
Sean menata barang miliknya beserta milik Mauren ke dalam tas. Dia hanya memasukan barang yang penting saja. Setelah itu ia melirik Mauren sedang memakai pakaian.
"Pakai jaket, Oren! Disana dingin," ucap Sean.
"Hem, Oppa"
Setelah siap, Sean membawa tas punggungnya lalu terkejut melihat Mauren membawa tas lagi.
"Itu apa lagi, Oren? Pagi-pagi sudah membuatku kesal saja"
"Ini barangku. No debat!"
Perempuan satu ini susah sekali dibilangin. Huh... sabar Sean. Dia istrimu, kau yang memilih dia sendiri untuk mendampingi dirimu sampai tua nanti.
Setelah siap mereka keluar dari apartemen dan terlihat Asisten Kim sudah di depan pintu apartemen mereka. Asisten Kim mengerutkan dahi melihat sang tuan membawa banyak barang padahal biasanya sang tuan jika touring hanya membawa tas kecil saja untuk wadah satu pakaiannya.
"Awas kau Oren jika rewel akan ku turunkan di tengah hutan biar di makan buaya," ucap Sean sambil memasuki lift.
"Di hutan mana ada buaya, Oppa?"
Tiba-tiba lift terbuka lagi yang ternyata Dokter Juna, ia lalu masuk bersama mereka bertiga.
"Tuh buaya," ucap Sean sambil melihat Dokter Juna.
Mauren tersenyum sedangkan Dokter Juna menatap jengah bola matanya.
Di dalam lift mereka berempat terdiam menunggu sampai lift itu terhenti di baseman tempat motor mereka terparkir.
"Aku memutuskan bercerai," ucap Dokter Juna.
"Wow," jawab Sean.
"Benarkah, Dokter?" jawab Asisten Kim.
"Selamat, Dok," jawab Mauren.
Sean melirik Mauren, Mauren tersenyum kepada Sean.
"Apanya yang selamat?" tanya Sean.
"Selamat memasuki dunia duda, duda semakin terdepan," jawab Mauren.
Sean lalu merangkul Mauren dengan kencang, ia lalu menutupi wajah Mauren dengan satu telapak tangannya. "Kau jangan mengincar istriku, Juna!" ucap Sean.
"Lirik sedikit boleh 'kan, Sean?"
"Bangs*t kau!"
Dokter Juna tertawa melihat teman dekatnya selalu curiga dengannya. Padahal ia tidak seperti itu, walaupun dia playboy tetapi ia tidak mengincar gadis yang sudah menjadi istri orang.
Setelah lift terbuka, mereka segera turun tetapi saat Dokter Juna akan keluar duluan dicegah oleh Asisten Kim.
"Kenapa, Kim?"
"Biarkan Tuan Sean keluar duluan"
Sean melirik sinis lalu ia keluar bersama Mauren. Dokter Juna memandang Asisten Kim seolah kebingungan. Asisten Kim menjelaskan jika mereka satu lift dengan Sean maka orang lain tidak boleh mendahului keluar dan biarkan Sean yang keluar duluan.
"Aneh sekali, betah juga kau bekerja untuknya," ucap Dokter Juna.
__ADS_1
"Anda pun juga betah bekerja untuk Tuan Sean?"
"Dia 'kan tidak sakit setiap hari jadi aku tidak setiap hari bekerja dengannya. Sedangkan kau sudah seperti kembaran nya saja ikut kesana kemari," ucap Dokter Juna.
Setelah itu mereka menuju ke motor masing-masing.
Sean terlihat memasangkan helm di kepala Mauren. Dokter Juna menyenggol Asisten Kim, ia seperti tengah menyabarkan Asisten Kim karena harus melihat pemandangan ini setiap hari.
"Saya sudah tidak menyukai Nona Mauren. Saya sudah punya pacar," ucap Asisten Kim.
"Jika sudah punya pacar terus kenapa tidak mengajak pacarmu dan malah mengajakku touring?"
"Lili tidak mau dokter, aku tidak bisa memaksanya"
Setelah itu mereka mulai melajukan motor ke tempat titik perkumpulan yang sudah di tentukan.
Terlihat teman-teman Sean sudah berkumpul. Mereka turun dari motor lalu briefing sebentar untuk membahas rute mana yang akan mereka pakai.
Asisten Kim dan Dokter Juna hanya sebagai pendengar saja karena mereka memang tidak dekat dengan teman-teman Sean.
Setelah itu Sean memimpin doa supaya diberi keselamatan dalam perjalanan.
Setelah selesai berdoa, mereka segera melajukan motor. Jumlah orang yang ikut touring cukup banyak sekitar 20 orang. Sean sangat senang karena sudah lama tidak melakukan aktivitas menyenangkan ini.
Mauren berpegangan erat pada Sean, ia sangat bahagia bisa naik motor bersama Sean mengingat mereka pernah melakukan sebelumnya sebelum saling mengenal.
"Jika capek bilang Oren supaya bisa berhenti sebentar," ucap Sean.
"Iya Oppa"
Mauren memeluk Sean dari belakang dan tidak lupa bersandar pada punggung Sean. Dadanya yang semakin besar membuat Sean merasa merinding karena merasakan keempukan yang hakiki dan tidak tertandingi.
"Jangan kencang-kencang, Kim! Aku tidak mau mati muda," ucap Dokter Juna mulai takut.
"Jangan bergerak, dok! Kita bisa jatuh"
Dokter Juna memegang erat jaket Asisten Kim, ia memang tidak pernah naik motor sekencang itu. Sean meliriknya sambil menahan tawa.
**
Sudah satu setengah jam mereka mengendarai motor. Sean mengkode untuk mampir ke minimarket.
Para rombongannya mengikuti Sean yang berhenti di sebuah minimarket.
Mereka segera masuk lalu membeli makanan ringan dan minuman.
"Ambil sesuka kalian! Aku yang bayar," ucap Sean.
Mereka mengambil seperlunya lalu menuju ke kasir yang sudah berdiri Sean yang membawa kartu debit.
"Jiaaah... Kenapa kau hanya mengambil air putih dan permen saja, Oren?"
"Aku hanya ingin ini saja"
Sean berdecih, ia mengambilkan minuman elektrolit dan 2 bungkus roti coklat untuk sang istri lalu membawanya ke kasir.
"Makanlah ini Oren sebagai pengganjal perut. Perjalanan kita masih jauh" ucap Sean sambil menyodorkan roti dan minuman elektrolit.
Mauren langsung melahapnya seperti orang kelaparan membuat semua orang terheran-heran. Memang Mauren adalah wanita sendiri dari rombongan pria kece itu.
__ADS_1
"Mauren hamil lagi, Sean?" tanya Dokter Juna.
"Tidak mungkin, ia baru 3 hari yang lalu selesai haid," jawab Sean sambil memakan makanan ringan.
"Itu waktu yang pas untuk membuat dedek bayi karena beberapa hari setelah haid itu adalah waktu subur perempuan"
"Benarkah? Sehari setelah haid aku langsung menghajarnya. Huh... semoga saja Oren memang hamil," ucap Sean sambil melirik Mauren menghabiskan rotinya.
Mereka duduk di depan minimarket untuk sekedar melenturkan otot. Mereka bercengkerama tentang pekerjaannya masing-masing. Mauren yang sudah kenyang terdiam dan asyik memainkan ponselnya.
Asisten Kim sedari tadi terdiam karena memang tidak dekat dengan teman-teman Sean. Sedangkan Dokter Juna mulai dekat dengan mereka buktinya ia asyik mengobrol bersama yang lain
"Kim?" ucap Valto sambil menepuk bahu Asisten Kim.
"Anda mengagetkan saya saja," jawab Asisten Kim.
"Sudah ku bilang, jangan berbicara formal dengan kita! Santai saja," ucap Valto.
Asisten Kim tersenyum, memang dengan Valto ia cukup dekat bahkan mereka sudah mengenal sejak Asisten Kim menyukai Mauren. Valto tau perjuangan Asisten Kim dulu untuk Mauren dan ia tidak menyangka jika Sean lah yang akan menjadi jodoh Mauren.
"Jika capek bisa bergantian denganku saja! Kita tukar motor, biar aku memboncengmu dan temanmu di bonceng Hasan," ucap Valto.
"Tidak usah, aku belum lelah. Dan lagi pula lama tidak mengendarai motor sejauh ini jadi rindu sekali merasakan pegal di seluruh tubuh," jawab Asisten Kim.
***
Mama Sean sedang menyantap sarapan bersama adik dan keponakan kembarnya. Hari-hari mereka selalu seperti itu saja membuat mereka merasa jenuh.
"Bagaimana cowok itu, Kak? Sepertinya dia baik," ucap Mama Sera.
"Kami pun baru berkenalan. Huh... walaupun Sean menyuruhku menikah lagi tetapi entah kenapa aku sudah malas untuk menikah. Aku trauma dengan perselingkuhan dan perceraian"
"Aku selalu mendukung kakak"
Sera dan Zara tampak menikmati sarapan mereka sambil mendengar obrolan emak-emak di pagi hari.
"Tante? Pria yang dekat dengan tante itu bule ya? Wah... gede dong," tanya Zara membuat Mama Sean tersedak.
Sedangkan Mamanya memelototinya dan tidak menyangka anaknya bertanya seperti itu.
"Apanya yang gede? Wuiih... Sera mau dong yang gede-gede"
"Kalian berdua belajar dari mana? Tidak sopan itu Sera, Zara!" ucap sang Mama.
"Maksud Zara 'kan gede hidungnya. Memang bener 'kan hidung bule itu gede? Zara juga pengen punya suami bule," jawab Zara membela dirinya.
"Oh kirain burungnya yang gede," jawab Sera ngasal.
Mama Sean mengelus dadanya sedangkan Mama kedua gadis kembar somplak itu hanya menahan malu melihat perkataan putrinya semakin hari semakin rusuh.
"Kalian belajar dari mana seperti itu?" tanya Mama Sean.
"Dari kak Sean, dia bilang pelajaran sex itu penting supaya kita gak di kibulin oleh para cowok," jawab Sera percaya diri. "Dan Sera pun akhirnya melihat google bagaimana bentuknya supaya Sera gak kena tipu," sambung Sera.
1 menit kemudian.
"Mama sita ponsel, laptop dan tablet kalian berdua. Mama akan cabut wifi sekalian. Kurang ajar kalian sudah berpikiran mesum," ucap Mama sambil marah-marah.
Sera dan Zara hanya tercengang melihat hukuman dari sang mama.
__ADS_1
"Sudah ku bilang, Sera. Sarapanlah yang bergizi! Jangan sarapan semen tiga roda mulu! Beg*nya kuat tak tertandingi dan tahan lama bahkan kebeg*annya nempel di otakmu semua," ucap Zara kesal melihat kelakuan saudari kembarnya.