Mendadak Menikah (Sean & Mauren)

Mendadak Menikah (Sean & Mauren)
Sakit perut


__ADS_3

Sean seolah tidak mendengarkan ucapan Mauren. Dia tetap fokus menatap layar laptopnya.


Mauren berdecak dan semakin memanasi ucapannya.


"Sekertaris Yuna begitu populer di kalangan pegawai laki-laki. Semua orang tertuju kepadanya jika ia lewat. Bahkan aku juga mengaguminya, aku ingin sekali mempunyai bentuk tubuh seperti Sekertaris Yuna. Aku tau jika Tuan juga menyukai bentuk tubuhnya 'kan?"


"Tidak," jawab Sean singkat.


"Munafik sekali"


"Kau suka jika suamimu melirik wanita lain?"


 "Tidak," jawab Mauren singkat.


"Maka dari itu diamlah!"


Mauren terdiam lalu pikiran nakalnya seketika muncul lagi, kali ini ia ingin berpura-pura sakit lalu melihat reaksi Sean seperti apa.


Tubuhnya langsung terduduk dan tangannya memegangi perutnya seperti orang yang kesakitan. Aktingnya berhasil membuat Sean terkejut lalu menghampirinya dengan berlari panik.


"Kau kenapa Mauren?" tanya Sean sambil mencoba membangunkan tubuh Mauren.


Tetapi Mauren menolak untuk berdiri, ia tetap memegangi perutnya. Sean terlihat begitu khawatir, ia memangku tubuh Mauren.


"Op Oppa... jika aku ma mati... to tolong..."


"Kenapa kau bicara seperti itu Oren? Mana yang sakit? Jangan ngelantur kau!" ucap Sean panik.


Mauren memegangi perutnya, aktingnya semakin menjadi membuat Sean percaya begitu saja. Sean nampak sedikit menitikan air mata membuat Mauren yakin aktingnya sangat menjiwai.


"To tolong Oppa..."


"Minta tolong apa Oren? Jangan tinggalkan aku! Jika ularku terbangun siapa yang akan menjinakannya jika bukan kau, Oren"


Cih! Mesum sekali Oppaku ini. Batin Mauren.


"To tolong... Oppa..."


"Bilang saja Orenku! Oppa akan menuruti semua permintaanmu," ucap Sean sedih dan panik.


Mauren menjulurkan tangannya keatas dan menunjuk pada foto-foto Sean yang ia coreti hingga menjadi konyol. Mata Sean terbelalak dan ingin sekali memaki Mauren.


"Ma.. maafkan a... aku Oppa, aku sangat se sengaja mencoretnya," ucap Mauren terbata-bata


"Mahakarya mu sungguh luar biasa sekali sayangku, Oppa sangat terharu. Oppa tidak akan marah," ucap Sean tersenyum terpaksa.


Brengs*k! Sialan kau! Foto tampanku berubah menjadi menjijikan karena coretannya. Batin Sean.


"A... aku..."


"Kenapa sayang?" tanya Sean semakin panik

__ADS_1


"Lapar"


Mata Sean terbelalak, ia mendorong tubuh Mauren yang berada di pangkuannya dengan kuat. Dia berdiri lalu melihat Mauren tertawa terbahak-bahak sambil terguling-guling di lantai.


"Itu tidak lucu Mauren!" bentak Sean membuat Mauren berhenti tertawa.


Mauren melihat kemarahan Sean yang tidak main-main sampai ia tidak berani menatap wajah Sean.


"Berdiri kau! Hapus semua coretan di fotoku sampai bersih! Jika tidak aku tidak akan mengeluarkan gajimu bulan ini"


Mauren segera berdiri dan berusaha menghapus coretan di foto Sean.


Sedangkan Sean kembali duduk di kursinya, ia merasa kesal sampai tidak fokus pada pekerjaannya. Dia mengeluarkan ponselnya lalu bermain game sejenak, mungkin rasa kesalnya akan hilang jika bermain game.


Mauren berusaha mengelap foto-foto yang berada di pigura menggunakan sapu tangan miliknya tetapi tiba-tiba dadanya menjadi berdebar dan perutnya terasa perih.


Memang semenjak meminum kopi hitam itu sudah perih tapi kali ini menjadi sangat perih sampai tak tertahankan. Dia terduduk dilantai lagi dengan memegangi perutnya dan kali ini bukan akting.


Dadanya sesak, nafasnya mulai tidak beraturan, ia merintih kesakitan tetapi Sean tidak memperdulikannya dan malah asyik fokus bermain game.


Mauren meringkuk di lantai dengan tangannya memegangi perut dengan kuat, ia merasa sangat kesakitan.


"Jangan akting lagi kau Oren! Tadi lapar, sekarang apa? Kebelet berak kau? Hahaha aku sudah tidak bisa kau tipu lagi," ucap Sean melirik Mauren.


Disaat bersamaan Asisten Kim masuk ke ruangan Sean, ia sangat terkejut melihat Mauren meringkuk di lantai, dia melirik sang Tuan yang tengah asyik memainkan ponsel.


"Tuan. Nona Mauren..."


Asisten Kim mengerutkan kening, ia yakin jika Mauren tidak akting melainkan benar-benar kesakitan. Lantas ia mencoba berjalan mendekati Mauren di pojok ruangan itu.


Asisten Kim bisa melihat wajah Mauren sangat pucat dengan keringat dingin membasahi keningnya dan ia merintih kesakitan.


"Nona anda baik-baik saja?"


Mauren tidak menjawab lalu dengan cepat Asisten Kim membopongnya menuju ke sofa sedangkan Sean tidak memperdulikan mereka.


Setelah Mauren terduduk di sofa, Asisten Kim membenarkan posisi kaki Mauren yang menekuk menjadi lurus.


"Tuan. Nona Mauren benar-benar kesakitan"


"Dia pura-pura, Kim," ucap Sean sambil bermain game.


Huueeeeek.


Mauren tiba-tiba muntah cairan yang cukup kental membuat Sean dan Asisten Kim kaget.


Sean melempar ponselnya dan berlari ke arah Mauren sedangkan Asisten Kim mencoba membersihkan muntahan Mauren.


"Hey kau kenapa sayang?" tanya Sean panik.


Mauren semakin merintih kesakitan, rasa asam dari dalam lambung seperti akan naik dan membuatnya ingin muntah.

__ADS_1


Sean segera menyandarkan kepala Mauren pundaknya dan mengelus kepala Mauren yang sudah dibasahi keringat dingin.


"Cepat panggil Juna Kim! Dan jangan lupa kunci pintu itu dulu supaya pegawai lain tidak masuk!"


"Baik Tuan"


**


Setengah jam kemudian.


Dokter Juna datang dengan terburu-buru, ia segera masuk ke ruangan Sean dan tidak lupa Asisten Kim mengunci pintu.


Sedangkan Mauren masih kesakitan dan semakin lemah tidak berdaya.


"Tadi dia muntah? Jangan-jangan istrimu hamil, Sean?" tanya Dokter Juna sambil mengeluarkan stetoskop dari dalam tasnya.


Sean terkejut mendengar ucapan Juna, ia juga berharap jika Mauren hamil.


"Buka bajumu Mauren. Biar aku periksa," pinta Dokter Juna yang salah bicara.


Sean seketika langsung berdiri dan menarik jas putih milik Dokter Juna. Dia geram kepada temannya itu yang menyuruh Mauren melakukan hal yang tidak pantas.


"Sialan kau! Cari mati kau hah?" ucap Sean sangat marah.


"Maksudku buka kancing bajunya"


"Apa kau bilang?"


"Terus bagaimana aku memeriksa perutnya jika tidak dibuka kancingnya?" jawab Dokter Juna.


Mereka terus beradu mulut dan tidak memperdulikan Mauren yang semakin merintih kesakitan. Asisten Kim membiarkan mereka bertengkar, ia dengan sigap duduk di sebelah Mauren dan meminta izin kepada Mauren untuk membuka kancing seragam bagian bawah.


"Maaf Nona. Saya tidak bermaksud seperti itu, maaf," ucap Asisten Kim sambil mengendorkan ikat pinggang Mauren lalu menarik pelan seragam putih yang berada di dalam rok supaya ketarik keluar. Setelah itu Asisten Kim membuka 3 buah kancing paling bawah.


"Brengs*k kau Juna! Ayo kita bertengkar!"


"Ayo! Mau bertengkar seperti apa kau Sean?"


******


Guysss kuota author habis dan ini nyolong2 punya adek... hehehe


ini ngetiknya belum selesai jadi ku update apa adanya dulu.. ntar yang punya hotspot marah .. wkwk..


dukung author dengan LIKE KOMEN VOTE RATE5 pada novel aneh ini.


ramaikan kolom komentar dongg...


maless jika sepi.


Dan jangan pelit vote ya gaessss

__ADS_1


__ADS_2