
Wanita itu menenggak anggur merah, ia menelannya dengan kasar. Pikirannya berkecamuk memikirkan sang anak yang selalu membuatnya kesal lalu ia melampiaskan dengan sebotol anggur merah.
Kau seperti Papamu Sean. Selalu mengecewakan Mama.
Huh! Aku harus segera memisahkan mereka dan aku akan mengenalkanmu pada Bella. Model terkenal di negara sebelah. Dia jauh dari kata layak menjadi istrimu ketimbang Mauren si anak tukang sayur itu.
Keesokan harinya.
Waktu menunjukan jam 4 pagi. Perut Mauren terasa begitu mual, ia dengan langkah hati-hati menuju ke kamar mandi lalu memuntahkan tanpa suara di kloset supaya Sean tidak terbangun.
Setelah di rasa cukup lega, ia membasuh mulutnya dan menghadap ke kaca. Dia menghela nafas, sampai kapan morning sicknessnya segera berakhir. Tetapi ia merasa senang karena sebentar lagi akan memiliki bayi yang lucu.
"Bunda tidak sabar untuk bertemu denganmu," ucap Mauren sambil mengelus perutnya.
Setelah itu Mauren berjalan ke ranjangnya, ia melihat Sean masih tertidur pulas sambil memeluk guling.
Mauren tersenyum lalu dengan iseng mengecup bibir Sean. Mauren memandang wajah Sean yang tampan lalu memeluk tubuhnya dan tertidur lagi sampe kesiangan.
Jam 9 pagi.
Sean sangat terkejut karena dirinya kesiangan, ia melihat Mauren yang memeluk tubuhnya dengan erat.
Sialan! Aku kesiangan. Kenapa Kim tidak membangunkanku?
"Oren sayang. Bangun kau! Sudah siang"
Hoaaaaam....
Mauren mengucek matanya lalu terduduk lemas karena masih mengantuk, sedangkan Sean langsung ke kamar mandi dan mandi karena hari ini ia akan berangkat kerja. Dia tidak bisa libur karena jadwal hari ini sangat padat dan penting.
10 menit kemudian, Sean selesai mandi lalu memakai jas hitamnya.
"Oppa mau berangkat kerja?" tanya Mauren.
"Iya Oren. Hari ini Oppa jadwalnya sangat padat. Kasian Kim jika harus mengurusnya sendirian. Akan ku telponkan ibumu untuk menemanimu disini," ucap Sean sambil mengenakan dasinya.
"Aku mau ikut Oppa kerja dan aku juga mau menemui Kak Lala dan Kak Desy, aku ingin menjelaskan kesalahpahaman diantara kita"
Sean menghela nafas, ia mengiyakan ucapan Mauren dan sepertinya ia melihat Mauren hari ini tidak muntah-muntah padahal sudah jam 4 pagi tadi Mauren muntah tanpa sepengetahuan Sean.
Setelah diizinkan Sean, Mauren segera bergegas ke kamar mandi dan segera menyiram tubuhnya dengan air hangat.
Sesampainya di kantor.
Sean langsung menghadapi pekerjaan yang banyak dan menguras otak. Dia hari ini tidak ingin diganggu sebelum pekerjaannya selesai. Sedangkan Mauren mencoba menemui Desy dan Lala diruangannya, sudah beberapa hari ini mereka tidak berjumpa.
"Mauren?" ucap Lala sambil tersenyum.
"Apakah aku mengganggumu Kak Lala?" tanya Mauren.
"Tidak. Duduklah!"
Sedangkan Desy seolah cuek dengan Mauren, ia masih kesal kepada Mauren.
"Aku mau minta maaf kepada kalian jika waktu itu perkataanku menyakiti kalian," ucap Mauren.
"Kau tidak salah. Untuk apa minta maaf?" tanya Lala dengan santai.
Mauren menjelaskan secara detail tentang hubungannya dengan Sean, Lala dan Desy sangat terkejut terutama Desy yang sempat iri dengan Mauren.
Mauren lalu menyuruh mereka untuk tutup mulut dan tidak boleh membocorkan rahasianya kepada siapapun.
__ADS_1
"Aku sungguh minta maaf Mauren yang sudah menuduhmu yang tidak-tidak," ucap Desy merasa menyesal.
"Aku juga minta maaf dengan Kak Desy yang waktu itu aku mengucapkan hal menyakitkan kepada Kakak," jawab Mauren.
Mereka kini berpelukan dan saling memaafkan, Mauren lega karena masalah dengan temannya kini sudah terselesaikan jadi ia tidak kepikiran lagi.
Mereka memutuskan untuk pergi ke mall bersama di akhir pekan untuk merayakan pertemanan mereka yang sempat renggang.
Setelah urusannya selesai, Mauren segera menuju ke ruangan Sean. Dia melihat sang suami sedang sibuk, ia tidak ingin menganggu lalu langsung berjalan menuju kamar rahasianya.
Sean melirik Mauren yang tidak menyapa dirinya.
"Sudah selesai urusannya?" tanya Sean yang menghentikan langkah Mauren.
"Sudah Oppa," jawab Mauren sambil tersenyum.
"Kau yakin jika mereka tidak akan ember dengan hubungan kita?"
"Aku yakin, Oppa"
"Ya sudah. Kau ingin makan apa?" tanya Sean.
"Belum ingin makan apa-apa, Oppa"
"Yasudah jika begitu beristirahatlah di kamar"
Mauren tersenyum, ia lalu masuk ke kamar rahasianya, ia meraih remote TV dan menonton sinetron azab kesukaannya.
Asisten Kim mengerjakan tugasnya dengan serius, ia memang sangat pandai dalam urusan pekerjaan. Matanya fokus menatap layar laptop tetapi ia di kejutkan dengan ketukan pintu ruangannya.
"Masuklah!" ucap Asisten Kim.
"Kakak ku ada di dalam?" tanya Sera.
"Iya. Tetapi Tuan Sean sedang sibuk"
Sera tidak memperdulikan ucapan Asisten Kim, ia melangkah menuju pintu ruangan Sean. Tetapi langkahnya terhenti saat Asisten Kim mengucapkan hal yang membuat dirinya sangat terkejut.
"Baru pacaran seminggu yang lalu dengan ketua Osis, benar 'kan Nona Sera?"
"Dari mana kau tau?" tanya Sera tersenyum kesal.
"Tidak ada hal yang tidak aku ketahui Nona Sera"
Sera menatap tajam kearah Asisten Kim, ia sangat kesal dengan pria itu.
"Aaaaaaaaaaaaaah....," teriak Sera menjerit sekuat-kuatnya.
Dia langsung berlari masuk ke ruangan Sean, Sean sangat terkejut ketika Sera tiba-tiba masuk dan berteriak ke arah Sean. Sampai tali sepatunya terlepas lalu ia tidak sengaja menginjaknya dan ia pun terjatuh menatap meja direktur Sean cukup keras.
Duaaaaaak.
"Aaaawwww sakit!"
Sean segera membantunya berdiri, sedangkan Sera mengelus kepalanya yang sudah memerah gara-gara terbentur meja milik Sean.
"Pecicilan lagi kau," ucap Sean kesal.
Sera lalu melirik Asisten Kim yang sudah berdiri di dekat pintu, ia menatap lekat Asisten Kim dengan kesal.
"Kak Sean. Asisten Kim nakal kepadaku," rengek Sera kepada Sean.
__ADS_1
"Ada apa?"
"Dia menyentuh bokongku! Pecat saja dia Kak!" ucap Sera.
Sean lalu menjitak kepala Sera, ia tahu jika Sera tengah berbohong dan ia tidak percaya sang asisten melakukan itu pada adik sepupunya.
"Aduh... sakit Kak"
"Ada apa Kim sebenarnya?" tanya Sean penasaran.
"Nona Sera...."
"Tunggu! Hehehe hanya kesalahpahaman saja Kak, iya 'kan Asisten Kim?"
Asisten Kim tersenyum kecut lalu ia disuruh kembali ke ruangannya dengan cepat Sera menjulurkan lidahnya tetapi Asisten Kim tidak menggubrisnya.
Dasar bocah SMA! Batin Asisten Kim.
Sedangkan Sean duduk di kursi termahal nya, ia melirik Sera yang tidak pergi justru malah memandanginya.
"Apa kau? Pergi kau ikut supervisormu sana! Aku sedang sibuk"
"Aku mau disini saja Kak. Aku capek, supervisor botak itu menyuruhku kesana kemari," rengek Sera lalu menyeret kursi dan terduduk disebelah Sean.
"Jika capek tidak usah magang disini! Dirumah saja kau main gundu dengan Zara!"
"Ah... Jangan begitu Kak! Aku punya gosip bagus yang harus dibahas bersama Kakak," ucap Sera mengalihkan pembicaraan.
"Apa itu?" tanya Sean sambil mengetik laptop.
Sera lalu menceritakannya kepada Sean. Sean mengerutkan kening dan dengan cepat menutup laptopnya. Dia mendengarkan dengan serius dan tidak berkedip.
"Jadi maksudmu Zara menyukai Reno dan ia magang di tempat Reno supaya dia bisa dekat Reno?" tanya Sean sambil menatap wajah Sera lekat.
"Benar Kak"
"Sialan! Rendah sekali selera Zara menyukai duda beranak satu. Terus apa lagi?"
"Dia mau menyatakan cintanya kepada Kak Reno"
"Hahaha aku yakin pasti anak itu di tolak," ucap Sean senang.
"Aku juga yakin, Kak. Setelah itu aku bisa menertawainya," ucap Sera dengan jahat.
Sean menjitak kepala Sera, ia tidak menyangka jika Sera sangat licik kepada saudari kembarnya.
"Aduh... sakit Kak!"
"Kau tidak boleh menertawakannya.... tanpa diriku, buahahahaha haha"
Mereka lalu tertawa jahat dengan senang. Sampai tertawanya terdengar ke kamar rahasia. Mauren merasa terganggu lalu mencoba keluar dari kamarnya.
"Sera?" ucap Mauren.
__________________________
Ayo dong .. budayakan jika sudah membaca tekan tombol LIKE nya... Hargai author ya kawan... like komen dan vote dari kalian sangat berarti buat saya...
Sera Gianila Adinata
__ADS_1