Mendadak Menikah (Sean & Mauren)

Mendadak Menikah (Sean & Mauren)
Curhatan Tuan Sean


__ADS_3

Ruangan meeting khusus petinggi-petinggi perusahaan di penuhi orang-orang berdasi dan berjas hitam. Mereka mengobrol tentang bisnis mereka masing-masing saling bekerja sama dalam beberapa sektor usaha.


Seperti Perusahaan Young Group akan bekerja sama dengan perusahaan Stars group dalam mengembangkan bisnis kapal pesiar. Presdir Young Group yaitu Sean dengan penuh wibawa dan berkharisma.


Banyak orang yang menyeganinya karena ia sudah terjun dalam dunia bisnis sejak lulus SMP. Sean terkenal pandai dalam menentukan bisnis yang ia jalani, tidak ada satupun bisnis yang gagal yang ia jalankan.


Setelah meeting, Sean dan asistennya kembali ke kantor. Tetapi sebelum memasuki mobil Papa Alana menghampirinya.


Sean terkejut lalu segera mencium tangan Papa Alana.


"Kau buru-buru Sean? Bagaimana kita makan siang dulu sebentar? Mumpung kita bertemu disini," ajak Papa Alana.


Sean melirik Asisten Kim seolah memberi kode, Asisten Kim menganggukan kepalanya.


"Maaf. Tetapi Tuan Sean hari ini ada rapat dadakan bersama para manager perusahaan-perusahaan naungan Young Group," ucap Asisten Kim.


Raut wajah Papa Alana nampak kecewa, Sean lalu berpamitan dengannya dan langsung menaiki mobil. Sean menghela nafas, ia menepuk bahu asisten Kim dan berterima kasih kepadanya karena sudah menyelamatkannya.


Sean menyandarkan kepalanya ke kursi, pekerjaannya hari ini sungguh sangat melelahkan dan membuat kepalanya sedikit nyeri.


"Tuan Sean apakah anda baik-baik saja?"


"Kepalaku sedikit nyeri, tolong bawa aku ke dokter sinting itu Kim! Setelah ini waktuku senggang kan?"


"Iya Tuan jadwal anda senggang sore ini"


Asisten Kim melajukan mobilnya ke rumah sakit naungan Young Group yang di pimpin oleh dokter Juna, ia lah yang bertugas menjadi dokter pribadi presdir Young Group.


Sean membuka galeri ponselnya, ia melihat foto-foto Mauren yang sengaja diambilnya diam-diam tanpa sepengetahuan Mauren.


Sampai kapan kita menyembunyikan pernikahan ini? Aku yakin jika keluargaku tau pasti mereka akan membuatmu menderita apalagi kakek yang selalu berusaha menjodohkanku.


Sesampainya di rumah sakit.


Sean dan Asisten Kim memasuki rumah sakit dengan penuh wibawa, orang-orang yang berada disekitarnya terkesima dengan mereka. Dokter Juna memandangi kedatangan mereka dengan tatapan sinis.


"Kau datang kesini untuk periksa kesehatan atau mau fashion show?" tanya Juna menatap Sean yang memakai kacamata.


"Berisik kau! Cepat periksa keadaanku dan jangan buang-buang waktuku!"


Dia yang buang-buang waktuku. Jika saja aku tidak dibayar banyak pasti aku tidak mau menjadi dokter pribadi pria bodoh ini.


Setelah memasuki ruangan, dokter Juna memeriksa keadaan Sean. Lalu mengambil jarum suntik yang berisi cairan vitamin untuk menjaga daya tubuh Sean. Sean lalu dengan sigap berdiri dan menjauhi dokter Juna yang memegang jarum suntik.


"Sialan kau! Buang jarum suntik itu!" ucap Sean ketakutan.


Sean memang takut dengan jarum suntik, ia bahkan sampai mimpi buruk ketika pertama kali disuntik paksa oleh dokter Juna.


Dokter Juna berdecak dan segera meletakan jarum suntik itu. Dia menatap Sean dengan tangannya yang bersedekap.


"Jadi mau mu apa? Kau butuh vitamin supaya bisa menjaga daya tahan tubuhmu dengan cara di suntik," jelas dokter Juna.

__ADS_1


"Tidak bisakah kau memberiku dalam bentuk obat saja?" tanya Sean merinding sambil melirik jarum suntik itu.


Dokter Juna mendengus lalu berjalan menuju lemari obatnya, ia mengambil beberapa vitamin yang kualitas bagus untuk sang presdir dan menyerahkan obat itu kepada Sean. Mata Sean melotot memandangi dokter Juna, ia sangat marah dengan dokter itu.


"Kau mau mati? Kenapa kau memberiku obat dalam bentuk ini? Kau harusnya memberiku sirup!"


"Kau sudah besar mau sampai kapan minum obat sirup?" tanya dokter Juna mulai kesal.


Asisten Kim menengahi pertikaian mereka, ia menenangkan sang tuan yang sudah siap berkelahi dengan dokter Juna.


Asisten Kim memberi kode untuk dokter Juna supaya mengalah dan segera memberikan obat sirup untuk Sean.


Benar kata orang yang waras yang harus mengalah. Batin dokter Juna.


Dokter Juna mengambil obat sirup yang dibuat khusus untuk Sean, ia segera menyerahkannya dan menyuruh Sean untuk pergi. Sean tidak mau pergi dan malah curhat kepada dokter Juna.


"Kenapa ya istriku tidak mau melakukan uhuk-uhuk denganku?"


"Apa itu uhuk-uhuk?"


"Skidipap skidipapap"


"Apa itu skidipap skidipapap?"


"Kau mau aku berlari kearah tempat pendaftaran pasien terus rebutan microphone dengan suster lalu aku harus menjelaskan apa arti uhuk-uhuk skidipap skidipapap itu? Sialan kau!" ucap Sean kesal.


Nampak dokter Juna menahan tawa dengan menutupi mulutnya lantas ia mengambil kursi dan duduk di depan Sean. Dia menepuk paha Sean membuat Sean terkejut.


"Kau maho juga rupanya?" tanya Sean sambil memundurkan kursinya.


Sean mengingat saat dirinya disunat :


"Uaaaaaaa Mama... Sean takut Maaaa... Sean gak mau di sunat Maaa... Huaaaaaaaaaaa... Sakit Maaaaaaa..... Uaaaaaaaa"


Sean lalu berdecak saat mengingat kejadian itu, ia telah berjanji pada dirinya jika tidak mau disunat untuk kedua kalinya.


"Sialan kau!" ucap Sean mengingat masa lalunya.


"Kau tepat sekali berbicara hal itu dengan ahlinya"


"Bicara apa? Tentang sunat?"


"Skidipap beg*!" ucap dokter Juna mulai kesal.


"Kau sudah mencoba memancing istrimu untuk mengarah ke hal itu?"


"Huh! Hampir setiap malam tetapi ia menolak melakukannya"


Sean lalu menceritakan saat menggoda istrinya secara detail, dokter Juna hanya mengangguk-anggukan kepala dan memegang dagu. Asisten Kim hanya menjadi pendengar setia kedua orang aneh itu.


"Kau kurang agresif Sean, kau harus mencoba trikku dan trik ini berhasil terhadap istriku"

__ADS_1


Dokter Juna membisikan sesuatu di telinga Sean, mata Sean terbelalak dan mulai paham apa yang dikatakan dokter Juna.


"Apakah cara itu akan berhasil?" tanya Sean.


Dokter Juna menganggukan kepala lalu setelah itu mengusir Sean supaya pergi karena membuang-buang waktunya.


Sean berdecak padahal ia ingin curhat lebih lama lagi dengan dokter Juna.


Sean dan Kim berjalan menuju kearah pintu dengan Sean yang berada di depan sang asisten.


Sean meraih gagang pintu dan membukanya.


Ceklek ceklek ceklek ceklek


Sean beberapa kali membuka pintu itu dengan cara di dorong tetapi tidak mau terbuka.


"Kenapa kau kunci pintunya? Kau mau macam-macam denganku?" tanya Sean menatap dokter Juna.


"Ditarik bodoh!"


Sean segera menariknya dan pintu itu langsung terbuka. Dia menatap asisten Kim dan memakinya. Asisten Kim nampak tenang dan meminta maaf padahal dirinya tidak bersalah.


"Beg* kau Kim!"


"Maaf Tuan"


Setelah itu mereka keluar dari gedung rumah sakit dan menuju ke tempat parkir. Sean segera membuka mobil termahalnya tetapi ia sangat terkejut ketika pintu mobil itu tidak bisa dibuka.


"Kim! Kau mengunci mobilnya Kim?" ucap Sean sambil beberapa kali membuka pintu mobil.


Ceklek ceklek ceklek


"Tuan. Mobil anda yang ini tuan bukan yang itu," ucap asisten Kim sambil menahan tawa.


Sean melirik mobil yang ada di belakangnya, ia memandangi plat nomor mobil itu yang ternyata memang miliknya.


Dia lantas menendang mobil yang mirip miliknya dan menyalahkan orang yang mempunyai mobil itu.


"Panggil petugas bengkel Kim! Suruh dia melepas ban mobil ini! Rasakan itu! Siapa suruh memiliki mobil yang sama dengan milikku. Hahaha," ucap Sean sambil tertawa jahat.


Asisten Kim menganggukan kepala tetapi ia tidak benar-benar memanggil petugas bengkel. Dia tidak harus selalu menuruti perintah gila dari sang tuan.


Setelah itu mereka memasuki mobil dan segera kembali ke kantornya.


"Eh Kim seperti ada yang tertinggal," ucap Sean sambil berpikir.


"Sialan kau! Obatku ketinggalan di meja dokter sinting itu! Cepat ambil Kim!"


*******


Halo ini author.

__ADS_1


Mohon dukungannya dengan memberikan like, vote, rate5 dan komen.


Terima kasih telah membaca cerita ini


__ADS_2