
"Seina... ayo makan!" ucap Sean sambil masuk kedalam kamar Seina.
Sean melihat Seina tidak berada dikamarnya.
"Sein... Seina..."
Sean terus memanggil nama Seina. Tetapi gadis cantik itu tidak menyahut.
Sean terus mencari keberadaan Seina di sekeliling apartemennya tetapi tidak ada.
"Dimana kakakmu Dale?"
Daleon menggelengkan kepala.
Sean semakin panik dan disaat bersamaan ponsel Sean berbunyi.
"Hallo?" ucap Sean. "Apa kau bilang?"
Sean menutup telponnya. Dia sangat terkejut mendapat kabar jika Seina tertabrak mobil dan kini berada di rumah sakit.
Sean mengambil jaketnya lalu menggendong Daleon.
Dia berlari menuju apartemen Asisten Kim.
"Kim, aku titip Daleon. Seina kecelakaan dan kini berada di rumah sakit," ucap Sean panik.
"Bagaimana bisa, tuan? Lalu bagaimana keadaan nona?"
"Aku tidak tahu, Kim. Aku akan segera kesana"
"Saya ikut, tuan. Biar Daleon bersama Sera," ucap Asisten Kim.
Asisten Kim menitipkan Daleon bersama sang istri. Dia mengantar sang tuan ke rumah sakit.
Sean begitu panik. Kenapa bisa Seina sampai keluar dari apartemen. Apa karena sempat ia memarahinya?
Di dalam mobil Sean terus berdoa supaya putrinya tidak terjadi apa-apa.
Jika iya, ia tidak akan memaafkan dirinya sendiri.
"Tuan, Kenapa nona Seina berada diluar malam-malam?" tanya Asisten Kim.
"Dia sempat ku marahi, Kim. Ini memang salahku yang selalu memarahinya," ucap Sean.
Asisten Kim lalu teringat dengan ucapan Seina yang mengatakan ia anak pungut dan sering di marahi papanya. Asisten Kim merasa kasian dengan gadis kecil itu. Dia tidak tahu apa-apa dan hanya ingin kebahagiaan yang utuh.
"Istri anda sudah tahu, tuan?"
"Belum, Kim. Aku tidak tega memberitahukan kepada Orenku"
Sean menghela nafas, ia tidak ingin Mauren khawatir. Dia terus berdoa untuk keselamatan putrinya. Semoga saja Seina tidak terluka parah.
Sesampainya di rumah sakit, Sean dan Kim langsung masuk dan menanyakan ruangan mana yang merawat putrinya.
Suster membuka data dan mengatakan kepada Sean.
"Arseina Putri kini berada di ruang jenazah. Anda keluarganya?"
DEG!!!
__ADS_1
Sean dan Kim sangat terkejut. Ruang jenazah? Tunggu! Suster itu pasti bohong.
"Jangan bercanda suster! Dimana anak saya, dia bernama Arseina Putri Sheren. Dia kecelakaan belum ada satu jam yang lalu," ucap Sean.
"Maaf, Pak. Tapi memang benar jika Arseina Putri kini berada di ruang jenazah," jawab suster.
Sean langsung terjatuh di lantai, ia sangat syok dan tiba-tiba tubuhnya menjadi kaku dan dingin. Asisten Kim menenangkan sang tuan. Dia juga sangat sedih mendengar kabar itu.
Tiba-tiba ponsel Sean berbunyi ternyata dari Mauren. Dia begitu rindu dengan kedua anaknya. Sean mencoba mengangkatnya tetapi ia tidak bisa bicara seolah lidahnya kelu.
"Hallo oppa, kalian sedang apa? Sudah makan?"
Sean tidak bisa menjawabnya. Dia sangat marah sekali dengan dirinya yang membiarkan Seina berkeliaran malam-malam.
"Oppa... kok diam? Sheren, Dale mana?"
"O--oren, Seina..."
"Kenapa Seina? Dia rewel?" tanya Mauren.
Sean terdiam, dia tidak sanggup memberitahukan kepada sang istri. Dia tidak bisa membayangkan sang istri sangat sedih setelah mendengar kabar duka ini.
"Maaf pak, anda walinya Arseina? Tolong segera mengisi data dan urus administrasi, baru setelah itu jenazah putri anda bisa di bawa pulang," ucap suster itu.
Asisten Kim membantu mengisi data dan membiarkan Sean menyelesaikan telponnya. Disisi lain Mauren mendengar ucapan suster itu.
"Oppa kenapa diam saja? Oppa dimana? Apa maksudnya orang itu bilang jenazah? Jawab oppa!" tanya Mauren panik.
"Maafkan aku, Mauren. Aku selalu membuat kesalahan besar"
"Oppa yang jelas ngomongnya. Oppa dimana Seina? Dimana Dale?"
"Oppa? Hallo oppa? Apa yang terjadi?"
"Putri kita"
"Kenapa putri kita, oppa? Ada apa dengan Sheren?"
"Seina meninggal"
DEG!!!
Mauren menjatuhkan telponnya, dia langsung terduduk lemas di lantai. Ibunya sangat terkejut dan bertanya kepada Mauren. Tetapi Mauren tidak menjawab.
Mauren lalu mengambil ponselnya dan berbicara lagi kepada Sean yang menutup telponnya.
"Oppa tidak bercanda 'kan? Jangan bercanda, oppa!"
"Oren, aku tidak bercanda. Sekarang aku ada di rumah sakit. Cepatlah datang kesini! Ya sudah, aku mau mengurus jenazah putri kita dulu," ucap Sean.
Mauren langsung menutup telponnya.
Ibunya memandangnya dengan penuh penasaran. Mauren menceritakan yang sebenarnya. Ibunya sangat terkejut.
"Emak aku tinggal tidak papa 'kan? Aku akan menyuruh orang untuk menjaga emak selagi bapak pulang dari luar kota," ucap Mauren.
"Iya Mauren. Anakmu dulu yang terpenting. Kenapa bisa jadi separti ini? Cucuku yang malang," jawab ibu sambil menangis.
Sedangkan Sean masih terduduk lemas di lantai, Asisten Kim membantunya berdiri dan duduk di kursi.
__ADS_1
"Anda tidak ingin melihat nona Seina, tuan?" tanya Asisten Kim sambil menyodorkan air minum.
"Aku tidak sanggup, Kim. Ini semua salahku, aku tadi memarahinya. Kemungkinan dia pergi karena ulahku. Aku sudah keterlaluan dengan putriku," ucap Sean.
Asisten Kim mengelus bahu yang tuan. Dia juga ikut bersedih karna teringat tangisan Seina saat di taman. Seina yang malang selalu mendapat perlakuan buruk dari orang sekitarnya.
"Uncle, jika Sein bukan anak kandung papa mama. Lalu siapa papa dan mama Seina? Sein ingin tahu, Uncle?"
Ucapan Seina terlintas di pikiran Asisten Kim. Bocah malang itu hanya membutuhkan sedikit kasih sayang.
Dia tahu jika Sean sangat menyayangi putrinya tapi memang sifat dan watak Sean seperti itu, Sean selalu membesarkan emosinya terlebih dahulu.
"Tuan, anda diperbolehkan untuk melihat jenazah Seina. Apa benar itu Seina atau tidak? Siapa tahu salah orang? Dan pihak polisi sudah menangkap orang yang sudah menabrak Seina"
"Aku tidak sanggup, Kim. Jika itu memang benar Seina, bagaimana? Dan aku ingin orang itu di hukum mati, dia sudah membunuh putriku"
Disisi lain.
Mauren sudah menaiki taksi, dia terus mengeluarkan air mata dan ia berdoa agar semua itu hanya bercanda. Jika memang benar, maka dia gagal sebagai orang tua yang baik. Selama ini ia sangat menyayangi Seina seperti anak kandungnya sendiri. Seina juga anak yang penurut.
Lalu ponselnya selalu berbunyi, semua orang terus-terusan mengirimkan ucapan berbela sungkawa sampai Mauren mematikan ponselnya.
Aku yakin Seina baik-baik saja.
Mereka hanya bercanda.
Setelah menempuh perjalanan hampir satu jam.
Akhirnya Mauren sampai di rumah sakit, dia langsung berlari ke dalam dan menemui Sean.
Mauren mencari keberadaan suami tetapi tidak ada, sampai ia bertemu dengan Asisten Kim di lorong rumah sakit.
"Dimana oppaku?"
Asisten Kim mengantar Mauren menghampiri Sean. Rupanya Sean sedang terduduk di depan ruang jenazah dengan tidak berdaya.
Sean seperti sudah kehilangan sesuatu sang sangat berharga.
"Oppa?"
Sean langsung memeluk Mauren. Dia meminta maaf karena tidak bisa menjaga Seina dengan baik. Ini semua memang kesalahannya.
"Jadi benar Sherenku...."
"Maafkan aku sayang. Ini semua kesalahanku. Dia pergi dari rumah karena aku sempat memarahinya"
Mauren tak kuasa membendung air matanya, ia sangat terpukul. Sean memeluk erat Mauren. Dia tidak masalah jika Mauren akan benci kepadanya.
"Aku ingin lihat Sheren"
Sean melepas pelukannya lalu menggandeng tangan Mauren dengan erat dan berjalan masuk di dalam ruangan dengan di temani petugas.
Saat masuk, mereka melihat seseorang yang susah ditutup kain putih di tempat tidur. Terdapat bercak darah menempel di permukaan kain itu.
Mauren mencoba membukanya, dia membuka dengan perlahan, tangannya sampai bergetar.
Perlahan demi perlahan kain putih itu di tariknya lalu ia bisa melihat jelas wajah Seina yang pucat dengan luka di wajahnya.
Mauren menangis, hatinya sangat terluka. Hatinya terasa ditusuk duri beribu-ribu lalu di hantam air laut yang sangat asin membuatnya semakin perih.
__ADS_1
Sean mencoba menenangkan Mauren, Mauren terus menggoyangkan tubuh Seina supaya putri kecilnya terbangun tetapi setelah itu ia pingsan.