
Keesokan harinya,
Hari ini jadwal Sean cukup senggang.
Sedari tadi ia hanya menandatangi proposal penting dan sebagainya.
Dia melirik foto yang ada di mejanya, terdapat foto keluarga kecilnya saat 5 tahun yang lalu.
Sean tersenyum, ia mengelus foto itu dengan jemarinya. Dia sudah sangat bahagia memiliki keluarga kecil.
Nanti sore ia akan berfoto keluarga dan pada akhirnya foto yang di atas meja kerjanya akan digantikan dengan foto yang baru.
Daleon, saat ini Sean memikirkan nasib Daleon. Sebenarnya tidak masalah jika Daleon tidak sekolah yang terpenting ia bisa sekolah bisnis dan jika sudah siap maka Daleon akan menjadi presdir menggantikannya. Tetapi Sean tidak ingin Daleon memiliki nasib yang sama dengannya. Sean harus kehilangan masa mudanya karena harus menjadi presdir di usia yang sangat muda.
Sean yang hampir berusia 40 tahun kini sudah merasa jenuh dengan pekerjaannya. Dia hanya ingin istirahat sambil menikmati masa tuanya.
"Tuan, mobil anda sudah siap," ucap Asisten Kim membuyarkan lamunan Sean.
Hari ini Sean akan menjenguk Albert di rumah sakit. Ini sebuah tanggung jawabnya. Dia datang ke rumah sakit sendirian dan menyuruh Asisten Kim mengurus perusahaan selagi dia tidak disana.
Sean diantar oleh sopirnya yang lain dalam perjalanan ia terdiam sambil melihat lalu lintas yang sangat ramai.
Sesampainya di rumah sakit, ia segera masuk dan menuju ruangan Albert.
Ketika masuk ke ruangan Albert, ia melihat Louis sedang mendongengkan putra kesayangannya.
"Maaf, aku mengganggu waktu anda," ucap Sean.
Louis membalikkan badannya lalu menyalami Sean.
Mereka sempat bertemu sekali saat pesta kapal pesiar beberapa tahun yang lalu.
"Albert, Uncle bawakan buah dan mainan untukmu," ucap Sean ramah.
"Thank you so much, Uncle"
Louis lalu menyuruh Sean duduk, Sean meminta maaf atas kesalahan Daleon kepada putra kesayangan Louis.
"Tidak apa-apa, Arsean. Anak laki-laki wajar saja jika berkelahi. Oh ya, kau datang sendirian? Dimana istrimu?" tanya Louis.
DAMN! What the hell? Kenapa aku malah menanyakan hal itu? Dasar Louis bodoh!
"Istriku ada di rumah. Kemarin dia kesini bersama Daleon 'kan?" tanya Sean.
Louis menganggukan kepala dan mengalihkan pembicaraan. Dia memang jatuh hati kepada Mauren tetapi ia sadar jika wanita itu adalah istri orang.
"Kau tidak sibuk? Ku dengar perusahaanmu terbesar di negara ini? Pasti sangat kewalahan mengurusnya," tanya Louis sok akrab.
"Ya, memang susah mengurus perusahaan sebesar itu tetapi di setiap kantor cabang kami pasti ada pemimpinnya. Jadi aku hanya mengurus apa yang mereka sudah kerjakan. Tapi bagaimana denganmu? Kau penguasa Klan Ortodox bahkan hampir beberapa negara bekerja sama denganmu untuk membuat senjata pertahanan mereka. Kau sangat hebat, Louis," ucap Sean.
"Itu tidak seberapa Sean, aku hanya melanjutkan bisnis kakekku. Aku bukan perintis dari awal. Oh ya, akhir pekan kau mau menembak bersamaku di hutan Evil milik keluargaku?"
"Aku tidak pernah menembak sebelumnya, tapi sepertinya menyenangkan. Kan ku tunggu akhir pekan nanti," jawab Sean.
Dan disinitulah awal persahabatan Louis seorang mafia terkenal dan Sean seorang presdir terhebat.
****
Seina si gadis ceria kini sedang terbengong dalam pelajaran matematika. Seina sangat bodoh dalam mata pelajaran matematika. Walaupun Sean sudah memberinya guru les tetapi Seina tak kunjung paham.
PLAAAK...
Sebuah penghapus melayang ke arahnya membuat dia terkejut. Teman-temannya asyik memandanginya.
Seina menatap guru yang ada di depannya.
"Jika tidak mau mengikuti pelajaran saya silahkan keluar!" ucap guru itu.
__ADS_1
Seina berdiri lalu meraih tasnya dan langsung keluar kelas tanpa berbicara.
Dia paling senang jika di suruh keluar dari kelas oleh guru matematika.
"Hallo Dale, kau dirumah? Temenin aku ke mall yuk," ucap Seina melalui panggilan telepon.
"Tidak," jawab Daleon singkat sambil menutup telponnya.
Seina berdecih lalu ia memanjat gedung pagar di sekolahan. Dia bolos sekolah hari ini dan memilih langsung pulang ke rumah.
Sesampainya di rumah ternyata sang mama tidak ada dan kemungkinan ia mengantar sekolah Navier.
Daleon sedang menonton TV di ruang keluarga. Seina langsung melepas seragam sekolahnya didepan Daleon.
Seina kini hanya menggunakan kaos singlet dan ****** ***** saja.
"Hari ini panas banget, sampe tubuhku ikut panas. AC nya gedein dong!" ucap Seina sambil mengikat rambutnya tinggi.
Daleon menatap jengah, ia menurunkan suhu AC supaya lebih dingin.
Seina duduk di lantai sambil memainkan ponselnya dan tiba-tiba sang papa datang sambil membawa makanan untuk Daleon.
"Seina! Sudah papa bilang jangan berpakaian seperti itu. Cepat pakai pakaianmu!" ucap Sean marah
"Tapi pa..."
"Kau sudah menstruasi, kau anak gadis tidak sopan memakai seperti itu. Kau bukan anak kecil lagi," ucap Sean.
Seina mendengus lalu masuk ke dalam kamarnya dan mengunci pintu takutnya Sean baru menyadari jika Seina jam segini tidak berada di sekolahan.
Sean mendekati Daleon lalu memberinya makanan.
"Makan dulu sayang. Setelah ini kita bersama-sama ke studio foto," ucap Sean.
Daleon segera memakan makanan yang di bawakan oleh Sean. Sedangkan Sean ikut duduk di sebelah Daleon.
"Papa jangan terlalu dekat dengan daddy Albert. Dia licik," ucap Daleon.
"Kami tidak sedekat itu, Papa tau mana teman mana musuh"
"Papa ayo berangkat! Mama udah nelpon, mama udah sampe di studio foto," ucap Seina yang sudah menggunakan dres cantik.
Sean menganggukan kepala, Sean menyuruh Daleon memakai jas lengkap. Daleon sempat menolak tetapi Sean tetap memaksanya.
Mereka bertiga lalu berangkat bersama-sama menuju studio foto. Daleon dan Sean sangat tampan, mereka sangat mirip. Seina pun tak kalah cantik apalagi dengan sedikit polesan di wajahnya.
"Kau berdandan, Sein?" tanya Sean di dalam mobil.
"Dikit pah, gapapa ya? Biar Sein terlihat cantik"
Sean mengacak rambut Seina dengan gemas, Seina cemberut sambil membenarkan rambutnya.
Setengah jam kemudian,
Mereka akhirnya sampai di studio. Terlihat Mauren dan Navier sudah berada disana. Navier sangat tampan dengan jas hitam beserta dasi kupu-kupu melekat di lehernya.
"Sudah lengkap, ayo kita mulai!" pinta Mauren.
Mereka masuk ke studio foto dan langsung diarahkan oleh fotografer profesional.
Berbagai pose mereka lalui dari berdiri sampai semua duduk di kursi. Sean begitu awet muda beserta Mauren. Walau sudah memiliki 3 anak mereka masih tetap sama seperti dulu.
CEKREK
CEKREK
CEKREK
__ADS_1
CEKREK
...----------------...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
2 Hari kemudian,
Malam hari,
Sean menggantungkan hasil foto didalam pigura besar di tembok ruang keluarganya. Dia tersenyum lalu mengelus foto itu.
Keluarga kecilnya sangat lengkap dan terlihat bahagia. Di dalam foto mereka nampak tersenyum manis.
"Oppa sayang," ucap Mauren sambil memeluk Sean dari belakang.
"Anak-anak sudah keluar?" tanya Sean.
Mauren menganggukan kepala.
Sean membalikan badan dan melihat sang istri mengenakan pakaian sangat seksi.
Sean lalu menggandeng Mauren menuju depan kolam renang. Terlihat lilin mengitari kolam renang itu dan di depan nya terdapat meja dibalut taplak merah beserta bunga mawar diatasnya.
"Apa ini tidak terlalu berlebihan, oppa?" tanya Mauren.
"Tidak"
Sean mempersilahkan sang istri duduk dan ia ikut duduk di seberangnya.
Sean menuangkan anggur merah di gelas istrinya dan mereka bersulang.
"Sudah 13 tahun kita bersama, kau tidak berubah sama sekali, Oren. Kau bertambah cantik," puji Sean.
"Oppa juga sama. Oppa semakin tampan"
Mereka saling berpandangan, cukup jarang mereka melakukan hal yang romantis ini.
"Anak terbesar kita yaitu Seina sudah 12 tahun, waktu terasa sangat cepat. Dia tumbuh seperti anak gadis lainnya. Dia sangat mirip denganmu, Oren," ucap Sean.
"Ya, waktu begitu cepat. Apalagi Daleon, ia bahkan tumbuh dengan pikiran dewasa sebelum waktunya. Aku khawatir dengan Daleon," jawab Mauren.
"Daleon baik-baik saja jika masih dalam pengawasan kita, kau jangan khawatir!"
Sean lalu mengeluarkan kotak perhiasan mewah, ia membukanya di depan sang istri. Mauren sangat terharu.
Sean lalu memakaian kalung mewah itu ke leher Mauren dengan hati-hati.
"Selamat ulang tahun pernikahan kita yang ke 13 tahun Oren sayang. Semoga rumah tangga kita selalu dipenuhi kebahagiaan dan selalu di beri keselamatan," ucap Sean sambil mengecup pipi Mauren.
"Terima kasih oppa sayang"
Sean tiba-tiba mencium bibir Mauren. Mauren tidak menolaknya. Mereka asyik menyesap lidah satu sama lain.
Sudah lama mereka tidak menikmati keromantisan ini. Sean lalu meraba semua lekuk tubuh sang istri, Mauren begitu menikmati sentuhan dari Sean.
Sean lalu menggendong Mauren. Dia menatap lekat wajah Mauren yang nampak malu.
"Mau pindah ke kamar atau disini saja sambil memandangi langit awan?" tanya Sean genit.
"Di kamar saja, oppa"
Sean tersenyum, ia berjalan menuju kamar mereka sambil menggendong Mauren. Sean membuka pintu lalu masuk ke dalam kamar dan menutup pintu dengan kaki.
BRAAAAK...
(Sean Mauren Selesai dan berlanjut pada Kisah kim di Bab 208)
__ADS_1