Mendadak Menikah (Sean & Mauren)

Mendadak Menikah (Sean & Mauren)
MMSM 2 : Bab 155 - Bulan madu (Thailand)


__ADS_3

Mereka kini melakukan penerbangan ke Thailand menggunakan pesawat pribadi mereka. Disana mereka sampai saat sore menjelang petang dan langsung menuju ke pasar malam yang terkenal di Thailand.


Tour guide mengarahkan mereka dan menjelaskan tentang jajanan apa saja yang di jual di pasar itu.


Sedari tadi mereka bergandengan tangan menikmati keramaian pasar ini.



"Mau beli apa, oppa?" tanya Mauren.


"Kita lihat-lihat saja dulu"


Mereka berjalan-jalan menikmati setiap sudut pasar. Mereka mencari makanan yang menurut mereka bisa mereka makan.


"Oppa aku ingin itu," ucap Mauren sambil menunjuk makanan yang mirip seperti sate.


Sean tersenyum lalu ia memesankan makanan itu. Sean sangat pandai berbahasa inggris tetapi penjual itu tidak paham dan tugas tour guide lah yang menjadi penerjemah antara mereka.


Tugas fotografer kini memfoto mereka dan saat mereka akan di foto tangan jahil seseorang mencoba mencopet dompet Sean tetapi dengan cepat Sean menarik tangan jahil itu.


"What are you doing?" tanya Sean menatap tajam pria itu.


(Apa yang kau lakukan?)


"No, i am sorry," ucap pria itu sambil berlari menuju keramaian.


"Ada apa, Oppa?" tanya Mauren kebingungan.


"Hati-hati dengan barang bawaan kita, banyak copet di sekitar sini," ucap Sean.


Mauren menganggukan kepala lalu penjual itu menyerahkan makanannya dan Sean mengeluarkan dompet lalu tour guide membantu menyelesaikan pembayaran.


Setelah membayar mereka menuju toko pernak-pernik. Banyak cindera mata yang di jual disana.


"Disini boleh di tawarkah?" tanya Mauren sambil memakan sate itu.


"Di Bangkok jika ingin membeli sesuatu di pasar seperti ini alangkah baiknya jangan sampai menawar," ucap Sean.


"Kenapa, oppa?" tanya Mauren bingung.


"Jika menurutmu itu mahal langsung tinggalkan saja dan cari toko lain karena jika kau menawar dan penjual itu merasa tawaranmu terlalu sadis maka kau akan langsung cepat di usir dan di maki," jelas Sean.


Mauren mengerutkan dahi, sekejam itu kah? Atau hanya di toko tertentu saja?


"Mau coba?" tanya Sean.


Mauren menganggukan kepala mereka lalu menuju ke sebuah toko pernak pernik yang menjual barang-barang khas Bangkok.


"Siap-siap kita di usir, lihatlah!" ucap Sean.


Sean lalu memilih satu barang, ia menanyakan harga kepada sang penjual yang termasuk emak-emak.


"How much is it?" (Berapa harganya?)


"80 Bath"


"What? It is very expensive," (Apa? Ini sangat mahal) "30 bath?" tawar Sean.


Raut wajah penjual itu yang tadinya ramah kini menampilkan mimik wajah yang marah.

__ADS_1


"Siap-siap oren, sebentar lagi kita di usir," bisik Sean.


Mauren masih kebingungan karena ia tidak paham pembicaraan Sean dan penjual itu.


"Priiiiit... priiiiit... priiiiit... Go away! Go away! Go away!" ucap penjual itu sambil meniup peluit. (Pergilah! Pergilah! Pergilah!)


Sean mulai tertawa lalu menarik Mauren yang masih syok karena penjual itu marah.


Sean berlari menjauhi toko tersebut sedangkan Mauren masih bingung.


"Buaahahaha.. Lihat sendiri 'kan kita di usir? Hahaha," ucap Sean.


"Emangnya oppa tadi menawar berapa?" tanya Mauren.


"Harganya 80 bath aku tawar 30 bath"


Mauren mulai tertawa. Ternyata Sean memang sadis saat menawar dan ia baru pertama kali melihat penjual sesadis itu sampai mengusir pembeli.


"Oppa tahu darimana jika penjual disini susah di tawar?" tanya Mauren.


"Dulu aku pernah kesini bersama Alana. Alana menawar tetapi tiba-tiba ia diusir oleh penjualnya bahkan sampai penjual itu menutup tokonya," jelas Sean menahan tawa jika mengingat itu.


Mauren yang mendengar kata Alana menjadi cemburu. Dia tidak menyangka jika Alana sedekat itu dengan Sean bahkan sampai pergi ke Bangkok bersama. Mauren berjalan meninggalkan Sean, ia berjalan termenung.


Sean menatap heran istrinya. Apa kesahalannya sampai sang istri terlihat marah kepadanya?


"Oren, kenapa kau?" tanya Sean sambil mengejar Mauren.


Sean melihat wajah sang istri yang murung. Dia lalu memegang kedua bahu Mauren dan memandang wajahnya.


"Kenapa kau, Mauren?" tanya Sean menatap lekat wajah Mauren.


Sean menghela nafas lalu bersedekap, ia tersenyum kepada sang istri yang marah akan hal itu.


"Kau cemburu? Itu 'kan dulu dan lagi pula kau tau sendiri kan jika Alana teman dekatku?" jelas Sean.


Tak terasa air mata Mauren mengalir tanpa permisi, ia langsung menyekanya.


Sean langsung memeluk Mauren, ia meminta maaf karena telah membuat cemburu Mauren.


"Sudah jangan menangis! Sekarang 'kan kita sudah menikah jadi jangan memikirkan hal lain yang membuat kita cemburu," ucap Sean.


Mauren menganggukan kepala lalu Sean mengajak Mauren untuk membeli oleh-oleh khas bangkok.


Sean membantu Mauren memilih barang mana yang harus di beli. Mereka membeli tanpa menawar, ya... Sean malas jika harus berdebat dengan emak-emak.


Setelah membeli mereka kembali ke hotel untuk makan malam dan melakukan spa karena badan mereka membutuhkan pijatan.


Ruangan spa mereka berbeda tetapi masih bersebelahan. Mereka dipijat oleh orang profesional dari hotel tersebut.


Mauren keenakan sampai terkantuk-kantuk.


Setelah mereka melakukan spa mereka langsung menuju ke kamar hotel untuk beristirahat.


"Sudah oke badanmu?" tanya Sean.


"Sudah, oppa. Besok kita mau kemana?"


"Ke Wat Arun dan ke sebuah pulau, aku lupa namanya. Sudah, tidurlah!" ucap Sean.

__ADS_1


Mauren menganggukan kepala dan beberapa menit kemudian mereka terlelap kedalam alam mimpi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Keesokan harinya,


Mereka terlihat sudah bersiap untuk wisata selanjutnya. Tour guide sudah menunggu mereka di depan pintu lalu mereka segera menaiki mobil ke wisata Wat Arun di kota Bangkok. Tempat itu adalah sebuah candi Budha yang sangat terkenal di kota itu.


Di dalam mobil, Mauren nampak asyik memandang kota Bangkok saat pagi hari. Sedangkan Sean asyik memainkan game di ponselnya.


"Oppa?"


"Hem"


"Jika anak kita perempuan aku ingin memberikan nama Arseina," ucap Mauren.


"Itu bukannya nama dariku?"


"Hahaha.. iya. Kapan ya kita punya baby?"


"Secepatnya sayang"


Mauren tersenyum lalu mulai memandang kaca mobil lagi. Dia teringat Arseina yang dititipkan kepada emaknya.


"Oppa?"


"Apalagi?"


"Bisakah kita memotong waktu bulan madu kita?" tanya Mauren.


Sean mengerutkan dahi lalu memandang sang istri.


"Setelah dari Thailand kita ke Korea dan terakhir ke Perancis jadi kita tidak perlu ke Jepang dan ke Swiss," jelas Mauren.


"Kenapa kau berubah pikiran?" tanya Sean.


Mauren terdiam, ia tidak mungkin mengatakan jika ingin segera bertemu dengan bayi yang sempat ia rawat satu malam itu.


"Oppa tahu sendiri 'kan jika kelelahan sedikit saja bisa mengakibatkan keguguran. Ingat saat touring waktu itu tiba-tiba aku keguguran padahal aku tidak sadar jika aku sedang hamil"


"Oke baiklah, aku akan mengatur ulang jadwal kita. Maafkan aku yang tidak peka kepadamu," ucap Sean.


Sean menyuruh tour guide untuk mengatur ulang jadwal mereka. Walau uang yang sudah dibayar menjadi hangus tetapi Sean tidak masalah karena itu permintaan sang istri.


Setelah sampai di Wat Arun, mereka berfoto selfi menikmati candi khas Thailand yang sangat megah itu.



Lagi-lagi Mauren sangat senang apalagi baru pertama kali ia datang kesini.


"Oppa, ayo fotokan!" pinta Mauren.


CEKREK


CEKREK


CEKREK


Asal kau bahagia aku akan melakukan apapun untukmu sayang. Aku mencintaimu Maurenku.

__ADS_1



__ADS_2