Mendadak Menikah (Sean & Mauren)

Mendadak Menikah (Sean & Mauren)
MMSM 2 : Bab 188 - Hampir saja


__ADS_3

Byuuuuuurr...


"Shereeeeen," teriak Mauren sambil menceburkan diri dalam kolam renang.


Mauren sangat terkejut saat Seina jatuh ke kolam renang. Seina menangis kencang dan terbatuk-batuk.


Mauren dengan cepat meraihnya lalu membawanya keluar dari kolam renang itu.


Seina di letakan pada tepi kolam renang, dia menangis kencang dengan tubuh yang basah kuyup.


Mauren mencoba menekan perut Seina supaya air yang masuk dalam Seina bisa keluar.


Dan benar saja saat terbatuk-batuk air dalam tubuh Seina keluar tetapi Seina tak berhenti menangis.


Mauren membawa Seina ke dalam dan memberinya minum.


Seina masih saja menangis mungkin karena syok.


Sean yang baru pulang terkejut mendengar tangisan Seina yang sangat keras tidak seperti biasanya.


"Ada apa, Oren? Kenapa Seina menangis?" tanya Sean.


"Dia tercebur dalam kolam renang, Oppa"


"Apa?"


Sean langsung mengambil Seina lalu menggendongnya. Sean melakukan berbagai cara supaya Seina terdiam. Sean terlihat mengisap hidung Seina supaya airnya keluar karena sedari tadi hidung Seina berbunyi.


Sean lalu mengambilkan mainan milik Seina dan benar jika bayi itu langsung terdiam.


Sean menatap tajam Mauren, Mauren menundukkan kepala dan mengaku salah karena telah teledor saat menjaga Seina.


Sean membawa Seina masuk ke kamar mandi lalu memandikannya.


Sedangkan Mauren terduduk di pinggir kolam dengan sangat menyesal.


Aku bukan ibu yang baik.


Udara dingin diluar membuat Mauren yang basah kuyup menggigil. Dia memeluk kedua kakinya sambil menangis. Sering kali ia sangat teledor menjaga Seina. Apalagi jika buah hatinya lahir nanti pasti sangat teledor.


Sean selesai memandikan Seina, ia berencana akan membawa Seina ke rumah sakit untuk diperiksa apakah tubuh Seina baik-baik saja atau sempat terjadi benturan di kolam renang.


Sean memakaikan bayi gembul itu dan tidak lupa memakaikannya bedak.


Sean mencari keberadaan Mauren dan ia membawa Seina di gendongannya.


Sean bisa melihat Mauren menangis dengan keadaan basah kuyup.


"Oren, mandi sana!" ucap Sean.


Mauren masih menangis membuat Sean tidak tega. Sean menarik tangan Mauren untuk masuk ke dalam lalu memberinya handuk.


"Sudahlah, Seina juga tidak apa-apa. Lain kali jangan di tinggal"


Sean menghapus air mata Mauren lalu mencubit pipinya. Sean juga sempat minta maaf karena selalu emosi kepadanya.


"Cepat mandi! Kita makan diluar lalu berjalan-jalan di taman," ucap Sean.

__ADS_1


Mauren menganggukan kepala dan bergegas mandi.


Sedangkan Sean membaringkan Seina di ranjang lalu menemaninya bermain.


"Jangan bandel-bandel sayang! Kasian mama. Seina tidak boleh nakal," ucap Sean.


"Meeeooow"


Sean terkejut mendengar suara kucing. Dia melirik kucing oren yang keluar dari kandangnya.


"Meeeeooow"


"Sana pergi! Jangan dekat-dekat Seina!" ucap Sean.


"Meeeeooow"


Seina tertawa dan tangannya menunjuk kucing itu. Kucing oren itu terus mengeong dan Sean langsung menggendong Seina lalu mengambil makanan kucing.


"Nah, makan ini cing. Setelah itu pergi jauh-jauh sana!" ucap Sean.


Sean lalu membawa Seina di depan kolam renang. Seina langsung menangis seolah takut melihat kolam renang itu.


"Kenapa Sein? Takut? Jangan bandel lagi ya! Tidak boleh main disini. Berbahaya"


Sedangkan Mauren sudah selesai mandi lalu memakai dress putih nan cantik. Dia juga memakai bando warna putih membuat dirinya begitu anggun.


Entah kenapa saat hamil ini ia jadi selalu ingin berdandan dan terlihat selalu cantik.


"Oppa, aku sudah siap," ucap Mauren membuat Sean tidak mengedipkan matanya.


Mauren terlihat sangat anggun tidak seperti biasanya sampai Sean benar-benar kagum.


"Cantik sekali," ucap Sean.


Sean lalu menggandeng tangan Mauren dan keluar dari apartemen. Dia bersyukur bisa berbaikan dengan cepat.


Mereka diantar oleh Asisten Kim menuju ke restoran terdekat.


...****************...


Zara nampak sibuk mengurus dua baby kembarnya Yaitu Naira dan Naiza.


Dia memang masih bocah sudah harus mengurus bocah.


Sera membantunya mengurus dan ikut memandikan keponakan kembarnya itu.


"Kalo aku punya anak, kembar juga gak ya?" tanya Sera.


"Mungkin," jawab Zara. "Tapi mau punya anak sama siapa? Jomblo mulu hidupmu," sambung Zara.


Sera berdecih, memang benar dia jomblo abadi. Tetapi kali ini ia mau fokus dengan kuliahnya.


"Gimana dengan Asisten Kim?" tanya Zara.


"Entahlah, aku udah nyerah ngejar dia"


Zara menepuk bahu Sera dan memberikannya semangat. Dia juga bersyukur Sera sudah sehat kembali dan tidak sakit seperti dulu.

__ADS_1


"Aku rindu Om Ali," ucap Sera sambil menitikan air matanya.


"Sudahlah Ser, dia udah tenang dialam sana. Dia akan sedih jika kau terus menangisinya"


Tiba-tiba Dokter Juna datang membawa makanan. Dia jika istirahat selalu pulang untuk menengok istri dan bayi kembarnya.


"Sera disini juga?" ucap Dokter Juna.


"Yaudah Zaa, aku mau pulang"


"Makan dulu, Sera! Suamiku bawa makanan banyak," ucap Zara.


Dokter Juna lalu menyuruh mereka makan dulu sedangkan ia menjaga anak kembarnya yang sedang terbaring.


Anaknya begitu mirip dengan Zara, cantik dan imut.


Bayi yang sudah di tunggu nya selama 5 tahun kini sudah hadir di kehidupannya.


"Anak Ayah mau minum susu?" tanya Dokter Juna.


"Honey, mereka barusan minum asiku," teriak Zara.


Dokter Juna lalu menggendong Naira, ia menciuminya dan menghirup aroma khas bayi pada umumnya.


Sejak kehadiran sang buah hati, Dokter Juna selalu ingin berada dirumah.


Sedangkan Sera dan Zara asyik makan di ruang TV sambil menonton upin ipin favorit mereka.


"Aku sering mimpi om Ali masih hidup," ucap Sera sambil mengunyah makanannya.


"Ser, udah ku bilangkan, ikhlasin Om Ali. Dia gak tenang jika kau terus mengungkitnya"


"Aku memang kangen dia, aku gak munafik," ucap Sera sambil menangis.


Zara menenangkan Sera. Dia memang kasian kepada Sera pasti Sera menanggung beban itu sendirian.


***


Sean dan Mauren sudah sampai di restoran. Mereka memesan makanan untuk mereka santap. Seina duduk sendiri di kursi balita. Tubuhnya baik-baik saja setelah di periksakan di rumah sakit.


"Tidak ada makanan yang bisa di makan oleh Seina," ucap Sean sambil membolak balikan daftar menu.


"Ini saja, oppa. Sup kepiting. Nanti kita bisa pesan bubur," jawab Mauren.


Sean setuju lalu segera memesan. Mereka lalu menunggu sambil terdiam.


Sempat tadi pagi mereka bertengkar dan kini mereka menjadi sedikit canggung.


"Maaf," ucap Mauren dan Sean secara bersamaan.


Mereka sama-sama terkejut dan saling memandang.


"Aku yang seharusnya meminta maaf, oren. Aku terlalu kesal jika selalu disalahkan tapi itu semua wajar kan jika seorang ibu ingin melindungi putrinya? Sama halnya denganku, aku juga ingin melindungi putriku dan tidak akan pernah memukulnya," ucap Sean.


Sean menggenggam tangan Mauren lalu menciumnya. Dia berusaha menjadi suami dan seorang papa yang baik untuk keluarga kecilnya.


"Tapi apa oppa akan tetap menyayangi Seina ketika anak kita lahir? Aku takut Oppa akan mencampakkan Seina," ucap Mauren membuat Sean sedikit terkejut.

__ADS_1


"Jika aku tidak sayang dengan Seina pasti sudah dari dulu aku kembalikan ke panti asuhan"



__ADS_2