
Keesokan harinya.
Mauren turun dari mobil, terlihat beberapa pegawai masih melirik sinis kearah Mauren. Tetapi ia tidak menggubrisnya, dia berjalan masuk ke gedung itu dengan ceria karena permasalahan dengan Asisten Kim telah selesai ia bisa bernafas lega.
Saat berjalan di lorong, Mauren bertemu dengan Daren. Pria itu melontarkan senyuman lantas Mauren juga membalas senyuman dengan lebar.
Tanpa di sadari Sean melihatnya, ia sangat cemburu dan sakit hati.
Sean segera berjalan menuju ruangannya dengan cepat.
Asisten Kim yang menyadari hal itu telah mendapat firasat buruk jika Mauren akan terkena hukuman lagi.
Sean telah duduk di kursi termahalnya sedangkan Asisten Kim berada di sebelahnya.
"Panggil Mauren dan Daren kesini! Awas saja mereka sudah melanggar aturanku," pinta Sean.
"Baik Tuan"
Asisten Kim segera menelpon ke ruangan Daren dan ruangan Mauren, ia menyuruh mereka datang ke ruangan Sean sekarang juga.
Masih pagi sudah di panggil ke ruangan Oppa. Ada apa ini? Batin Mauren.
Mauren berjalan semangat menuju ruangan Sean. Dia sudah membayangkan akan dimintai jatah oleh Sean. Entah kenapa akhir-akhir ini ia merasa ingin selalu dekat dengan sang suami lalu menghirup aroma parfum yang khas ala Sean.
Aku sudah mempelajari gaya baru.
Akan ku praktekan kepada Oppa.
Pasti dia akan berteriak oh nooo.. oh yes.... oh no.... oh yes.....
Hahaha.. pikiranku mesum sekali.
Tetapi ketika membuka pintu ruangan Sean, ia terkejut setelah tahu sudah ada Daren yang berdiri menghadap Sean.
Sean menatap Mauren dengan tajam, Mauren sudah merasakan atmosfer yang berbeda.
"Tuan memanggil saya?"
"Cepat berdiri di sebelah Daren!" ucap Sean dengan nada yang marah.
Mauren cukup terkejut dengan nada bicara Sean yang berbeda. Dia segera berjalan lalu berdiri di sebelah Daren.
Sean menatap mereka dengan instens sedangkan Asisten Kim masih di sebelah sang tuan.
"Apa kesalahan kalian?" tanya Sean.
Daren dan Mauren kebingungan, mereka merasa tidak memiliki kesalahan apa-apa.
"Dasar bodoh! Kesalahan sendiri saja tidak tau"
Mauren dan Daren kini saling berpandangan seolah bertanya lewat kode tentang kesalahan mereka tetapi justru membuat Sean sangat marah.
Braaaaak
Sean menggebrak meja membuat Mauren terkejut dan tidak sengaja mengumpat, "Bangs*t!" ucap Mauren.
Dia lalu menutup mulutnya dan tidak berani menatap Sean yang memelototinya.
"Kesalahan kami apa, Tuan?" tanya Daren yang berani.
"Kalian pura-pura beg* atau memang benar beg*? Kalian sudah melanggar aturan yang ku buat"
__ADS_1
Daren dan Mauren semakin kebingungan, jelas-jelas mereka tidak membuat kesalahan sedikitpun.
"Kenapa kau tersenyum dengan Mauren?" tanya Sean sambil menunjuk wajah Daren.
"Dan kenapa kau membalas senyuman Daren?" tanya Sean sambil menunjuk wajah Mauren.
Mereka semakin dibuat bingung. Lalu Asisten Kim menjelaskan jika salah satu aturan di perusahaan itu adalah tidak boleh saling melempar senyum sesama pegawai apalagi di depan Sean.
Aturan macam apa itu? Garing sekali hidup Oppa. Batin Mauren.
Bos ini sungguh sinting. Sedikit menyesal aku bekerja disini. Batin Daren.
"Aturan tidak masuk akal itu, Tuan," ucap Mauren protes.
"Ini perusahaanku. Jika tidak terima dengan semua aturan yang ada silahkan keluar dari perusahaan ini," jawab Sean tak kalah pedas.
"Maaf Tuan saya tidak akan mengulanginya lagi," ucap Daren.
Sean menatap tajam Daren lalu menyuruhnya keluar dari ruangan itu.
Daren berterima kasih lalu segera pergi dari ruangan aneh, ia bersyukur karena tidak mendapatkan hukuman dari sang tuan.
Sedangkan Mauren telah menduga ia akan mendapatkan hukuman lagi.
"Istri kurang ajar kau! Kau memang playgirl, Oren"
"Aku hanya punya satu mantan saja Oppa. Kenapa Oppa menyebutku playgirl?"
"Panggil aku Tuan!"
"Tapi Oppa memanggilku Oren"
"Menjawab lagi kau?" ucap Sean memelototi Mauren.
Sean lalu menyuruh Asisten Kim mengambil sebuah meja dan kursi lalu diletakkan di depan meja direktur Sean.
Lalu Asisten Kim juga meletakan sebuah buku besar dan sebuah bolpoin di atas meja.
"Keluar kau, Kim!"
"Baik, Tuan"
Mauren masih kebingungan lalu Sean menyuruh Mauren untuk duduk di kursi yang telah di siapkan.
"Tulis angka 1-1000 di buku tersebut jika sudah selesai ulangi dari awal lagi sampai buku itu penuh dengan tulisanmu," ucap Sean.
Mauren terkejut dengan hukuman sang suami yang kekanakan dan tidak masuk akal. Apalagi melihat bukit itu besar dan tebal, membayangkannya saja sudah mengerikan.
"Tuan, bagaimana hukumannya diganti dengan saya yang bergoyang di atas anda," goda Mauren sambil melepas 2 kancing paling atas miliknya.
"Tidak ada negosiasi kali ini"
Mauren berdecak, ia lalu menuruti perintah Sean. Dia menulis angka 1-1000 lalu mengulangi lagi sampai tangannya merasa pegal.
Dia melirik wajah Sean yang sangat tampan ketika sedang serius menatap layar laptop miliknya.
Oppa sangat tampan tapi bodoh.
Ada ya orang seperti Oppa?
Sampai Sean sadar jika Mauren memandangnya. Mereka saling bertatapan dan Mauren menunjukan senyuman termanisnya.
__ADS_1
"Apa kau lihat-lihat?" bentak Sean membuyarkan lamunan Mauren.
Mauren terkejut langsung menundukan kepalanya. Dia segera menulis kembali dengan serius. Detik demi detik terlewati, menit demi menit berganti sampai Sean berdiri lalu menghampiri Mauren membuat gadis itu terkejut.
Mauren segera menarik bukunya dan menyembunyikan di belakang badannya.
"Cepat berikan kepadaku!"
"Belum selesai Pak Guru," jawab Mauren dengan tersenyum.
"Cepat berikan! Atau gajimu bulan ini aku tunda"
Mauren menelan ludah, ia menyerahkan buku itu dengan terpaksa. Badannya mulai merinding seketika ketika Sean melihat tulisannya.
Pletaaak...
Sean menyentil telinga Mauren dengan keras. Mauren mengelusnya karena benar-benar kesakitan.
Sean membuka lembar selanjutnya, ia memandangnya dengan wajah marah.
"Berikan telingamu yang satunya!" ucap Sean.
"Tidak mau," jawab Mauren dengan menutupi kedua telinga dengan kedua tangannya.
"Akan ku tunda gaji mu bulan ini"
Mauren terkejut lalu dengan terpaksa ia memberikan telinga yang satunya. Dia memejamkan mata dan menunggu sentilan maut dari Sean.
Pletaaaak...
"Aaaww... sakit sekali," ringik Mauren sambil mengelus telinganya.
Mauren yang masih terduduk menggigit bibirnya kuat-kuat, ia ketakutan dengan kemarahan sang suami.
"Istri kurang ajar kau! Mana ada seorang istri yang mengatai suaminya seperti ini?" ucap Sean sambil melempar buku di meja Mauren.
Di buku yang di tulis Mauren harusnya gadis itu menulis bilangan angka yang disuruh Sean tetapi ia malah menulis ejekan untuk Sean.
Sean bodoh! Sean aneh. Sean konyol.
Sean tidak waras. Sean psikopat, Sean sinting. Sean si bos gila. Sean pintar tapi beg*. Sean si pemarah. Sean setres.
Sean menyebalkan. Sean gandul-gandul uye-uye.... Dan sebagainya.
Mauren menahan tawa sedangkan Sean sudah tidak tahan dengan tingkah Mauren.
"Cepat tulis dari awal lagi angka 1-1000! Jika kau tidak menulis itu gajimu akan ku tunda sampai bulan depan," gertak Sean.
Mauren berdecak lalu dengan sigap ia meraih bolpoin lalu menulisnya dari awal. Dia melirik Sean lagi tetapi Sean menatapnya juga, Mauren dengan cepat menundukan kepalanya.
Hahaha ku kerjai kau Oren.
Makanya jadi istri jangan kurang ajar kau.
Awas kau Oppa. Setelah ini aku akan berpura-pura pingsan.
______________________
***Dukung karya author dengan LIKE KOMEN RATE5 VOTE
PLISSS JANGAN PELIT YAAA...
__ADS_1
Dukungan kalian sangat berarti untuk semangat saya***...