
Namaku Mauren kasih, aku mungkin bisa di bilang adalah seorang cinderella.
Bertemu pangeran secara tidak sengaja lalu mendadak menikah. Aku dulu belum paham artinya sebuah pernikahan karena aku waktu itu baru saja lulus sekolah. Karena memang masalah patah hati dan keuangan aku mengiyakan ajakan seseorang untuk menikah.
Aku memang bukan pengingat wajah orang yang baik dan bahkan aku sering pelupa tetapi ketika pertemuan keduaku dengan pria itu aku sedikit mengingat jika orang itu yang pernah menembakku untuk berpacaran secara dadakan dengannya.
Aku sedikit memanfaatkan situasi, karena dia sangat tampan dan terlihat baik maka aku langsung menerima ajakan nikahnya.
Kami menikah secara sederhana di depan orang tuaku. Ya... aku masih mengingat kejadian itu, kejadian saat bapak marah karena pernikahanku yang tiba-tiba.
Karena aku mengaku hamil di depan bapak pada akhirnya bapak merestui kami dan menikahkan kami saat itu juga.
Aku tidak akan melupakan kejadian itu, sungguh aku juga tidak menduga jika pria yang ku nikahi adalah orang kaya.
Betapa beruntungnya diriku.
Sekarang di umurku yang sudah kepala 3 memiliki 3 orang anak.
Mereka bertiga selalu bertengkar membuat suasana hidup di keluarga kami.
Pov AUTHOR.
Seina kini sudah duduk di kelas 1 SMP, Daelon kelas 5 SD dan Navier masih duduk di bangku TK.
Mereka menjalani kehidupan seperti biasa. Mereka berangkat sekolah diantar supir mereka.
Daleon semakin besar semakin pendiam, ia bahkan jarang berbicara. Sedangkan Seina dan Navier sangat mirip dengan kedua orang tuanya.
Setelah sampai di sekolahan. Daleon turun dari mobil lalu berjalan masuk gedung sekolah yang sangat elit itu.
Daleon begitu terkenal di sekolahannya karena ia adalah anak dari seorang presdir terkenal.
"Daleon, aku punya coklat untukmu," ucap Krystal. Dia juga adalah siswi terkenal di sekolah itu, dia begitu menyukai Daleon tetapi Daleon selalu cuek kepadanya.
Daleon menerima coklat itu dan Krystal tersenyum senang tetapi tiba-tiba Daleon menjatuhkan coklat itu lalu menginjaknya di depan Krystal.
Krystal begitu terkejut sedangkan Daleon menatapnya datar.
"K--kenapa k--kau menginjaknya?" tanya Krystal hampir menangis.
"Aku menginjak apa yang harus aku injak," jawab Daleon datar.
BUAAAAK....
Daleon di pukul seseorang lalu tersungkur di lantai. Dia terbangun lalu mengusap bibirnya yang mengeluarkan darah. Dia tersenyum menyeringai dan berdiri.
Albert Zidane, dia anak bule yang menetap di kota itu. Dia adalah anak seorang gangster terkenal dan terkaya.
Albert memang tidak menyukai sifat Daleon yang sok cuek dan dingin, apalagi Albert menyukai Krystal tetapi malah gadis itu menyukai Daleon.
Daleon mendekat kearah Albert lalu memukulnya dengan kuat membuat Albert tersungkur di lantai.
Daleon langsung duduk di atas Albert yang tergeletak lalu memukulnya bertubi-tubi.
BUAK
BUAK
__ADS_1
BUAK
BUAK
Semua teman-temannya panik lalu memanggil guru untuk melerai mereka.
Daleon seolah tak terkendali dengan tersenyum menyeringai.
"Daleon, ku mohon hentikan!" ucap Krystal sambil menangis.
Beberapa menit kemudian seorang guru datang, beliau melerai mereka dan membawa ke ruang BK.
Kini Daleon dan Albert duduk bersebelahan di depan guru BK.
Daleon menunjukan wajah santainya.
Setengah jam kemudian Asisten Kim datang untuk mengurus putra sang tuan yang selalu bertengkar di sekolahan dan ayah Albert yaitu Louis juga ikut datang.
Louis sangat terkejut melihat putra kesayangannya babak belur dan Daleon hanya terluka kecil di sudut bibirnya.
"Terima kasih Pak Kim dan Pak Louis bisa datang. Bisa dilihat mereka sudah bertengkar yang ketiga kalinya dan kali ini tidak bisa di toleransi lagi. Mereka masih duduk di bangku sekolah dasar tetapi mereka selalu berkelahi dengan alasan yang tidak jelas," ucap guru BK.
Asisten Kim menghela nafas, ia melihat Daleon yang berwajah datar dan dingin lalu tak mempunyai rasa bersalah sedikitpun.
"Saya mewakili ayah dari Daleon memohon maaf sebesar-besarnya atas sikap keponakan saya terutama saya meminta maaf kepada Tuan Louis beserta putranya. Saya akan menanggung biaya rumah sakit putra anda, Tuan Louis," ucap Asisten Kim.
Louis tersenyum, ia begitu santai dan tidak terlihat marah. Sedangkan Albert menatap dendam kearah Daleon.
"Mohon maaf, kami sudah mendiskusikan bahwa putra kalian akan dikeluarkan dari sekolah karena kesalahan mereka tidak bisa di toleransi. Takutnya jika mereka mempengaruhi teman-temannya," ucap guru BK.
"Terima kasih telah mengeluarkanku dari sekolah laknat ini. Jasa ibu tidak akan pernah aku lupakan," ucap Daleon sambil tersenyum menyeringai lalu berjalan keluar dari ruangan itu.
Asisten Kim terkejut, dia segera meminta maaf. Guru BK hanya tersenyum, ia lalu memberikan rapor dan surat drop out milik Daleon.
Begitupun dengan Louis, ia juga mendapat raport dan surat drop out milik Albert.
Setelah menandatangani surat persetujuan surat itu mereka lalu keluar dari ruangan BK. Mereka berjalan beriringan. Asisten Kim meminta maaf berulang kali kepada Louis.
"Tuan Kim, anak laki-laki itu wajar jika bertengkar. Kau tidak perlu meminta maaf seperti itu dan lagipula anak saya yang memulai perkelahian itu," ucap Louis.
Louis adalah orang Inggris yang menetap di negara itu cukup lama. Dia adalah seorang mafia perdagangan senjata terbesar di negara itu. Bahkan ia memasok persenjataan sampai ke luar negeri untuk pertahanan negara-negara yang bekerja sama dengannya.
"Saya tetap merasa tidak enak, Tuan Louis. Oh ya ini kartu nama saya. Anda bisa menghubungi saya untuk biaya rumah sakit putra anda. Maaf saya hari ini terburu-buru jadi tidak bisa mengantar putra anda ke rumah sakit," ucap Asisten Kim sangat sopan.
Setelah memberikan kartu namanya, ia berpamitan pergi dan berjalan duluan untuk menyusul Daleon.
Louis menatap kesal sambil meremas kartu nama yang diberikan Asisten Kim.
Lalu Louis menatap Albert yang ada di sebelahnya.
"Stupid boy! Are you kidding me? Kau kalah dari putra Arsean banci yang selalu memakai asisten disetiap urusannya itu? Damn! Fucking *****!" ucap Louis sangat kesal.
"Sorry, dad. Dia sangat kuat"
"Kau anak seorang dari mafia kalah dengan anak dari seorang presdir banci itu? Dasar memalukan!" ucap Louis.
Disisi lain,
__ADS_1
Asisten Kim dan Daleon naik mobil.
Mereka menuju ke kantor Sean.
Sedari tadi Daleon terdiam. Asisten Kim menghela nafas.
"Tuan muda, saya sudah berulang kali bilang kepada anda. Jangan melakukan kekerasan pada teman anda! Saya melatih anda..."
"Cukup! Uncle bukan papaku. Jadi jangan sok menceramahiku," ucap Daleon dingin.
"Saya bicara sebagai guru beladiri anda. Keselamatan anda juga tanggung jawab saya," jawab Asisten Kim sambil menyetir mobil.
Daleon mendengus lalu mengambil earphone dan memakainya. Asisten Kim menghela nafas, sifat Daleon sangat berbeda sekali dengan Sean.
Sesampainya di kantor Sean.
Asisten Kim mengantar Daleon ke ruangan papanya dan menjelaskan jika Daleon di keluarkan oleh pihak sekolah.
Sean menatap tajam putra kesayangannya.
"Kau ingin jadi apa jika kau seperti ini, Dale?" ucap Sean.
Daleon lalu duduk di sofa sambil mengangkat kakinya di meja dan beberapa detik kemudian Ali datang masuk ke ruangan Sean. Hari ini Ali pulang cepat karena disekolahnya ada seorang guru yang meninggal.
"Sudah ayah bilang Ali. Ketuk pintu jika masuk ke ruangan Uncle Sean," ucap Asisten Kim kepada Ali.
Ali tidak mengindahkan ucapan sang ayah, ia memandang Daleon dengan jengah.
"Uncle Kim, tolong buatkan minum!" ucap Daleon dengan angkuhnya.
"Daleon, kau sangat keterlaluan. Kau tidak boleh seperti itu dengan orang tua," ucap Sean marah.
"Tidak papa Tuan Sean, Tuan muda Daleon adalah majikan saya. Saya akan membuatkan minum untuknya," ucap Asisten Kim.
Tetapi Ali mencegah sang ayah untuk membuatkan Daleon minum. Ali menatap kesal kearah Daleon.
"Ayahku bukan pembantumu. Kau punya tangan kenapa kau tidak membuat sendiri Tuan muda pemalas," ucap Ali dengan mengejek.
"ALI!" bentak Asisten Kim kepada anaknya.
Daleon tersenyum kecut, ia berdiri sambil membanting majalah yang dibacanya. Dia mendekati Ali lalu merapikan dasi sekolah Ali yang miring.
"Sunat dulu kau baru berani denganku, sunat pun belum berani bisa-bisanya berani memakiku," ucap Daleon sambil merapikan dasi Ali.
Ali menatap kesal kearah Daleon lalu Asisten Kim melerai mereka dan menyuruh Ali pulang ke rumah.
Sean menghela nafas, sifat Daleon semakin parah dan seperti berandal tidak bisa diatur.
Sean menyuruh mereka pulang dan menyuruh Asisten Kim untuk mencari guru privat untuk sekolah Daleon.
Satu jam kemudian.
Ali berlari menghampiri mamanya. Dia langsung menangis di pelukan sang mama.
"Mama, Al ingin sunat. Ayo sunat! Ali udah berani sunat," rengek bocah kelas 4 SD itu.
"Kok tiba-tiba berani sih?" tanya Sera bingung.
__ADS_1