
Sera hanya membawa satu koper kecil berisi pakaiannya. Sean menunjukan kamar yang akan di tinggali Sera di apartemennya.
Sean menata pakaian Sera di lemari lalu Sera terduduk di pinggir ranjang.
Gadis itu merasa takut jika Sean akan memberitahu tentang penyakitnya.
"Selama ini apa yang kau rasakan, Sera? Yang sakit bagian mana?" tanya Sean.
"Kakak tidak perlu mencemaskanku"
"Bagaimana tidak mencemaskanmu? Penyakitmu sudah parah. Hatimu sudah tidak berfungsi lagi dan harus mendapat donor hati," teriak Sean kesal.
Mauren bersama Seina masuk ke dalam kamar yang di tempati Sera. Dia menenangkan Sean supaya tidak terbawa emosi.
"Jangan marahi Sera, oppa! Yang harus kita pikirkan bagaimana kedepannya Sera. Oppa harus mencari donor hati secepatnya," ucap Mauren. "Dan kau Sera, mulai sekarang jujurlah pada kami. Jangan pernah berbohong lagi!" sambung Mauren.
Sera menganggukan kepala lalu Mauren bertanya yang sering merasakan sakit pada bagian mana. Sera menjelaskan jika dibawah tulang rusuknya sering sakit dan kakinya membengkak.
Terlihat juga mata Sera sudah tidak bening lagi melainkan menjadi kuning walau tidak begitu terlihat.
"Sekarang istirahatlah! Anggap saja rumah sendiri! Kak Mauren akan membawakan makanan untukmu," ucap Mauren.
Sean mengelus kepala Sera lalu gadis itu menggenggam tangan Sean dan mengatakan sesuatu yang membuat Sean kaget.
"Aku berpacaran sama Om Ali," ucap Sera.
"Apa?" tanya Sean kaget.
Dia mengusap wajahnya dan mendengus. Sean memang tidak setuju jika Sera berpacaran dengan Kim apalagi dengan Ali yang baru di kenalnya.
"Ali mengancammu untuk berpacaran denganmu?" tanya Sean.
"Bukan kak. Aku yang mengajaknya berpacaran," jawab Sera.
"Jadilah gadis yang mahal sedikit, Sera! Kau anak orang kaya dan terpandang tetapi tidak mencerminkan itu," ucap Sean marah.
Sera terdiam lalu menangis membuat Sean menghela nafas dan duduk di sebelah Sera. Dia memeluk Sera untuk meminta maaf karena sudah kasar kepadanya.
"Ya sudah. Kau boleh pacaran dengan Ali. Tapi jika Ali membuatmu menangis dia akan berhadapan denganku," ucap Sean.
Sean keluar dari kamar Sera lalu menghampiri Mauren yang sedang memberi makan Seina. Bayi gendut itu makan dengan lahap membuat Mauren semakin gemas.
"Oren sayang, kau sudah makan?" tanya Sean.
"Belum oppa," jawab Mauren sambil menyuapi Seina.
"Sana makan dulu, ajak Sera juga. Biar Sein yang akan ku suapi," ucap Sean sambil merebut sendok dan mangkuk milik Seina.
Mauren berdiri dan memandang sang suami yang masih mengenakan jas lengkap.
"Oppa tidak kembali ke kantor?" tanya Mauren.
"Sebentar lagi, yang penting kalian bertiga makan dulu," jawab Sean.
Mauren menganggukan kepala lalu berjalan menuju kamar Sera dan mengajaknya makan.
Sedangkan Sean asyik menyuapi bayi gembul itu. Sesuap demi sesuap sendok masuk ke mulut Seina.
__ADS_1
Tiba-tiba Seina menyemburkan makanannya dan bermain ludah.
"Jangan begitu Sein! Kena jas papa," ucap Sean sambil mengelap jasnya yang terkena bubur Seina.
Tangan Seina menghentak pada mangkuk dan membuat mangkuk itu hampir tumpah.
Huh... pasti Mauren sangat kesusahan mengurus Seina sendirian. Lain kali dia akan ku ajak jalan-jalan. Tetapi kini aku harus fokus pada kesembuhan Sera dulu. Batin Sean.
Tangan Sean tidak sengaja mengenai bubur Seina dan ia memasukan pada mulutnya. Dia mengerutkan kening dan mencoba satu sendok lagi.
"Hmm... enak juga buburmu, Sein," ucap Sean.
Sean lalu menyendokan makanannya lagi ke mulutnya seolah menjadi candu.
Dia tidak menyadari jika mata elang Mauren mengintainya.
Mauren berdehem membuat Sean tersedak dan tersenyum manis kearah Mauren.
"Oppa, kebiasaan jika menjaga Seina. Kemarin minta memakaikan baju ke Seina. Malah memakaikan popok di kepala Seina. Kemarin minta memandikan Seina, eh malah mandi di kolam renang. Sekarang minta menyuapi Seina tapi kok makanan Seina oppa makan sendiri?" ucap Mauren.
"Hahaha... jangan begitu oren! Wah... wajahmu jadi menakutkan ketika menjadi emak-emak," jawab Sean takut.
Mauren mengambil tisu lalu mengelap mulut Seina dan Sean. Entah kenapa ia merasa seperti mempunyai 2 bayi yang harus di urus.
Setelah itu Mauren melepas dasi Sean yang telah kotor terkena makanan Seina dan memasangkan dasi baru kepada Sean.
"Kau tambah cantik Oren," ucap Sean memperhatikan wajah sang istri.
"Tidak usah merayuku," ucap Mauren.
"Sein, papa kerja lagi ya. Nanti malam kita main lagi dan kau Mauren, titip Sera ya? Maaf jadi merepotkanmu," ucap Sean.
"Iya oppa, tidak papa. Hati-hati ya," jawab Mauren sambil mencium pipi Sean.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Ali hanya membolak balikan lembar demi lembar buku yang ia baca. Pikirannya terfokus pada Sera, ia begitu rindu dengan gadis kecilnya.
Ali mencoba menelpon Sera dan mengatakan akan mengajaknya keluar malam ini.
Dia ingin mengobrol banyak tentang Sera.
Ali cukup lega karena sang tuan merestui hubungan mereka walaupun Sean mewanti-wanti agar tidak menyakiti Sera karena Sera sedang rapuh.
Ali mengambil jaketnya yang berada di gantungan lemari lalu memakainya.
Ali keluar dari kamar dan terkejut melihat sang ibu sudah berada di depan pintu.
"Ada apa, bu?" tanya Ali.
"Kenapa tidak ajak Sera kesini?"
"Lain kali aku akan mengajak Sera kesini," ucap Ali.
"Janji ya? Tapi kau mau kemana malam-malam begini?"
"Aku mau menemui Sera di rumahnya. Sudah ya bu. Aku tidak akan lama," ucap Ali sambil mengecup kening sang ibu.
__ADS_1
Ali segera menaiki mobilnya lalu menuju ke apartemen Sean untuk menemui Sera.
Beberapa menit kemudian.
Ali sudah sampai di apartemen Sean dan Sera segera membuka pintu lalu menyuruh Ali masuk atas izin Sean.
Ali membawakan buah-buahan untuk Sera dan mainan untuk Seina.
"Al, waktumu hanya satu jam dan setelah jam 9 kau harus pulang," ucap Sean.
"Baik Tuan"
Sera mengajak Ali duduk di depan kolam renang. Langit malam ini terlihat terang dan beberapa bintang nampak bersinar cerah.
"Wajahmu pucat sekali, manis," ucap Ali.
"Iya, aku gak pake lipstick. Jelek banget ya om sayang?" tanya Sera.
"Kau sangat cantik, Sera"
Sera nampak malu dan melirik pria tampan berkacamata itu. Andai saja jika Kim yang mengatakan seperti itu pasti ia sudah terbang bebas ke angkasa.
Ali menggenggam tangan Sera lalu memberi semangat kepadanya.
Dia berjanji akan selalu ada untuk Sera.
"Jika aku mati...."
"Ssssst... jangan bilang begitu!" ucap Ali.
"Tapi aku akan mati, om..."
"Semua orang akan mati tapi kau tidak harus mati sekarang. Masa depanmu masih panjang. Aku akan membantumu supaya kau cepat sembuh," ucap Ali
Air mata Sera nampak berlinang. Ali menyekanya dengan penuh kehangatan.
Ali hanya berharap Sera berumur panjang dan ia juga akan menikahi gadis itu ketika Sera sudah lulus sekolah.
Tentang Alana? Ali berusaha melupakan gadis yang sudah mencampakannya. Alana sudah tidak mau bertemu dengan Ali. Maka dari itu Ali mulai membuka hati untuk Sera.
Di balik jendela besar nan bening, Sean menatap Sera dan Ali yang sedang berciuman. Sean membiarkannya dan menghela nafas. Dia harus berpikir bagaimana cara mendapat donor hati secepatnya dan tentu saja itu sangat sulit di dapat jika orang itu benar-benar mau mendonorkan hatinya.
"Oppa 'kan mempunyai kenalan dokter hebat. Kenapa tidak meminta bantuan mereka?" ucap Mauren mengagetkan Sean.
"Masalahnya pada si pendonor hati belum ada oren," jawab Sean.
"Atau aku saja oppa, aku mau mendonorkan hatiku untuk Sera," ucap Mauren.
Sean berjalan kearah ranjang lalu memegang tangan Mauren yang berdiri di depannya.
"Kau akan mati jika mendonorkan hatimu. Aku tidak ingin kau melakukan itu," ucap Sean serius.
"L--lalu bagaimana oppa? Kasian Sera," ucap Mauren sambil menitikan air mata.
"Aku akan segera mencari pendonor hati untuknya dan kau tidak usah memikirkan masalah ini. Kau fokus menjaga Seina dan fokus dengan program hamilmu saja," ucap Sean.
__ADS_1