
Sean menatap kaca mobil sesekali melirik ponselnya apakah ada balasan pesan dari Mauren. Dia seharian ini tidak bertemu Mauren karena pekerjaan di luar kantor yang cukup padat.
Sampai ketika ponselnya berbunyi yang ia kira dari Mauren tapi ternyata dari sang Mama. Sean dengan cepat mengangkatnya.
Mamanya menyuruh Sean menemuinya di cafe favorit mereka.
Sesampainya di cafe.
Suasana cafe cukup ramai, mereka menikmati sore hari dengan asyik bercengkrama bersama teman-teman.
Terlihat dimeja pojok terduduk wanita setengah baya sambil menikmati kopi panas, Sean segera menghampirinya.
Sang Mama memeluknya dengan erat, setelah itu menyuruhnya duduk dan memanggil pelayan.
"Mas saya pesan nasi goreng tetapi tidak pakai nasi," ucap Sean membuat pelayan kebingungan.
"Maaf pak maksud anda bagaimana?" tanya pelayan itu.
"Kau budek atau mau mengajak bertengkar?" ucap Sean menatap tajam ke pelayan itu.
Sang Mama menengahi dan menenangkan Sean, ia sedari dulu tau jika Sean keras kepala dan tidak mau mengalah.
"Mas maksud anak saya dia pesan nasi goreng tanpa nasi tetapi nasi itu diganti dengan toppingnya saja seperti seafood, sosis dan lain sebagainya," jelas Mama.
Pelayan tidak mau berdebat dan memilih mengiyakan saja, ia tahu jika yang dihadapannya ini adalah seorang presdir dari Young Group karena Sean sering kali mendapat pemberitaan di media sosial maupun pertelevisian.
Mama menggenggam erat tangan Sean, ia begitu merindukan sang anak, ia juga tidak menyangka Sean bertumbuh besar menjadi pria yang sukses dan tampan.
"Anak Mama sudah besar sudah mengerti begituan rupanya," ucap Mama.
Sean mengerutkan dahinya dan meresapi ucapan Mamanya itu. Mamanya menghela nafas panjang. Dia menatap lekat wajah Sean yang kebingungan.
"Siapa gadis yang kamu bawa ke apartemenmu? Kakek sangat marah Sean dan beliau menyuruhmu untuk pulang ke rumah. Ku mohon kali ini dengar permintaan Mama, kamu tidak mau kan jika kakek memarahi Mama? Pulang ke rumah ya nak!" ucap Mama.
Sialan! Jadi selama ini kakek memata-mataiku. Tapi sepertinya dia belum tau jika aku sudah menikah.
"Tidak bisakah kakek untuk tidak mengatur kehidupanku Mah? Aku sudah lelah menjadi robotnya, jika bisa aku pun mau berhenti menjadi direktur. Aku sudah lelah Mah dan juga aku tidak mau pulang kerumah jika kalian tidak menghentikan perjodohan itu"
"Mama pikir kamu menyukai Alana, kenapa kamu tidak mau menikah dengannya?"
Ucapan sang Mama membuat Sean terdiam, ia tidak mau menjawab. Dia mendengus dan tersenyum kecil, baginya Alana hanya teman dekatnya saja tidak lebih dari itu.
__ADS_1
Sean berdiri ia berpamitan untuk kembali ke kantor tanpa menunggu makanannya datang terlebih dahulu.
"Jika kamu punya pacar tolong kenalkan kepada Mama! Mama ingin melihat gadis yang kamu suka seperti apa," ucap Mama membuat Sean terhenti dari langkahnya.
Sean menoleh ke Mama dan berucap, " Gadis yang ku suka beda dari yang lain, dia sangat spesial bagi Sean Mah," ucap Sean sambil tersenyum.
**
Di ruang tunggu terlihat Alana sedang duduk menunggu kedatangan Sean, ia sudah duduk satu jam tetapi Sean belum datang juga.
Akhirnya ia memutuskan untuk berjalan ke kantin tetapi sepatu haknya yang tinggi membuatnya terpeleset dan jatuh tersungkur.
Mauren yang melihat Alana terjatuh segera menolongnya.
"Kamu tidak apa-apa? Sepatu hakmu patah Kak," ucap Mauren membantu Alana berdiri.
Mauren memapah Alana ke kursi dekat kantin, setelah itu ia menyuruh Alana untuk duduk dan memeriksa kakinya.
Dia menemukan luka di tumit Alana yang memerah, mungkin karena efek memakai sepatu hak yang terlalu tinggi. Dengan cepat Mauren mengambil plester di saku roknya dan memasang di tumit Alana.
"Kenapa kakak memakai sepatu hak yang terlalu tinggi? Sebentar kakak tunggu sini biar saya ambilkan sepatu pantofel milik saya di loker," ucap Mauren.
Beberapa menit kemudian.
"Kaki ku tidak pantas memakai sepatu murahan darimu, lebih baik aku menyeker ketimbang memakai sepatu itu. Dan apa? Kamu memanggilku kakak? Jangan sok kenal deh!"
Mauren tersenyum kecut dan ucapan yang di dengarnya, ia segera berdiri dan memandang tajam ke Alana. Tangannya ingin sekali menjambak rambut gadis 25 tahun itu tetapi ia tahan karena ia masih takut dengan hukum.
"Dengar ya Nona, Tuan putri atau apalah itu. Setidaknya anda bisa bilang jika tidak mau memakai sepatu saya yang murahan ini bukan malah melemparnya ke wajah saya"
"Beraninya kau! Kau tidak tau aku siapa? Aku calon istri presdir Young Group yaitu Sean," ucap Alana sambil menarik rambut Mauren dengan kuat.
Mauren tidak melawan saat dirinya di jambak, ia bersikeras melepas tangan Alana tetapi malah gadis itu semakin memperkuat menjambak rambutnya. Tetapi tiba-tiba asisten Kim datang langsung menarik tangan Alana dengan kuat. Alana berteriak kesakitan dan memohon untuk melepaskan cengkeraman asisten Kim.
Nampak beberapa pegawai yang lewat melihat mereka tetapi segera pergi karena disitu juga ada Sean yang sedang berdiri bersedekap.
"Kenapa kau menjambak rambut pegawaiku?" tanya Sean dengan serius.
Alana diam dan tidak berani memandang wajah Sean. Dia juga berteriak kesakitan.
"Lepaskan dia Kim!"
__ADS_1
Asisten Kim melepaskan cengkramannya, Alana memegangi tangannya yang kesakitan. Dia menunduk ketakutan dengan kehadiran Sean yang tiba-tiba datang tanpa sepengetahuannya.
"Ga gadis itu la lancang Sean. Dia memanggilku kakak dan menyuruhku me memakai sepatunya," jelas Alana terbata-bata.
Sean melirik sepatu hak milik Alana yang patah dan tergeletak di lantai, ia menghela nafas panjang. Dia tidak menduga jika Alana yang di kenalnya baik menjadi wanita arogan seperti itu. Sean menyuruh Alana pulang sebelum ia marah kepadanya, hari ini ia sangat lelah untuk marah dan memilih melepaskan Alana yang sudah menyakiti istrinya. Belum tentu kedepannya Alana akan selamat jika menyakiti Mauren lagi.
Sean dan asistennya berjalan meninggalkan mereka, tak lupa Sean setelah ini menyuruh Mauren untuk datang keruangannya.
"Jika ada yang baik kepadamu setidaknya hargai itu karena belum tentu kau akan mendapat kebaikan lain. Camkan itu!" ucap Mauren berjalan dan menyenggol bahu Alana.
Siapa dia? Beraninya sangat lancang kepadaku. Awas saja kamu**! Batin Alana.
Mauren setengah berlari menyusul Sean yang sudah memasuki lift. Dia segera masuk dan berdiri menjauh dari Sean.
Mauren merapikan rambutnya melalui pantulan dinding lift, hari ini ia berdandan cantik setelah melihat tutorial make up di internet.
Tiba-tiba lift yang di naiki mereka berhenti dan mati lampu. Mauren sangat panik dan memeluk suaminya yang berada tak jauh dengannya.
"Aaaaaaah.... Oppa. Aku takut," teriak Mauren sambil memeluk Sean dengan posisi yang sangat gelap.
Eh kok bau parfum oppa berbeda? Apa dia berganti parfum?
Seketika lampu yang berada di lift menyala dan lift itu mulai bergerak naik lagi.
Mauren bisa melihat jelas suaminya yang berdiri bersedekap disebelahnya sambil menatapnya marah.
Oppa berada disitu berarti yang kupeluk ini?
Mauren melepaskan pelukannya, ia melihat wajah asisten Kim yang memucat. Sepertinya hari ini adakah ajalnya karena telah membangunkan kemarahan sang tuan.
Sean mendekati asisten Kim dan mengarahkan pukulan di wajah sang asisten.
"Tunggu oppa eh Tuan Sean! Ini salahku yang salah memeluknya. Jangan marah Tuan maafkan saya," ucap Mauren memelas dan memasang wajah imut.
"Cih! Hari ini kau selamat Kim. Awas kau dilain hari ku suruh kau mengepel lantai dengan lidah!"
Pintu lift terbuka, Sean segera keluar.
Asisten Kim menghela nafas, ia menyuruh Mauren untuk berhati-hati lagi karena hukuman dari sang tuan tidak pernah main-main.
"Tuanmu memang sangat aneh"
__ADS_1
Tapi nona menyukainya kan? Haha kalian memang pasangan menggemaskan.