
"Apa yang kau rasakan Oren?" tanya Sean.
"Panas dingin, Oppa"
Kedua pasangan aneh itu telah selesai menonton video pemersatu bangsa.
Mereka saling menatap seolah melihat ekspresi wajah satu sama lain.
"Dasar mesum!" ucap Sean.
"Oppa yang mesum," ucap Mauren sambil meraba sang ular yang menegang.
Sean menepis tangan Mauren, ia kali ini tidak ingin disentuh dengan sang istri.
Mauren cemberut lalu memalingkan wajah menghadap ke kaca mobil.
"Kak Kim?"
"Iya, Nona"
"Bisakah suamiku ku tukar tambah dengan yang baru? Dan bagaimana cara menukarnya?"
Asisten Kim tersenyum sedangkan Sean menjewer telinga Mauren dan terlihat gadis itu kesakitan.
"Istri kurang ajar kau, Mauren Adelia Azahra Setia Cahya Kinanti Kasih. Nama kau saja yang panjang tapi pikiran kau pendek. Bisa-bisanya kau bilang begitu. Harusnya kau beruntung punya suami sepertiku," ucap Sean yang gemas dengan sang istri.
Sean melepaskan jewerannya lalu Mauren meminta maaf kepada Sean tetapi Sean seolah tidak peduli. Dia berpura-pura marah kepada Mauren.
"Pergilah kau! Membuatku marah saja kau," ucap Sean menepis tangan Mauren.
Mauren sangat sedih, ia lalu memandang kaca mobil. Mereka kini hanya saling diam tanpa bicara sampai di bandara Y.
Mereka segera turun dari mobil lalu menuju ke jet pribadi milik Sean.
Sean memilih duduk di sebelah Asisten Kim sedangkan Mauren duduk sendirian. Mauren sangat sedih dan bahkan menangis.
"Nona Mauren menangis, Tuan"
Sean melirik Mauren, ia tak sampai hati untuk mendiamkan sang istri. Dia lalu mendekati Mauren dan duduk disebelahnya. Dia menarik tubuh Mauren dan mencium keningnya.
"Sudah jangan menangis! Maafkan aku Oren sayang"
Mauren memeluk Sean dengan erat dan tidak lupa ia mengendus-endus parfum yang digunakan oleh Sean. Sebuah keberuntunganya bisa menikahi presdir kaya raya dan ia berharap semua itu bukan hanya mimpi saja.
Sesampainya di kantor.
Waktu menunjukan pukul 5 sore dan beberapa jam lagi jam pulang akan tiba tetapi ternyata hukuman Mauren tidak hanya sampai disitu saja.
Mauren menghela nafas karena ia harus duduk di kursi yang sama saat seharian ini ia mendapatkan hukuman dari Sean.
Dan di depannya terdapat kertas dan bolpoin, ia merasa sedang sekolah saja.
"Kau istri seorang presdir tidak bisa berbahasa Inggris. Bagaimana nanti bisa berkomunikasi dengan para kolegaku yang kebanyakan orang asing?" ucap Sean berdiri di depan Mauren layaknya seorang guru menceramahi muridnya.
Mauren menghela nafas kasar, ia seolah tidak mendengar celotehan sang suami.
Baginya bahasa Inggris tidak terlalu penting.
"Sekarang kita mulai pelajaran bahasa Inggris paling dasar. Kau harus ikuti ucapanku!" perintah Sean.
"Ei bi ci di i ef dji," sambung Sean melafalkan huruf alpabet.
__ADS_1
"Hoaaaaam..."
Sean melotot, ia memandang Mauren yang tidak bersemangat pada pelajaran bahasa inggris kali ini.
Mauren memang sengaja karena ia sudah sangat lelah untuk berpikir.
"Ikuti aku!" ucap Sean.
"Ikuti aku!" jawab Mauren yang menirukan Sean.
"Hey kau..."
"Hey kau..."
"Kurang ajar"
"Kurang ajar"
Sean terkejut ketika Mauren menirukan ucapannya. Dia melangkah maju mendekati Mauren sambil mencubit pipi sang istri.
"Kenapa kau menirukanku?" tanya Sean.
"Kata Oppa tadi aku harus mengikuti ucapan Oppa?"
Sean berdecak lalu melepaskan cubitannya dan berjalan menuju meja direkturnya. Dia mengambil kertas soal dan kamus bahasa Inggris dan ia berikan kepada Mauren.
"Kerjakan soal ini dan 30 menit harus selesai?" pinta Sean.
Ini perkantoran kenapa bisa menjadi sekolahan?
Oppa jahat sekali denganku hari ini karena gara-gara aku tersenyum kepada Daren.
Dengan terpaksa Mauren mengerjakan soal itu, ia sungguh tidak paham dengan soal tersebut. Dia melirik Sean yang terduduk di kursi direkturnya, ia memainkan ponsel dan sepertinya sedang bermain game.
Sampai ketika ia melihat cairan merah menetes di kertas soalnya, Mauren sangat terkejut lalu mengusap hidungnya. Dia melihat jari tangannya yang sudah terkena darah yang berasal dari hidungnya sendiri, darah itu semakin menetes deras.
Sean melirik Mauren, ia sangat terkejut saat melihat hidung sang istri berdarah-darah. Dia segera menghampiri Mauren dengan panik.
"Kenapa kau sayang?" tanya Sean sambil menangkup pipi Mauren, "Kim! Kim!" teriak Sean memanggil sang asisten.
Asisten Kim datang, ia terkejut saat Mauren sudah banyak mengeluarkan darah. Dia langsung sigap memanggil ambulan dan setelah itu ia mengambil kapas untuk menyumbat darah di hidung Mauren.
Tetapi tiba-tiba Mauren pingsan membuat Sean semakin panik.
"Oren. Bangun sayang! Lama sekali ambulannya Kim? Sialan!"
Sean tidak sabar, ia segera membopong Mauren dan berlari menuju keluar.
Para pegawai terkejut saat Sean panik sambil berlari menggendong Mauren.
Dia sudah tidak memperdulikan yang lain karena keselamatan istrinya lebih penting.
Setelah sampai di mobil, Sean memeluk Mauren dan berharap gadis itu cepat siuman lalu Asisten Kim melajukan mobilnya menuju rumah sakit naungan Young Group.
"Darahnya sudah berhenti, Tuan?" tanya Asisten Kim.
"Sudah berhenti tapi Mauren belum sadarkan diri. Bagaimana ini Kim? Aku sangat khawatir"
"Tenang Tuan. Sebentar lagi kita sampai di rumah sakit"
Sesampainya di rumah sakit.
__ADS_1
Mauren sedang di periksa oleh Dokter Ana sedangkan Sean harus menunggu diluar. Dia berjalan mondar-mandir tidak bisa tenang sebelum tau kondisi Mauren. Sedangkan Asisten Kim juga terlihat khawatir tetapi ia mencoba agar tetap tenang.
"Anda tidak ingin menelpon Ibu Mauren, Tuan?" tanya Asisten Kim.
"Jemput beliau saja untuk kesini! Mumpung beliau ada di rumah Valto"
"Baik, Tuan"
Di arah yang berlainan Dokter Juna menghampiri Sean. Dia terkejut ketika diberitahu jika Mauren pingsan. Dia menenangkan Sean dan ketika itu juga Dokter Ana keluar dari ruangan.
"Bagaimana keadaan istriku, Dokter?"
"Dia hanya kelelahan dan hidungnya tadi cuman mimisan, dia hanya perlu istirahat saja," jelas Dokter Ana.
Dokter Ana juga menyuruh supaya Mauren jangan sampai kelelahan terlebih dahulu, ia harus banyak beristirahat dan jangan melakukan aktivitas yang berat.
Setelah itu Dokter Ana pamit, Sean dan Dokter Juna masuk ke ruangan Mauren.
Sean bisa melihat jika Mauren telah sadar, gadis itu tersenyum kepada Sean.
Sean mencium kening Mauren, ia sungguh sangat khawatir kepada sang istri.
"Oppa?"
"Iya sayang?"
"Oppa ingat besok hari apa?"
"Hari jadi pernikahan yang sebulan kita?"
"Tidak, Oppa"
"Lalu?"
"Besok hari gajianku untuk pertama kalinya dan aku sangat senang"
Sean mencubit hidung Mauren, dalam kondisinya seperti ini masih memikirkan gajian. Sean tersadar jika ia tidak pernah memberikan jatah uang kepada Mauren, karena ia pikir Mauren tidak memperlukan uang karena semua kebutuhannya sudah terpenuhi oleh Sean baik makan, baju, skincare dan lain-lain. Dia berinisiatif untuk menambah gaji Mauren 2 kali lipat supaya Mauren senang dan tidak merasa sia-sia dari pengalaman kerjanya kali ini.
"Oren, setelah kita mendapat restu dari keluarga kita. Aku akan menggelar pesta pernikahan termewah untuk kita dan setelah itu aku ingin kau keluar dari pekerjaanmu dan fokus untuk program kehamilanmu. Kau sanggup?"
"Jika memang keluarga kita sudah merestui aku sunggup Oppa. Tapi Oppa bulan ini saja aku belum menstruasi," jelas Mauren.
Dokter Juna yang sedari tadi berada didalam ruangan itu akhirnya ikut menimpali. Dia dengan sigap memeriksa perut Mauren dan mengambil alat tes kehamilan.
"Kau tidak merasa mual atau mudah letih, Mauren?" tanya Dokter Juna.
"Tidak sama sekali Dokter"
Beberapa menit kemudian.
Dokter Juna tersenyum kearah Sean, ia memeluk sahabatnya itu. Dia memberikan ucapan selamat kepada Sean tetapi Sean seolah masih kebingungan.
"Maksudmu apa, Juna?"
"Sebentar lagi kau akan menjadi seorang ayah. Selamat sahabatku"
Sean dan Mauren terkejut. Sean lalu mencium kening Mauren dan memeluknya, ia sangat bahagia dengan kabar itu. Sedangkan Mauren masih syok padahal selama ini mereka jika melakukan itu selalu menggunakan pengaman tetapi kenapa masih bisa kebobolan?
"Perkiraan usia janinnya baru mendekati 3 minggu. Kau harus menjaga istrimu supaya tidak kelelahan Sean, perhatikan juga pola makanannya. Dia harus makan makanan yang bergizi dan sehat," jelas Dokter Juna.
"Apakah aku di prank, Dokter?" tanya Mauren seolah masih tidak percaya.
__ADS_1
__________________________________