
"Katakan sesuatu padaku, Delia! Kau pasti tahu dimana anak kita dulu? Kau menyembunyikannya dariku," ucap Fahri.
Delia tidak memperdulikan ucapan pria di depannya. Dia nampak asyik merapikan baju di butiknya.
Fahri menghela nafas, sudah hampir 25 tahun dia menunggu sang anak. Dia mencari keberadaan anaknya yang ia belum tahu berjenis kelamin apa.
Dia hanya butuh jawaban, apakah anaknya masih hidup atau tidak? Fahri sudah menyelidiki sendiri tetapi tidak ada titik terang.
Karena merasa tidak menemukan jawaban dari Delia, Fahri lalu berjalan untuk keluar dari butik.
"Dia sudah menikah," ucap Delia menghentikan langkah kaki Fahri. "Dia sangat cantik, dia tumbuh dengan sehat dan bahagia dengan suaminya," sambung Delia.
Lantas Fahri berjalan menuju Delia seolah ingin mendengar hal penting lainnya.
"Mauren, dia bernama Mauren. Bahkan nama lengkapnya terdapat namaku yaitu Adelia," ucap Delia.
Fahri mencerna ucapan Delia, sepertinya ia pernah mendengar nama itu. Dia mencoba mengingatnya.
"Dia ada di sekitar kita, dia istri dari Arsean William," ucap Delia.
Fahri sangat terkejut. Mauren? Bagian dia sering berjumpa dengan Mauren. Bahkan dia tidak menyukai Mauren karena membuat Sean membatalkan perjodohannya dengan Alana dan memilih menikah dengan Mauren.
Fahri tidak menyangka, gadis yang tidak ia suka adalah putrinya sendiri.
Kepala Fahri berkunang-kunang dan dia terjatuh di lantai. Delia sontak membantu Fahri untuk duduk di sofa dan menyuruh pegawainya mengambil air putih untuk Fahri.
"Aku jahat sekali, Del. Bahkan aku sempat membenci gadis itu. Tidak ku duga dia adalah putriku," ucap Fahri.
Dia mengingat saat itu ia pernah mengatakan hal yang menyakitkan kepada Mauren. Fahri sangat membenci Mauren bahkan ketika dia bertemu Mauren ia menatap kebencian kepada gadis tidak bersalah itu.
"Kau tidak punya hati, kau teganya merebut kebahagiaan putriku. Kau memang wanita menjijikan yang merebut kebahagiaan putriku. Kau tidak tau malu menikahi seorang Arsean. Kau tidak pantas untuk seorang Arsean," ucap Fahri kala mengingat kejadian waktu ia membenci Mauren.
Fahri sangat menyesal karena pernah mengatakan seperti itu. Sungguh ia merasa berdosa karena telah membenci putrinya sendiri.
"Apa Mauren sempat menanyakan keberadaanku?" tanya Fahri.
"Tidak, dia bilang tidak ingin sedetikpun mengetahui keberadaanmu. Kita sudah banyak menyakitinya," jawab Delia. "Mas lebih baik sekarang pulang, aku tidak ingin suamiku tahu jika kita bertemu seperti ini," sambung Delia.
Fahri menenangkan pikirannya lalu berdiri dan berjalan meninggalkan butik.
Delia hanya menatap sendu pria yang pernah mengisi hatinya dulu.
Fahri memasuki mobil, dia menangis karena sudah menelantarkan Mauren. Pantas saja Mauren seolah tidak memperdulikan keberadaannya.
Fahri melajukan mobilnya menuju gedung apartemen Sean. Dia hanya ingin melihat anaknya dan cucunya.
Fahri hanya menunggu di depan gedung, dia tidak berani menemui Mauren langsung.
Fahri sudah menunggu Mauren selama 1 jam dan akhirnya Mauren keluar dari gedung itu bersama kedua anaknya.
Terlihat mereka menuju ke supermarket depan gedung apartemennya. Fahri hanya menatap bahagia melihat jika Mauren sehat. Dia juga melihat cucunya yaitu Daleon, dia merasa sangat tersentuh.
Tiba-tiba ponsel milik Fahri berbunyi ternyata Alana yang menelpon.
"Pa... Papa dimana? Aku sudah memesan WO dan mengirim foto prewed ke papa. Papa sudah melihat? Bagus yang mana, Pa?" tanya Alana.
__ADS_1
"Benarkah? Papa belum melihat. Nanti Papa akan melihatnya. Oh ya Lana, tentang adikmu papa sudah menemukannya," ucap Fahri.
"Benarkah? Dia dimana, pah?"
"Sampai rumah nanti papa akan menceritakannya"
***
Umur sudah menginjak 32 tahun tetapi Sean semakin tampan dan berwibawa. Dia sangat dewasa bahkan sudah tidak sinting lagi walau terkadang sintingnya kambuh.
Di gedung Young Group ini Sean sudah mengabdi lebih dari 15 tahun.
Masih lama ia pensiun mengingat putranya masih kecil.
Daleon satu-satunya harapannya untuk meneruskan menjadi seorang presdir.
Dalam bayangannya, Daleon akan menjadi presdir yang bijaksana dan tentunya kejam mengingat Daleon adalah anak yang sangat istimewa.
"Perkenalkan dirimu!" ucap Daleon kepada pegawainya.
"Nama saya Jo, Tuan Daleon"
"Nama lengkapmu?"
"Paijo Western, tuan"
Daleon berdiri dari kursi direkturnya. Dia berjalan mendekati asisten barunya.
Daleon membenarkan dasi beserta kerah calon asistennya.
"Benarkan dasi dan kerahmu sebelum bertemu denganku!" ucap Daleon sambil merapikan kerahnya.
BUAAAAAAK
Daleon memukul calon asistennya sampai tersungkur.
"Aku tidak suka mendengar permintaan maafmu," ucap Daleon. "Sekarang, bolehkah aku memenggal kepalamu di depan semua pegawaiku?" ucap Daleon menyeringai.
"TIDAAAAAAK... Anakku tidak seperti itu...," teriak Sean mengakhiri lamunannya.
Sean merasa sangat khawatir tentang keadaan Daleon. Orang lain tidak akan pernah mengetahui sifat aneh Daleon tetapi ia sebagai ayah sangat tahu apa yang terjadi kepada Daleon.
"Oppa melamun?" tanya Mauren.
Sean terkejut melihat sang istri sudah ada di depannya bersama Daleon.
"Kapan kau datang, Oren?" tanya Sean.
"Barusan. Aku mendaftarkan sekolah Daleon dan mengambil formulir untuk Seina," jawab Mauren.
"Mauren, kau bisa menyuruh orang untuk mengambilnya. Kau sedang hamil sayang. Istirahat saja di rumah," ucap Sean.
"Aku bosan dirumah"
Daleon lalu meminta gendong papanya.
__ADS_1
Sedangkan Mauren duduk di sofa sambil membaca majalah.
"Oppa membaca majalah dewasa?" tanya Mauren.
"Itu bukan punyaku, Oren. Itu milik Juna, sepertinya ia sengaja meninggalkannya," jawab Sean.
"Sudah punya istri masih banyak tingkah saja. Aku tidak percaya dengan otak pria. Hal mesum saja yang di pikirkan"
"Aku tidak seperti itu, Oren. Di hatiku cuman ada dirimu"
Mauren tersenyum, dia lalu memeluk sang suami. Hampir 8 tahun ia hidup bersama Sean. Sean yang memperlakukannya dengan baik.
...****************...
"Apa? Jadi Mauren itu adikku?" tanya Alana sangat terkejut.
Fahri menganggukan kepala, ia melihat putrinya sangat terkejut.
"Papa yakin?"
"Papa belum melakukan tes DNA tapi papa sangat yakin mengingat Mauren sangat mirip dengan Delia"
Papa sangat sedih karena sempat membenci Mauren, Alana pun merasakan hal yang sama.
Gadis yang sempat di bencinya adalah adiknya sendiri.
"Papa sudah membicarakan ini dengan Mauren?"
"Belum, papa belum ada keberanian untuk memberitahukannya. Papa sangat malu dengan Mauren," jawab Fahri sangat sedih.
"Papa harus memberitahukannya. Lana akan menemani papa untuk menemui Mauren. Kita meminta maaf bersama-sama"
****
Seina menangis di sudut taman, teman-temannya terus saja mengganggunya dan mengatakan Seina anak pungut.
Bahkan akhir-akhir ini Sean sering memarahi Seina, apalagi kemarin Sean sangat marah kepada Seina. Apalagi menyangkut keselamatan Daleon, putra kandungnya.
"Kau membuat papa selalu marah, Seina. Kenapa kau mendorong Daleon dari ranjang? Jika kepala Dale terbentur bagaimana?" ucap Sean.
"Sein gak sengaja, pah," jawab Seina sangat sedih.
"Kenapa aku punya anak perempuan nakal sekali? Huh... Sudah sana kembali ke kamarmu!"
Seina menangis sampai sesegukan, kenapa dia yang selalu terkena marah? Kenapa Daleon tidak pernah? Bahkan saat Daleon tidak sengaja merobek lengan sang mama, Sean tidak membahasnya.
Seina masuk ke kamar, ia menumpahkan semua tangisnya di bantal kesayangannya sampai dia terlelap sendiri.
Flasback selesai.
Seina yang menangis di taman di hampiri Asisten Kim yang sedari tadi menunggunya.
"Nona Seina kenapa menangis?" tanya Asisten Kim.
Seina terkejut lalu mengusap air matanya.
__ADS_1
"Uncle?"
"Kenapa nona cantik menangis?" tanya Asisten Kim.