
"Cimol... Cimol... Cimol...," ucap Mauren memanggil kucing peliharaannya dulu sambil menengok ke kanan dan ke kiri.
Sudah sebulan semenjak ia menikah dengan Sean, ia tidak bertemu kucing peliharaannya yang menemani saat di tempat kosnya dulu.
Dia begitu rindu dengan kucing warna oranye yang selalu diajaknya curhat ketika senang maupun susah.
"Cimol... dimana kau sayangku?" ucap Mauren sambil membungkuk tetapi ia tidak menyadari jika di depannya ada seorang lelaki.
"Cari apa?"
"Kucing oren yang biasanya di sekitar sini," ucap Mauren sambil menatap pria itu yang sepertinya ia penghuni baru di tempat kos itu.
"Sudah ku buang ke jalanan, dia setiap malam mengangguku tidur dengan suara meraungnya"
Mauren terkejut dan menatap tajam ke lelaki itu. Dia sangat marah tetapi ia tahan, ia segera berlari ke mobilnya dan berusaha mencari di jalanan yang ia lewati.
Maafkan aku Cimol yang telah melupakanmu sehingga kini kau hidup sebatang kara dan tidak ada yang mengurusimu.
Dia menyuruh Pak Zainal untuk melajukan mobil dengan pelan dan matanya selalu awas menatap jalanan.
Sudah setengah jam ia mencari keberadaan Cimol tetapi tidak membuahkan hasil dan akhirnya ia memutuskan untuk pulang ke apartemen.
Mauren sedih lalu ia menatap fotonya bersama sang kucing, ia sangat merindukannya.
"Nona. Apakah kucing itu berwarna oranye?" tanya Pak Zainal yang melihat kucing sedang makan di dekat angkringan yang ramai orang.
"Benar Pak"
"Apakah kucing itu?" tanya Pak Zainal sambil menepikan mobilnya dan menunjuk kucing yang sedang asyik melahap makanannya.
Mauren menyipitkan matanya lalu berusaha mengenali kucing itu dan ternyata kucing tersebut adalah kucing peliharaannya dulu.
Dia keluar dari mobil dengan senang lalu berusaha mendekati kucing tersebut.
"Cimoool... Mama rindu denganmu," ucap Mauren sambil mengelus kepala kucing itu.
Tetapi Mauren terkejut ketika melihat Cimol memakan tempe goreng membuat hatinya teriris, lalu ia menggendongnya dan membawanya pulang ke apartemen.
Didalam mobil, ia memandangi kucing bermata coklat itu. Walaupun kucing liar, ia sangat lucu dan menggemaskan.
"Cimol. Kita akan pergi ke rumah baru dan kupastikan hidupmu akan lebih baik dari sebelumnya," ucap Mauren yang memandangi wajah Cimol di pangkuannya.
"Meoow..."
"Iya. Kita bisa bertemu Papa Sean dan sepertinya dia akan menyukaimu"
Disisi lain Sean sudah sampai di apartemen, ia segera berendam di air panas supaya bisa menghilangkan rasa lelahnya. Dia juga tidak sadar jika Mauren belum sampai di apartemen.
Saat Sean berendam Mauren masuk ke apartemen dengan membawa kucingnya.
Dia meletakkan kucing itu di luar kamar tepatnya di depan kolam renang. Mauren tak lupa mengambil ikan segar dari kulkas untuk memberi makan kucing itu. Setelah itu ia meninggalkannya untuk masuk ke kamar.
Mauren mengambil baju gantinya lalu masuk ke kamar mandi, ia tidak menyadari jika Sean masih di kamar mandi.
"Mesum juga kau ya?" ucap Sean mengagetkan Mauren.
"Aku tidak tau jika Oppa ada di kamar mandi. Yasudah aku akan keluar"
"Sini kau!"
Mauren mengerutkan dahi, ia segera menghampiri Sean yang tengah asyik berendam.
"Mandikan aku dan jangan menolak!" gertak Sean.
Yang mesum itu Oppa. Batin Mauren.
Mauren mendekatkan diri ke Sean tetapi ia bingung harus melakukan apa.
__ADS_1
"Gosok punggungku!" ucap Sean.
Mauren segera menggosok punggung Sean dan sedikit memberikan pijatan. Sean seperti keenakan dan terlihat mengantuk.
"Badan Oppa bagus sekali padahal aku tidak pernah melihat Oppa berolahraga"
"Setiap malam 'kan aku berolahraga denganmu. Tidak ingat kau?"
Ujung-ujungnya mesum juga. Batin Mauren.
Tetapi tiba-tiba Sean menarik tubuh Mauren untuk masuk ke bak mandi membuat seragam kerja yang di kenakannya basah kuyup. Mereka kini saling bertatapan dan seketika itu Sean melum*t bibir manis Mauren.
3 menit kemudian.
Setelah melakukan ciuman, Sean dengan cepat melepas seragam Mauren yang basah.
Setelah itu Sean menyesapi leher Mauren dengan ciuman dahyat yang membuat gadis itu terengah-engah.
Hah... hah... hah... hah...
Begitu pun dengan Sean, ular yang telah berendam setengah jam membuatnya terbangun dan ingin masuk ke sarangnya.
Dan terjadilah ihik-ihik asoy-asoy.
(Follow Instagram saya : marr_mystory . Disitu akan selalu ku update setiap adegan panas di novel ini)
Setelah terjadi pergulatan hebat di kamar mandi. Mereka segera mengeringkan badan lalu memakai pakaian dan merebahkan diri di ranjang yang empuk.
Sean memeluk erat tubuh Mauren dan menciumi kepalanya. Dia sangat gemas dengan gadis kesayangannya itu.
**
Pagi itu sangat dingin, Sean segera mematikan AC. Entah kenapa hari ini ia ingin melihat matahari terbit di depan kolam renang. Sementara itu Mauren masih tertidur dan Sean tidak ingin membangunkannya.
Ceklek.
Sean sedikit merenggangkan badan supaya otot-ototnya tidak kaku. Tetapi sesuatu diatas kolam renang membuatnya bingung.
Sebuah kuning-kuning mengambang asyik di air yang nampak biru itu.
Sean mengernyitkan kening lalu mencoba mendekati benda itu dan alangkah terkejutnya yang ia lihat adalah harta karun.
"Oren! Oren! Bangun kau!" teriak Sean sambil berlari ke arah kamar.
"Oren!" sambung Sean membentak Mauren.
Hoaaaaam
Mauren menguap dan terkejut melihat Sean yang tiba-tiba marah.
"Kau sinting Oren! Kenapa kau e'ek di kolam renang?"
"Apa maksud Oppa?" tanya Mauren kebingungan.
"Jangan pura-pura kau! Jorok sekali kau ini, Oren!"
Mauren masih kebingungan, ia melirik jam yang masih setengah 6 pagi. Dia berpikir jika Sean sedang mengigau.
"Meeeoow"
"Tunggu! Suara apa itu?" tanya Sean menguatkan pendengarannya.
"Meeoow meeoow"
"Uaaaaa setaaan...," teriak Sean memeluk tubuh Mauren di ranjang.
"Maafkan aku kucing, aku tidak sengaja menabrakmu. Seharusnya kau hantui Kim karena dialah yang menyetir mobil," sambung Sean sambil kepalanya menelusup di dada Mauren.
__ADS_1
"Meeeooow"
"Akan kuberikan uang banyak kepadamu tetapi jangan hantui aku!"
"Meeeeoow"
"Oren aku takut Oren. Kucing itu menghantuiku"
Mauren mendorong Sean lalu berdiri berjalan menuju kucing peliharaanya lalu ia menggendongnya.
"Perkenalkan Oppa, ini adalah Cimol kucing peliharaanku," ucap Mauren.
Mata Sean terbelalak melihat kucing kampung berada di apartemennya.
"Kucing Sialan! Jadi kau yang berak di kolam renangku?"
"Benarkah Cimol? Kau yang e'ek di kolam renang? Aaaah imutnya kau bisa tau WC mahal," ucap Mauren sambil menciumi kepala kucing gemuk itu.
"Aarghh! Menjijikkan sekali kau menciumi kucing jorok itu"
"Oppa lebih jorok menyuruhku menjilati ular milik Oppa. Weeek," ucap Mauren sambil menjulurkan lidah mengejek.
Sean merasa geram, ia meraih ponselnya dan menyuruh Asisten Kim untuk datang ke apartemennya. Sedangkan Mauren masuk ke kamar mandi dengan kucing oren itu dan sepertinya Mauren memandikannya.
"Nah Cimol, kau duduk sini biar aku siram tubuhmu," ucap Mauren memandikan kucing oren yang nakal itu.
Mauren memandikannya dengan lembut sedangkan kucing itu sangat penurut apa yang dikatakan oleh Mauren.
Seketika itu Mauren melirik sabun termahal milik Sean. Pikiran nakalnya muncul lalu ia mengambilnya dan menggunakan sabun itu di tubuh kucing oren.
Tetapi tidak sengaja Mauren menumpahkan sabun mahal itu ke tubuh Cimol, ia terkejut dan takut jika di marahi oleh Sean.
Dok.. dok.. dok.. dok.. dok..
"Oren! Keluar kau Oren! Apa yang kau lakukan dengan kucing sialan itu?" ucap Sean sambil menggebrak pintu.
Karena pintu tidak dikunci, Sean segera membukanya dan betapa terkejutnya saat tau botol sabunnya telah kosong dan tergeletak di lantai. Matanya terbelalak saat melihat kucing oren itu yang menggunakannya.
"Mauren. Kau?"
"Maaf Oppa, sabunnya tumpah. Cepat minta maaf dengan Papa Sean, Cimol!"
"Meeoow meeeoow meeeoow"
Asisten Kim yang baru saja datang terkejut saat Mauren menyuruh kucing itu menyebut Papa Sean. Dia menahan tawa sedangkan Sean sudah terlihat kesal dan langsung ingin membuang kucing itu.
Tuan Sean + Nona Mauren \= Kucing oren?
Hahaha... aku ingin sekali tertawa, mereka sangat menggemaskan sekali. Batin Asisten Kim.
Awas kau kucing sialan! Kau telah masuk ke kandang singa. Batin Sean.
Lihatlah kucing ini, Oppa! Dia sepertinya menyukaimu. Batin Mauren.
_______________________________
Hai ini author.
jika gak pelit Vote, like dan komen maka aku akan keluarin 1 bab lagi malam ini. Tetapi jika memang sepi maka bab itu akan ku keluarin besok pagi/siang... dan berlaku untuk seterusnya.
kalian disini komen 1 kata doang gpp. dan komen sebanyak banyaknya.. karena itu bisa ningkatin lambang api yang berada di beranda saat kalian buka novel ini. perhitungannya yaitu jumlah view + like + komen maka jadilah angka pada yg kulingkari.
mohon dukungannya gaesss.
tamatnya novel ini tergantung pembaca ya.
__ADS_1