
Dokter Ana datang lalu memeriksa perut Mauren. Sean sangat berharap jika Mauren benar hamil. Sudah satu tahun mereka menunggu kehamilan Mauren dengan sabar.
Sambil menggendong Seina, Sean berdiri memperhatikan dokter Ana yang memeriksa Mauren dan setelah itu Dokter Ana tersenyum dan mengatakan jika Mauren hamil.
Sean sangat terharu sampai memeluk Mauren. Penantian nya kini terwujud juga. Mauren menangis sambil mengusap perutnya dan berharap si jabang bayi sehat selalu sampai hari melahirkan tiba.
"Karena Nona masih di kategori kan lemah maka harus benar-benar jaga kesehatan dan jangan sampai kelelahan!" ucap Dokter Ana.
Setelah dokter Ana berpamitan pulang. Sean memeluk Mauren di ranjang sambil mengelus perut Mauren yang masih rata. Mauren tak hentinya menangis karena terharu.
Sedangkan Seina berada diatas Sean.
Bayi gendut itu sedang duduk sambil mengisap jempolnya.
"Bentar lagi Sein punya adek," ucap Sean sambil melepas isapan jempol Seina.
"Bububaaa waaa waaa," oceh Seina.
Apa oppa akan tetap menyayangi Seina setelah kelahiran anak kami nantinya? Aku takut oppa akan menjauhi Seina.
Keesokan harinya,
Sean memasuki gedung Young Group dengan senyum sumringah. Lesung pipinya yang nampak ketika tersenyum membuat para pegawainya meleleh.
Asisten Kim yang berada di belakangnya terheran melihat mood sang tuan yang kian membaik. Semenjak kehadiran Seina, Sean menjadi lebih lembut dan penyabar.
Setelah sampai di ruangannya. Dia duduk di sofa dan menyuruh Asisten Kim untuk membuatkan kopi.
Sedangkan Sean membuka ponselnya lalu menelpon Mauren.
Dia tidak tenang karena Mauren sedang hamil dan harus mengurus Seina yang sedang aktif-aktifnya.
"Oren, bagaimana? Kau kerepotan mengurus Seina?" tanya Sean khawatir.
"Jangan khawatir, Oppa!" Aku tidak kerepotan. Seina tidak nakal kok," jawab Mauren.
"Aku mengkhawatirkan kandunganmu sayang"
"Jika kerepotan aku akan panggil mama. Oppa jangan khawatir!" ucap Mauren.
Setelah itu Sean menutup telponnya. Lalu meminum kopi yang sudah di buatkan oleh Asisten Kim.
"Kau harus cari perempuan yang bisa menemani Oren di apartemen. Aku khawatir jika Oren kenapa-kenapa," pinta Sean.
"Baik tuan. Saya akan segera mencarinya," jawab Asisten Kim.
Setelah sang asisten keluar, Sean segera duduk di kursi direkturnya. Dia mulai bekerja melihat laptopnya. Keuangan cukup stabil bahkan banyak perusahaan yang bekerja sama dengan Young Group.
Semenjak kematian sang kakek, ia merasa perusahaan berada di pundaknya seorang. Dia ingin Arkan membantunya tetapi Arkan tidak mau dan memilih mengurus bengkelnya.
__ADS_1
Harapannya hanya Sera, gadis itu bisa membantunya tetapi Sera enggan ikut campur masalah perusahaan. Dia sangat bodoh dalam urusan perusahaan.
Sean menghela nafas lalu menyandarkan kepala di meja.
Dia ingin mundur dari jabatannya. Dia hanya ingin menjadi orang biasa pada umumnya tetapi mau bagaimana lagi. Dia adalah harapan satu-satunya pewaris Young Group.
Tok... tok... tok... tok...
Asisten Kim mengetuk pintu lalu masuk ke dalam ruangan Sean lagi. Dia melihat Sean sedang lesu mungkin karena teringat sang istri yang sedang hamil sendirian di apartemen.
"Tuan?"
"Oi, Apa?" tanya Sean sambil mendongakan kepala.
"Ini proposal pembuatan de Ali cafe. Semua saya sudah urus tinggal persetujuan dari anda saja, tuan"
Sean membaca lembar demi lembar proposal itu. Dia memang ingin membuat cafe gratis atas nama Ali karena pengorbanan Ali untuk menyelamatkan Mauren dan Sera membuat Sean berutang budi kepada almarhum.
Sean juga membiayai kehidupan keluarga Ali dan membiayai perawatan ibu Ali yang kadang kambuh. Walaupun begitu Sean masih merasa tidak bisa mengganti pengorbanan Ali yang begitu besar.
"Kenapa kau memilih lokasi di situ, Kim? Aku ingin cafe itu berada di pusat kota dan diketahui banyak orang. Aku tidak setuju jika berada di X. Itu pinggiran kota," ucap Sean.
"Baik tuan, saya akan merubahnya lagi," ucap Asisten Kim. "Tuan, saya dengar Nona Zara bertengkar dengan Dokter Juna," sambung Asisten Kim.
"Pertengkaran dalam rumah tangga itu biasa, Kim"
Sean menaikan alisnya. Dia menghela nafas. Zara memang masih bocah dan sensitif apalagi dia baru saja melahirkan. Sampai masalah kecil saja di besar-besarkan.
"Zara membawa kedua anaknya?" tanya Sean.
"Kata dokter Juna, Zara pergi sendiri meninggalkan anaknya"
"Aku tidak ingin mencampuri urusan rumah tangga mereka tetapi jika Zara sampai pergi meninggalkan anak-anaknya itu sungguh keterlaluan," ucap Sean sambil meraih ponselnya lalu mencoba menelpon Zara.
Nomor Zara sudah tidak aktif membuat Sean kesal sendiri.
Dia menelpon dokter Juna, pria itu juga tidak mengangkatnya.
"Sudahlah, itu urusan mereka. Biar mereka yang menyelesaikan sendiri," ucap Sean.
Sean lalu mengibaskan tangannya menyuruh Asisten Kim pergi dan melanjutkan pekerjaannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Saat jam istirahat tiba, Sean memilih makan di rumah sekalian melihat keadaan Mauren dan Seina.
Mauren terkejut tak seperti biasanya sang suami pulang saat jam istirahat.
Seina langsung merangkak menuju Sean, Sean langsung menggendongnya.
__ADS_1
"Pa... pa... pa... bu... bu... ba... ba,"oceh Seina.
"Ngomong apa kau? Uhhhh... Sein sudah makan?" goda Sean.
"Oppa, setelah aku pikir-pikir kita harus merubah gedung apartemen ini?" ucap Mauren sambil membantu melepas jas Sean.
"Merubah bagaimana?"
"Setelah anak kita lahir pasti membutuhkan ruang bermain dan kamar satu lagi," ucap Mauren.
Sean menganggukan kepala lalu mengelus kepala Mauren. Dia akan segera mengurusnya.
"Kau ingin makan apa, oren?" tanya Sean.
"Belum ingin, oppa"
Mauren menemani Sean makan di meja makan. Sean makan dengan lahap, ia juga lega saat melihat Mauren baik-baik saja. Sungguh Sean terlalu khawatir dengan keadaan Mauren. Apalagi sempat terjadi kejadian tak mengenakan saat Mauren hamil waktu itu.
Mauren kini semakin dewasa, dia tidak ingin merepotkan sang suami dengan kehamilannya.
"Zara pergi ya oppa?" tanya Mauren.
Sean menganggukan kepala.
"Oppa tidak memarahinya?"
"Aku sudah tidak ingin ikut campur urusan rumah tangganya. Dia sudah besar harusnya bisa berpikir jernih apalagi dia sudah punya 2 anak," ucap nSean sambil mengunyah.
Mauren terdiam, memang benar itu urusan Zara tapi mengingat Zara meninggalkan 2 bayi lucu membuat Mauren kesal sendiri.
"Sudahlah Oren, jangan pikirkan yang lain! Kau pikirkan kesehatanmu saja," ucap Sean sambil mencubit pipi Mauren.
Setelah makan Sean melihat bibir Mauren yang semakin hari semakin menggoda. Mauren yang sedang bermain-main dengan Seina tidak sadar jika sang suami memperhatikannya.
Sean dengan cepat memegang kepala Mauren dan langsung menciumnya. Mauren terheran tetapi tidak menolaknya.
Apalagi kini Sean harus berpuasa ya untuk tidak meminta jatah malam karena kehamilan Mauren yang masih muda dan tidak ingin mengambil resiko keguguran.
Mereka berciuman cukup lama sampai Seina menangis karena seolah di cuekin oleh orang tuanya.
Mauren melepas ciumannya dengan paksa dan langsung menggendong Seina.
"Oren?"
"Maaf oppa"
"Tidak, kau tidak perlu meminta maaf," ucap Sean. "Ayo ikut ke kantor saja. Kau dan Seina bisa di kamar rahasia nanti aku bisa pulang jam 5 sore. Aku khawatir denganmu Orenku," ucap Sean.
__ADS_1