Mendadak Menikah (Sean & Mauren)

Mendadak Menikah (Sean & Mauren)
MMSM 2 : Bab 157 - Bulan madu (Paris)


__ADS_3

POV MAUREN


Paris,


Paris adalah kota romantis didunia, aku bersyukur bisa datang kesini Bergandengan tangan dengan suamiku yang paling tampan.


Kami menikmati jalan-jalan di kota ini tanpa tour guide. Bebas, bisa kesana kemari.


Aku mengunjungi menara Eiffel. Aku sangat senang bahkan sampai melupakan kesedihan suamiku


"Oppa, fotokan!" ucap Mauren.


Oppa menganggukan kepala. Dia memfotokanku.


CEKREK



"Aku mau lihat hasilnya, Oppa," ucapku.


Oppa tersenyum, ia lalu ikut duduk disampingku. Bersandar pada bahuku dan aku mengelus kepalanya.


"Oppa nanti malam kita mau kemana?" tanyaku.


"Kemana saja yang kau inginkan"


Aku bisa melihat perubahan sikap oppa yang nampak lain. Dia seolah tidak menikmati bulan madu kali ini.


Dia lebih banyak diam dibanding biasanya tetapi aku tidak memperdulikannya, ku pikir karena masalah Asisten Kim yang mengkhianatinya.


"Kau mencintaiku?" tanya oppa.


"Aku sangat mencintai oppa"


"Really?"


Aku mengerutkan dahi, apaan tuh really? Oppa mengacak gemas rambutku lalu menggelitiki tubuhku sehingga membuatku merasa geli.


Aku meminta oppa memfotokanku lagi, ia bersedia melakukannya.


CEKREK


CEKREK


CEKREK


Haha... semua kamera kami penuh dengan foto alayku. Aku sangat senang berada disini tetapi malah pikiranku teringat Seina yang sedang sakit.


Aku harus segera menghubungi emak sesampainya di hotel nanti.


Setelah dirasa matahari semakin terik, aku mengajak oppa untuk mencari makan disekitaran sini. Walaupun aku tidak terlalu suka dengan makanan disini tapi mau bagaimana lagi, aku tidak mungkin berpuasa 'kan?


Lidahku belum terbiasa makanan aneh ini sampe perutku ingin sekali mual tetapi aku tahan. Aku melihat oppa lahap memakannya. Yaiyalah lidah orang kaya sangat beda dengan lidah kampung sepertiku.


"Oren, aku tidak enak badan. Setelah ini aku ingin ke hotel saja," ucap oppa sangat lesu.


Aku mengiyakan ajakan oppa. Memang bulan madu kali ini terkesan buru-buru.


Tapi aku tidak ingin memaksa oppa, aku tahu pasti hatinya sangat terluka.


Setelah selesai makan kami memutuskan untuk kembali ke hotel dan kami langsung mandi air hangat untuk menghangatkan diri dari udara yang cukup dingin disini.


Oppa mandi sendirian sedangkan aku menelpon emak yang mungkin disana masih pagi atau mungkin subuh.


"Mak? Bagaimana keadaan Seina?"

__ADS_1


"Demamnya sudah turun, kau tidak perlu khawatir! Nikmatilah bulan madu kalian"


"Iya mak, besok kami juga sudah pulang," ucapku.


"Kok cepat sekali? Bukannya masih ada 5 hari lagi?"


Aku menghela nafas panjang, keadaan saat ini membuat kami tidak tenang untuk bulan madu. Walau badan kami berada disini tetapi pikiran kami berada di rumah.


"Ada masalah, Mauren?" tanya emak.


"Tidak ada, mak"


Setelah itu aku menutup telponnya lalu melihat oppa sedang memperhatikanku.


Aku cukup terkejut dan mati gaya. Apakah oppa mendengarkan pembicaraanku?


"Siapa?" tanya oppa.


"Emm... Emak ku oppa"


"Mendekatlah sini! Aku ingin mengecupmu," ucap Sean.


Mauren mendekat lalu mengecup pipi Mauren. Kebahagiaannya kini hanyalah Mauren tetapi entah kenapa rasa kepercayaannya kepada Mauren mulai pudar.


"Oppa ingin apa? Bilang saja!" tanya Mauren.


"Aku ingin..."


"Sssst... aku sudah tau, ayo mulai oppa!"


Mauren berjalan menuju tirai. Dia menutup tirainya dengan senang dan menghampiri Sean.


"Kau pandai juga, Oren," ucap Sean senang.


Mereka akhirnya melakukan apa yang harusnya di lakukan sebagai sepasang suami istri pada umumnya.


POV Author.


Malam hari mereka berjalan-jalan di sekitaran kota Paris. Suasana hati Sean berubah senang ketika mendapat pelayanan dari Mauren siang tadi.


Mereka bergandengan tangan menikmati gemerlapnya kota Paris.


Sean menggenggam erat tangan sang istri supaya tidak terpisah karena keramaian orang semakin padat.


Sebentar lagi ada pesta kembang api, Mauren tidak sabar untuk melihatnya bersama pacar sekaligus suaminya.


"Jangan lepaskan tanganku, oren!" ucap Sean.


"Baik oppa"


"Mau beli oleh-oleh disekitar sini?" tanya Sean.


"Nanti saja oppa, aku ingin lihat pesta kembang api," jawab Mauren.


Mereka kini berdesakan dengan pengunjung lain membuat Mauren tak melepaskan genggaman Sean.


Rasa bahagia kini menyelimuti mereka seolah orang-orang di sekitarnya hanya sebuah boneka atau patung.


"Oppa sebentar lagi kembang apinya dimulai," ucap Mauren antusias.


Sean menganggukan kepala tetapi tiba-tiba ponselnya bergetar. Sean mengambil ponsel di tas kecilnya lalu membukanya.


Mata Sean terbelalak mendapati sebuah rekaman CCTV apartemennya yang menunjukan jika Kim keluar dari apartemennya bersama Mauren saat Sean tidak ada disana.


Dasha

__ADS_1


Itu rekaman CCTV jika Kim sempat bermalam dengan istrimu di apartemenmu. Dan terlihat mereka 2 kali keluar masuk ke apartemenmu.


Sean meremas ponselnya, amarahnya kini merasuk sampai ke ubun-ubun.


Dia begitu marah kepada sang asisten yang ia begitu percayai. Apalagi dengan Mauren.


Dia melirik Mauren yang tersenyum melihat pesta kembang api yang sudah dimulai.


"Oppa... Kembang apinya indah sekali. Lihatlah!" ucap Mauren.


"Kau..."


Mauren melihat Sean yang menatap tajam kearahnya. Mauren kebingungan.


"Apa yang kau lakukan bersama Kim ketika tidak ada aku?" tanya Sean.


Gemerlap lampu dari kembang api dan suara kembang api yang begitu besar membuat suasana mereka terlihat tidak nyaman.


Sean semakin menumpahkan amarahnya lewat sorotan matanya.


"Apa maksud oppa?"


"Kau tidur bersama Kim di belakangku. Kau mengkhianatiku, kau merusak kepercayaanku," ucap Sean berteriak membuat suaranya tak kalah kencang dari suara kembang api.


Mauren kehabisan kata-kata, ia tidak paham dengan ucapan sang suami.


"Kau berselingkuh dengan asistenku. Kalian begitu tega kepadaku. Ku pikir kalian sudah tidak ada hubungan apapun tetapi ternyata..."


"Stop oppa! Maksud oppa apa? Siapa yang berselingkuh? Siapa yang tidur dengan Kak Kim?" teriak Mauren.


Sean menunjukan rekaman CCTV di ponselnya dan Mauren teringat saat itu memang sempat bermalam dengan Asisten Kim karena insiden pocong di apartemen Sean yang membuat Mauren takut.


"Oppa, memang benar jika waktu itu kami menginap bersama tetapi Kak Kim hanya menemaniku. Kami tidak melakukan apapun," jelas Mauren.


"Kau mengaku juga akhirnya? Aku sangat kecewa dengan kalian. Kalian mengkhianatiku. Benar 'kan jika Kim menidurimu?"


Plaaaak....


Mauren menampar Sean, ia kecewa dengan sang suami yang selalu memfitnahnya.


Sean berdecih lalu pergi meninggalkan Mauren di keramaian orang itu.


Mauren mengejarnya tetapi tiba-tiba tasnya di tarik oleh seseorang. Dia di jambret oleh pria tak di kenalnya.


Mauren kebingungan antara mengejar Sean atau tasnya yang terdapat barang penting seperti ponsel dan paspornya.


Mauren mengejar penjambret itu tetapi ia kehilangan jejak. Dia memegangi kepalanya, dia tersesat, ia kehilangan jejak Sean dan orang penjambret itu.


Aku harus bagaimana? Aku tidak bisa bahasa Perancis maupun bahasa inggris. Aku tidak tahu jalan pulang ke hotel. Oppa? Jemput aku oppa! Jangan tinggalkan aku


Sean berjalan meninggalkan Mauren tanpa memperdulikan sang istri.


Emosi yang meledak-ledak membuatnya tidak bisa berpikir jernih. Dia langsung menaiki mobilnya lalu menuju ke jembatan yang dibawahnya adalah sungai terpenting di kota itu.


Setelah sampai, Sean berteriak kesal menumpahkan amarahnya.


"Dasar pengkhianat! Kalian pengkhianat," teriak Sean.


Dada Sean terasa sesak. Dia menepuk dadanya sekencang mungkin.


"Aku sangat mempercayai kalian. Kenapa kalian tega denganku? Sialan!" sambung Sean.


Sean lalu berjongkok, ia menangis di dinginnya kota Paris malam itu. Semua orang yang lewat tidak memperdulikannya. Sean juga tidak merasa malu jika ia menangis karena sudah ke sekian kali ia dikhianati.


Aku harus bagaimana? Kurang apa aku kepadamu Oren? Aku mencintaimu tetapi kau tega mengkhianatiku.

__ADS_1



__ADS_2