
"Emm... itu adik saya tuan," ucap Ali takut jika ia memacari adik tuannya.
"Awas kau jangan sentuh Sera!" ucap Sean.
Jadi namanya Sera? Haha aku sudah tahu namamu gadis manis.
Sean dan Mauren lalu pulang kerumah dan terlihat Seina sudah terlelap mungkin karena kelelahan menangis.
Mauren meletakan Seina di ranjang ia melirik Sean yang sedang menelpon Asisten Kim.
"Oppa kembalilah ke rumah kakek!" ucap Mauren.
Sean melirik Mauren lalu menutup telponnya. Dia berjalan menghampiri Mauren lalu duduk di sebelahnya.
"Aku mau menemanimu disini, semua urusan sudah diselesaikan oleh Kim," ucap Sean.
Sean mencoba bermain-main dengan Seina. Mauren berdecih dan menyangka jika itu hanya akting. Sean memang belum ikhlas dengan kehadiran Seina tetapi mau bagaimana lagi Seina sudah masuk kedalam kehidupannya.
"Seina anak papa mau makan apa? Bubur mau? Lucu sekali anak papa," ucap Sean menggoda Seina.
Pasti akting. Batin Mauren.
Sean tiba-tiba mendorong tubuh Mauren di ranjang lalu menindihnya membuat Mauren terkejut. Mereka saling berpandangan tetapi Mauren membuang pandangannya.
"I love you," ucap Sean sambil mengelus kepala Mauren.
Mauren tidak mau menjawab membuat Sean menggelitiki tubuh Mauren. Gadis itu meronta memohon supaya sang suami menghentikan aksinya tetapi Sean tidak mau melepaskan begitu saja.
"Aaaaa hentikan oppa!"
"Tidak mau"
Dan tiba-tiba, gubraaak...
Seina terjatuh dari tempat tidur membuat pasutri aneh itu kaget.
"Seina," teriak Mauren.
Dia menggendong Seina yang menangis kencang. Mauren begitu khawatir lalu menyalahkan Sean karena ia membuat Seina terjatuh.
"Semua ini gara-gara oppa"
"Kenapa aku? Dia jatuh sendiri"
Mauren berdecih lalu membawa Seina di depan kolam renang. Sepertinya Seina terbentur sangat keras membuat dirinya menangis kencang.
Sean menghampiri mereka lalu merebut Seina dari gendongan Mauren.
"Cup... cup... cup... jangan menangis anak papa!" ucap Sean.
Sean menciumi pipi Seina dengan gemas lalu menggelitiki leher Seina membuat bayi gendut itu berhenti menangis.
Mauren tersenyum melihat cara Sean menenangkan Seina yang menangis tapi ia harus waspada jika itu semua hanya akting atau tidak.
Keesokan harinya.
Sean berangkat bekerja, walau suasana masih berkabung atas kepergian kakeknya tetapi perusahaan harus tetap berjalan. Dia ingat tentang satu surat khusus untuk Sean yang ia telah bawa di tangannya.
Di dalam mobil Sean membacanya dan ternyata isi surat tersebut adalah...
Arsean, cucuku tersayang.
__ADS_1
Mungkin jika kau membaca surat ini pasti kakek sudah tidak bersama kalian lagi. Maaf jika selama ini kakek semena-mena denganmu tapi itu semua demi dirimu.
Setelah kakek pergi, kakek harap kau bisa mengurus perusahaan dengan baik.
Intinya jangan berikan perusahaan kepada adik-adik kakek. Kau harus mengelolanya sendiri dengan anakmu kelak.
Arsean, kakek berharap jika kau mempunyai anak laki-laki bisa sepertimu yang selalu menurut kepada orang tua. Ajari dia untuk memimpin perusahaan.
Kakek juga berharap kau beri nama dia Daleon. Kakek mengambil nama itu dari dandelion yang artinya pemberani, memiliki bakat berbisnis, gemar menolong sesama orang, pandai, cerdik, memiliki kemauan keras dan ia terlahir untuk menjadi jiwa pebisnis yang hebat.
Mungkin itu saja permintaan dari kakek. Aku ingin cicitku seperti dirimu yang sangat hebat dan pandai.
Terima kasih Arsean, kau sudah menjadi bagian terpenting dari keluarga Adinata.
Ketika selesai membaca itu, Sean nampak menitikan air mata. Dia lalu menyekanya. Asisten Kim yang menyetir mobil melirik Sean. Dia tahu kesedihan sang tuan yang di tinggal kakek tercintanya.
"Tuan, anda menangis?" tanya Asisten Kim.
"Maksudmu apa? Kau menganggapku cengeng?" ucap Sean sambil melipat kertas wasiat itu.
"Tidak tuan. Saya juga sangat sedih kehilangan kakek Askar"
"Lalu kau menangis?" tanya Sean.
"Iya tuan"
"Dasar cengeng!" ejek Sean padahal dirinya juga menangis.
Setelah sampai di kantor Sean dan Asisten Kim masuk ke ruangannya tak lupa memanggil Ali untuk membahas bagaimana kedepannya perusahaan tanpa kakek Askar.
Hampir setengah jam mereka berdiskusi dengan duduk di sofa baru milik Sean.
"Eh, tunggu dulu! Kalian tahu sofaku yang dulu dibuang kemana?" tanya Sean menghentikan diskusinya.
"Iya, sofa yang sempat kulakukan ihik-ihik bersama Mauren," jawab Sean.
Ali mengerutkan dahi, ada ya bos seperti Sean yang tidak malu dengan privasinya?
Asisten Kim menggelengkan kepala karena ia saat itu masih di Cina.
"Tugas kalian mencari sofa itu, cari sampai ketemu jika tidak akan ku potong gaji kalian," ucap Sean tidak main-main.
"Tapi kita harus cari kemana tuan?" tanya Asisten Kim.
"Tanya kakekku beg*!"
"Tapi Tuan Askar sudah meninggal, tuan," ucap Sekertaris Ali.
"Coba susul kakekku di neraka dan tanya dimana sofa legendarisku ia buang!" ucap Sean.
"Tapi pintu neraka disebelah mana, tuan?" tanya sekertaris Ali membuat Sean semakin geram.
Asisten Kim menyikut Sekertaris Ali, ia menggelengkan kepala supaya tidak membuat sang tuan semakin kesal.
Ali hanya tersenyum lalu meminta izin untuk kembali ke ruangannya sedangkan Sean dan Asisten Kim melanjutkan obrolannya.
Dan disaat Ali keluar tiba-tiba bertemu Alana. Alana sempat menghindar tapi dicegah oleh Ali.
"Minggir!" ucap Alana.
"Aku tidak mau," jawab Ali.
__ADS_1
Alana berdecih lalu menginjak kaki Ali membuat pria itu kesakitan.
Ali mendorong Alana ke tembok lalu menguncinya.
"Jangan begini, Ali! Aku tidak ingin membuat orang salah paham," ucap Alana.
Ali melepas kunciannya lalu membiarkan Alana masuk kedalam ruangan Sean dan tiba-tiba...
"Om sayang?"
Ali terkejut ternyata ada Sera di belakangnya.
"Manis, aku bisa jelaskan tadi"
"Jelaskan apa?" tanya Sera.
Sera menarik Ali di ruangan milik Ali lalu Sera terduduk di sofa dengan muka sedikit pucat.
"Kau kenapa manis?" tanya Ali.
Sera menggelengkan kepalanya dan nampak bulir-bulir air mata berjatuhan membuat Ali khawatir.
"Kau pasti teringat kakekmu," ucap Ali sambil memeluk Sera. "Sudah jangan menangis! Setelah ini aku akan membelikanmu es krim," sambung Ali.
Ali lalu melepaskan pelukannya dan melihat jika Sera masih menggunakan seragam sekolah. Dia terkejut, ia pikir Sera sudah kuliah.
"Kau masih sekolah?" tanya Ali.
"Iya om"
Ali menelan ludah, betapa bodohnya ia memacari gadis SMA.
"Kelas berapa?" tanya Ali.
"Kelas 3 om"
Sabar Ali. Dia hanya pacar sementara saja dan setelah Alana kembali padaku aku akan meninggalkannya.
Ali kini terfokus dengan bibir Sera, bibir ABG itu merah merona dan sangat menggoda. Ali mencoba mendekatkan bibirnya ke bibir Sera tetapi gadis itu menutup bibirnya.
"Kenapa Sera?" tanya Ali.
"Jangan cium-cium om! Bibirku hanya untuk Ayang Kim," ucap Sera membuat Ali tersenyum.
"Terus kita berpacaran untuk apa?"
"Ya kan gak harus ciuman om. Kita bisa main kartu, bisa main kelereng dan bermain permainan lainnya," jawab Sera.
"Sera manis, aku pria dewasa dan suatu saat jika aku nakal kepadamu kau boleh memukulku," ucap Ali.
"Nakal dalam hal apa om sayang?"
Ali menepuk jidatnya sepertinya ia salah memilih pacar yang masih bocah seperti Sera.
Sera yang iseng lalu menarik kacamata Ali membuat Ali kesusahan melihat.
Dia mendorong Sera sampai tertidur di sofa lalu mengunci tubuh gadis itu yang akan berlari membawa kacamata milik Ali.
"Serahkan kacamata itu, Sera!" ucap Ali.
"Tidak mau"
__ADS_1
Tiba-tiba pintu terbuka yang ternyata Asisten Kim.
"Ali?" ucap Asisten Kim terkejut melihat adegan absurd Sera dan Ali.