
Mauren menggigit bibirnya kuat-kuat dan kepalanya bersandar pada dada Sean. Dia sudah pasrah ketika suaminya menyentuh harta karunnya itu. Harta karun yang dijaganya selama ini agar tidak hamil.
"Oppa jangan disini, lagipula ada Asisten Kim," ucap Mauren merengek.
"Diam kau! Dia pun tidak melihat kita"
Sean sedikit mendorong kepala Mauren yang tengah bersandar di dadanya dalam posisi sama-sama terduduk. Tangannya berpindah pada kancing baju Mauren, ia melepaskan 3 kancing paling atas. Kepalanya langsung ia benamkan di dada istrinya, ia tak lupa memberikan kecupan-kecupan mesra hingga membekas warna merah. Tubuh Mauren mulai merespon seolah mengikuti setiap sentuhan dari sang suami. Tangannya mencengkeram kuat pada rambut Sean.
Tok.. Tok.. Tok.. Tok.. Tok..
"Cepat buka pintunya Sean!"
Seketika Mauren memaksa Sean untuk melepaskan tubuhnya, ia segera merapikan baju dan roknya.
Wajah Sean menjadi sangat marah dan menyuruh sang asisten untuk membuka pintu setelah Mauren sudah merapikan pakaiannya.
Ternyata Dokter Juna yang datang lalu masuk dan menutup pintunya. Dia menghampiri Sean dengan marah, Sean memandangnya juga begitu marah karena sudah mengganggu kemesraannya bersama istri.
"Kau sungguh gila Sean! Ini rumah sakit bukan hotel, kenapa kau berbuat mesum disini? Lihatlah ada CCTV di ruangan ini!" ucap dokter Juna.
Sean berdiri dan menarik jas putih milik dokter Juna, ia menatap wajah dokter Juna sangat tajam. Mauren dan Asisten Kim mencoba menenangkan Sean tetapi amarah Sean sudah tidak terbendung lagi karena sudah kesekian kali ia gagal melakukan hal yang diinginkannya bersama sang istri.
"Oppa jangan begitu oppa, kita yang salah oppa," ucap Mauren sambil memeluk Sean.
Sean melepas jas putih dokter Juna, ia masih menatap lekat wajah dokter itu.
"Ini rumah sakit milikku dan aku bebas melakukan apapun disini dan sejak kapan ada CCTV di ruangan ini? Cepat hapus rekaman itu sekarang juga sebelum mereka tau!" ucap Sean.
"Haha Kau takut? Tenang saja rekaman CCTV diruangan ini hanya terlihat di monitor komputerku, aku akan menghapusnya"
Sean semakin marah, ia berpikir jika dokter Juna sudah melihat apa yang ia tidak boleh lihat. Sean menarik kerah jas milik dokter Juna lagi, ia ingin sekali memukul wajah pria itu tetapi Asisten Kim dengan cepat mencegahnya.
"Kau melihat tubuh istriku?" tanya Sean.
"Tidak! Lagi pula tubuhnya membelakangi CCTV dan hanya terlihat pahanya saja," ucap dokter Juna dan ia langsung menutup mulutnya dengan tangan karena tidak sengaja berucap seperti itu.
__ADS_1
"Sialan kau!" ucap Sean.
Asisten Kim segera menyuruh dokter Juna untuk keluar dan ia mengikutinya. Asisten Kim sebelumnya sudah memperingatkan ke dokter Juna jangan mencampuri urusan sang Tuan kecuali jika tuannya yang bercerita sendiri. Mereka berjalan kearah ruangan dokter Juna karena Asisten Kim ingin melihat dokter itu menghapus rekaman CCTV.
"Kau sinting juga Kim. Kenapa kau malah diam berdiri disana? Kau sedang mengetes itumu terbangun atau tidak? Hahaha," ejek dokter Juna.
"Aku tidak bisa membantah ucapan Tuan Sean, lagi pula aku tidak melihatnya"
Dokter Juna tertawa, ia menepuk bahu asisten Kim. Dia sangat mengagumi kesabaran Asisten Kim yang selalu menuruti perintah gila dari sang tuan.
Tuan Sean adalah keluargaku. Walaupun terkadang ia sangat aneh tetapi ia selalu memperlakukanku dengan baik.
**
Di ruangan VVIP
Mauren berdiri menjauh dan menundukan kepala. Sean memperhatikannya gadis yang sangat disukainya itu, ia menghela nafas karena tidak berhasil membuat Mauren menjerit keenakan karena gangguan dari dokter itu.
Tiba-tiba pintu terbuka yang ternyata Mama Sean datang, ia memandang Mauren dan gadis itu memberi hormat dengan menundukan kepala.
"Maaf Tuan Sean saya pamit untuk kembali ke kantor. Semoga Tuan cepat sembuh," ucap Mauren.
"Dia siapa? Kenapa bisa berada disini?"
"Dia pegawaiku. Dia kesini bersama Kim, kebetulan mereka dari suatu tempat lalu mampir kesini"
"Kamu suka dengannya?" tanya Mama curiga.
"Oh tidak! Dia hanya pegawaiku," jawab Sean sambil memalingkan muka.
**
Restoran Ananta terlihat ramai oleh para pelanggan, nampak Reno juga sibuk membantu para pegawainya.
Zara hanya memandangnya dari jauh, ia tidak berani mendekati Reno.
__ADS_1
Dia meminum coklat panas favoritnya, panas dari minuman itu bisa membuat perutnya terasa lebih baik. Seharian ini perutnya terasa sakit karena sedang datang bulan.
Zara mencoba melirik Reno lagi tetapi pria itu sangat sibuk sehingga tidak mungkin untuk diajak mengobrol.
Jam demi jam berlalu sampai ia terlelap dimeja, terlihat restoran itu akan tutup tetapi Zara belum terbangun.
Reno yang tau itu segera menghampiri, ia mencoba membangunkan wanita yang belum terlihat wajahnya.
"Nona, anda baik-baik saja? Restoran kami akan tutup Nona," ucap Reno sambil menggoyangkan bahu Zara.
Zara seketika terbangun, ia terkejut saat Reno sudah berada di depannya. Reno mengerutkan dahi dan mengingat jika gadis yang di depannya adalah gadis yang terpeleset beberapa hari yang lalu.
"Eh Kak Reno saya ingin mengembalikan baju Kak Reno. Terima kasih dan maaf jika saya telat mengembalikannya," ucap Zara malu-malu.
Reno tersenyum, ia menjelaskan tidak perlu malam-malam begini untuk mengembalikan baju miliknya. Jantung Zara berdegup kencang saat melihat senyuman Reno, hatinya seolah menjadi meleleh dan tubuhnya terasa kaku seolah terhipnotis oleh senyuman Reno. Dengan mulut yang terbata-bata ia berpamitan pulang dan langsung berlari menuju luar restoran.
_______________________________________
Mauren tengah bersantai di pinggir kolam renang sambil menikmati teh panas, ia tersenyum sendiri seperti orang gila membayangkan kejadian dirumah sakit tadi.
Dia berharap rasa bahagia itu untuk selamanya dan jangan hanya sementara, dia tidak ingin terluka untuk kedua kalinya.
Cinta pertamaku memang gagal, kuharap cinta keduaku sampai selamanya.
Sean sangat baik, ia memang lelaki idaman.
Huh! Haruskah aku tetap bersantai ketika ada wanita lain yang menyukainya padahal aku adalah istri sahnya?
Drrrrrrt drrrrrrt drrrrrrt
Ponsel Mauren berbunyi, ia mengangkatnya yang ternyata dari Ibunya. Saking sibuknya sampai ia lupa menelpon sang ibu, dia ingin sekali menceritakan tentang Sean yang selalu baik dengannya.
"Emak tidak usah khawatir, Mauren disini sangat bahagia. Sean sangat baik dengan Mauren"
Mauren lalu pindah ke ranjangnya dan melanjutkan mengobrol lama dengan sang ibu. Sampai ia tidak sadar tertidur karena saking mengantuk dan lelah.
__ADS_1
Tuhan. Semoga saja ini bukan sekedar mimpi dan jika memang ini hanya mimpi, tolong jangan bangunkan aku sebelum aku bahagia dengan Sean. Aku sangat mencintainya dan tidak ingin kehilangan dia.
Dia lelaki idamanku. Suamiku yang terhebat.