
Mauren segera masuk ke dalam rumah Valto setelah ia diantar oleh asisten Kim.
Mauren terkejut ketika sepupunya itu sudah berdiri di depan pintu seperti menunggunya.
Raut wajah Valto seperti marah, Mauren hanya bisa berjalan kearahnya dan menundukan kepala.
Valto bersedekap memandangi adik sepupunya itu. Banyak sekali pertanyaan yang ingin ia lontarkan.
"Kau sangat bodoh Mauren! Ku pikir kalian bercanda akan menikah, ternyata benar-benar menikah. Apa yang kau pikirkan? Kau belum mengenal Sean kenapa mau menikah dengannya? Apa karena dia kaya?" tanya Valto sangat marah.
Mauren tidak bisa berkata-kata, ia juga sangat bingung kenapa ia mau menikah dengan Sean, lelaki yang baru di kenalnya.
Dia berpikir untuk mencari jawaban tetapi ia tidak menemukannya.
"Kau tidak merasa kasihan dengan bapak dan ibumu? Dia rela berhutang untuk biaya sekolahmu hingga kau lulus sekarang ini, sampai mereka bangun jam 2 pagi untuk berjualan di pasar hanya untuk membiayai semua kebutuhanmu itu. Semua kebutuhanmu yang tidak masuk akal, kau ingin ini kau ingin itu semua mereka turuti kemauanmu. Tapi apa? Kau egois Mauren! Apalagi yang tiba-tiba kau menikah dadakan dengan Sean membuat mereka semakin hancur!"
"Kau harus sadar kau ini orang miskin! Kau bertindak seperti orang kaya yang punya segalanya dan lagipula kau dan Sean sangat berbeda. Aku bahkan tidak yakin ibu Sean menyukaimu, aku tidak menghinamu tetapi aku harus mengatakan fakta sebenarnya tentang dirimu," sambung Valto.
Mauren menitikan air mata, ia melangkah mundur dengan perlahan. Dia menyeka air matanya tetapi seolah air mata itu seolah selalu mengalir. Dia berlari meninggalkan rumah Valto, ia berlari tak tentu arah.
Bayangan akan orang tuanya memenuhi pikirannya, ia sangat menyesal telah membuat kedua orang tuanya kecewa.
Sedari dulu ia sangat manja, meminta ini dan itu tanpa melihat orang tuanya mampu atau tidak. Tetapi saat ia harus bekerja untuk membiayai orang tuanya malah ia tiba-tiba menikah.
Dia berlari sangat kencang sampai membuatnya terjatuh, lututnya berdarah-darah tetapi ia segera bangkit lalu berlari lagi dan tidak menghiraukan lututnya yang terasa nyeri. Terlihat awan mendung mulai datang, entah mengapa seolah tau isi Mauren yang sedang mendung. Dan benar saja 10 menit kemudian hujan turun begitu derasnya, rasa perih menyeruak di lututnya yang terluka.
Dia sudah tidak kuat berlari, ia berjalan terseok-seok. Badannya mulai basah terkena air hujan, rambutnya yang hitam dan panjang nampak kusut.
Dia tetap berjalan menuju taman favoritnya, ia mulai bersin dan sesekali memeluk dirinya sendiri yang mulai kedinginan.
Sudah setengah jam ia berjalan ke arah taman itu tetapi tak kunjung sampai.
Mauren memutuskan berhenti sejenak dan ia duduk di trotoar, air hujan nampak tak berhenti menghujaninya.
__ADS_1
Ketika sedang menunduk ia melihat kaki laki-laki di depannya lantas ia mendongakan kepala, ia bisa menatap lelaki itu yang tengah memayunginya. Tetapi tiba-tiba lelaki itu melempar payung ke jalan dan membuatnya menjadi basah.
"Kenapa main hujan-hujanan begini? Lihat dirimu begitu menyedihkan! Dan kenapa lututmu berdarah seperti itu?"
Mauren hanya menatap Pria itu, ia terlihat tersenyum.
"Kau bodoh, oppa! Kenapa kau melempar payungnya? Kau juga menjadi basah," jawab Mauren.
Sean tidak menjawab pertanyaan dari Mauren, ia langsung mengangkat tubuh Mauren dan menggendongnya. Mauren dengan cepat mengayunkan tangannya di leher Sean, ia memandang wajah Sean yang basah dan terlihat sangat tampan.
Sean membawanya masuk mobil dengan hati-hati, setelah itu ia melajukan mobilnya ke apartemen miliknya.
Setengah jam kemudian mereka sampai di sebuah apartemen mewah, Sean dengan cepat menggendong tubuh Mauren masuk kedalam apartemen itu.
Setelah itu ia membawa Mauren ke kamar mandi, Sean mendudukannya di toilet dan segera membersihkan luka Mauren dengan alkohol. Mauren menatap lembut ke arah Sean, ia sungguh sangat tampan dan tidak percaya jika yang di depannya itu sang suami.
"Apakah benar oppa suamiku?" tanya Mauren masih menatap wajah Sean dengan lekat.
"Ternyata otakmu berada di dengkul ya? Dengkulmu terbentur kau langsung jadi amnesia?"
Setelah selesai memberikan alkohol pada luka Mauren dengan cepat Sean membantu melepas pakaian Mauren yang basah kuyup.
"Oppa mau apa?" tanya Mauren sangat malu ketika Sean sudah melepas baju hem putihnya itu.
"Memandikanmu cantik"
"Aku bisa mandi sendiri, cepat oppa keluar!"
"Hey kau tidak lihat baju ku juga basah kuyup, kau ingin aku sakit? Disini kamar mandi hanya satu, aku juga harus segera mandi"
Sean melepas bajunya yang basah itu, Mauren menunduk malu dan tidak berani menatapnya, sudah seminggu mereka menikah tetapi mereka belum melakukan hubungan layaknya suami istri. Di benak Mauren apakah keperawanannya akan di renggut malam ini oleh Sean? Jantungnya berdetak ketika sang suami sudah tidak mengenakan sehelai benang pun.
"Kau cepat mandi di bathup! Aku mau mandi dibawah shower, kau jangan khawatir aku tidak akan melakukan apapun kepadamu"
__ADS_1
15 menit kemudian.
Setelah mereka selesai mandi, Sean dengan cepat memberikan bajunya ke Mauren.
Sean tersenyum ketika bajunya di kenakan oleh Mauren terlihat kebesaran. Dia memeluknya dengan erat, Sean seketika memegang rambut Mauren yang basah, ia melepaskan pelukan itu dan mengambil pengering rambut. Sean mendudukan Mauren di pinggir ranjang, ia mengeringkan rambut Mauren dan menyisirnya.
"Jangan heran! Aku sering mengeringkan rambut sepupuku"
"Iya oppa. Oppa besok aku ingin pulang kerumah bapak dan ibuku, oppa mau mengantarku?"
"Iya aku mau mengantarmu tetapi jika bapakmu mengusir kita bagaimana?"
"Kita harus memohon agar tidak diusir"
Setelah dirasa cukup kering, Sean menyuruh Mauren untuk segera tidur, ia ikut berbaring disebelah Mauren dan memeluknya.
Sean memandang lekat wajah Mauren.
Dia tanpa make up seperti ini sangat cantik.
"Valto brengs*k itu bilang apa kepadamu?" tanya Sean sambil mengelus wajah Mauren.
Sean berdecak, ia langsung menggesekan hidungnya ke hidung Mauren. Mauren hanya bisa tersenyum.
"Kau jangan pernah mendengarkan perkataan orang tentang kita. Jangan menganggapku kaya dan jangan menganggap dirimu miskin.
Rumus cinta tidak seperti itu, cinta tidak memandang apapun. Valto sudah menceritakan semuanya saat di telepon dan tiap bulan aku akan menstransfer uang kepada orang tuamu," ucap Sean.
Mauren membenamkan wajahnya di dada Sean, ia cukup malu dengan kehidupannya itu. Dia sangat beruntung memiliki suami seperti Sean yang menerimanya apa adanya.
Sampai ia terserang kantuk yang luar biasa membuat dirinya tertidur dipelukan Sean.
Sean mencium keningnya, ia juga ikut tertidur.
__ADS_1
Aku mencintaimu apa adanya dan tidak pernah memandang siapa kamu.
Aku sudah menyukaimu sejak 2 tahun yang lalu dan aku adalah penggemar rahasiamu Mauren.