
Keesokan harinya.
"Arsean sayang, ayo bangun!" ucap Mama membangunkan Sean.
Sean menarik selimut sampai menutupi kepalanya. "Kenapa sih mah? Biarkan aku bangun siang," ucap Sean.
"Ini sudah jam 3 sore"
"Ya sudah kalau begitu biarkan aku bangun besok pagi," ucap Sean.
Sang Mama menghela nafas, semenjak kepergian Mauren, Sean menjadi seperti ini. Bermalas-malasan, mengurung diri di kamar bahkan untuk makan pun susah.
"Ayo bangun Sean! Ayo ikut mama, kita bersama tante dan Sera jalan-jalan ke mall"
"Pergi sendiri sana! Aku ingin tidur," bentak Sean kepada Mamanya.
Sang mama menghela nafas dengan rasa kecewa ia keluar dari kamar Sean. Dia memutuskan untuk membujuk Mauren untuk memaafkan Sean dan kembali kepada Sean lagi.
**
Pukul 8 malam.
Karena rasa lapar, Sean akhirnya bangun walaupun tetap diatas ranjang. Sang Mama menyuapi Sean supaya mau makan, Sean kini seperti bocah yang haus akan perhatian. Karena sang mama hanya memiliki Sean maka ia sangat memanjakan balita besar itu.
Pintu terbuka yang ternyata Kakek Askar pulang dari bekerja. Dia menggeleng-gelengkan kepala melihat cucunya yang hanya bermalas-malasan.
"Kau terlalu memanjakan anakmu jadi dia seperti ini dan kau Sean, kau mau berangkat bekerja kapan? Aku sudah terlalu tua untuk mengurusi perusahaan," ucap Kakek Askar.
Sean terdiam, ia menikmati makanan yang ia kunyah tanpa menjawab pertanyaan dari sang kakek.
"Yah, biarkan Arsean istirahat dulu, dia sudah 10 tahun menggantikan ayah," ucap Mama.
"Ini sudah lebih dari satu bulan ia istirahat dan dia hanya tidur saja. Cih... kalau begitu biar Kim saja yang menjadi presdir menggantikan Sean," ucap sang kakek sambil keluar dari kamar.
Setelah makan, Sean lalu berbaring dan tidak lupa memakai selimutnya. Sang Mama mengelus kepala Sean, ia tahu jika Sean sangat sedih kehilangan Mauren.
"Mama akan membantumu supaya Mauren kembali padamu lagi. Sekarang fokuslah pada kesehatanmu Sean. Kau akan sakit jika susah makan," ucap Mama sambil mengelus kepala Sean.
Sean terdiam dan nampak air matanya jatuh di pelupuk matanya. Hidupnya jadi kacau dan tanpa arah jika tidak bersama sang istri tercinta.
Keesokan harinya dokter Juna datang untuk memeriksa Sean. Dokter tampan itu menunda kepindahannya ke kota sebelah karena menunggu Zara melahirkan terlebih dahulu.
Dokter Juna masuk ke kamar Sean, ia melihat Sean yang masih melungkar di selimutnya. Dokter Juna mendekati Sean, ia melihat Sean sudah terbangun.
"Bangun Sean! Biar ku periksa," ucap Dokter Juna menarik selimut Sean.
"Minggir lo!" ucap Sean.
"Jangan begini Sean! Sudah 2 kali kau seperti orang gila seperti ini. Dulu saat Mauren menolak jadi pacarmu kau seperti ini juga dan sekarang...."
"Bukan urusan lo! Suka-suka gue dong. Gue tuh sedih banget hidup gue ancur seancur ancurnya. Gue gak bisa kehilangan Orenku tersayang," ucap Sean.
Dokter Juna mengerutkan dahi, sejak kapan Sean memakai bahasa lo gue?
__ADS_1
Sepertinya sintingnya makin parah. Harus segera ku panggil psikiater. Batin Dokter Juna.
"Hati gue sakit Jun. Gue udah gak ada harapan idup lagi," ucap Sean memelas.
Dokter Juna menghela nafas, ia mengeluarkan jarum suntiknya tanpa sepengetahuan Sean dan ia langsung menyuntikannya langsung ke tangan Sean.
"Aaaaaaaaarrrrhhhggh... Bangs*t! Cecunguk sialan kau! Kenapa kau menyuntikku tanpa izin dariku?" ucap Sean kesal. "Mama.... maaa... mamah?" teriak Sean memanggil mamanya.
Mama Sean berlari tergopoh-gopoh menuju kamar anak kesayangannya. Dia melihat Sean membanting semua barang-barang di kamarnya seperti orang gila. Dokter Juna mencoba menenangkan Sean tetapi ia di dorong sampai membentur meja.
"Sean, jangan begini Sean! Mama janji akan mempersatukanmu dengan Mauren lagi. Tolong Sean! Jangan seperti ini!" ucap Mama sambil menangis.
Semua anggota keluarga kini berkumpul di kamar Sean. Mereka mencoba menenangkan Sean tetapi Sean semakin memberontak dan agresif.
Sera yang sangat takut hanya bisa merekamnya dan mengirimkan video itu kepada Mauren.
Sean terpaksa diikat supaya tidak membahayakan dirinya maupun orang sekitarnya. Dia menangis membuat Mamanya semakin sedih. Mama mengelap air mata Sean, hatinya sangat terluka melihat keadaan Sean yang diikat seperti ini.
Setelah itu Dokter Juna mencoba menghubungi Kim supaya cepat pulang dan menemani Sean yang sangat depresi ini.
"Keadaan Sean semakin parah, Kim. Cepatlah pulang! Temani Sean dan bujuk Mauren untuk kembali kepada Sean," ucap Dokter Juna melalui telpon.
"Seperti dulu, dok?"
"Lebih parah ini Kim. Dia sampai kuikat supaya tidak membahayakan dirinya"
"Saya akan segera selesaikan urusan saya disini lalu akan kembali kesana lagi," ucap Kim.
Disisi lain Mauren tercengang melihat video yang di kirimkan Sera. Dia melihat Sean seperti orang gila bahkan diikat. Dia juga baru pertama kali melihat Sean menangis sambil menyebut namanya.
"Mauren?" tanya mamanya.
Dia kini memilih menginap di rumah mama kandungnya supaya bisa menghindar dari Sean.
Mauren mengelap air matanya dan nampak bermain-main dengan Seina.
"Iya mah"
"Sedang mikirin Sean?" tanya mama.
"Tidak ma, aku hanya kasian jika Seina tumbuh tanpa ayah"
"Bagaimana jika mama kenalkan dengan Vian. Dia arsitek hebat anak teman mama," ucap mama.
Mauren menggelengkan kepala, ia tidak ingin berkenalan dengan pria manapun.
Mama menghela nafas melihat putrinya tidak pernah bahagia.
Mama mengambil beberapa lembar untuk Mauren lalu menyerahkannya.
"Aku tidak mau mah"
"Tidak papa, Mauren. Ini buat beli susu Seina"
__ADS_1
Sedikit terpaksa Mauren menerimanya karena memang benar jika ia butuh uang untuk keperluan Seina.
...----------------...
Di kafe Mama Sean dan Mauren bertemu. Mama Sean meminta Mauren untuk rujuk kembali bersama Sean.
Dia memohon supaya Mauren untuk mengabulkan keinginannya kali ini.
"Saya takut jika Kakek Askar melukai saya lagi," ucap Mauren.
"Tidak Mauren, kali ini ia setuju menerimamu sebagai anggota keluarga dari Adinata. Kakek Askar tidak tega jika melihat cucunya seperti itu"
"Kenapa kakek Askar tidak memohon langsung padaku?" tanya Mauren.
Mama menghela nafas, sifat Kakek Askar memang jual mahal tetapi ia sudah bilang jika merestui hubungan mereka dan setuju jika mereka kembali bersama.
"Saya ingin bertemu Kak Sean," ucap Mauren.
Mama Sean tersenyum, mereka langsung menuju ke rumah. Mauren ingin melihat keadaan Sean secara langsung.
Sesampainya di rumah.
Mauren langsung diantar menuju kamar Sean, ia terkejut melihat keadaan Sean yang diikat di ranjang.
Mauren mendekatinya lalu mengelus wajah Sean sehingga pria itu terbangun.
"Oppa," ucap Mauren menangis.
"Mauren?" ucap Sean dengan suara kecil.
Mauren langsung melepas ikatan Sean supaya Sean bisa bergerak dengan bebas. Sean memeluk Mauren dengan erat.
"Oren, kembalilah padaku. Aku tidak bisa hidup tanpamu. Aku mencintaimu," ucap Sean.
"Aku juga cinta denganmu, oppa"
Semua anggota keluarga terharu melihat mereka sampai Kakek Askar merasa bersalah karena memisahkan mereka.
"Kau mau rujuk denganku lagi Oren? Aku janji kejadian masa lalu tidak akan terulang lagi," ucap Sean.
Mauren menganggukan kepala dan Sean sangat senang sampai mendorong Mauren ke ranjang lalu mencium bibir gadis itu.
"Eheeeeem, kami masih ada disini, Sean," ucap Mamanya.
Sean tersenyum lalu menyuruh Mauren berdiri dan menggendongnya seperti anak kecil. Dia sangat bahagia jika Mauren mau kembali kepadanya lagi.
"Sean, kami akan mengurus akad nikahmu besok. Kita adakan sederhana saja," ucap Kakek Askar mengingat Sean sudah menyelenggarakan resepsi besar-besaran.
Sean dan Mauren setuju.
"Setelah ini kau harus segera kembali ke kantor. Kim tetap tidak mau menjadi direktur. Kau lah satu-satunya harapan kakek, Sean," ucap Kakek Askar.
"Baik kek," jawab Sean sambil menurunkan Mauren dari gendongannya.
__ADS_1