Mendadak Menikah (Sean & Mauren)

Mendadak Menikah (Sean & Mauren)
Bab 105 : Kemarahan Tuan Sean 3


__ADS_3

Mauren dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan, ia juga diperiksa kandungannya supaya tahu bahwa kandungannya masih sehat atau tidak.


Sedangkan Sean dan Asisten Kim menunggu di luar, Sean sangat khawatir jika bayinya terjadi apa-apa.


Setengah jam kemudian, Sean dan Asisten Kim diperbolehkan masuk ke ruangan, ia melihat istrinya sudah tertidur dengan kaki yang diperban.


"Tuan Sean, kami sudah mengobati luka-luka Nona Mauren dan kakinya sedikit terkilir tetapi beberapa hari lagi pasti akan sembuh, kami juga sudah menyuntikan vitamin kedalam tubuhnya supaya bisa menjaga daya tahan tubuh Nona Mauren," ucap Dokter Ana.


"Tapi bagaimana dengan bayiku Dok? Apakah baik-baik saja?" tanya Sean penasaran


"Tuan Sean, mohon maaf...," ucap Dokter Ana.


Mendengar permintaan maaf dari Dokter Ana, perasaan Sean sudah tidak enak. Dia menduga ada kabar buruk tentang bayinya.


"Tuan Sean mohon maaf, bayi anda sudah tidak ada di rahim Nona Mauren dan untuk rahim Nona Mauren kini mengalami kerusakan akibat alat-alat aborsi dan kemungkinan Nona Mauren akan sulit untuk hamil lagi," jelas Dokter Ana.


Bagai malam hari tersambar petir, Sean sangat terkejut dan syok. Dadanya mendadak sakit, ia tidak bisa menerima fakta itu. Dia terjongkok sambil memegangi kepalanya, ia harus kehilangan bayinya dan terlebih lagi Mauren akan sulit untuk hamil lagi.


Asisten Kim memberi kode kepada Dokter Ana untuk keluar, Dokter Ana menganggukan kepala lalu melangkah keluar.


Asisten Kim mencoba membangunkan sang tuan, ia tidak tega dengan sang tuan yang sangat sedih dan terpukul.


"Bagaimana ini Kim? Kebahagiaanku dengan Oren sudah hilang, apalagi jika Oren tau pasti dia akan sangat terpukul," ucap Sean dengan nada sendu.


"Saya turut prihatin, Tuan. Saya selalu mendoakan yang terbaik untuk Tuan dan Nona Mauren"


Sean langsung berdiri, ia lalu meminta kunci mobilnya dari Asisten Kim. Asisten Kim sebenarnya tidak mau memberikannya tetapi dengan emosi sang tuan yang meledak-ledak ia langsung memberikannya.


"Jaga Orenku, Kim!" pinta Sean.


"Anda mau kemana, Tuan?" tanya Asisten Kim khawatir.


"Aku akan pergi ketempat yang seharusnya aku pergi," ucap Sean sambil memandang Mauren yang tengah tertidur.


Sean lalu mendekati Mauren, ia mencium kening gadis itu. Hanya Mauren yang menjadi penyemangatnya kali ini, ia tidak boleh mengalah begitu saja.


Setelah itu Sean berjalan menuju pintu, tiba-tiba langkahnya terhenti.


"Kau harus makan Kim, kau belum makan 'kan?" ucap Sean sambil menghentikan langkahnya.


"Nanti saya akan makan, Tuan. Tuan Sean juga harus makan"


"Aku sudah terlalu kenyang dan rasanya ingin muntah karena terlalu banyak menerima kenyataan pahit selama aku hidup di keluarga Adinata," ucap Sean tanpa ekspresi.


Sean lalu melanjutkan langkahnya, ia keluar dan berjalan menuju mobilnya yang terparkir di depan gedung rumah sakit. Dia segera melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, sungguh hari ini adalah hari tersedih dalam hidupnya.


Diruangan Mauren.


Setelah memastikan sang suami pergi, Mauren membuka matanya. Asisten Kim terkejut lalu menyangka jika Mauren mendengarkan percakapan mereka sedari tadi.


Asisten Kim mendekatinya dan tiba-tiba tangan Mauren menggenggam tangannya.

__ADS_1


"Hiks... hiks... hiks... Kak Kim, bawa aku keluar dari sini, hiks... hiks.... bawa aku pergi, aku sudah tidak kuat lagi. Mereka jahat, mereka membunuh bayiku, mereka kejam Kak Kim, hiks... hiks..."


"Nona, Tuan Sean akan menbereskannya, anda jangan khawatir! Semua akan baik-baik saja," ucap Asisten Kim.


"Aku tidak mau Kak Kim, aku sudah tidak baik-baik saja, aku tidak bisa hamil lagi, hiks... hiks... mereka sangat jahat, hiks... hiks... bawa aku pergi Kak Kim, aku ingin bercerai dengan Oppa, aku tidak mau menjadi istrinya lagi. Sakit sekali hatiku Kak Kim," ucap Mauren sambil menangis.


Asisten Kim mengusap air mata Mauren, ia menggenggam erat tangan Mauren dan mengatakan semuanya akan baik-baik saja dan Mauren masih bisa hamil lagi walaupun kemungkinannya sangat kecil.


"Aku ingin pulang Kak Kim, hiks... hiks... aku ingin pulang kerumah Bapakku, aku tidak mau disini, mereka sangat jahat, hiks... hiks..."


Tiba-tiba pintu terbuka yang ternyata Dokter Juna, ia melihat dari CCTV ruangannya jika Mauren terbangun dan menangis.


"Anda belum pulang Dokter?" tanya Asisten Kim.


"Karena ini sudah malam, Dokter Ana kusuruh pulang dan aku menggantikannya untuk menjaga Mauren. Dan Mauren kenapa sampai menangis sesegukan begitu?"


"Dokter Juna, ijinkan aku pulang Dok, aku tidak mau disini, hiks... hiks..."


"Kau masih sakit Mauren, tenangkan pikiranmu semuanya akan baik-baik saja. Sean sangat mencintaimu, dia akan melindungimu"


Dokter Juna lalu memberikan kata-kata motivasi dan penyemangat untuk Mauren membuat gadis itu sedikit tenang dan berhenti menangis. Matanya yang sembab membuat ia menjadi mengantuk, lalu Asisten Kim mengelus kening Mauren membuat gadis itu semakin mengantuk dan terlelap tidur.


Dia tertidur sambil menggenggam tangan Asisten Kim.


"Sean dimana Kim?" tanya Dokter Juna.


"Saya tidak tau, Dok"


"Saya sudah menyuruh para bodyguard untuk mengikutinya, Dok"


"Kasian sekali dia dan Mauren, aku sampai tidak tega melihatnya. Lihatlah Mauren tertidur sambil sesegukan begitu!" ucap Dokter Juna.


Asisten Kim memperhatikan wajah Mauren, ia melihat bulir air mata masih keluar dari pelupuk mata gadis itu.


Asisten Kim langsung mengusapnya, ia tidak tega melihat Mauren hidup menderita.


Andai saja aku saat itu melamarmu lebih cepat pasti kau tidak akan seperti ini Mauren. Tapi semua sudah terlambat dan tidak bisa disesali. Kini Tuan Sean yang akan melindungimu dan memperjuangkan cinta kalian.


Setelah itu Dokter Juna kembali keruangannya dan setelah memastikan Mauren tertidur, Asisten Kim pergi keluar untuk mencari makan dan meninggalkan Mauren sendirian di ruangan itu.


Hari ini melelahkan sekali. Batin Asisten Kim.


Setelah Asisten Kim pergi, Mauren membuka matanya. Dia berusaha untuk duduk, ia melirik sebuah vas bunga di meja dekat ranjang lalu ia mengambil vas itu.


Setelah mendapatkan vas itu, ia berusaha berdiri walaupun sangat sulit dan teramat sakit.


Dia harus berdiri dengan satu kaki, ia melangkah menuju cermin dengan cara berpegangan pada ranjang.


Mauren bisa melihat wajahnya yang pucat dan tidak punya semangat di depan cermin itu.


Tidak ada gunanya lagi untuk hidup. Semua orang membenciku.

__ADS_1


Mauren lalu melempar vas bunga ke arah cermin membuat vas bunga itu pecah lalu berhambur di lantai, sedangkan kaca itu retak, ia masih bisa memandang wajahnya di kaca yang sudah retak itu.


Mauren mengambil pecahan vas bunga yang cukup tajam, ia berusaha menyobek urat nadinya dengan pecahan itu tetapi tiba-tiba pintu terbuka yang ternyata Asisten Kim dan Dokter Juna.


Asisten Kim langsung merebut pecahan vas bunga itu dari tangan Mauren, tetapi gadis itu menggenggam erat pecahan itu membuat Asisten Kim mengerahkan semua tenaganya untuk merebutnya sampai tangannya robek cukup dalam karena terkena pecahan itu.


"Berikan padaku Mauren!"


"Tidak mau!" jawab Mauren berteriak.


Tangan Asisten Kim sudah berdarah-darah dan bukan tangannya saja tetapi tangan Mauren juga.


Dokter Juna lalu memegangi tubuh Mauren lalu membisikan sesuatu di telinganya.


"Ingatlah Bapak dan Ibumu, Mauren! Kau tidak kasian jika hidupmu berakhir seperti ini? Kau tidak kasian dengan Sean yang saat ini ia sedang memperjuangkan cinta kalian? Setidaknya kau harus kasian dengan mereka dan jangan bertindak gegabah seperti ini," ucap Dokter Juna.


Mauren lalu melepaskan pecahan vas itu, ia menangis sekeras mungkin. Asisten Kim lalu membuang pecahan vas itu, tangannya sudah berdarah-darah tetapi ia tidak memperdulikannya.


"Aku takut, mereka jahat," ucap Mauren menangis penuh ketakutan. Hatinya terasa sangat perih mengingat kejadian tadi yang menimpa dirinya dan bayinya.


"Mauren, tataplah mataku! Jangan pikirkan orang-orang jahat itu! Disini masih ada orang baik yang akan selalu menjagamu, kau tidak perlu khawatir, Mauren!" ucap Asisten Kim sambil mengusap air mata Mauren.


"Mereka membunuh bayiku dan merusak rahimku. Mereka sangat jahat, aku benci mereka," ucap Mauren semakin berteriak tidak terkontrol.


Sepertinya Mauren sudah sangat trauma, ia sampai menangis histeris.


Asisten Kim memeluknya dengan erat tetapi gadis itu memberontak.


Dokter Juna lalu mengerahkan para susternya untuk memegangi Mauren yang semakin memberontak hebat.


Dokter Juna lalu menyuntikan obat bius kedalam tubuh Mauren membuat gadis itu langsung pingsan dan tertidur.


Setelah itu Mauren di baringkan di ranjangnya dan tangannya yang terluka langsung diobati oleh suster.


"Ayo ikut aku ke ruanganku, Kim! Biar ku jahit telapak tanganmu. Jangan khawatir! Suster akan menjaga Mauren," ucap Dokter Juna.


Asisten Kim memandang wajah Mauren, ia begitu kasian dengannya. Dia berharap Sean akan segera kembali untuk menemani Mauren yang jiwanya tergoncang karena kehilangan bayinya.


Di ruangan Dokter Juna.


Dokter Juna menjahit telapak tangan Asisten Kim dengan hati-hati.


Asisten Kim sedari tadi hanya melamun dan tidak memperdulikan tangannya yang sedikit nyeri walaupun sudah di beri obat bius.


"Besok akan ku suruh psikiater untuk mengobati Mauren yang trauma. Gadis itu sepertinya sangat tertekan dan tergoncang jiwanya dan dimana Sean? Harusnya ia berada disini untuk menemani Mauren,"ucap Dokter Juna.


Asisten Kim tidak mendengarkan ucapan Dokter Juna, pikirannya masih memikirkan Mauren.


_________________________________


Bantu LIKE KOMEN RATE5 dan VOTE pada noveL ini...

__ADS_1


Supaya author makin semangat ngetiknya...


__ADS_2