
Keesokan harinya.
Sean mengizinkan Ali untuk libur hari ini dan menemani Sera.
Ali memutuskan untuk mengajak Sera ke rumah karena ibunya ingin bertemu Sera. Sera sudah mulai cuti sekolah karena penyakitnya mulai kambuh tak mengenal waktu. Hanya obat yang sementara menahan nyeri di bagian ulu hatinya.
Setelah sampai di rumah Ali. Sang ibu sudah menyambutnya di depan rumah.
Dia nampak senang ketika Sera datang.
"Asyik... Seraku datang," ucap Ibu sambil mengecup kening Sera.
"Hallo, apa kabar ibu?"
"Kabar baik, Sera"
Ali malah tertuju pada baju yang di kenakan ibunya yang terbalik. Dia menghela nafas lalu menggandeng sang ibu untuk menuju ke dapur.
"Ibu memakai baju terbalik," ucap Ali.
"Ah, benarkah?"
Ibunya tertawa lalu menuju ke kamar mandi. Sedangkan Ali membuatkan minuman dan makanan untuk Sera.
Setelah membenarkan bajunya sang ibu menghampiri Sera di ruang tamu. Ibu menangkup wajah Sera yang sayu dan nampak lain dari sebelum ia bertemu waktu itu.
"Kau kenapa, Sera?" tanya Ibu.
"Aku tidak papa, bu"
"Kau harus cerita kepada ibu!"
Ali tiba-tiba datang lalu menyuruh Sera ke kamar. Dia mengatakan pada ibunya jika mereka tidak ingin di ganggu.
"Sudah bawa kndm, Al?" tanya ibu.
"Apaan sih, bu?"
Sera tersenyum lalu melangkah menaiki tangga dan beberapa langkah saja matanya menjadi berkunang-kunang.
Dia memegang kepalanya dan nampak Ali mencoba membantu Sera untuk berjalan.
Setelah sampai kamar, Sera terduduk di ranjang lalu Ali memberinya minum dan memijat pelipis kepalanya.
"Sudah om sayang, aku sudah mendingan," ucap Sera.
Ali memeluk Sera, ia semakin tidak tega melihat gadis kecilnya mengeluh sakit.
"Om, bolehkah aku berbaring bersamamu lalu kau memelukku?" tanya Sera.
Ali menganggukan kepala lalu berbaring mencari posisi yang pas. Sera berbaring di sebelahnya dan di peluk oleh Ali.
__ADS_1
Ali mencium pipi Sera dan bisa merasakan hembusan nafas panas dari hidung Sera di dadanya.
"Kalau aku mati, om sayang tidak usah sering-sering ke makamku! Yang om peluk nanti hanya gundukan tanah dan yang om ceritakan tidak bisa aku dengar. Datang ke makamku setahun sekali aja, saat hari ulang tahunku. Saat ini, maukah om peluk aku dengan erat lalu ceritakan apa saja yang ingin om ceritakan. Mumpung aku masih disini," ucap Sera.
Ali yang mendengarnya cukup terpukul. Segitukah semangat Sera sampai ia berkata seperti itu dan tak terasa air matanya menetes. Ali memeluk erat Sera dan tersenyum.
"Aku hanya ingin bilang jika aku mencintaimu, Sera. Aku sangat menyayangimu dan tidak ingin kehilanganmu. Kau tidak akan terlupakan. Saat pertama kali kau mengajakku berpacaran ku pikir hanya sebuah candaan lalu aku menanggapinya dan kini aku malah terjebak dalam perasaan cinta ini," ucap Ali sambil menahan air matanya.
Ali mengeluarkan sebuah cincin lalu memakaikan kepada jari manis Sera.
"Aku mencintaimu, Sera. Kau harus tetap disini bersamaku. Aku berharap kau harus bersemangat lagi untuk hidup," ucap Ali.
"Iya, Kak Kim. Aku juga mencintaimu," ucap Sera.
Ali sangat terkejut mendengar ucapan Sera. Dia melihat mata Sera yang tertutup dengan nafasnya yang teratur pertanda ia tidur.
"Kak Kim, aku mencintaimu," ucap Sera sekali lagi membuat Ali merasa sakit.
Sera ternyata hanya mencintai Kim. Haha sudah ku duga. Batin Ali.
Hati Ali terasa sakit, cintanya bertepuk sebelah tangan lagi. Mungkin Sera kini bersama Ali tetapi jauh di lubuk hatinya mungkin memikirkan Kim.
Ali menghela nafas lalu mulai mengelus kening Sera supaya tidur semakin lelap jauh ke alam mimpi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sean mengumpulkan anggota keluarganya tetapi tidak termasuk Zara dan Sera. Sean mengumpulkan di restoran sekalian makan siang.
Dokter Vania menjelaskan sejak kapan Sera mengidap penyakit itu.
Mamanya tersentak dan kaget mendengar semuanya.
"Tapi selama ini Sera terlihat biasa-biasa saja?" tanya mama Sera.
"Dia menyembunyikannya dan menganggap dirinya sehat tanpa merepotkan orang lain," ucap dokter.
Asisten Kim yang ikut mendengarkan merasa tercengang. Tidak menyangka gadis yang selalu ceria di depannya menyimpan penyakit itu sendirian.
Disisi lain, Sera dan Ali datang ke rumah Zara untuk menengok si kembar.
Zara melihat perubahan wajah raut Sera yang memucat dan nampak lebih kurus.
"Tun, kok badanmu tambah kurus?" tanya Zara.
"Iya nih, aku diet," jawab Sera sambil mencubit pipi gembul keponakannya.
"Lagi sakit?" tanya Zara.
Saudara kembar pasti memiliki ikatan batin yang kuat, sama seperti mereka yang selalu memiliki firasat buruk ketika saudara kembarnya memiliki masalah.
"Enggak kok, aku kecapekan aja 'kan bentar lagi aku mau ujian," ucap Sera.
__ADS_1
"Oh gitu, jangan capek-capek! Oh ya gak ada hujan gak ada angin kok tiba-tiba kalian pacaran?" tanya Zara kepo.
"Ah, kepo banget sih Za?" ejek Sera.
Zara mendengus lalu melepas susuannya pada bayi pertama lalu meletakannya di ranjang dan kini gantian bayi kedua yang harus ia susui.
"Mama sering kesini, Za?" tanya Sera.
"Kadang-kadang aja. Kau 'kan tahu sendiri mama kayak gimana? Aku denger-denger dia mau nikah lagi," jawab Zara.
"Baguslah, jadi aku gak kepikiran kalian jika aku pergi. Kau sudah ada paman Juna dan Mama ada calon suaminya"
"Pergi kemana?" tanya Zara menyelidik.
"Eh, yaudah ya aku mau balik. Kasian juga Om Ali nungguin di ruang tamu. Bye-bye Zara dan si kembar gembul," ucap Sera sambil mencium Zara dan kedua anak kembarnya.
Sera menghampiri Ali di ruang tamu, ia mengajaknya pulang tetapi Ali mengajaknya ke suatu tempat membuat Sera penasaran.
"Kita mau kemana?" tanya Sera di dalam mobil.
"Aku akan membawamu ke suatu tempat yang akan membuatmu susah melupakannya," jawab Ali.
"Kemana?"
"Kau lihat saja nanti, manis"
Sera mengerucutkan bibirnya karena kesal tidak di beritahu oleh Ali.
Sampai ia merasakan nyeri di kakinya tetapi ia tahan karena tidak ingin membuat Ali khawatir.
Setengah jam kemudian, mereka sampai di sebuah tepi pantai.
Disana terdapat sebuah tenda beserta meja dan dua buah kursi. Tidak lupa ada bunga mawar di meja itu.
Ali menyuruh Sera duduk disana dan ia beralasan ingin ke kamar mandi sebentar.
Sera menunggu sendirian, angin sepoi-sepoi merusak rambutnya yang indah dan membuat dirinya sedikit kedinginan.
Sampai pandangannya terfokus pada pria yang datang menghampirinya lalu duduk di depannya.
"Kak Kim?" ucap Sera terkejut. "Dimana Om Ali?" sambung Sera.
Asisten Kim tidak menggubris Sera tetapi ia langsung memesan makanan. Sera masih kebingungan dengan semua ini. Dimana pacarnya? Kenapa yang datang justru Asisten Kim.
Disisi lain, Ali melihat mereka dari jauh. Hatinya memang sakit karena harus melakukan cara ini supaya Sera senang.
Aku melihat pacarku harus bersama dengan pria lain. Itu sangat sakit. Tapi aku sadar jika yang di cintai Sera bukan aku melainkan Kim.
Jika kau senang pasti aku akan ikut senang, Sera. Aku mencintaimu sayang.
__ADS_1