pulang dari pekerjaan yang melelahkan itu.
Mereka berjalan keluar gedung dengan sangat wibawa.
Setelah memasuki mobil, Asisten Kim segera melajukan mobilnya dan berhenti di tempat biasa Mauren menunggu mereka untuk pulang bersama. Tetapi nihil mauren tidak ada di tempat itu, Sean begitu khawatir dengan keadaan Mauren.
Mereka menyusuri sepanjang jalan, sampai mata Sean tidak berkedip untuk menatap jalanan yang dihiasi lampu-lampu malam.
"Berhenti Kim! Sepertinya itu Mauren," ucap Sean setelah memastikan gadis berambut panjang dan bertubuh kurus itu Mauren.
Sean keluar dari mobil, ia menghampiri Mauren yang berjalan lesu seolah tidak memiliki tenaga. Sean dengan cepat menarik tangan Mauren dan memeluknya.
"Kau membuatku khawatir Mauren. Jangan coba menghindariku lagi!"
Mauren melepas pelukan itu, ia mencoba kabur dari Sean tetapi pria itu dengan kuat menariknya untuk masuk ke mobil.
Mauren tidak bisa memberontak dan akhirnya pasrah mengikuti Sean memasuki mobil.
Di dalam mobil nampak Mauren tengah merengut dan menatap kaca mobil.
Sean selalu mengajaknya mengobrol tetapi tidak pernah di gubris oleh gadis itu.
"Kau sangat aneh Mauren, dengan Alana kau tidak semarah ini tetapi dengan Kim kau begitu marahnya denganku sampai kau tidak memandangku," ucap Sean kesal.
Mauren masih terdiam tidak mau menjawab.
"Jelaskan kepada dia Kim!" pinta Sean.
__ADS_1
"Nona Mauren kami tidak ada hubungan apa-apa, yang anda lihat saat di kantor tadi hanya kesalahpahaman saja. Kami berdua masih normal," jelas Asisten Kim.
Mauren memandang Sean, ia masih tidak percaya dengan omongan mereka.
"Kalian sudah melakukan apa saja? Anu-anu?" tanya Mauren serius.
"Apa itu anu-anu?" tanya Sean.
"Anu-anu ehem-ehem"
"Apa itu anu-anu ehem-ehem?"
"Anu-anu hoho hihe"
"Ngomong yang jelas! Apa itu anu-anu hoho hihe?" tanya Sean menatap tajam Mauren.
"Mantab-mantab ihik-ihik"
"Apa itu mantab-mantab ihik-ihik?" tanya Sean yang semakin mengintimidasi Mauren.
"N****t beg*! Aaaaaaaaaarrggggh," jawab Mauren sangat kesal sambil berteriak mejambak rambutnya lalu menggedor-gedorkan kepalanya ke kaca mobil.
Dia sangat kesal dengan Sean atas pertanyaan gila itu. Terlihat Asisten Kim yang menyetir mobil sedang menahan tawa.
"Berhenti Kim! Tepikan mobilnya!" pinta Sean.
Satu menit kemudian.
"Buaaahahahahahahaha," Sean tertawa terbahak-bahak di luar mobil bersama asisten Kim.
Asisten Kim juga tertawa terbahak-bahak setelah sang tuan mengerjai istrinya itu.
"Buahahahahha. Aduh Kim perutku sampai sakit gara-gara gadis aneh itu. Hahaha"
"Hahahaha. Istri anda sangat lucu sekali tuan"
Mauren menggigit bibir melihat mereka menertawainya sampai terbahak-bahak di luar mobil. Sungguh ia merasa sangat bodoh menjawab pertanyaan Sean yang konyol.
"Buahahahaha... Apa itu anu-anu ehem-ehem Kim? Hahaha," tanya Sean seolah mengejek Mauren.
"Hahahaha tanya Nona Mauren Tuan," jawab Asisten Kim sambil tertawa berjongkok terlihat air matanya keluar karena kelelahan tertawa.
Mauren sangat kesal dengan bos gila dan asistennya itu, ia segera pindah ke kursi depan lalu menyetir mobil meninggalkan mereka yang masih menertawainya.
"Tuan, nona Mauren membawa kabur mobil anda," ucap Asisten Kim terkejut.
Sean berhenti tertawa lalu memandang mobilnya yang sudah jauh meninggalkan mereka.
"Kejar Kim!" ucap Sean lalu berlari mengejar mobil itu.
_____________
Halo ini author.
Mohon dukungannya dengan like, komen, vote dan rate5 di cerita ini.
Dukungan kalian sangat berarti buat saya.
__ADS_1
Mohon juga tinggalkan saran untuk cerita ini.
Positif maupun negatif akan saya terima, supaya saya bisa memperbaiki cerita ini supaya lebih baik lagi.