Mendadak Menikah (Sean & Mauren)

Mendadak Menikah (Sean & Mauren)
Bab 63 : Ku menangis....


__ADS_3

"Sudah Nyonya bicaranya?' ucap Mauren dengan berani.


"Saya memang tidak pantas dengan sekelas Tuan Sean. Saya sadar diri tetapi saya tidak akan menyerah dan akan memperjuangkan cinta saya untuk Tuan Sean," sambung Mauren.


Plaaaak


Sebuah tamparan keras tepat mengenai pipi Mauren, gadis itu sangat terkejut lalu memegangi pipinya yang kesakitan.


Mama Sean sangat geram dengan ucapan Mauren seolah tidak takut kepadanya.


"Kau gadis miskin bisa-bisanya berbicara seperti itu? Aku masih baik kepadamu membiarkanmu pergi meninggalkan Sean dengan tenang. Jika Kakek Askar tau hubungan kalian aku tidak bisa menjamin keselamatanmu maupun keluargamu"


Mauren menahan air matanya yang keluar. Ternyata selama ini sifat ibu mertua di film azab yang di tontonnya menjadi kenyataan pada kehidupannya.


Rasa sakit hati sangat kuat yang di rasakannya, entah kenapa ucapan Mama Sean memang ada benarnya.


"Berhenti, Pak. Turunkan gadis ini disini!" ucap Mama Sean.


Padahal diluar sedang turun hujan sangat deras, tetapi ia begitu tega menurunkan Mauren di tengah jalan.


Sang sopir menepikan mobilnya dan setelah itu Mauren turun dari mobil tanpa membawa cek tersebut.


Air hujan membasahi tubuhnya, ia memandang mobil mewah yang mulai menjauh darinya.


Mauren menangis sejadi-jadinya dibawah guyuran air hujan. Dia tidak mengindahkan orang-orang yang berlalu lalang menggunakan payung. Dia tidak peduli. Toh, air matanya tertutup air hujan.


Oppa mau bertunangan? Kenapa dia tidak memberitahuku? Apakah aku hanya pemuas nafsunya saja?


Mauren mencoba memanggil taksi untuk kembali ke kantor dengan keadaan yang basah kuyup. Dia tidak mungkin pulang karena pasti dia akan di catat alpa oleh pihak HRD.


Di dalam taksi, ia mencoba mengontrol air matanya supaya tidak keluar. Tetapi sia-sia, air matanya keluar tanpa ampun, dia juga merasakan ponselnya bergetar seperti pemberitahuan pesan masuk.


Untungnya ponsel yang dibelikan oleh Sean tahan dengan air dan sangat canggih sehingga tidak akan rusak jika terkena air hujan seperti tadi.


Cepat datang ke ruanganku, Oren! Hujan begini enaknya berkembang biak. Haha. Pesan dari Sean.


Oppa memang memanfaatkan tubuhku saja. Batin Mauren.


Mauren tidak menggubris pesan itu, ia menyimpan ponselnya kembali.


Rasa hati seperti tercabik-cabik, ia ingin berteriak sekencang-kencangnya.


Sesampainya di kantor.


Mauren berjalan masuk ke gedung itu dengan kondisi yang basah kuyub.


Dia menuju ke resepsionis untuk mengambil berkasnya tadi yang ia titipkan.


"Kenapa basah kuyup begini, Mauren?" tanya resepsionis.


"Tidak apa-apa Kak. Ya sudah aku duluan ya"


Mauren segera memasuki lift, ia harus mengantar berkas itu dulu di ruangan Sean.


Tetapi ia hanya mengantar sampai di ruangan Asisten Kim saja dan tidak berani masuk ke ruangan Sean dengan kondisi menyedihkan.


"Ada apa denganmu, Nona?"


"Tidak apa-apa Kak Kim. Aku antar berkas ini sampai sini saja ya. Tolong berikan kepada Tuan Sean"


"Anda baik-baik saja?"


Mauren menganggukan kepala lalu berpamitan kepada Asisten Kim yang masih kebingungan.


"Dan jangan bilang kepada Tuan Sean yang kondisiku seperti ini. Aku tidak ingin dia cemas," ucap Mauren menghentikan langkahnya.

__ADS_1


Setelah itu Mauren berjalan keluar lalu segera memfotocopy berkas milik pegawai lain yang sempat tertunda. Rasa dingin menyelimuti tubuhnya dan sialnya disana tidak ada pengering pakaian.


Ruangan kecil itu tidak ada orang, ia bisa leluasa untuk memeras ujung roknya yang basah.


Mauren mendengar suara pintu terbuka, ia meliriknya yang ternyata Asisten Kim.


Dia membawa jaket lalu memakaikannya pada bahu Mauren.


"Pakai jaket ini, Nona! Supaya anda tidak kedinginan," ucap Asisten Kim.


Mauren menganggukan kepala lalu dengan sigap tangannya mengambil kertas yang sudah terfotocopy.


Asisten Kim masih menatapnya penasaran, wajah Mauren yang biasanya selalu ceria kini menjadi suram.


Asisten Kim menghela nafas panjang, ia melangkah menuju pintu lalu menguncinya.


Mauren kebingungan dan hanya menatap Asisten Kim yang mulai mendekatinya.


Pria itu dengan sigap memeluk Mauren dan gadis itu sangat terkejut.


"Menangislah Nona! Jika memang harus menangis, aku tidak tau permasalahmu apa. Tetapi ku pikir sangat berat hingga anda terlihat sedih seperti ini," ucap Asisten Kim sambil mengelus rambut Mauren yang basah.


Mauren menangis menumpahkan kesedihannya di pelukan Asisten Kim.


Asisten Kim mengelus punggung Mauren, ia memang tidak tau permasalahan apa yang dihadapi Mauren. Dia hanya bisa memberikan sebuah pelukan hangat dan tulus.


DEG


DEG


Jantung pria itu berdebar kuat mana kala memeluk gadis 6 tahun lebih muda darinya.


Asisten Kim menghilangkan rasa itu, ia pikir wajar saja jika laki-laki memeluk perempuan akan merasakan debaran yang dahsyat.


Tetapi saat aku memeluk Jia yang sama-sama perempuan nampak biasa saja?


"Jangan khawatir, Nona! Ini akan cepat kering"


Mauren tersenyum lalu mengusap air matanya yang masih menempel di pipi.


"Jangan bilang kepada Oppaku ya!" ucap Mauren.


"Baik, Nona"


"Kak Kim. Bolehkah aku izin pulang? Aku tidak enak badan dan ingin istirahat"


"Tentu saja Nona. Aku akan memberikan surat izin kepadamu. Dan pulanglah sepertinya anda memang butuh istirahat"


"Kau memang baik Kak Kim. Beruntungnya wanita yang bisa menjadi kekasihmu," ucap Mauren dengan tersenyum.


Asisten Kim juga ikut tersenyum, entah kenapa ia sangat senang ketika Mauren berucap seperti itu.


Mauren segera keluar dari ruangan itu tetapi alangkah terkejutnya saat pria setengah baya memergoki mereka didalam ruangan itu.


"Jadi kau ternyata juga melanggar aturan Tuanmu, Asisten Kim?" ucap Pak Edy, dia adalah kepala HRD yang mengurusi para pegawai di kantor itu.


"Itu tidak seperti yang anda lihat, Pak Edy"


"Apa jadinya jika Tuan Sean tau jika sang asisten malah mengkhianati peraturannya sendiri?"


Pak Edy memang tidak menyukai Asisten Kim, inilah saat yang tepat untuk menyingkirkannya dari perusahaan. Tetapi Asisten Kim tidak takut dan malah menantangnya.


Tiba-tiba ponsel Asisten Kim berbunyi yang ternyata dari Sean. Dia mengangkatnya dan ternyata Sean menyuruh ke ruangannya bersama Mauren untuk menghadapnya.


Asisten Kim menatap tajam Pak Edy, ternyata sedari tadi Pak Edy sudah memantaunya.

__ADS_1


Mauren bingung di campur ketakutan ia takut jika Sean marah kepada.


Mereka lalu berjalan ke ruangan Sean.


Terlihat Mauren ketakutan dan Asisten Kim menenangkannya.


"Jangan khawatir Nona! Tuan Sean tidak akan marah," ucap Asisten Kim.


"Aku takut jika dia salah paham"


"Tenang saja! Saya akan menjelaskannya kepada Tuan Sean"


Masalah tadi belum selesai. Dan kali ini datang masalah baru. Hidupku dramatis sekali seperti kisah kumenangisss.... membayangkan...


Ya Tuhan. Kuatkanlah hatiku seperti pemeran utama pada sinetron itu.


Beberapa menit kemudian, mereka sampai diruangan Sean.


Sean langsung berdiri lalu menatap tajam kearah mereka.


Mauren menundukkan kepala tidak berani menatap wajah Sean yang sangat murka.


Sedangkan Asisten Kim terlihat santai, ia merasa tidak melakukan kesalahan apapun.


Tetapi Sean terkejut saat melihat Mauren yang basah kuyup. Dia mendekatinya lalu menangkup pipinya seperti khawatir.


"Kim! Apakah gedung ini ada yang bocor? Kenapa Mauren bisa basah kuyup begini?"


Mauren melepas tangan Sean dari pipinya. Dia masih merasa kecewa kepada Sean yang tidak memberitahu jika dirinya akan bertunangan dengan Alana malam ini.


Bahkan kau nampak biasa saja, Oppa.


Kau tidak mencintaiku.


Dan jika kau cinta padaku pasti kau tidak akan menerima pertunangan itu.


"Aku tidak apa-apa," jawab Mauren ketus dan memalingkan muka.


Sean sedikit terkejut dan curiga dengan tingkah aneh Mauren yang berbeda dari biasanya.


"Tuan. Bisakah hukuman kami di tunda? Saya ingin ijin pulang. Saya tidak enak badan. Dan masalah di ruang fotocopy tadi hanya kesalahpahaman saja," jelas Mauren.


Sean panik lalu memegang kening Mauren, ia merasa suhu tubuh Mauren memang panas.


Dia menyuruh Mauren untuk pulang.


"Panggil Pak Zainal kesini untuk menjemput Orenku, Kim!"


"Baik Tuan"


"Kau istirahat dirumah saja sayang. Panggil Bibi Inah untuk memasakkan untukmu dan menemanimu," ucap Sean sambil menggenggam tangan Mauren.


Mauren hanya menganggukan kepala dan melepas paksa genggaman Sean.


Dia bahkan memalingkan muka dan tidak mau menatap Sean.


Ada apa ini? Apa Oren marah padaku?


Tapi apa salahku**? Batin Sean.


Cepat kita selesaikan permainan ini! Aku tidak mau tersakiti lebih lama lagi. Batin Mauren


________________


hai gaess bantu LIKE, KOMEN, RATE5 dan VOTE YAAAAA

__ADS_1


jangan pelit!!!


__ADS_2