Mendadak Menikah (Sean & Mauren)

Mendadak Menikah (Sean & Mauren)
Bab 127 : Gosip


__ADS_3

"Tuan?"


"Apa kau?"


"Arkan memaksa untuk bertemu dengan anda, Tuan"


Sean langsung berdiri dari kursi direkturnya. Dia langsung berjalan kearah ruangan Asisten Kim dengan geram, ketika membuka pintu ia bisa melihat Arkan tengah duduk di sofa.


Arkan tersenyum lalu berdiri sedangkan Sean memukul Arkan dengan kesal.


Buaaaak...


Arkan tersungkur di lantai, Asisten Kim tidak berani ikut campur sedangkan Mauren yang membuka pintu sangat terkejut ketika sang suami memukul adiknya.


"Kak Arkan?" teriak Mauren sambil membantu Arkan berdiri.


Sean berdecih dan memalingkan wajah.


Entah kenapa ia merasa kesal ketika Mauren seolah khawatir kepada Arkan.


"Kenapa Oppa memukul adik Oppa sendiri?" tanya Mauren.


"Sudah kubilang dia bukan adikku"


Arkan lalu bersujud dibawah kaki Sean, Sean memalingkan wajah seolah jijik dengan Arkan.


"Bang, aku minta maaf. Kenapa abang tega denganku? Aku sudah tidak punya keluarga selain abang. Ku mohon bang, aku akan melakukan apapun supaya abang bisa menerimaku," ucap Arkan.


Sean tidak menghiraukan ucapan Arkan, ia melangkah masuk keruangannya tetapi Mauren memeluk tubuh Sean dari belakang. Dia memohon supaya Sean mau menerima Arkan.


"Lepaskan Mauren! Kau tidak tahu apa-apa tidak usah ikut campur kau!" ucap Sean.


"Jangan begitu Oppa! Kak Arkan itu adik Oppa. Jika Oppa tidak mau mengakui dia sebagai adik Oppa maka aku akan berkencan dengan Kak Arkan," ucap Mauren membuat mereka terkejut.


Kenapa Mauren berkata seperti itu? Batin Arkan.


Sean terdiam, ia melepas pelukan Mauren lalu menghadap gadis itu.


"Lakukan apa yang kau mau! Aku tidak peduli," ucap Sean.


Sean membalikan badannya lalu mulai melangkah menuju ruangannya tetapi langkahnya terhenti saat Mauren mengatakan i love you kepada Arkan lalu memeluknya. Arkan sangat terkejut begitu pula dengan Sean dan Asisten Kim.


"Apa yang kau lakukan? Cepat menyingkir dari dia!" ucap Sean.


"Aku akan melepaskannya jika Oppa mau menerima dia"


"Istri kurang ajar kau!"


Mauren memandang wajah Arkan yang kebingungan dan ketakutan. Mauren tersenyum manis tetapi Arkan menelan ludah melihat sang kakak mulai melotot kearahnya.


"Aaaah... Lihatlah wajahmu sangat tampan! Hidungmu, bibirmu, wajahmu sangat sempurna," ucap Mauren sambil memegang wajah Arkan.


"Hey singkirkan tanganmu Mauren! Hanya aku yang boleh kau sentuh," teriak Sean.


"Kak Arkan, kau sudah punya pacar? Sayang sekali jika belum, mau berkencan denganku?" goda Mauren.

__ADS_1


"Lancang sekali kau Oren! Sadar kau jika sudah punya suami," ucap Sean berteriak.


"Kak Arkan. Main ke hotel yuk! Kita bersenang-senang disana," goda Mauren kepada Arkan semakin membuat Sean cemburu.


"Iya... iya Oren. Dia akan kuanggap adikku tapi singkirkan tanganmu di wajahnya. Menyingkirlah darinya!" ucap Sean khawatir jika Mauren akan berkencan sungguhan dengan Arkan.


Tuan Sean bodoh juga mau ditipu Nona Mauren. Batin Asisten Kim.


Mauren tersenyum, ia meyakinkan Sean supaya tidak berbohong. Sean menganggukan kepala. Dengan cepat Mauren berlari kearah Sean lalu memeluknya.


"Sudah kau pulang saja kampret! Muak sekali aku melihat wajahmu"


"Oppa 'kan sudah berjanji kepadaku. Kenapa sekarang malah bilang seperti itu?" tanya Mauren kecewa.


"Oh maksudku ayo masuk dulu Arkan! Kita ngopi didalam," ucap Sean.


Bang Sean rupanya suami takut istri? Batin Arkan.


Arkan lalu masuk ke ruangan Sean diikuti Mauren dibelakangnya.


Mereka lalu duduk disofa dan mengobrol dengan canggung.


Mauren yang menyadari kecanggungan mereka lalu membuka obrolan.


"Kak Arkan kerja dimana? Jam segini kok bisa berada disini?" tanya Mauren.


"Aku membuka bengkel jadi memang bisa aku tinggal"


Mauren mengaggukan kepala lalu melirik Sean yang seakan cuek dengan sang adik. Mauren menggenggam tangan Sean seolah berharap supaya Sean mengajak Arkan untuk mengobrol.


"Selama ini kau tinggal dimana?" tanya Sean dengan terpaksa.


Tetapi respon Sean hanya biasa saja, ia berdiri lalu berjalan menuju kursi direkturnya. Dia duduk lagi sambil mengerjakan pekerjaannya yang belum selesai. Arkan berusaha tersenyum walau sangat berat, ia sadar jika Sean tidak akan pernah mau menerimanya.


Arkan berdiri lalu berpamitan pulang dan ketika ia menuju pintu tiba-tiba Sean menghentikannya.


"Mau kemana kau? Kau belum memberikan alamat bengkelmu," ucap Sean sambil memperhatikan laptopnya.


Arkan terhenti, ia melihat Sean dengan tersenyum. Dia berlari kearah Sean lalu memeluknya. Sean membiarkan Arkan memeluknya, ia tahu jika Arkan sangat kesepian selama ini.


Mauren sangat terharu dengan kedua pria yang sangat mirip itu sampai meneteskan air mata.


"Jangan senang dulu, Arkan! Aku melakukan ini karena untuk istriku," ucap Sean gengsi.


"Tidak apa-apa bang. Yang terpenting abang mau menerimaku"


Sean lalu melepas pelukan Arkan, ia memandang wajah sang adik yang begitu mirip dengannya hanya saja rambut Arkan yang dicat warna pirang membuat dirinya tampan maksimal.


"Pulanglah! Aku akan main ketempatmu jika tidak sibuk," ucap Sean.


Arkan tersenyum, ia tidak menyangka jika Sean akan menerimanya. Dia berpamitan pulang lalu tidak lupa berterima kasih kepada Mauren karena berkat gadis itu sang kakak mau menerimanya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Saat istirahat makan tiba, Mauren segera ke kantin bersama Desi dan Lala.

__ADS_1


Entah kenapa setelah meeting pagi tadi para pegawai selalu menunduk hormat kepada Mauren. Mauren hanya membalas dengan anggukan kepala.


Setelah sampai di kantin, ia segera duduk dibangku bersama Desi dan Lala


"Mauren, kau sangat beruntung sekali menjadi istri Tuan Sean. Aku sangat iri," ucap Lala.


"Cieeeee... aaah aku juga iri kepadamu"


"Hei... Tuan Sean tidak seistimewa yang kalian pikirkan. Dia seperti pria pada umumnya," ucap Mauren.


Tiba-tiba Desi dan Lala berdiri, Mauren lalu melihat Sean yang sudah berada didepannya. Mereka langsung pindah meja membiarkan Sean duduk diseberang Mauren.


Para pegawai lain hanya memandang mereka tanpa berkomentar.


"Oppa kenapa ada disini?" tanya Mauren.


"Untuk makan. Kenapa? Tidak boleh?"


"Tempat Oppa 'kan bukan disini"


Sean tidak memperdulikan ucapan Mauren, ia berdiri lalu berjalan menuju tempat pengambilan makan. Terlihat para pegawai yang berbaris mengalah untuk sang tuan yang sedang mengambil makanan.


Semua orang yang berada disana heran, mereka baru pertama kali melihat sang tuan makan makanan biasa dan mengambil sendiri.


Sean mengambil ayam goreng, sayuran, tahu tempe, kerupuk dan tidak lupa mengambil 4 susu kotak kesukaan Mauren.


Setelah itu ia kembali ke meja lalu menyerahkan makanan itu kepada Mauren.


"Makanlah yang banyak!" ucap Sean.


Dia lalu ikut duduk dan menikmati makanannya, Mauren melirik para pegawai. Dia semakin merasa malu-malu kucing.


"Cepat makan! Atau mau kusuapin?" tanya Sean yang melihat Mauren melamun.


Mauren terkejut lalu menganggukan kepalanya, ia makan dengan lahap tetapi tiba-tiba ponselnya berbunyi yang ternyata dari Desi mengirimkan sebuah artikel berita hangat hari ini.


Gadis pujaan Arsean William ternyata pegawainya sendiri? Lihatlah gadis cantik itu bak seorang model!


Mauren mendapati foto-fotonya terpampang diinternet, banyak yang berkomentar positif dan banyak juga berkomentar negatif.


Mereka memuji kecantikan Mauren tetapi banyak yang mencela Mauren.


Paling oprasi plastik. Ucap A


Arsean sayang sekali untuk gadis itu padahal banyak gadis lebih cantik dari dia. Ucap B.


Gundiknya Arsean William cantik juga. Ucap C.


Pasti udah sering diajak ngamar sama si bos besar Young Group termasuk Askar Wijaya, wkwwwkk. Ucap D.


Sean merebut ponsel Mauren, ia bisa melihat tubuh Mauren bergetar dan sorot matanya ingin menangis.


Sean menggelengkan kepalanya dan mengatakan jangan menghiraukan komentar jahat itu.


"Jangan pernah mengurusi ucapan orang lain! Lihatlah mataku, Oren! Apa aku terlihat main-main denganmu? Satu yang harus kau tanamkan dipikiranmu. Aku mencintaimu karena memang aku cinta denganmu," ucap Sean menatap Mauren dengan lembut.

__ADS_1


Mauren mengusap air matanya, ia tersenyum kepada Sean lalu melanjutkan makannya.


Sean lalu mengambil ponselnya lalu menyuruh sang asisten mencari tahu siapa yang membuat artikel itu. Dia yakin pasti salah satu pegawainya dan lagipula orang diluar perusahaan belum tahu tentang Mauren.


__ADS_2