Mendadak Menikah (Sean & Mauren)

Mendadak Menikah (Sean & Mauren)
MMSM 2 : Bab 170 - Kabar duka


__ADS_3

Ali nampak menunggu seseorang wanita. Dia mengamati foto di ponselnya dengan seksama nampak tidak asing dan sepertinya ia pernah mengenalnya.


"Hai Al," ucap seorang wanita siapa lagi jika bukan Alana.


"Jadi Alana yang dimaksud Tuan Sean adalah dirimu?" tanya Ali.


Alana menganggukan kepala, Ali segera membawakan koper milik Alana. Ternyata mereka sudah saling mengenal.


"Sementara jadi asistennya Sean?" tanya Alana.


"Iya"


Mereka masuk ke dalam mobil dan Ali melajukan mobilnya menuju rumah Alana. Alana memutuskan untuk pulang dan menetap di negara itu. Dia tidak betah berada di luar negeri.


"Ali, ku harap kau bisa melupakan kejadian itu. Aku waktu itu depresi karena tidak jadi menikah dengan Sean dan ya..."


"Jika kau ingin memintaku bertanggung jawab maka aku akan bertanggung jawab," jawab Ali tanpa ragu.


Alana menggigit bibirnya lalu berdecih, ia tidak ingin menikah dengan orang yang tidak dicintainya dan menurutnya tidak ada yang harus di pertanggung jawabkan.


"Kau tidak perlu bertanggung jawab bahkan aku tidak hamil," ucap Alana.


"Jika calon suami mu nanti bertanya saat malam pertama dan kau terbukti sudah tidak perawan bagaimana?" tanya Ali membuat Alana tidak bisa berkata-kata.


Alana sangat gugup dan bingung harus menjawab apa. Tapi dia tidak ingin menikah dengan Ali.


"Aku akan menunggumu Alana. Aku mencintaimu," ucap Ali sontak membuat Alana terkejut dan jantungnya berdegup kencang.


**


 


6 bulan kemudian.


Asisten Kim memutuskan untuk kembali ke negara itu dan menjadi asisten pribadi untuk Sean lagi.


Dia kini semakin tampan dan langsung berangkat bekerja.


Dia membuka pintu ruangan Sean dan melihat Sean dan Ali sedang berbicara.


"Permisi Tuan Sean," ucap Asisten Kim.

__ADS_1


Sean terkejut lalu berdiri dan memeluk Asisten Kim. Dia begitu rindu dengan sang asisten yang hampir 7 bulan pulang kampung ke negara asalnya.


Setelah itu Sean melepas pelukannya.


Ali ikut senang jika Asisten Kim sudah kembali tetapi ia sangat sedih karena ia harus berhenti menjadi asisten pribadi Sean.


"Jika begitu saya pamit undur diri Tuan Sean," ucap Ali sambil membungkukan badan.


"Tunggu Ali! Siapa yang menyuruhmu pergi?" tanya Sean.


"Asisten Kim sudah kembali dan kontrak kerja saya juga habis hari ini," jelas Ali.


Sean menghela nafas lalu bersandar pada meja direkturnya sambil bersedekap memandang Ali.


"Aku suka dengan cara kerjamu Al. Kau disiplin dan penurut apalagi kau juga selalu menuruti keinginan konyolku. Kau tetap disini dan bekerja sebagai sekertarisku menggantikan Yuna yang sudah keluar dari perusahaan ini," pinta Sean.


Ali terdiam sambil berpikir, ia memang belum melamar ke perusahaan lain dan tentu saja akan mengulangi dari awal lagi jika ia pindah perusahaan.


Ali menganggukan kepala seolah setuju dengan permintaan Sean. Dia juga sudah sangat menyukai Sean yang selalu baik kepadanya.


Selama menjadi sekertaris orang kaya lainnya. Hanya bekerja dengan Sean lah ia merasa bekerja dengan temannya sendiri. Sean selalu mengajaknya berbicara, bermain game jika jenuh dengan pekerjaan kantor dan Sean adalah tipe orang humoris membuatnya selalu tersenyum jika dekat dengan Sean. Maka dari itu Ali tahu alasan Kim kenapa bisa betah bekerja dengan Sean karena Sean terlalu baik untuk menjadi seorang tuan muda.


Aku sudah menjadi sekertaris di 4 tuan muda terkemuka tapi hanya Tuan Sean yang sangat baik. Tuan muda yang lainnya terlalu irit kata dan sangat dingin seperti es. Batin Ali.


"Baik tuan. Saya mau menjadi sekertaris anda," ucap Ali dengan bersemangat.


 *****


Waktu menunjukan pukul 7 malam lebih, Sean yang baru pulang dari kantornya masuk ke kamar dan terkejut melihat Seina yang sudah bisa berguling dan duduk sendiri hampir terjatuh dari ranjang. Sean dengan sigap menggendong bayi berumur 7 bulan itu.


"Mama mu dimana? Kenapa bisa teledor begini?" ucap Sean sambil membawa Seina ke depan kolam renang.


Sean yang masih menggunakan jas menggendong Seina dengan senang hati dan nampak Seina semakin aktif bahkan selalu melorot di gendongan Sean.


"Seina mau jalan?" ucap Sean sambil mentitah Seina dengan hati-hati.


Kaki mungil Seina melangkah dengan pelan dan perlahan.


"Mhmmmhh maa ciaaa ciaa mmhhh," ucap Seina tidak jelas.


"Ngomong apa kau Seina? Seina mau adek? Biar papa buatin"

__ADS_1


"Oppaaa," teriak Mauren mengagetkan Sean.


Dia merebut Seina dari Sean. Mauren memarahi Sean karena sepulang kerja belum cuci tangan maupun mandi sudah berani menyentuh Seina.


"Yaya, aku akan mandi. Kau tau jika Seina hampir jatuh dari ranjang? Lain kali jangan di tinggal," ucap Sean sambil masuk ke kamar.


Mauren tersenyum mendapati Sean yang semakin hari semakin perhatian dengan anak angkatnya apalagi kini Seina semakin menggemaskan dan lucu bahkan ia sudah belajar merangkak.


Tidak ingin Seina mendapat terlalu banyak angin malam, Mauren membawanya ke ranjang.



"Hallo Seina, jangan gigitin jari ya," ucap Mauren melepaskan tangan Seina yang masuk kedalam mulut.


Mauren menciumi kepala Seina yang belum dipenuhi rambut. Dia begitu gemas dengan anaknya.


Beberapa menit kemudian, Sean keluar dari kamar mandi lalu memakai pakaian. Dia melihat Seina belum tidur.


"Bulan ini sudah mens?" tanya Sean kepada Mauren.


"Barusan mens, oppa," jawab Mauren sangat sedih.


Sean merebahkan dirinya di ranjang lalu mengelap air mata Mauren yang menetes.


"Harusnya aku tidak selalu menanyakan itu. Pasti membuatmu sangat sedih," ucap Sean.


"Tidak apa-apa oppa. Jika melihat kalian pasti kesedihanku hilang"


Sean tersenyum lalu melihat ponselnya betapa terkejutnya ia mendapat kabar jika sang kakek meninggal dunia. Tak terasa air mata Sean menetes, walaupun sang kakek selalu menang sendiri tetapi Sean begitu menyayangi kakeknya.


Mauren sangat terkejut dan ia menangis karena setelah Kakek Askar merestui pernikahan mereka, beliau selalu baik kepada Mauren maupun Seina.


Sean dan Mauren bergegas menuju ke rumah kakek. Mereka diantar Asisten Kim yang juga sangat terpukul karena sudah menganggap sebagai ayahnya sendiri.


Sesampainya di rumah sudah banyak orang yang berkumpul termasuk para kolega terdekat. Banyak karangan bunga di kirimkan untuk menghormati mendiang Kakek Askar yang sudah berjaya membangun dan meneruskan perusahaan Young Group hingga sekarang.


Kedua anaknya yaitu Mama Sean dan Mama Zara menangis tak kuasa harus kehilangan ayah tercinta.


Sean berusaha tegar tetapi tetap saja airmatanya jatuh tanpa permisi.


Bahkan kakek belum melihat anakku lahir. Kakek belum melihat cicit kakek menjadi penerus perusahaan ini. Kenapa kakek pergi secepat ini? Batin Sean.

__ADS_1


Mauren menepuk bahu Sean, dia tahu kesedihan Sean. Walau Sean terlihat cuek tetapi Sean selalu menuruti keinginan sang kakek dan menjadi cucu yang baik untuk Kakek Askar.



__ADS_2