Mendadak Menikah (Sean & Mauren)

Mendadak Menikah (Sean & Mauren)
MMSM 2 : Bab 193 - Pembulian


__ADS_3

"Oren, sudah tidak usah. Kau urusi anak kita saja. Aku sudah menyiapkan bajuku sendiri," ucap Sean sambil memakai jasnya.


"Mereka sudah siap kok, Oppa"


Hari ini Sean akan terbang ke kota sebelah meninggalkan keluarga kecilnya untuk urusan pekerjaan.


Setelah makan dan mempersiapkan barang apa saja yang di butuhkannya. Sean berpamitan kepada sang istri dan Daleon.


Sean memberikan kecupan hangat pada kening Mauren dan Daleon.


"Jangan merindukanku, Oren!" goda Sean.


"Apaan sih, oppa?" jawab Mauren malu-malu.


"Dale, jangan nakal! Turuti kata mama!" ucap Sean sambil mengelus kepala Daleon.


Setelah itu Sean keluar dari apartemen sambil menggandeng Seina. Dia sekalian mengantar Seina menuju ke sekolah. Mereka berjalan menuju lift dan menghampiri Asisten Kim di apartemennya.


Setelah sampai ia mendengar tangisan yang tak asing. Seorang bocah kecil berusia 3 tahun siapa lagi jika bukan Ali Aldebaran Adinata, anak dari Kim dan Sera.


Ali menangis kencang tatkala ayahnya akan pergi bekerja. Ya, Sean sudah tahu hal itu bahkan Ali setiap hari menangis jika di tinggal sang ayah.


"Ayah.... Dangan pelgi! Al mau itut ayah...," rengek Ali.


Sedangkan Seina menertawakan Ali yang menangis membuat Ali menangis semakin kencang.


"Jangan nangis Ali! Sana main sama Kak Daleon!" ucap Sean.


Disaat bersamaan Sera keluar, ia langsung menggendong Ali dan meminta sang suami untuk segera pergi.


Asisten Kim merasa tak tega melihat anaknya menangis tetapi mau bagaimana lagi ia harus bekerja.


Sean, Kim dan Seina lalu keluar dari gedung apartemen.


Seina memasang muka cemberut karena ia sangat benci sekolah.


"Papa, hari ini Sein libur aja ya?" ucap Seina.


"Kenapa? Sudah cantik begini, rambut sudah di kucir dua kenapa tidak mau sekolah? Jadi anak bodoh mau kau?" jawab Sean.


Seina menggelengkan kepala, ia merem**s jarinya.


"Apa aku bukan anak kandung papa dan mama? Kenapa aku tidak mirip dengan papa dan mama? Teman-teman Sein bilang aku anak pungut. Apa benar begitu, pa?" ucap Seina dengan nada sendu.


Sean dan Asisten Kim yang sedang mengemudi sangat terkejut mendengar ucapan Seina.


Sean lalu mengangkat Seina dan memangkunya.


"Seina anak papa dengan mama. Jangan hiraukan ucapan orang lain!" ucap Sean.


"Kenapa papa sering memarahiku?"


"Karena Sein bandel jadi papa marah dengan Sein. Marah itu pertanda sayang," jawab Sean.


Mata bulat Seina memandang Sean dengan penuh tanya. Sempat terpikir jika ia bukan anak kandung papa mamanya karena ucapan sang nenek yaitu Mama Sean.


Waktu itu seluruh keluarga Adinata berkumpul untuk mengadakan makan malam. Trio somplak beserta istri dan para anaknya ikut hadir.


Mereka sangat senang jika sedang berkumpul bersama.

__ADS_1


Mama Sean sangat sayang kepada Daleon, anak Sera dan, anak Zara tetapi tidak dengan Seina.


Dia tidak begitu memperdulikan Seina karena memang Seina bukan cucunya.


Anak sekecil Seina sudah merasa diperlakukan tidak adil. Apalagi tatapan Omanya seolah tatapan kebencian.


"Daleon, Naira, Naiza dan Ali sini ikut Oma. Oma punya coklat buat kalian," ucap Mama Sean.


Anak-anak kecil itu sangat senang menerimanya tetapi tidak dengan Seina. Anak kecil seperti Seina pasti merasa iri di perlakukan seperti itu tetapi dia tidak pernah mengadu kepada papa dan mamanya. Dia berpikir positif mungkin dia paling besar sendiri dari cucu keluarga Adinata.


"Oma... kali ini Seina gak dapet coklat? Kemarin Seina juga gak dapet kue dari oma," ucap gadis kecil itu.


"Tidak ada coklat untuk Seina," jawab Mama Sean.


Seina terdiam dan menahan air matanya. Dia lalu berjalan menunduk menjauhi mereka yang ada di dapur.


Seina terduduk di tangga sambil memegang boneka babi pink miliknya.


Dia hanya ingin di perlakukan sama.


"Kak, kakak keterlaluan dengan Seina. Di kulkas kan banyak coklat, kenapa Seina tidak di kasih?" tanya mama Sera dan Zara.


"Dia bukan cucuku, dia bukan anak Sean dan bukan keturunan Adinata," jawab Mama Sean.


Ternyata Seina mendengar ucapan mereka dan bersembunyi dari mereka yang melewati pinggir tangga.


Gadis kecil yang akan masuk sekolah dasar itu mencerna ucapan omanya.


Hatinya terasa sakit jika ia bukan anak kandung Sean.


Pantas saja Papa hanya memarahiku.


Papa bukan papaku.


"Ini buat kakak, aku tidak suka coklat," ucap Daleon.


"Aku tidak mau, oma memberikannya kepadamu," jawab Seina.


"Yasudah, aku akan buang coklat ini"


Seina berdiri lalu menarik tangan Daleon tetapi karena Daleon refleks memberontak ia jadi terpeleset lalu jatuh terguling di tangga dan saat itu Mama Sean tidak sengaja melihat.


"Daleon...," teriak Mama membuat anggota keluarga yang lain terkejut.


Daleon merintih kesakitan dan memegang pinggir jidat nya yang terbentur lantai cukup keras.


Sean dan Mauren membangunkan Daleon. Jidat Daleon langsung luka dan ia menangis kencang.


"Dia di dorong Seina, Sean," ucap Mama.


Sean begitu marah, ia menjewer Seina dan menariknya menuju ke kamarnya dulu. (Mereka ada di rumah kakek Askar)


Seina merintih kesakitan dan memohon untuk melepaskan jewerannya.


"Masuk kamar kau! Tidak bisakah satu hari saja tidak membuat masalah? Tidak bisakah satu hari saja kau tidak membuat papa marah?" ucap Sean kesal.


"Aku tidak mendorong...."


"Diam kau! Berani menjawab kau?"

__ADS_1


Seina menangis dan menundukan kepala. Sean lalu meninggalkannya di kamar.


Seina berbaring di ranjang dan menangis menumpahkan kesedihannya.


"Huaaaaaa.... aku bukan anak papa. Pantas saja papa selalu memarahiku," ucap tangis Seina sambil sesegukan.


Hatinya sangat terluka karena selalu mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari keluarganya.


Sedangkan Sean menghampiri Daleon yang di pangku oleh Mauren. Daleon rupanya tertidur setelah menangis.


Luka merah nampak di jidat Daleon tetapi sudah diberi obat merah oleh Mauren.


"Seina dimana, oppa?" tanya Mauren.


"Di kamar, biarkan dia menyesali perbuatannya. Punya anak perempuan bandel sekali," jawab Sean.


Mauren menghela nafas lalu berdiri untuk membawa Daleon untuk ke kamar. Sedangkan Sean duduk untuk menyambung obrolan mereka yang sempat terpotong.


"Sean, kau tidak boleh memarahi Seina seperti itu. Mental dia akan jadi penakut," ucap Dokter Juna.


"Dia bandel sekali, Juna. Tidak seperti anakmu yang pendiam"


"Kasian Seina, Sean. Jangan terlalu sering memarahinya," ucap Dokter Juna.


Disisi lain, Mauren yang masuk ke kamar melihat Seina menangis sesegukan.


Mauren membaringkan Daleon di sebelah Seina.


"Sheren sayang? Sudah jangan menangis! Sheren mau makan apel? Mama akan kupasin," ucap Mauren.


Seina lalu memeluk Mamanya dan menumpahkan seluruh tangisannya di pelukan sang mama.


Flashback selesai.


Kembali saat Seina menatap Sean di dalam mobil.


"Siapa teman Sein yang mengatakan Sein anak pungut? Biar Papa marahi," ucap Sean.


Seina menggelengkan kepala lalu turun dari pangkuan Sean. Sean tidak menyangka jika akan seperti ini. Padahal ia sudah menghapus semua artikel Seina yang mengenai Seina anak yang di adobsi Sean.


15 menit kemudian.


Mereka sampai di TK Seina, Sean mengantar Seina sampai pintu gerbang.


Seina mencium tangan Sean lalu masuk ke dalam gedung sekolah.


"Eh, si Seina beruntung banget di adopsi konglomerat. Anaknya pun manis sekali. Beruntung jadi Seina," ucap emak satu yang sedang menunggu anaknya sekolah.


"Benarkah? Jadi berita yang sempet viral itu ternyata Seina? Wah... anakku temenan sama orang kaya dong"


"Iya beruntung banget. Tapi kata anakku Seina itu sangat sombong, suka pamer padahal dia hanya anak pancingan"


"Hidup kalian hanya menggosip tentang anak kecil?" ucap Sean yang sedari tadi berada di belakang emak-emak itu.


Emak-emak itu mati kutu. Mereka terdiam seolah ketakutan.


"Pantas saja anak-anak kalian membully anakku. Kelakuan para orang tuanya seperti ini. Salah apa Seina kepada kalian?" ucap Sean sudah tidak terkontrol emosinya.


Asisten Kim menenangkan sang tuan. Dia mengkode para emak-emak itu untuk segera meminta maaf.

__ADS_1


Mereka meminta maaf kepada Sean, tetapi tetap saja membuat Sean masih kesal.



__ADS_2