
"Ayang, aku gak takut ancamanmu. Tau gak sih? panu dan kutil adalah anugerah terindah dari Tuhan," ucap Sera.
Asisten Kim tersenyum manis melihat wajah Sera yang sangat kesal. Sera terkejut karena baru kali ini Asisten Kim tersenyum ikhlas kepada Sera.
Sera langsung memeluk Asisten Kim, Asisten Kim langsung mendorongnya.
"Jangan peluk-peluk! Ingat aturan no..."
'Iya-iya, bawel banget sih," ucap Sera cemberut.
"Ayo kita keluar menghirup udara segar," ucap Asisten Kim.
Sera begitu nampak senang, ia sangat bersemangat lalu berganti pakaian. Sedangkan Asisten Kim hanya memakai celana jeans dan kaos biasa.
Sera memandang Asisten Kim, walaupun pakaian yang dikenakan sang suami biasa saja tetapi membuatnya terkesima.
"Jangan menatapku seperti itu!" ucap Asisten Kim.
Sera tersenyum, ini adalah pertama kalinya mereka keluar dari kamar setelah menikah.
Ketika keluar dari lorong hotel, Sera mencoba untuk menggandeng tangan Asisten Kim tetapi pria itu menepisnya.
Asisten Kim menunjukan sifat dinginnya. Dia memang tidak ingin disentuh oleh istrinya sendiri kecuali jika ia ingin sendiri disentuh Sera saat berada di kamar.
Walau kini mereka sedang berbulan madu tetapi terlihat Asisten Kim masih menyempatkan waktu untuk mengecek pekerjaan melalui ponselnya. Dia tidak ingin lepas dari tanggung jawabnya.
"Ayang, bisakah kau simpan ponselmu? Aku ada disini," ucap Sera.
Asisten Kim menghela nafas, ia segera menyimpan ponselnya di saku bajunya.
Sera tersenyum dan sangat berterima kasih dengan sang suami yang mau pengertian.
"Kita mau kemana?" tanya Sera.
"Kau akan tau sendiri"
ini orang nyebelin. Kapan dia akan benar menyukaiku?
Mereka lalu masuk mobil dan menuju ke pantai. Entah kenapa hari ini Asisten Kim ingin pergi ke pantai.
Dia menyetir mobil sendiri dan melajukan ke pantai terdekat dari hotel.
Satu jam kemudian, mereka sampai di pantai yang sangat sepi pengunjung.
Matahari begitu terik dan terasa menyengat di kulit.
Mereka keluar dari mobil dan berjalan melewati pasir putih yang sangat cantik.
Asisten Kim tepat berdiri di depan garis pantai sambil memandang ombak yang bergulung indah.
"Aku takut dengan laut?"
Apa? Seorang Asisten Kim takut dengan laut yang begitu indah?
"Hatiku menjadi sakit saat melihat laut. Banyak memori kelam saat aku berada di laut. Itu yang membuatku sangat takut dengan laut," sambung Asisten Kim.
Angin kencang menerpa rambut mereka. Gemuruh ombak menemani suara mereka yang terdengar pelan.
"Orang seperti ayang pernah mengalami trauma?" tanya Sera.
"Aku akan menceritakannya jika aku sudah siap," jawab Asisten Kim.
Sera menghela nafas, ia berjalan melangkah menuju dekat gulungan ombak. Dia lalu berjongkok dan bermain pasir.
"Apa aku benar istri ayang? Kenapa ayang bersifat seperti itu? Kenapa ayang menikahiku jika terpaksa?" ucap Sera.
"Maaf, Sera. Aku masih takut untuk menyukai seseorang setelah aku benar-benar kehilangan mereka. Aku akan mencoba menyukaimu," jawab Asisten Kim.
Sera mengaduk pasir dengan jemarinya sambil meneteskan air mata. Dia hanya ingin cintanya terbalas oleh orang yang ia cintai.
Tiba-tiba Asisten Kim menepuk bahu Sera. Sera mendongakan kepalanya kearah Asisten Kim yang berdiri di belakangnya.
"Maaf jika kau menjadi korban keegoisanku. Ku harap kita bisa melewati pernikahan kontrak ini. Apapun itu setelah kita berpisah semoga nanti kita masih bisa menjaga komunikasi dengan baik," ucap Asisten Kim.
Sean memang menyuruh mereka untuk melakukan pernikahan kontrak selama 2 tahun karena Asisten Kim sendiri pun tidak menyukai Sera. Dia hanya ingin menuruti surat wasiat Kakek Askar. Jika mereka selama 2 tahun saling menyukai dan saling menyayangi maka mereka boleh membatalkan surat kontrak itu dan hidup bersama seumur hidup mereka.
Sera berdiri, ia menghadap Asisten yang jauh lebih tunggi darinya. Dia menatap Asisten Kim dengan lembut. Mata mereka saling bertemu memandang satu sama lain.
"Cium aku! Cium aku dengan ikhlas!" pinta Sera.
"Jangan meminta yang aneh-aneh, Sera! Aku tidak bisa menciummu disini"
"Baiklah, tapi ayang harus berjanji untuk menyukaiku. Maaf ini terlalu kekanakan. Tapi aku sudah jadi istri ayang. Aku hanya ingin minta hakku untuk di cintai," ucap Sera.
Asisten Kim terdiam, jika ia menyukai satu gadis maka ia tidak akan sanggup untuk melupakannya. Dulu ia sangat menyukai Mauren tetapi ia bisa melupakan Mauren karena kehadiran Lili tetapi saat ia berpisah dengan Lili, ia malah belum bisa melupakan sang mantan pacar.
__ADS_1
Lili meminta putus karena Asisten Kim tidak punya banyak waktu dengannya. Lili hanya ingin Asisten Kim berhenti dari pekerjaannya yang berat itu.
"Ayang? Ayang kok melamun?" ucap Sera membuyarkan lamunan sang suami.
"Aku akan mencoba mencintaimu walaupun aku tidak yakin," ucap Asisten Kim.
Asisten Kim lalu berjalanan meninggalkan Sera yang mematung menatap punggungnya.
Sera tersenyum kecut lalu mengejar sang suami.
"Tunggu ayang! Kok pulang sih? Aku mau main pasir nih, jangan pulang dulu dong!" ucap Sera.
Tetapi tiba-tiba kaki Sera kesandung lalu ia terjatuh.
Kakinya seperti terkilir dan ia merasa kesakitan.
"Aaaaaaaaaah....," teriak Sera.
Asisten Kim membalikan badannya lalu ia melihat Sera kesakitan sambil duduk di pasir putih.
"Kau memakai cara konyol lagi untuk mendapat perhatianku?" ucap Asisten Kim.
Sera masih mengeluh kesakitan, ia memegangi kakinya yang terkilir.
"Ku hitung sampai 3 kau harus berdiri!" ucap Asisten Kim.
Sera tidak memperdulikan Asisten Kim. Dia tetap meringik kesakitan.
"Satu..."
Sera semakin kuat memegangi kakinya.
"Dua..."
"Aku beneran sakit, Yang," teriak Sera.
Asisten langsung berlari menghampiri Sera lalu melihat kaki Sera. Sera merintih kesakitan.
"Sakit, Yang," rintih Sera ketika Asisten Kim memijat kakinya.
"Kau tidak bercanda, Sera?" tanya Asisten Kim.
"Untuk apa aku bercanda?"
Asisten Kim langsung menggendong Sera, dia sangat khawatir dengan sang istri.
Aku rela kesakitan terus jika Ayang Kim khawatir seperti ini.
Aku suka jika ayang perhatian denganku.
Aku mencintaimu, Yang.
Asisten Kim meletakan Sera ke dalam mobil dengan hati-hati setelah itu ia membawa Sera ke rumah sakit terdekat.
Baru 3 hari menikah denganku sudah terluka. Jika Tuan Sean tahu pasti dia membunuhku. Batin Asisten Kim.
...****************...
5 tahun kemudian.
"Dale, jangan main di pinggir kolam renang! Sheren, cepat mandi sama papa!" ucap Mauren dengan memakai daster dan rambut yang di gulung seperti emak-emak.
Sedangkan Sean yang berada di dalam kamar mandi barusan keluar dari bertapanya.
"Oppa ngapain aja di kamar mandi? Lama sekali," ucap Mauren dengan mode monster.
"Sudah ku bilang 'kan sedang setor," jawab Sean.
"Cepat mandikan Sheren! Anakmu Dale malah main di pinggir kolam padahal sudah mandi," ucap Mauren.
Mauren yang dulu beda dengan yang sekarang. Sekarang cerewetnya minta ampun. Batin Sean.
Sean lalu memandikan Seina yang sudah berumur 6 tahun. Seina sangat cantik dengan rambut panjangnya.
Sean memandikan Seina yang termasuk susah untuk mandi. Seina selalu memberontak karena ia hanya ingin memainkan ponselnya.
"Huaaaa Papa... Sein gak mau mandi. Sein mau main game," ronta Seina ketika Sean berusaha mengangkatnya.
"Mana ponselnya biar Papa banting," jawab Sean marah.
Sedangkan disisi lain, Daleon juga meronta saat di gendong Mauren. Dia hanya ingin bermain air di kolam renang.
"Mama... Dale mau lenang," ronta Daleon.
__ADS_1
Kedua pasutri itu sibuk mengurusi anak-anaknya yang mulai bandel.
Sean cukup kesal, ia mengambil rotan untuk menakuti anak-anaknya.
"Mau mandi atau mau kena pukul? Dale, kau kesini! Kau sudah mandi jangan main air lagi," bentak Sean.
Seina dan Daleon terkejut, mereka berhenti meronta. Daleon lalu mau diangkat dari pinggir kolam sedangkan Seina berlari lalu bersembunyi di belakang mamanya.
"Mau kena pukul kalian? Dasar bandel!" ucap Sean.
"Ayo, Sheren mandi dulu sama Papa! Dale sudah mandi," ucap Mauren.
"Sheren mau mandi sama mama aja, Papa galak banget, Sheren takut," ucap Seina.
Mauren tersenyum, ia lalu menurunkan Daleon dari gendongannya dan menggandeng Seina untuk mandi bersamanya.
Sedangkan Daleon memalingkan wajah dari papanya. Dia sangat benci jika sang papa marah.
"Dale, ayo sarapan dulu!" ajak Sean.
"Dale gak mau. Papa nyeremin," jawab Daleon dengan wajah imutnya.
Sean mendekati Daleon lalu menggendongnya. Sebenarnya ia tidak ingin marah tapi anak-anaknya sendiri yang membuatnya harus marah.
"Dale, papa minta maaf," ucap Sean.
"Gak mau," jawab Daleon sambil mengerucutkan bibir.
Sean mengecup pipi Daleon tapi bocah itu mengelap bekas ciuman Sean di pipinya.
"Ya sudah, jika Dale marah maka Papa gak mau ajak Dale ke kebun binatang," ucap Sean.
"Dale juga gak tertarik ke kebun binatang"
Bocah itu turun dari gendongan Sean lalu naik ke atas tempat tidur dan mengambil ponsel. Dia bermain game perang dan bunuh-bunuhan membuat Sean mulai curiga dengan sifat Daleon.
Daleon suka sekali membunuh binatang kecil bahkan kucing kesayangan Mauren pernah di lempar ke kolam renang oleh Daleon.
Sean sangat menjaga kesehatan fisik maupun mental Daleon yang masih sangat kecil.
"Dale, kau tidak boleh bermain game itu. Kau main balap mobil saja, sini biar papa unduhkan," ucap Sean.
"Gak mau! Ini lebih seru"
Sean teringat ucapan dokter yang menangani Daleon. Daleon adalah anak khusus yang benar-benar harus diperhatikan ekstra dan berbahayanya lagi Daleon bisa menjadi seorang psycopat karena masih kecil saja ciri-cirinya sudah terlihat.
Sean sangat menjaga ucapannya ke Daleon karena pernah ia salah berucap Daleon langsung mengambil pisau dapur. Entah itu untuk apa, yang jelas Sean berhasil merebutnya.
Sean tiba-tiba merebut ponsel yang dimainkan Daleon membuat bocah itu terkejut.
"Papa jahat, Dale hampir membunuh orang itu," ucap Daleon kesal.
"Kau tidak boleh main ini lagi"
Dan di saat bersamaan, Mauren dan Seina keluar dari kamar mandi. Mereka sangat wangi karena menggunakan sabun termahal yang di belikan Sean.
Mauren mengeringkan rambut Seina dan memberinya parfum rambut.
Daleon mendekati mamanya dan ingin meminta gendong.
"Sebentar Dale, mama mau mengeringkan rambut kakak," ucap Mauren.
Daleon tidak memperdulikan ucapan mamanya. Dia menggelayuti leher Mauren.
"Sini Dale! Sama papa," ucap Sean.
Daleon memalingkan wajah membuat Sean menghela nafas.
Sean menghampirinya lalu menggelitiki tubuh Daleon. Daleon tertawa sambil meronta lalu Sean mengangkatnya dan menuju ke ranjang.
"Papa sayang Daleon, jangan bandel ya sayang!" ucap Sean.
Disisi lain,
Sonia sedang menyisir rambut Dylan yang sudah berumur 10 tahun.
Sonia memutuskan rujuk kembali kepada Reno dan menyelesaikan semua masalahnya di keluarganya.
CUP...
Sebuah kecupan tepat mengenai wajah Sonia. Reno mencium pipi Sonia lalu mengelus perut Sonia yang sudah membuncit akibat ulahnya.
"Ingin makan apa, sayang?" tanya Reno.
__ADS_1
"Tidak ada, aku hanya ingin berduaan. Apakah kau bisa libur untuk hari ini saja?"
Reno sejenak berpikir lalu mengiyakan. Dia akan selalu ada untuk Sonia. Dia ingin menebus kesalahan pada Sonia dan memulai hidup baru lagi.