
"Sudah berulang kali saya bilang, Nona. Fokuslah kepada Tuan Sean! Jangan hiraukan saya! Anda juga tidak berhak menyuruh saya berhenti bekerja untuk Tuan Sean. Jangan pernah sakiti Tuan Sean! Atau anda akan berurusan dengan saya," gertak Asisten Kim.
Mauren tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Asisten Kim, ia merasa geli mendengar gertakannya.
Sedangkan Asisten Kim hanya menatap diam, tetapi tiba-tiba ia mendorong tubuh Mauren ke tembok lalu menguncinya. Mauren sangat terkejut ketika Asisten Kim mendekatkan wajahnya.
"Aku tidak pernah main-main dengan ucapanku, Mauren! Jangan pernah sakiti Tuan Sean! Atau kau berurusan denganku. Cukup aku saja yang kau sakiti. Kau bilang aku sakit hati? Memang benar. Aku memang menganggap semua itu tidak pernah terjadi, saat kita bersama, semua kenangan kita anggap saja tidak pernah ada. Dan fokuslah ke Tuan Sean!"
Mauren ketakutan saat menatap tatapan dingin seorang asisten.
Untuk pertama kalinya ia melihat Asisten Kim menunjukan sifat aslinya, sorot mata yang tajam beserta raut muka yang menyeramkan jika untuk dipandang.
"Kau yang menyakiti Tuanmu, kenapa kau waktu itu menciumku? Kau yang pengkhianat dasar brengs*k! Kau laki-laki menyebalkan yang pernah aku temui! Aku benci dirimu Kak Kim, hiks hiks hiks...," ucap Mauren sambil terisak.
DEG!
Asisten Kim tersentak mendengar ucapan Mauren, ia memang menyadari secara tidak langsung ia telah berkhianat kepada sang tuan.
Dia mengelap air mata Mauren lalu dengan yakin ia mencium bibir Mauren, Mauren berusaha menghindar tetapi Asisten Kim memaksa untuk berciuman.
Dia memasukan lidahnya dengan paksa, sedangkan Mauren hanya bisa pasrah karena tenaga Asisten Kim lebih kuat darinya.
Mereka berciuman dengan mesra, menyesap kuat bibir satu sama lain.
Entah setan mana membuat Asisten Kim nekat melakukan itu dan mereka tidak tahu jika Dokter Juna memperhatikan mereka sedari tadi dari balik tembok.
Dokter Juna hanya menatap nanar dan merasa kecewa dengan temannya itu kenapa ia begitu tega mengkhianati Sean. Tetapi ia dikejutkan Sean dibelakangnya lantas Dokter Juna menarik Sean dan membawanya pergi dari tempat itu.
"Lepaskan! Aku mau ke kamar mandi," ucap Sean.
"Pergilah ke kamar mandi lain. Disitu sangat jorok tempatnya," jelas Dokter Juna.
"Akan kubunuh cleaning servicenya jika membuat kamar mandi gedung futsalku jorok"
Sean tidak mengindahkan ucapan Dokter Juna, ia sudah sangat kebelet pipis hingga ia berlari kearah kamar mandi lalu terhenti melihat sang istri tengah berciuman dengan sang asisten kepercayaannya.
Sean lalu mundur dan bersembunyi dibalik tembok, hatinya terasa sakit karena telah dikhianati oleh orang terdekatnya.
Sedangkan Dokter Juna menepuk bahu Sean, ia tahu jika teman dekatnya itu sangat kecewa dan sakit hati.
Sean lalu berjalan keluar dari tempat itu dengan tatapan kosong, ia menuju taman yang berada pada luar gedung futsal itu. Dia terduduk sambil memegang kepalanya, dadanya terasa sangat sesak dan ia ingin menangis tetapi ia tahan karena disebelahnya ada Dokter Juna.
__ADS_1
"Sean. Aku sudah tahu sifatmu yang akan marah jika gadis kesayanganmu ditatap oleh orang lain. Tapi kenapa kali kau malah menghindar, jika aku jadi kau aku akan memukuli Kim saat itu juga"
"Aku tidak mau merusak persahabatanku dengan Kim," ucap Sean sambil menahan air matanya.
"Bangs*t! Aku akan membunuh Kim. Benar ucapanmu waktu itu, orang pendiam seperti Kim jauh lebih berbahaya ketimbang kita yang bar-bar," ucap Dokter Juna kesal.
"Sialan! Kenapa jadi kau yang marah? Sudahlah anggap saja kau tidak melihatnya. Dan tutup mulutmu Juna! Atau kau yang akan kubunuh," ucap Sean marah lalu berjalan meninggalkan Juna.
Sean lantas masuk ke gedung itu dan bergabung bersama kawan-kawannya serta tertawa riang saat bermain futsal.
Dokter Juna heran kenapa Sean bisa menganggap biasa kejadian itu. Tapi ia berpikir apa yang dilakukan Sean adalah yang terbaik untuk Sean sendiri.
Aku tidak tau apa yang kau pikirkan Sean. Tetapi aku akan selalu mendukungmu. Kau sudah kuanggap adikku sendiri. Batin Dokter Juna.
Disisi lain Asisten Kim melepaskan ciumannya. Setelah ia berciuman cukup lama entah kenapa ia begitu sangat puas seolah melampiaskan apa yang dirasa tertunda sedari dulu.
Mauren masih syok dengan pria di depannya, pria yang begitu menyeramkan hingga ia memalingkan wajah seolah jijik.
Asisten Kim lalu mengecup kening Mauren dan memeluknya.
"Besok aku akan mengundurkan diri sebagai asisten Tuan Sean sesuai ucapanmu dan aku akan kembali ke negaraku. Benar ucapanmu secara tidak langsung aku telah mengkhianati Tuan Sean dan aku tidak ingin mengkhianatinya lebih jauh lagi," ucap Asisten Kim.
Setelah itu Asisten Kim melepaskan pelukannya, ia lalu berjalan meninggalkan Mauren yang masih syok.
"Lama sekali kau Kim?"
"Maaf Tuan"
Mereka lalu bermain bola lagi sedangkan Mauren terlihat sudah duduk bersama gadis-gadis lain.
Dia terlihat tidak bersemangat, ia melamun menatap kosong suaminya yang bermain bola bersama kawan-kawannya.
Sean mendekatinya lalu mengacak-acak rambut Mauren. Mauren terkejut lalu tersenyum kepada Sean.
"Lihatlah gadis lain menyemangati pujaannya! Aku juga butuh semangat darimu Oren"
"Oh.. baiklah Oppa aku akan menyemangatimu. SEMANGAT OPPA!"
Sean tersenyum lalu mencium pipi Mauren membuat seisi lapangan bersorak melihat keromantisan mereka tetapi tidak dengan Dokter Juna, entah kenapa ia merasa kasian dengan Sean dan merasa benci dengan Kim.
Sean lalu kembali ke lapangan melanjutkan permainannya, entah kenapa Mauren selalu tertawa melihat cara bermain futsal Sean yang terlihat lucu. Dia selalu memaki lawan mainnya jika bolanya direbut darinya.
__ADS_1
"Sialan kau mengambil bolaku!"
"Bangs*t! Akan ku tarik sahamku padamu! Beraninya mengambil bolaku"
"Setan iblis! Harusnya aku yang mencetak gol!"
"Awas kalian beraninya membuatku kalah!"
Setelah selesai bermain, Sean berjalan ke pinggir lapangan.
Mauren dengan sigap mengelap keringat Sean dengan handuk dan memberinya sebotol air putih.
"Oppa. Setahuku bermain futsal menggunakan kaki bukan menggunakan mulut. Oppa sedari mengoceh terus seperti burung beo," ejek Mauren.
"Duduklah sini sayang!" pinta Sean sambil menepuk bangku kosong yang ada disebelahnya.
Sean memeluk Mauren dari samping, kepalanya menyender pada pundak Mauren.
"Kau sungguh mencintaiku?" tanya Sean dengan suara pelan.
"Aku sangat mencintaimu, Oppa"
"Benarkah?"
Mauren menganggukan kepala tetapi perasaannya menjadi tidak enak ketika Sean bertanya seperti itu. Dia sudah mengkhianati Sean walaupun ia tidak menginginkan ciuman tadi.
Rasa bersalah menyelimutinya, ia mengeluarkan air mata tetapi ia langsung menyekanya dan tidak ingin menangis di depan Sean.
Aku sungguh mencintaimu, Oppa.
Aku tidak ingin kehilanganmu.
Maafkan aku.
Aku juga tidak menginginkan ciuman itu.
___________________________
Komedinya di pending dulu ya gaes.. author mau kelarin masalah masa lalu mereka dulu. Setelah masalah itu selesai baru author akan keluarin bagian ngakak mengakaknya.
dan jangan kebawa emosi dulu ya......
__ADS_1
Bantu LIKE KOMEN VOTE RATE5
BIAR AUTHOR SEMANGAT NGETIKNYA