
Sonia menyeka air matanya. Betapa perih kehidupan masa lalunya dan bahkan kini pun ia masih sama saja.
Goresan-goresan luka sudah membekas di ingatan dan hatinya.
Mauren yang mendengar kisahnya ikut menangis, betapa kasihannya terhadap Sonia. Seorang yang dulunya model terkenal kini menjadi babu.
"Eh... kok jadi melow begini? Huh... aku malah curhat kepada Kak Mauren," ucap Sonia sambil mengelap air matanya.
"Tidak papa Kak Son. Memang seharusnya Kak Son bercerita siapa tahu bisa mengurangi beban pikiran Kak Son," jawab Mauren.
Sonia tersenyum, ia lalu terbangun dari rebahannya. Dia menatap Seina yang sudah terlelap. Sonia teringat anaknya yang sudah besar bahkan sudah sekolah. Dia begitu merindukannya tetapi ia sangat malu untuk menemuinya.
"Oh ya kak Mauren. Kakak kenal Kak Arsean darimana?" tanya Sonia.
"Ceritanya panjang sekali tapi singkatnya karena kami berjodoh," jawab Mauren.
"Ah, maaf jika aku terlalu kepo. Kak Mauren katanya sedang hamil? Kakak ingin makan apa? Biar aku belikan"
"Tidak usah Kak Son, buatkan aku teh manis saja," ucap Mauren.
Sonia langsung menuju ke dapur untuk membuatkan teh untuk Mauren.
Mauren membenarkan posisi tidur Seina yang mulai lasak.
Dia juga menunggu mangga muda dari Sean tetapi sang suami tidak kunjung datang.
Disisi lain,
Sean sedang diatas pohon mangga milik temannya. Dia diatas pohon bukannya mengambil mangga malah merumpi dengan teman kecilnya dulu.
Mereka bernostalgia mengingat kenangan kecil mereka.
"Anakmu sudah 3, Bas? Hebat sekali," ucap Sean.
"Gaspol dong, Sean"
"Anakku baru satu dan istriku sedang hamil muda," ucap Sean.
"Maaf Tuan Sean, kita harus cepat karena sebentar lagi akan ada meeting," ucap Asisten Kim dari bawah.
Sean sempat lupa bahwa tujuannya disini untuk meminta mangga muda dan jiwa rumpinya terbangun ketika bertemu temannya.
Sean memetik 5 mangga muda yang besar-besar lalu segera turun dari pohon yang cukup tinggi itu.
"Eh, turunnya bagaimana?" tanya Sean kebingungan.
"Kau masih sama saja, Sean. Bisa naik tidak bisa turun," ucap Baskoro sambil turun dari pohon.
Sean melempar 5 mangganya ke bawah untuk ditangkap Asisten Kim dan kini ia berpikir bagaimana cara turun dari pohon mangga itu.
"Bisa turun, Tuan?" tanya Asisten Kim.
__ADS_1
"Tangkap aku, Kim!"
Sean langsung loncat dan menubruk Asisten Kim yang berada di bawah. Tubuh Asisten Kim di tindih Sean dan merasa sangat sakit.
"Makan banyak kau Kim! Tubuh tulang saja bikin sakit tubuhku," ucap Sean.
Anda yang terlalu berat, Tuan.
Setelah mendapat mangga, Sean dan Asisten Kim menuju ke apartemen untuk menyerahkan mangga ke sang istri tercinta dan tidak berselang lama. Mauren menelpon dan merengek meminta sop buntut.
"Buntut cicak mau kau?" ucap Sean di dalam mobil.
"Oppa, aku beneran ingin makan sop buntut sapi"
"Iya baiklah nanti oppa belikan. Oh ya Sonia melakukan apa saja bersamamu?" tanya Sean.
"Kita main salon-salonan, oppa"
"Bagaimana cara main salon-salonan?" tanya Sean.
"Kepo deh, sudahlah. Aku tutup telponnya. Bye oppa"
Sean mengerutkan dahi, ia lalu bermain game di ponselnya. Sean yang kini sudah 26 tahun terlihat lebih dewasa dari sebelumnya.
"Kapan kau mau menikah, Kim?" tanya Sean.
"Dengan siapa, tuan? Saya sedang tidak ada pacar"
"Kami tidak cocok, tuan," jawab Asisten Kim.
Tidak ada kecocokan pada kami. Dia selalu mengajak bertengkar dan pada akhirnya kami memutuskan berpisah.
Aku masih ingin sendiri. Menikmati hidup ini sampai jodoh untukku sudah datang.
**
Setelah sampai di apartemen.
Sean melihat jika Mauren sedang di pijat oleh Sonia di depan kolam renang.
Sean tersenyum, memang Mauren mudah dekat dengan seseorang.
Sean melihat Seina tidur terlelap sambil sesekali anak gembul itu tersenyum sendiri.
Mimpi apa Seina sampai tersenyum seperti itu? Batin Sean.
"Oppa sudah pulang?" ucap Mauren sambil memeluk Sean.
"Ini mangga dengan sop buntutnya," ucap Sean.
"Aku sudah tidak ingin makan itu. Oppa terlalu lama. Aku sekarang ingin makan sate ayam khas Padang yang super pedes," jawab Mauren.
__ADS_1
Sean meremas jemarinya lalu menyabarkan dirinya sendiri. Dia menghela nafas dan pura-pura tersenyum kepada Mauren.
Sean dengan cepat mencium bibir Mauren tetapi Mauren segera mundur dari Sean.
"Ada Kak Sonia disini, oppa," ucap Mauren.
"Sepertinya aku mengganggu. Aku akan keluar," ucap Sonia.
"Tidak usah Sonia. Aku setelah ini akan kembali ke kantor," ucap Sean sambil meletakan seplastik mangga dan sop buntut di sofa.
Sean langsung berpamitan pergi tetapi Mauren mencegahnya karena menyuruh Sean untuk membelikan sate Padang. Baru kemarin Mauren sudah berjanji pada dirinya sendiri dan saat ini ia mengingkari karena benat-benar mengidam.
"Nanti malam oppa belikan. Saat ini makan apa yang ada saja kau!" ucap Sean.
Mauren mengerucutkan bibirnya lalu Sonia bilang akan membelikannya untuk Mauren.
"Sate Padang adanya sore hari, Oren sayang. Nanti setelah pulang kerja aku akan belikan untukmu," ucap Sean. "Oh ya Sonia, hari ini kau pulang jam 5 sore saja dan segera menuju ke Cafe Deluxe. Ada seseorang yang akan menemuimu," sambung Sean.
Sonia mengerutkan dahi, siapa yang ingin menemuinya? Dia sempat ragu tetapi Sean mengatakan jika itu adalah orang penting.
Setelah Sean keluar dari apartemen.
Mauren menarik Sonia untuk naik ke atas ranjang dan melanjutkan curhatannya. Mauren masih kepo tentang Sonia.
Sonia tidak ragu untuk menceritakan semua kisahnya.
"Jadi Papa mu tidak menganggapmu lagi?" tanya Mauren terheran.
"Begitulah, dia lebih percaya keluarga barunya"
"Kau tidak menjelaskan padanya?"
"Aku tidak ingin masuk ke dalam keluarga itu lagi. Aku sudah trauma," jawab Sonia.
Mauren menangis mendengar kisah pilu Sonia. Ternyata dibanding nasibnya lebih buruk nasib Sonia yang selalu diinjak-injak oleh orang sekitarnya.
Sonia mengelap air mata Mauren. Dia tidak enak membuat Mauren menangis.
"Jangan menangis Kak! Kak Mauren sedang hamil jadi jangan sedih. Tidak baik untuk janin kakak," ucap Sonia.
"Kau sangat kuat Kak Son," jawab Mauren sambil memeluk Sonia dengan erat.
Sonia baru kali ini mendapat pelukan dari seseorang setelah kedatangannya di negara ini. Untung saja Mauren baik dan bisa diajak curhat. Bahkan Sonia disini merasa sedang tidak bekerja melainkan hanya bermain-main saja.
"Oh ya Kak Mauren mau makan apa?" tanya Sonia sambil melepas pelukannya.
"Emmm... tolong kupaskan mangganya Kak Son dan tolong ambilkan kecap sekalian di dapur. Aku ingin makan mangga dengan kecap," pinta Mauren.
"Kak Mauren makan sop nya dulu. Aku ambilkan piring ya, baru Kak Mauren bisa makan mangganya," ucap Sonia.
Mauren menganggukan kepala. Dengan sigap Sonia mengambil piring dan kecap di dapur. Mauren cukup beruntung jika Sonia ada disini. Dia bisa meminta bantuan Sonia mengambil apa yang ia mau dan tentunya ada teman mengobrol.
__ADS_1