
"Uncle, kenapa semua orang membenciku?" tanya Seina.
"Siapa yang membenci nona cantik? Bilang kepada Uncle!"
"Semuanya. Papa, teman Seina, oma dan masih banyak lagi tetapi mama tidak. Mama sayang Sein"
Asisten Kim mengelap air mata Seina lalu menggendongnya. Dia tahu kesedihan Seina selama ini. Apalagi sang tuan terang-terangan memarahi Seina di depannya.
"Semua orang sayang kepada nona. Jangan bersedih! Uncle sayang sama Seina, semua orang sayang dengan nona. Itu semua hanya ketakutan nona saja," ucap Asisten Kim.
Asisten Kim menggendong Seina sampai di dalam mobil. Seina terus menangis sesegukan sampai Asisten Kim merasa kasihan.
Asisten Kim mengambil coklat lalu memberikannya kepada Seina.
Coklat yang sama persis yang di berikan oleh oma untuk cucu-cucu kesayangannya.
"Makan coklat ini, Nona Seina!" ucap Asisten Kim memberikan 5 buah coklat untuk Seina.
Seina mengusap air matanya, ia tersenyum ketika mendapat coklat itu.
Dia membuka bungkus coklat itu lalu memakannya dengan lahap. Sedangkan Asisten Kim mengelap bulir-bulir air mata yang masih menempel di pipi.
"Terima kasih, Uncle"
"Sama-sama, nona. Kita pulang ya? Mama anda pasti sudah menunggu"
**
Mauren memakai baju di depan kaca sambil berpikir untuk apa Alana mau menemuinya? Apa hanya untuk memberikan undangan karena sebentar lagi ia akan menikah?
Setelah memakai baju, ia melirik Daleon yang sudah tampan dan sedang bermain game di ponsel miliknya.
'Dale, mana hape mama?"
"Tidak, mah!" ucap Daleon.
"Gamenya mama hapus lho. Cepat! Kita akan berangkat"
Daleon menyerahkan ponsel kepada mamanya sambil mengerucutkan bibir.
Dia berusaha menjadi anak yang penurut bagi mamanya.
"Mama... Sheren pulang," teriak Seina sambil membuka pintu.
Seina langsung memeluk sang mama, Mauren bisa melihat mata Seina yang bengkak seperti habis menangis.
Mauren menangkup pipi Seina dan menatap gadis kecilnya dalam-dalam.
Seina memalingkan pandangan karena tidak mau ketahuan jika habis menangis.
"Sheren kenapa menangis?" tanya Mauren.
"Gak kok, mah. Sheren kemasukan debu aja"
"Jangan bohong Sheren! Siapa yang nakalin dirimu sayang?"
Seina tetap menggelengkan kepala. Dia tidak mau membuat sang mama khawatir. Dia harus bersikap semua baik-baik saja. Jika ia menceritakannya pasti Mauren akan bertengkar dengan Sean yang selalu memarahi Seina ketika tidak ada Mauren.
__ADS_1
"Mama sama Dale mau pergi?" tanya Seina mengalihkan pembicaraan.
'Iya, buruan Sheren ganti bajunya! Mama ambilkan baju ya"
Seina menganggukan kepala, ia segera melepas sepatunya dan menaruh tas sekolahnya di tempatnya.
Mauren mengambil baju untuk Seina dan Seina langsung memakainya.
"Ma, Sheren lapar"
"Makannya di restoran saja ya, Tante Alana mengajak kita makan disana"
"Bak, ma"
Setelah semuanya siap, mereka bertiga berangkat ke restoran diantar oleh supir.
Mauren menggandeng kedua anaknya.
Gadis berumur 25 tahun itu begitu keibuan saat berada bersama kedua anaknya.
Sesampainya di restoran, ia segera menemui Alana yang tidak duduk sendirian. Mauren terkejut melihat papa Alana ikut duduk disana.
Mauren tau jika Fahri tidak menyukainya.
"Hai cantik, lama kita tidak bertemu," sapa Alana sambil cipika-cipiki dengan Mauren. "Ih... gemes banget tante sama kalian," goda Alana kepada Seina dan Daleon.
Alana mempersilahkan mereka duduk dan memesan makanan.
Mauren cukup risih dengan keberadaan Fahri sampai ia tidak menatapnya.
"Tatapan papa membuat Mauren takut," ucap Alana membuat Mauren terkejut.
Fahri tersenyum, ia baru sadar jika Mauren mirip dengan Delia.
Rasa bersalah menghampirinya dan pencariannya kini tidak sia-sia.
Sambil menunggu makanan datang, Alana mengobrol untuk mencairkan suasana.
"Mauren, pasti sangat kesusahan mengurus mereka berdua karena mereka pasti sedang aktif-aktifnya," ucap Alana.
"Mereka baik dan penurut, tidak kesusahan mengurus mereka," jawab Mauren sambil tersenyum.
Setelah di tunggu beberapa menit. Makanan datang, Mauren lebih dulu menyuapi Daleon.
Alana memandang Daleon, wajahnya sangat mirip dengan Sean. Dia juga melirik Seina, walau bukan anak kandung Sean Mauren sepertinya Seina diperlakukan sama.
Mauren bergantian menyuapi Daleon dan Seina. Walau Seina sudah bisa makan sendiri namun Mauren terkadang masih menyuapinya. Baginya Seina masih kecil dan butuh perhatian banyak.
Fahri melirik sang cucu, dia ingin sekali memeluknya tetapi itu tidak mungkin.
Untuk mengajak mengobrol dengan Mauren saja merasa kelu, apalagi memeluk Daleon.
Alana menatap ke arah sang papa, dia memberi kode untuk segera bicara.
Fahri menggelengkan kepala, ia sungguh tidak berani mengatakan yang sebenarnya.
Alana menghela nafas, akhirnya ia yang berbicara kepada Mauren.
__ADS_1
"Mauren, kami ingin mengatakan kepadamu bahwa kami ingin meminta maaf karena perlakuan kami kepadamu dulu," ucap Alana.
"Itu sudah lama, aku bahkan tidak mengingat semua itu. Aku sudah memaafkan kalian sedari dulu," jawab Mauren.
"Benarkah? Terima kasih sudah memaafkan kami, tapi ada satu hal yang ingin kami sampaikan. Kau kenal Tante Delia pemilik butik di jalan veteran?" tanya Alana.
"Iya kenal, dia mamaku"
Alana dan Fahri saling memandang. Fahri sangat yakin jika Mauren adalah anak kandungnya bersama Adelia.
"Mungkin ini sangat mengejutkan tetapi papaku pernah menjalin hubungan dengan beliau," ucap Alana.
Mauren melirik Fahri, Fahri mulai berani memandang Mauren dengan tatapan penuh makna.
"Lalu?" ucap Mauren.
"Mauren, saya mau minta maaf karena kesalahan saya membuat Delia membuangmu. Saya yang menghamili Delia saat itu," ucap Fahri.
Mauren tidak terkejut, ia menatap tajam kearah Fahri.
"Delia menutupi kehamilannya tanpa sepengetahuan saya dan...."
"Cukup! Aku benci anda, aku sangat benci. Aku sudah tahu jika anda papa kandung saya tapi aku tidak akan menganggap anda papa saya," ucap Mauren.
Mauren berdiri lalu menarik kedua anaknya, Alana mencegahnya dan memohon untuk mendengarkan penjelasan yang papa.
"Papa tidak bersalah Mauren. Dia terus mencari keberadaanmu," ucap Alana.
"Aku masih mengingat ucapan dan perkataan anda yang menyakitkan ketika aku menikah dengan Sean. Itu semua penghinaan bagiku. Papaku sendiri mencela pernikahan putrinya, menganggap seolah aku anak buangan tidak pantas menikah dengan Sean," ucap Mauren berapi-api.
PLAAAAK...
Sebuah tamparan mendarat di pipi Mauren, Alana sangat murka ketika Mauren memaki papanya.
"Lana, apa yang kau lakukan?" ucap Fahri terkejut.
Seina dan Daleon juga terkejut.
"Mama, ayo kita pulang!" ajak Seina mengerti jika suasananya tidak bagus.
"Kenapa tante memukul mamaku?" ucap Daleon dengan suara cemprengnya.
Daleon begitu marah sampai matanya melotot kearah Alana. Alana terkejut karena ketika Daleon marah sangat mirip dengan Sean.
"Mauren, maafkan kakakmu! Alana, segera meminta maaf kepada Mauren. Papa memang salah Alana," pinta Fahri.
"Dia tetap tidak boleh membentak papa," jawab Alana.
Mauren lalu menggandeng kedua anaknya meninggalkan mereka. Dia sangat membenci papanya.
Fahri memarahi Alana, bukan mencari solusi malah menambah masalah.
"Papa yang salah Alana, Mauren wajar saja begitu dengan papa. Sekarang lihatlah dia semakin membenci papa"
""""""""
Hai si Kim n Sera udah update di KBM
__ADS_1
Ternyata sifat Sukim lebih parah dari Sean. Sampai pembaca dari sini mampir ke cerita kim pada terkejut melihat sifat Kim yang aneh melebihi Sean.
Jika kepo bisa mampir di aplikasi KBM dengan judul Suami Cuek VS Istri Bar-Bar