
Suara telpon masuk berbunyi ternyata dari bodyguard Sean yang berjaga di pintu masuk gedung apartemen Sean.
Dia memberitahukan jika Mama Sean datang dan memaksa masuk ke lantai teratas apartemen milik Sean.
Sean mengizinkan sang Mama masuk dan setelah itu Sean menyuruh Mamanya masuk ke dalam apartemennya.
"Mama datang untuk melihat Mauren?" tanya Sean dengan senang.
Mamanya tidak menggubris ucapan Sean, ia berjalan mendahului Sean lalu menuju Mauren yang tengah tiduran di ranjang sambil menonton TV.
Tiba-tiba sang Mama menarik rambut Mauren membuat gadis itu terjatuh dari ranjang dengan keras.
Sean sangat terkejut, ia langsung menghentikan sang Mama yang siap ingin menampar Mauren.
"Jangan sakiti Mauren, Mah! Ada apa dengan Mama? Kenapa Mama menyakiti Orenku?" ucap Sean sangat emosi.
"Gadis miskin itu tidak pantas mengandung cucuku. Cepat gugurkan saja bayi itu!"
Sean dan Mauren sangat terkejut, Mauren yang masih terduduk dilantai langsung memegangi perutnya. Sedangkan Sean semakin emosi dengan Mamanya.
"Mama seorang ibu, kenapa Mama bisa berkata seperti itu? Mana hati nurani Mama? Itu anak Sean dan itu cucu Mama, Mama tega sekali. Aku tidak menyangka jika Mama seperti itu," ucap Sean begitu kecewa.
Mama kini memandang Mauren yang sudah berdiri menunduk disebelah Sean. Dia menahan air matanya, ia tidak ingin terlihat cengeng di depan sang ibu mertuanya.
"Kau anak satu-satunya Mama. Mama hanya ingin melihatmu menikah dengan gadis yang jelas asal-usulnya. Mama sangat malu jika seorang presdir sepertimu menikah dengan anak penjual sayur seperti dia"
"Buahahaha... Mama lucu sekali. Mama tidak ingat Mama dulu menikahi Papa yang hanya seorang petani?" ucap Sean merasa geli dengan ucapan Mamanya.
Sang Mama tercekat dengan ucapan Sean. Dia merasa kesal dengan ucapan Sean, " jaga ucapanmu Sean! Walaupun dia petani tetapi Papamu memiliki berhektar-hektar sawah"
"Sawah semua itu pun pemberian dari Kakek," jawab Sean semakin membuat sang Mama tidak bisa membalas ucapannya.
Sang Mama merasa kesal, ia memilih untuk diam lalu berjalan keluar. Dia juga mengatakan sampai kapanpun tidak akan pernah menganggap Mauren sebagai menantunya.
Setelah memastikan sang Mama sudah keluar dari apartemennya, Sean langsung memeluk Mauren dan gadis itu menangis tersedu-sedu.
Sean menenangkannya, ia yakin jika suatu saat sang Mama akan merestui mereka berdua.
Setelah menenangkan Mauren, Sean menyuapi bubur ayam yang telah mendingin tadi. Dengan lahap Mauren memakannya, Sean juga memastikan jika Mauren tidak terluka akibat ulah dari sang Mama.
"Kau tidak usah memikirkan omongan Mamaku tadi. Aku tidak mau bayi kita menjadi stres karena kau terlalu memikirkan ucapan Mamaku"
Mauren menganggukan kepalanya, Sean dengan cepat mengusap air mata Mauren yang sudah banyak jatuh membasahi pipinya.
Hari ini kegiatan mereka hanya menonton TV, mereka berbaring bersebelahan sambil bergandengan tangan, sesekali mereka saling melirik lalu tersenyum satu sama lain.
__ADS_1
"Kau ingin makan apa Orenku?" tanya Sean.
"Tidak ada Oppa sayang," jawab Mauren sambil tersenyum.
Sean membalas senyuman Mauren, ia lalu mencium tangan Mauren tetapi ia terfokus pada kuku gadis itu yang kotor membuat Sean sangat terkejut.
"Jiaaaah... wajahmu kau rawat tetapi kukumu menjijikan. Cepat potong kukumu!"
"Potongkan Oppa!" rengek Mauren.
Sean menghela nafas, ia menggandeng Mauren untuk duduk di depan kolam renang. Dengan cekatan, ia memotong kuku sang istri dengan hati-hati. Dia seperti sedang mengurus sang anak.
Mauren tersenyum, baru pertama kalinya ia bertemu dengan pria peduli seperti Sean bahkan Reza dan Asisten Kim yang pernah dekat dengan dirinya masih kurang peduli dengan Mauren.
Angin sepoi-sepoi sesekali menerbangkan rambut Mauren dan mencolok mata Sean. Pria itu selalu mengucek matanya dan merasa risih dengan rambut Mauren.
"Ikat rambut kau!" pinta Sean.
"Tidak mau"
Sean lalu berjalan ke kamar mengambil sisir dan dua ikat rambut yang dibelinya di minimarket depan.
Mauren yang masih terduduk di depan kolam renang sangat terkejut saat Sean tiba-tiba menyisir rambutnya.
"Diam kau! Ku ikatkan rambutmu," ucap Sean yang tengah melihat Mauren memberontak.
Dia tersenyum karena bukan hanya rambut miliknya saja yang rontok.
Sedangkan Mauren melihat ikat rambut yang masih terpasang bandrol harga.
"Oppa pelit sekali denganku. Semua barang Oppa termahal di dunia sedangkan Oppa membelikanku barang termurah di dunia. Apaan nih ikat rambut harga 5 ribuan, Cih... dasar pelit!" gerutu Mauren.
"Jika aku pelit denganmu pasti kau sudah mati kelaparan. Dan semua fasilitas disini kau juga memakainya"
"Tapi Oppa tidak pernah memberiku uang, itu juga termasuk pelit"
"Kau tidak pegang uang juga tidak akan mati. Untuk apa kau pegang uang? Apa jangan-jangan untuk pria lain?"
Mauren terkejut mendengar ucapan Sean, ia mencubit dada Sean membuat pria itu kaget.
"Aku sedang hamil. Kenapa Oppa bilang begitu denganku?" ucap Mauren sedih.
Sean segera meminta maaf lalu mengecup pipi sang istri, ia sadar kini harus menjaga ucapannya karena kini sang istri tengah hamil dan lebih sensitif.
Setelah itu Sean melanjutkan mengikat rambut Mauren dengan rapi setelah itu melanjutkan memotong kuku sang istri dengan telaten.
__ADS_1
"Oppa sungguh sayang kepadaku?"
"Jika tidak sayang sudah ku buang kau"
"Oppa... bayinya nendang-nendang"
"Nendang pala kau! Janin baru 1 bulan kok sudah nendang," ucap Sean kasar.
Sean yang sadar dengan ucapan kasarnya segera meminta maaf, ia melihat Mauren yang sudah akan menangis sambil memonyong-monyongkan bibirnya.
Sean dengan cepat menarik tangan Mauren lalu menepuk-nepuk pada bibirnya yang selalu berucap serampangan.
Plak... plak... plak...
"Maafkan aku Oren. Bibir ini memang harus di laknat," ucap Sean.
"Logat bicara Oppa seperti bukan orang dari kota ini. Oppa selalu bicara kasar denganku. Jangan begitu Oppa!"
"Maafkan aku sayang. Aku janji tidak akan bicara kasar denganmu lagi"
"Janji palsu," gerutu Mauren.
Sean menangkup wajah Mauren, ia memandang matanya lekat lalu setelah itu mendekatkan bibirnya ke bibir sang istri, ia memberi gigitan manja membuat Mauren menjadi terlena dan melupakan semua amarahnya. Lidah mereka saling menyesap meninggalkan rasa nikmat yang luar biasa. Sampai tangan Sean meraba harta karun sang istri tetapi gadis itu malah menepisnya dan langsung melepaskan ciumannya.
"Oppa jahat sekali sudah menghamili gadis yang baru lulus sekolah. Dasar pedofil!" ucap Mauren dengan suara yang penuh sensual seperti sudah terbawa nafsu.
"Tapi kau suka 'kan?" tanya Sean sambil menarik tangan Mauren dan menyuruh memegang sang ular yang telah menegang.
"Iiiih... Oppa... aku jadi malu"
Setelah hamil dia malah nafsuan begini.
Tapi aku menyukainya.
Sean dengan cepat membopong Mauren dan membawanya menuju ke ranjang.
Mereka akhirnya melakukan olahraga ranjang di siang bolong ini dengan penuh gairah.
__________________
__ADS_1
Dukung karya author dengan LIKE KOMEN RATE5 VOTE pada novel ini supaya author semangat ngetiknya.