Mendadak Menikah (Sean & Mauren)

Mendadak Menikah (Sean & Mauren)
Bab 62 : Firasat


__ADS_3

Hari demi hari dijalani oleh Mauren dengan senang mulai dari bekerja, melayani sang suami dan selalu menelpon orang tuanya.


Dia hampir setiap hari menelpon sang Ibu yang selalu mendukungnya.


Tetapi terkadang sang Ibu mengkhawatirkan Mauren karena takut jika anaknya tidak diterima di keluarga Adinata.


"Oren. Cepat ayo berangkat!" ucap Sean melihat sang istri melamun di depan cermin.


Mereka segera keluar dari kamar apartemen lalu berjalan menuju mobil.


Sama seperti biasa mereka menggunakan mobil mereka masing-masing supaya tidak terbongkar hubungan mereka.


Cuaca hari ini sedikit mendung dengan kilatan petir menyambar-nyambar.


Terlihat juga Sean terduduk di mobil sambil memainkan ponselnya.


JEEEEDEEER.... ( suara petir )


"Bangsaaa**t! Aku terkejut Kim," ucap Sean kaget sambil melempar ponselnya keatas lalu mengenai kepalanya.


Asisten Kim menahan senyum melihat ekspresi lucu sang tuan yang kaget karena suara petir.


"Jika ada petir jangan bermain ponsel, Tuan"


"Cih!"


Sean menyimpan ponselnya dan melirik kaca mobil terlihat air hujan menetes.


Entah kenapa hari ini Sean sangat gelisah seperti ada hal buruk akan terjadi. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya supaya pikiran buruk segera hilang.


"Jual saja rumah sederhanaku, Kim! Sudah tidak aman tinggal disana," ucap Sean sambil tangannya bersedekah di dada.


"Baik, Tuan"


Sean menghela nafas panjang, ia harus memikirkan rencananya matang-matang untuk menyembunyikan Mauren dari sang kakek yang akan berbuat diluar nalar untuk menyingkirkan Mauren.


Sedangkan Mamanya, ia yakin sang Mama tidak akan membongkar hubungannya dengan Mauren karena pasti tidak mau membuat Sean kerepotan. Tapi tanpa diketahui sang Mama lah yang harus di waspadai karena ia tidak menyukai Mauren yang orang miskin dan dianggap rendahan.


Aku mencintaimu, Oren.


Aku masih teringat saat pertama kali berjumpa denganmu. Itu kenangan yang tidak bisa di lupakan.


"Tuan?" panggil Asisten Kim.


"Tuan?" panggil Asisten Kim lagi.


Sean sedang melamun jadi tidak mengindahkan panggilan sang asisten.


"Woy! Tuan!" bentak Asisten Kim.


Sean terkejut lalu memandang tajam sang asisten, " Sialan kau, Kim!" ucap Sean.


"Sudah sampai, Tuan. Anda melamun memikirkan apa?"


"Bukan urusan kau!" ucap Sean sambil turun dari mobil di depan teras gedung itu.


Sean kali ini berjalan sendirian karena Asisten Kim harus memakirkan mobilnya terlebih dahulu.


Dia melihat Mauren berjalan menuju ke arah lift tetapi tiba-tiba Daren mencoba mendekati dan mengajaknya mengobrol.


Hati Sean terasa sakit, ia ingin sekali memukuli Daren saat itu juga tetapi ia tahan karena tidak ingin membuat masalah.

__ADS_1


"Kak Daren, aku duluan ya. Ada keperluan penting dengan supervisorku," ucap Mauren menghindari Daren lalu menuju ke arah yang berlawanan.


Mauren melirik Sean yang ada di belakangnya, ia tidak mau membuat Sean cemburu dan marah.


Huh! Mempunyai suami yang posesif sangat membuat repot. Dia harus menghindari kontak terlalu lama dengan pria lain.


Di ruangan Sean.


Rasa gelisah belum hilang sepenuhnya, ia tidak berkonsentrasi hari ini. Dia bersandar dikursi termahalnya dan matanya memandang langit-langit ruangan itu.


Kenapa perasaanku tidak enak? Apa yang terjadi?


Tetapi ia dikejutkan dengan bunyi telpon dari Asisten Kim bahwa Mamanya datang dan ingin menemui Sean.


Sean lalu menyuruh sang Mama masuk ke ruangannya.


"Sean. Anak Mama. Mama rindu denganmu," ucap Mama langsung memeluk Sean.


"Aku juga merindukanmu, Mah"


Mereka lalu mengobrol di sofa seperti seorang ibu dan anak pada umumnya.


Rasa gelisah di hati Sean seketika hilang saat berbicara dengan sang Mama.


"Kamu sudah menyiapkan kado untuk Alana? Jangan lupa pestanya malam ini sayang!"


"Aku sudah menyiapkannya Mah. Iya, Sean tidak lupa"


Mereka melanjutkan obrolan mereka kesana kemari sampai lupa waktu jika Sean harus bekerja. Sean sangat menyayangi Mamanya, Mama yang selalu menyemangatinya dan selalu mendukungnya dalam hal apapun.


"Bagaimana hubunganmu dengan pegawaimu itu?"


Jawaban Sean sangat membuat Mama kecewa, ia pikir Sean akan jijik dan memutuskan hubungan setelah tersebar foto Mauren saat di diskotik.


Aku harus menyingkirkan gadis itu.


Dia tidak pantas bersanding dengan Sean.


"Mah, Aku harus kembali bekerja. Tidak terasa kita sudah mengobrol 1 jam"


"Iya sayang"


Sang Mama berpamitan pulang, tidak lupa ia mencium pipi anak tersayangnya.


Setelah itu Mama keluar dari ruangan Sean dan berjalan ke arah lift.


Tetapi saat menuju ke lift ia bertemu dengan Mauren, Mauren tersenyum lalu menundukkan kepala.


Mama Sean hanya tersenyum kecut, ia memandang Mauren dari atas sampai bawah dengan tatapan sinis.


"Aku ingin berbicara denganmu," ucap Mama Sean.


Mauren mengerutkan kening, hal apa yang dibicarakan Mama Sean dengannya.


Dia hanya menduga-duga jika yang akan dibicarakan hanyalah hubungannya dengan Sean.


"Saya harus mengantar berkas ke ruangan Tuan Sean"


"Aku tidak mau menunggu dan jangan membuatku menunggu!" ketus Mama Sean.


Mauren tau dari arti ucapannya, ia segera mengikuti Mama Sean dengan membawa setumpuk berkas penting.

__ADS_1


Mereka memasuki lift, terlihat Mauren sangat tidak nyaman dengan tatapan sinis dari Mama Sean.


Oh Tuhan. Kasian Mauren yang harus berhadapan dengan wanita konglomerat itu apalagi seluruh perhiasan dan pakaian wanita itu bisa di tafsir milyaran.


Sedangkan Mauren hanya seorang aji mumpung yang tidak terlahir sebagai orang kaya tetapi tiba-tiba menikah dengan seorang sultan.


Setelah lift terbuka, Mama Sean keluar dahulu lalu mengikutinya dari belakang.


Mama Sean seolah mengajaknya untuk keluar gedung itu padahal sedang hujan deras.


Mauren tidak mau berkas penting itu menjadi basah, ia berlari ke arah resepsionis dan menitipkan berkas itu.


Setelah selesai ia berlari ke arah Mama Sean yang sudah berdiri di teras.


"Maaf. Tadi saya menitipkan berkas dulu," ucap Mauren dengan sopan.


Mama Sean seolah tidak peduli, ia segera masuk mobil dengan keadaan yang masih hujan. Mauren hanya menatapnya seolah kebingungan.


"Cepat masuk!" ucap Mama Sean.


Mauren menganggukkan kepala, ia berlari menuju sisi pintu mobil yang lain sampai ia kehujanan.


Setelah itu ia sedikit mengelap tangannya yang terkena air hujan dan saat itulah sang supir melajukan mobilnya dengan pelan.


Mama Sean menatap ke depan dengan tatapan angkuh sedangkan Mauren mulai kebingungan karena tidak tau maksud tujuan Mama Sean.


"Putuskanlah Sean! Kau tidak pantas bersanding dengannya"


Hati Mauren terasa sakit mendengar ucapan itu, dia masih terdiam tidak mau menjawab.


"Nah, ini. Kau bisa mengisi cek ini semaumu tetapi kau harus pergi dari kehidupan Sean," ucap Mama Sean menyodorkan 2 lembar cek kosong kepada Mauren yang duduk disebelahnya.


Mauren terdiam tidak mau menerimanya, sementara Mama Sean sangat geram melempar cek itu ke wajah Mauren.


"Sombong sekali kau! Ini yang kau inginkan 'kan? Kau mendekati Sean hanya melihat hartanya saja 'kan? Kau memanfaatkan anakku karena dia kaya raya dan nomor 1 di negeri ini 'kan? Hah! Dasar cewek tidak tau diri!"


Mauren terdiam dan seolah tatapannya kosong menghadap depan.


"Kau hanya anak penjual sayur di pasar tradisional. Bahkan orang tuamu pernah bermasalah dengan Kakeknya Sean. Aku sudah menyelidiki semuanya tentangmu"


Mauren masih terdiam tidak menggubris ucapan Mama Sean. Hatinya terasa sakit mendengar itu semua. Apalagi orang tuanya merasa di rendahkan.


"Kau tau jika malam ini Sean akan bertunangan dengan Alana? Oh dia tidak memberitahukannya kepadamu? Haha miris sekali kau memang tidak dianggap kekasihnya bahkan ia menutupi hubungannya denganmu. Aku ikut menutupi hubungan kalian bukan berarti aku menyukaimu, Mauren. Kau gadis rendahan! Kau tidak pantas bersama dengan seorang tuan muda tersohor di negeri ini"


JEDEEEEER


Suara petir mulai menyambar-nyambar seolah tau kesakitan yang dirasa di hati Mauren. Mauren memang merasa tidak pantas dengan Sean. Sedari awal ia sudah merasa minder tetapi Sean selalu meyakinkan jika dirinya tulus mencintai Mauren dan tidak memandang siapa Mauren.


"Kau juga bukan orang pertama yang tinggal bersama Sean. Kau hanya menjadi boneka nafsu Sean saja. Jadi mulai sekarang pikirkanlah! Kau tidak mau masa mudamu sia-sia 'kan? Miris sekali hidupmu Mauren, Sean hanya memanfaatkan tubuhmu saja," ucap Mama Sean.


___________________


Hallo ini author.


jangan lupa like, komen, rate5 dan vote pada novel ini.


supaya author semangat buat update.


JANGAN LUPA VOTE, LIKE, KOMEN YAAA !!!


JANGAN PELIT-PELIT!!!

__ADS_1


__ADS_2