
Pukul 7 malam.
Sean dan Asisten Kim menuju sebuah ballroom hotel untuk meeting mendadak. Mereka mengumpulkan beberapa klien untuk membahas sesuatu.
Nampak satu persatu klien datang lalu mereka duduk di kursi yang telah disiapkan.
Sean terduduk di sebuah kursi paling mewah dan dibelakangnya berdiri sang asisten setianya.
Meeting segera dimulai tanpa basa basi Sean membuka pembicaraan.
"Selamat malam. Terima kasih sudah datang pada meeting dadakan malam ini. Kalian semua pasti sudah bekerja sama dengan perusahaan Young Group cukup lama dan kalian sudah tahu sikap saya akan marah jika menyentuh milik saya," ucap Sean membuat para klien kebingungan.
Sean menjentikan jarinya, Asisten Kim mengangguk lalu memencet remot proyektor dan terlihat rekaman CCTV jika anak-anak mereka sedang mengeroyok seorang gadis.
Mereka kebingungan dan seolah bertanya-tanya mengapa bos besar mereka menunjukan rekaman tersebut.
"Itu bukti CCTV jika anak-anak kalian memulai pertengkaran dengan gadisku. Kalian asal menjebloskan gadis yang tidak bersalah padahal ia hanya membela dirinya. Mulai sekarang perhatikan anak-anak kalian dan jangan sampai menyentuh gadisku lagi," ucap Sean dengan sorot mata tak main-main.
Pada klien menelan ludah kasar, ia tidak tahu jika gadis itu adalah kekasih Arsean William.
Sean lalu berdiri dia melirik Asisten Kim.
"Kim. Cabut saham kita di perusahaan mereka! Putuskan kerjasama antara Young Group dan perusahaan mereka masing-masing. Itulah akibatnya jika menyentuh dan menyakiti milikku," ucap Sean menyeringai.
Para klien itu meminta maaf tetapi semua sudah terlambat karena mereka sudah menyakiti gadis kesayangan Sean.
"Aku masih baik meloloskan putri-putri kalian. Lain kali akan kupatahkan tangannya jika semena-mena lagi," sambung Sean sambil berjalan keluar dari ruangan itu.
Di dalam mobil.
"Apakah hukuman segitu saja cukup membuat mereka jera, Tuan?" tanya Asisten Kim sambil menyetir mobil.
"Jika tidak jera maka hancurkan perusahaan mereka sampai keakar-akarnya!" jawab Sean.
"Baik, Tuan"
Mereka kembali ke rumah sakit untuk menjemput Mauren yang mereka tinggal disana. Dalam perjalanan, ponsel Asisten Kim berbunyi ternyata dari Lili. Dia meminta izin kepada Sean untuk menghentikan mobilnya sebentar, Sean menganggukan kepala lalu Asisten Kim segera mengangkatnya.
"Hallo, Lili?"
"Aku ingin bertemu. Sudah pulang kerja 'kan?"
Asisten Kim melirik Sean, ia sangat bingung karena saat ini ia termasuk sedang bekerja.
"Maaf Lili. Nanti aku telpon lagi," ucap Asisten Kim sambil menutup telpon.
__ADS_1
Dia menghela nafas, di posisinya sekarang memang cukup membingungkan antara pekerjaan atau sang pacar.
Sean meliriknya, ia menepuk bahu Asisten Kim dan menyuruhnya untuk menemui sang pacar.
"Perempuan tidak suka menunggu, Kim.
Temui dia! Kau tidak ingat kisah cintamu dengan Mauren? Itu semua kesalahanmu karena terlalu mengentengkan perasaan perempuan," ucap Sean.
"Tapi masalah Tuan Sean lebih penting"
"Hari ini pekerjaanmu sudah selesai, kau boleh mengurusi kehidupan pribadimu," ucap Sean.
Kenapa anda begitu baik, Tuan? Batin Asisten Kim terharu.
"Kau naik taksi tidak apa-apa 'kan? Aku harus segera menjemput Oren," tanya Sean.
"Tidak apa-apa, Tuan. Hati-hati di jalan"
Sean segera melajukan mobilnya meninggalkan Asisten Kim dipinggir jalan. Setelah memastikan sang tuan pergi, ia mengambil ponselnya lalu menelpon seseorang setelah itu menuju ke suatu tempat.
Di suatu tempat.
Suara musik disko menggema, terlihat beberapa gadis tengah bermain kartu sambil tertawa riang. Ya... gadis itu adalah gadis yang mengkeroyok Mauren. Dengan wajah bonyok ia dengan santainya pergi ke tempat diskotik tanpa mengetahui keluarganya tengah kelimpungan karena kliennya yaitu Arsean William memutus kerja sama secara sepihak.
Braaaaak...
Semua gadis itu terkejut lalu menatap Asisten Kim yang tersenyum menyeringai.
"Siapa kau?" tanya salah satu gadis.
"Pulanglah gadis nakal! Keluargamu sedang mencarimu. Oh ya... jangan sentuh Nona Mauren lagi! Jika iya, tangan anda akan patah seperti kaki meja itu yang saya tendang barusan," ucap Asisten Kim tak main-main.
Asisten Kim melangkah menuju keluar tetapi tiba-tiba ada seseorang yang menarik bajunya dan memukul wajahnya. Asisten Kim bangun, ia melihat wajah yang memukul dirinya.
Seorang pria berusia 30 an lebih dengan postur tubuh berotot.
"Bajing*n! Bisa-bisanya kau mengancam pacarku," ucap pria itu.
"Nona, dia pacar anda? Haha... anda simpanan om-om?" ucap Asisten Kim mengejek.
Pria itu memukul Asisten Kim lagi tetapi Asisten Kim tidak membalas pukulan pria itu. Dia berdiri lalu menelpon seseorang sambil menatap tajam kearah pria itu.
"Hallo Pengacara Lee, anda punya tugas baru. Jebloskan orang yang memukuli ku sampai terluka ini, ya... aku akan segera melakukan visum. Anda urus berkas-berkas lainnya. Terima kasih," ucap Asisten Kim sambil tersenyum kearah pria itu.
Pria itu ketakutan, ia baru tersadar jika yang ia pukuli adalah seorang asisten dari perusahaan terkenal.
__ADS_1
Dia langsung bertekuk lutut dibawah kaki Asisten Kim.
"Kenapa semua orang bersujud kepada saya? Saya bukan Tuhan. Berdirilah! Selesaikan urusan anda dengan polisi nanti. Saya banyak urusan tidak hanya mengurusi kalian," ucap Asisten Kim sambil berjalan meninggalkan diskotik dan orang-orang disana hanya ternganga.
Setelah keluar dari diskotik. Asisten Kim naik taksi menuju rumah Lili. Dia mengirim pesan kepada Lili jika ia akan segera menuju ke rumahnya.
Di dalam taksi, ia memegang bibirnya yang terluka karena pukulan dari pria tadi. Perih yang dirasakan menyeruak disudut bibir dan seketika itu ia teringat luka Mauren disudut bibir yang sama dengannya.
Jika Tuan Sean melihat ini pasti ia menyangka jika luka ini couple.an dengan istrinya. Haha... lucu sekali Tuan Sean.
Sesampainya di depan rumah Lili. Asisten Kim menunggu di depan gerbang yang besar itu, ia menunggu Lili untuk keluar.
"Sayang? Kenapa dengan wajahmu?" tanya Lili terkejut melihat sang kekasih terluka pada wajahnya.
"Tidak apa-apa"
"Ayo masuk! Biar aku obati," ucap Lili sambil menggandeng tangan Asisten Kim untuk masuk ke rumah Lili yang sangat besar dan megah.
Baru pertama kali Asisten Kim masuk ke rumah Lili. Tak heran jika orang tua Lili kaya karena mereka memiliki tambang batu bara di pulau seberang. Lili adalah anak kedua dari 3 bersaudara. Kakaknya menjadi polisi dan adiknya sedang kuliah di universitas ternama.
"Sepi sekali Lili?" tanya Asisten Kim melihat sekeliling rumah sangat sepi.
"Orang tuaku dan kakakku sedang diluar kota dan adikku sedang ada di kamarnya. Sayang duduk dulu aku mau ambil kotak obat"
Asisten Kim menganggukan kepala, ia terduduk disofa lalu mengecek ponselnya siapa tahu ada telpon penting dari sang tuan.
Beberapa menit kemudian Lili datang, ia segera mengobati luka sang pacar dengan hati-hati.
"Tidak bisakah kau berhenti dari pekerjaanmu? Ayah ingin kau membantu untuk mengurus bisnisnya karena kakakku tidak mungkin melakukannya"
Asisten Kim terdiam, ia tersenyum lalu menggelengkan kepala.
"Kenapa? Berapa gajimu bekerja di perusahaan itu? Ku rasa jika kau mau mengurus bisnis Ayahku penghasilannya lebih jauh banyak saat kau bekerja untuk diktaktor itu," ucap Lili.
"Siapa yang kau maksud diktaktor?" tanya Asisten Kim dengan nada kesal.
Lili terdiam mendengar pertanyaan dari sang pacar yang menatap tajam kearahnya. Lili memalingkan wajah seketika Asisten Kim melunakan tatapannya karena tau jika gadis di depannya ketakutan.
"Apa yang kau pikirkan tentang Tuan Sean? Dia tidak seperti itu Lili. Oh ya Lili aku lapar, bisakah kau memasakkanku daging kecap seperti waktu itu?"
Lili tersenyum, ia menganggukan kepala lalu Asisten Kim memeluknya.
(Diktaktor adalah kepala pemerintahan yang mempunyai kekuasaan mutlak, biasanya diperoleh melalui kekerasan atau dengan cara yang tidak demokratis)
__ADS_1