Mendadak Menikah (Sean & Mauren)

Mendadak Menikah (Sean & Mauren)
Bab 82 : Sean, Mauren dan Kim


__ADS_3

Sean membaca sebuah kertas dari Asisten Kim. Asisten Kim berdiri sambil menunggu reaksi sang Tuan.


Darah Sean mulai naik ketika membaca isi surat tersebut yang ternyata adalah surat pengunduran diri secara tiba-tiba oleh Asisten Kim.


"Saya tidak akan langsung kabur begitu saja Tuan. Saya akan keluar jika Tuan sudah memiliki pengganti dan saya akan mencoba mencarikan asisten terbaik untuk Tuan Sean," jelas Asisten Kim dengan tenang.


Sean berdiri dari kursi termahalnya, ia mengambil laptop lalu melemparnya kearah Asisten Kim dan hampir saja mengenai kaki sang asisten.


Asisten Kim tetap diam dan tenang, ia sudah menerima konsekuensinya karena keputusannya yang mendadak tanpa suatu alasan yang pasti.


Sean menatap tajam Asisten Kim lalu mengambil kertas itu dan menyobeknya.


Setelah itu ia mengambil gagang telepon lalu menelpon seseorang.


"Suruh Mauren ke ruanganku sekarang juga!" ucap Sean lewat telepon.


3 menit kemudian Mauren masuk ke ruangan Sean. Dia bisa melihat hawa di ruangan itu terlihat berbeda, ia melirik laptop yang telah remuk di sebelah kaki Asisten Kim.


Dia juga melihat wajah Sean yang sangat marah seolah ingin membunuh.


Ketika Mauren akan melangkah, ia langsung terhenti mendengar ucapan dari Sean yang membuatnya terkejut.


"Apakah kau masih mencintai Mauren?"


Mauren dan Asisten Kim terkejut mendengar pertanyaan dari Sean yang sederhana tetapi mematikan.


Badan Mauren bergetar, perasaannya mulai tak karuan.


"JAWAB, KIM!" Bentak Sean.


"Maafkan saya, Tuan," jawab Asisten Kim dengan menunduk.


Sekarang giliran Sean menatap tajam kearah Mauren. Dia bisa melihat gadis kesayangannya gugup dan ketakutan.


"Aku sudah tau semuanya. Kalian pikir aku bodoh? Aku sudah menduga ada yang janggal diantara kalian. Aku menyelidiki semuanya tentang masa lalu kalian," ucap Sean.


Mauren menelan ludah mendengar ucapan Sean. Sedangkan Asisten Kim sudah merasa kecolongan dan terlalu menganggap enteng Sean.


"Maafkan saya Tuan. Saya akan langsung segera pergi dari kehidupan anda dan Nona Mauren"


"Sialan! Siapa yang menyuruh kau pergi tanpa seizinku? Kau sudah lancang terhadapku, Kim"


Mauren masih bingung dengan situasinya sekarang. Dia sudah mulai ketakutan apalagi kemarin ia sempat berciuman dengan Asisten Kim.


"Kutanya sekali lagi. Apa kau masih mencintai Mauren?" tanya Sean dengan tatapan mengerikan.


"Saya masih mencintai Nona Mauren," jawab Asisten Kim dengan yakin.


Mauren sangat terkejut sedangkan Sean telah menduganya. Dia menghela nafas panjang lalu memegangi kepalanya.


"Omong kosong apa yang kau bicarakan Kak Kim? Kenapa kau mengatakan seperti itu di depan suamiku? Kau memang laki-laki menyebalkan!" ucap Mauren sambil berjalan mendekati Asisten Kim.


Mauren siap melontarkan tangannya untuk menampar wajah Asisten Kim. Tetapi dengan cepat Sean setengah berlari lalu memegang tangan Mauren yang siap menampar pipi sang asisten.


Mauren terkejut lalu melihat Sean yang menggelengkan kepalanya.


"Kim tidak bersalah," ucap Sean sambil melepas tangan Mauren, " Pria mana yang tidak akan kecewa dan sakit hati melihat gadis yang dicintainya menikah dengan teman terdekatnya?" sambung Sean.


"Jadi Oppa menyalahkanku?" tanya Mauren.


"Aku tidak menyalahkan siapapun disini? Yang membuatku kecewa kalian bisa-bisanya berciuman di belakangku. Kau juga Kim! Mauren sudah menjadi istriku dan kenapa kau masih mengharapkannya? Tidak bisakah kau mencari gadis lain? Hah? Kalian tidak bisa menjaga perasaanku!" jawab Sean setengah berteriak.


Mauren memeluk Sean, ia menangis terisak. Dia merasa salah kepada suaminya. Dia meminta maaf lalu memohon ampunan kepada Sean.

__ADS_1


Sedangkan Asisten Kim bersujud di kaki Sean, dia sangat menyesal telah mengkhianati sang tuan.


"Berhentilah merengek seperti anak kecil! Huh! Kalian membuatku muak dan pergilah kau, Kim! Aku sangat kecewa kepadamu"


Asisten Kim berdiri lalu menunduk hormat kepada sang tuan. Dia melangkah pergi meninggalkan ruangan itu dengan pasrah. Sepertinya memang ia harus segera kembali ke Tiongkok. Sang Tuan sudah sangat membencinya, ia sudah tidak mempunyai harapan lagi karena kesalahannya sangat fatal.


Ini memang kesalahanku. Aku telah mengkhianati Tuan Sean.


Tuan Sean selalu baik kepadaku tetapi aku membalasnya dengan kekecewaan.


Sedangkan Mauren masih menangis terisak, Sean lalu menariknya menuju kamar rahasia.


"Kau istri kurang ajar, Mauren"


"Maafkan aku, Oppa. Hiks... hiks..."


"Kau sepertinya harus di beri pelajaran"


"Ampun, Oppa"


Mauren sudah berpikiran jika Sean akan memukulnya. Dia sudah cukup takut untuk membayangkan hukuman dari seorang suami yang memiliki watak keras.


Sean mendekatinya lalu mencoba menarik dagu Mauren untuk mendekatkan bibirnya ke bibir Mauren.


Dia menggigitnya dengan lembut lalu tangan nakalnya mulai meraba bagian sensitif milik istrinya.


Setelah itu ia mendorongnya ke tembok, melepas kancing satu demi persatu.


"Oppa, hukuman macam apa ini?" tanya Mauren kebingungan.


"Diam kau! Kau mau ku cambuk di depan para pegawaiku atau melayaniku disini? Aku harus menanam benih ku supaya kau tidak kurang ajar denganku," ucap Sean menyeringai.


Setelah melepas semua kancing baju Mauren, ia menciumi bagian atas sampai bawah Mauren dengan mesra. Gadis itu merasa kegelian, ia menjabak pelan rambut sang suami membuat gairah Sean semakin tinggi.


"Sudah siap untuk mengandung anakku? Aku ingin bayi kembar laki-laki. Jika sanggup aku ingin mempunyai 10 anak laki-laki, aku ingin balas dendam karena keturunan keluarga Adinata hanya aku yang laki-laki," ucap Sean semakin menyeringai.


Sean menatap tajam ke Mauren membuat gadis itu memalingkan wajah, sepertinya ia salah bicara dengan singa yang masih mengamuk.


"Tidak ada anak perempuan diantara kita! Aku ingin anak laki-laki"


"Haaaaa? Aku ingin anak perempuan"


"Laki-laki!"


"Perempuan!"


"Laki-laki!"


"Perempuan!"


Mereka saling menatap tajam seolah sedang bersaing memperebutkan sesuatu. Sampai mereka lupa akan melakukan ihik-ihik mantab-mantab.


"Gara-gara kau, ularku sudah lemas lagi"


"Baguslah! Aku juga malas dengan Oppa"


Mauren memasang kancing bajunya lagi sedangkan Sean keluar dari kamar rahasia itu. Dia memanggil Kim untuk masuk ke ruangannya.


Mauren lalu berjalan cuek menuju pintu tetapi segera di hentikan oleh Sean.


"Mau kemana kau? Masalah belum selesai mau melarikan diri saja kau," ucap Sean.


Mauren menghela nafas panjang, ia berjalan kembali dengan menatap sinis Asisten Kim.

__ADS_1


"Selesaikan masalah kalian dulu disini! Aku akan kembali bekerja," ucap Sean sambil berjalan menuju meja direktur termahalnya.


Sean mencari laptopnya dengan bingung, ia lalu melirik laptop yang sudah tergeletak di lantai.


"Sialan! Gara-gara kalian laptopku rusak," ucap Sean marah.


"Maaf Tuan," ucap Asisten Kim.


"Maju kesini kalian! Pijat punggung dan kaki ku!"


Mauren menghela nafas, ia dan Asisten Kim berjalan mendekati Sean yang terduduk di kursi direkturnya.


Asisten Kim mulai memijat kaki Sean sedangkan Mauren memijat punggung Sean.


Dasar pria aneh! Batin Mauren.


"Kim?"


"Iya Tuan"


"Aku meminta maaf karena merebut gadis sinting ini darimu," ucap Sean.


"Anda tidak bersalah, Tuan"


"Lain kali jangan seperti itu Kim! Utarakan perasaanmu jika kau memang suka dengan seseorang, terlambat sedikitpun akan fatal akibatnya. Aku tau perasaanmu pasti sangat terluka, tapi waktu itu aku juga tidak tau gadis yang kau ceritakan adalah gadis sinting itu," jelas Sean merasa menyesal.


"Gadis sinting itu berada disini Oppa," ucap Mauren kesal.


"Hmmm... aku tidak mau tau jangan lakukan hal yang menyakitkan dibelakangku lagi. Aku memaafkan kalian kali ini tetapi jika kalian mengulanginya aku akan menyuruh kalian bergandengan tangan menuju Antartika dengan berjalan kaki"


Sean berdiri lalu juga menyuruh Asisten Kim berdiri, ia memeluknya dengan erat dan menepuk punggung Asisten Kim.


Sean bisa merasakan rasa sakit yang di derita sang asisten selama ini.


Sean juga laki-laki pasti tau yang dirasakan Asisten Kim, apalagi saat mengetahui temannya itu sudah menyiapkan kejutan lamaran untuk Mauren.


"Carilah gadis yang kau suka, Kim! Karena Mauren sudah menjadi milikku tolong jangan rebut dia dariku!" ucap Sean.


"Anda sungguh baik, Tuan. Terima kasih, aku sangat beruntung mengenal Tuan"


Sean melepas pelukannya lalu ia melirik Mauren yang ada sebelahnya. Dia menyuruh mereka untuk saling meminta maaf.


Mauren seolah tidak mau tetapi Sean memaksanya sedangkan Asisten Kim menatap Mauren dengan tersenyum.


Mauren menatap Asisten Kim, ia langsung memeluknya dan seketika itu tangisnya pecah. Dia merasa bersalah dengan pria itu, pria yang selalu menemani dalam suka maupun duka tetapi mau bagaimana lagi jika memang tidak berjodoh? Hah! Semua sudah diatur oleh Tuhan sedemikian rupa dan manusia harus menerimanya.


"Maafkan aku Kak Kim! Kau pria yang baik ku harap kau menemukan gadis yang baik juga... hiks.. hiks.. hiks..."


"Aku juga meminta maaf, Nona. Anda sekarang sudah menikah dengan orang yang tepat," jawab Asisten Kim.


Sean tersenyum melihat mereka berpelukan tetapi tiba-tiba ia merasa kesal karena mereka tidak segera melepas pelukannya.


"Lama sekali kalian!" ucap Sean lalu menarik tubuh Mauren.


Mereka tertawa bersamaan lalu Sean dengan cepat merangkul kedua orang terpenting dalam hidupnya.


Dia tidak mau ada permusuhan diantara mereka, Sean juga menyuruh mulai sekarang mereka harus selalu akur walau masa lalu mereka menyakitkan.


Aku sangat mempercayai mereka.


Mereka terpenting dalam hidupku.


Tanpa mereka aku tidak bisa apa-apa.

__ADS_1


Kim adalah seorang asisten pribadiku yang sudah mengabdi bersamaku hampir 11 tahun.


Mauren adalah cinta pertamaku yang kini sudah menjadi istri tercintaku dan sebentar lagi aku akan membongkar hubunganku dengannya didepan keluargaku.


__ADS_2