Mendadak Menikah (Sean & Mauren)

Mendadak Menikah (Sean & Mauren)
MMSM 2 : Bab 163 - Mauren pergi?


__ADS_3

"Mauren, kenapa wajahmu?" ucap emak khawatir sambil menggendong Seina.


Mauren menghela nafas lalu terduduk di sofa sambil meletakan surat perceraian diatas meja. Dia memegangi kepalanya yang rasanya ingin pecah.


Ibunya terduduk sambil membaca surat itu.


"Apa ini, Mauren?"


"Surat perceraian, mak"


Mauren merebahkan dirinya di sofa dan air matanya menetes tanpa permisi. Dia sudah putus asa akan hubungannya bersama Sean.


Ibunya mendekati Mauren lalu ia ikut menangis meratapi nasib putrinya yang malang.


"Mak, apa aku gak pantas bahagia? Kenapa nasibku seperti ini?" ucap Mauren sambil terisak.


"Jangan bilang begitu, Mauren! Kami akan selalu mendukung keputusanmu," jawab Ibunya juga menangis terisak.


Tiba-tiba bapak datang dan melihat mereka menangis sesegukan. Dia juga terkejut melihat wajah Mauren yang babak belur.


"Ada apa ini? Kenapa wajahmu, Mauren?" tanya bapak terkejut.


"Aku di hajar oleh orang suruhannya Kakek Askar, pak. Huaaaaaa..."


Bapak mengepalkan tangan, ia begitu kesal dengan kakek tua itu yang selalu semena-mena kepada keluarganya.


Bapak mengambil kotak obat lalu mengobati luka Mauren. Sedangkan Seina menangis kencang sehingga ibu membuatkannya susu lalu berusaha menidurkannya.


Setelah itu ibu kembali duduk di sofa memperhatikan Mauren yang sedang diobati sambil memberi susu Seina.


"Mauren, persediaan susunya habis," ucap ibu.


"Beli susunya pakai uang emak dulu ya. Nanti aku ganti," ucap Mauren.


"Sean tidak memberimu uang?" tanya Bapak sambil mengobati Mauren.


Mauren menganggukan kepala, bapak dan ibunya menghela nafas. Seperti inikah perlakuan yang di dapat dari keluarga Adinata? Sungguh miris.


"Sudah Mauren, kau tandatangani saja surat perceraian itu setelah itu kita bisa pindah sejauh mungkin. Bapak tidak ingin berurusan lagi dengan mereka," ucap Bapak.


Ibu Mauren juga sangat setuju, ia tidak ingin putrinya terluka lebih dari ini.


Mauren menangis memeluk sang bapak, ia tidak menyangka akan semenderita ini. Tangis pilu terdengar menggema di ruangan itu sampai Seina terbangun lagi dan ikut menangis.


Mauren yang akan sadar dengan anak asuhnya langsung menggendongnya. Dia menciumi wajah Seina.

__ADS_1


Seina, maaf...


Mungkin kau akan tumbuh tanpa seorang ayah.


Malam hari di rumah sakit,


Sean nampak memohon kepada Asisten Kim untuk tidak pergi ke Cina. Dia meminta maaf sebesar-besarnya karena tidak mempercayainya.


Asisten Kim memaafkan Sean tetapi keputusannya sudah bulat untuk pulang ke Cina mencari keberadaan orang tuanya yang masih hidup.


"Pikirkan lagi keputusanmu, Kim! Aku sungguh minta maaf," ucap Sean.


"Jangan khawatir, tuan! Saya akan kembali kesini lagi tapi saya tidak bisa berjanji"


Sean semakin sedih mendengar semua itu, Kim saja meninggalkannya apalagi Mauren. Sean sangat terpukul karena kebodohannya yang mudah terhasut oleh orang lain.


"Mama, aku ingin bertemu Orenku. Tolong bawa dia kesini, mah!" ucap Sean.


"Mama sudah membujuknya tetapi dia tidak mau"


Tiba-tiba Kakek Askar datang, ia tersenyum sumringah sambil memberikan surat perceraian kepada Sean. Sean membacanya dengan terkejut dan melihat tanda tangan Mauren tertulis di kertas itu.


"Kenapa kalian seperti ini? Pasti kalian memaksa Mauren untuk menandatanginya dan surat macam apa ini? Bahkan aku tidak menggungat cerai istriku di pengadilan," ucap Sean.


Sean langsung merobek kertas itu tetapi Kakek Askar malah tertawa. Itu hanya duplikat saja dan yang asli sudah diurus oleh pengadilan.


"Ini tidak sah, aku belum menceraikan istriku dan bahkan belum mentalaknya," ucap Sean marah.


"Terserah, nasi sudah menjadi bubur. Pengadilan akan mengeluarkan akta perceraianmu 3 hari lagi," ucap Kakek Askar senang seperti memenangkan permainan ini.


Kakek Askar keluar dari ruangan itu sedangkan Sean mulai menangis dipelukan mamanya. Dia kini seperti bocah 5 tahun yang kehilangan permennya. Dia menangis tidak memperdulikan sang asisten yang masih berdiri disana.


Sang mama menenangkan Sean, ia berjanji akan membantunya untuk mengurus masalah ini.


"Aku tidak ingin bercerai dengan Oren, mah. Aku sangat mencintainya," ucap Sean.


"Jangan khawatir, Sean! Mama akan membantumu. Sekarang fokuslah dengan kesehatanmu"


"Mah, aku ingin bertemu Oren. Aku ingin berbicara dengannya. Aku ingin keluar dari sini, mah," ucap Sean.


"Kita tanya dulu dengan Juna. Apakah kau boleh pulang atau tidak," jawab Mamanya.


Sedangkan Asisten Kim berusaha menelpon Mauren tetapi nomor gadis itu sudah tidak aktif.


Asisten Kim berpamitan pulang untuk segera menuju ke rumah Mauren.

__ADS_1


Setelah Dokter Juna mengizinkan Sean pulang, Sean dan Mamanya menuju ke rumah Mauren. Sean ingin bertemu langsung dengan Mauren dan berbicara tentang kelanjutan hubungannya. Sean juga ingin meminta maaf karena tidak mempercayai ucapan Mauren.


Satu jam kemudian.


Asisten Kim dululah yang sampai di rumah Mauren. Dia terkejut ketika Mauren dan keluarganya sudah membawa koper.


"Anda mau kemana, nona?" tanya Asisten Kim dan ia sangat terkejut melihat wajah Mauren yang lebam dan terluka.


"Aku ingin pergi"


"Kenapa anda menandatangani surat perceraian itu dan apakah luka di wajahmu ulah suruhan Tuan Askar?"


"Kak Kim, ku mohon. Jangan ikut campur urusanku lagi! Biarkan aku pergi. Aku ingin membuka lembar baru tanpa Sean. Aku sudah banyak menderita, aku lelah Kak Kim," jawab Mauren.


Asisten Kim hanya terdiam lalu bapak Mauren menepuk bahunya. Dia berterima kasih selama ini selalu membantu Mauren dan ia memohon kali ini menghormati keputusan Mauren.


Sean dan Mamanya datang, Sean langsung bersujud di bawah kaki Mauren. Mauren sangat terkejut. Dia mundur beberapa langkah dari Sean.


"Maafkan aku oren! Aku menyesal karena sudah tidak mempercayaimu," ucap Sean sambil mendongakan kepala kearah Mauren. Sean terkejut melihat wajah Mauren yang lebam-lebam.


Dia berdiri lalu memegang wajah Mauren tetapi Mauren menepisnya.


"Apa ini ulah kakekku?" tanya Sean.


Mauren berdecih, ia lalu memandang Asisten Kim. Dia mendekati pria itu dan mengatakan sesuatu yang membuat Sean tercengang.


"Kak Kim, bolehkah aku ikut ke Cina?" ucap Mauren.


"Apa maksudmu, Mauren?" ucap Bapaknya terkejut.


"Aku ingin ikut Kak Kim kesana, aku ingin melupakan Sean"


Sean semakin terpukul mendengar semua itu. Dia memeluk Mauren dengan erat, ia meminta maaf kepada Mauren karena telah bodoh tidak mempercayainya.


"Maafkan aku Kak Sean, aku tidak bisa kembali padamu lagi. Sudah banyak luka yang kuterima setelah kita menikah," ucap Mauren.


"Aku akan menyembuhkan luka itu Orenku. Aku berjanji kejadian seperti ini tidak akan terulang lagi. Ku mohon jangan tinggalkan aku!" pinta Sean.


"Kita sudah bercerai, aku bukan istrimu lagi"


Sean melepas pelukannya, ia memandang wajah Mauren dengan lekat. "Kau masih istriku. Perceraian ini tidak sah, aku tidak mengajukan gugat cerai dan bahkan tidak mentalakmu"


"Semua sudah berakhir Kak Sean. Ku mohon jangan menambah luka di hatiku lagi! Biarkan aku pergi!" ucap Mauren sambil menangis terisak.


__ADS_1


__ADS_2