
Prolog.
"Oe... oe... oe.. oe... oe.."
Mauren yang sedang melewati jalan sepi sendirian mendengar suara tangisan yang tak asing. Bulu kuduknya merinding karena mendengar seperti suara bayi tetapi tidak ada wujudnya.
"Oeeee... oeeee..."
Suara tangisan itu semakin kencang membuat Mauren semakin penasaran.
Sebuah taman kosong nan gelap ia masuki, ada rasa sedikit takut tetapi ia urungkan. Dia penasaran dengan suara tangisan itu. Sampai ia melihat sebuah kota di dekat tempat sampah, Mauren sangat penasaran. Dia melangkah dengan hati-hati ke kotak itu, langkah demi langkah ia lalui sampai di depan kotak kardus tersebut matanya terbelalak.
Bayi yang masih terdapat ari-ari tersebut berada di dalam kotak tanpa baju Maupun selimut bahkan masih ada darah yang menempel dan bisa di perkirakan bayi itu baru lahir.
Mauren kebingungan. Dia lalu melepas jaketnya lalu menyelimuti bayi malang itu. Bayi itu semakin menangis kencang membuat Mauren tidak tega lalu membawa bayi itu dengan kotaknya.
Mauren berjalan sambil kebingungan, ia ingin mencari bantuan tetapi tidak ada seorang pun karena waktu sudah menunjukan pukul 11 malam dan ponselnya mati. Sedangkan Sean menunggu di apartemen sampai ia ketiduran.
Ya... Mauren selesai reuni dengan teman sekolahnya. Dia berangkat naik taksi tetapi sialnya ponselnya mati menjadi tidak bisa menghubungi sang suami untuk menjemputnya.
Tempat reuninya berada di rumah temannya. Dan saat pulang, ia melewati taman terbengkalai dan menemukan bayi perempuan yang malang.
Saat sudah mendapat taksi, sang sopir kebingungan karena penumpangnya membawa bayi dalam kardus membuat pria itu curiga.
"Itu anak mbaknya?"
"Bukan pak, saya menemukan bayi ini saat pulang dari rumah teman saya"
"Kenapa tidak lapor polisi mbak?"
"Ini saya mau ke bidan dulu, kasian pak. Pusar ari-arinya juga belum lepas. Tega sekali yang membuangnya"
"Mbak, ini sudah jam 11 malam lebih, bidan sudah tutup," ucap supir itu.
Mauren semakin kebingungan, ia teringat dokter Ana. Dia lalu menyuruh Dokter Ana untuk datang ke apartemennya untuk memotong tali ari-ari bayi tersebut.
"Pak, antar saya ke apartemen X ya! Saya bawa bayi ini ke rumah saya saja," pinta Mauren.
"Baik mbak"
Setelah sampai di depan gedung apartemen, Mauren segera membayar ongkos taksi tersebut lalu masuk ke gedung apartemen dengan membawa bayi tersebut.
__ADS_1
Setelah masuk ke apartemen, Sean terlihat tertidur dengan posisi menggenggam ponsel. Mauren tidak ingin membangunkannya lalu membawa bayi yang sudah terlelap itu ke dalam kamar mandi. Mauren mengambil handuk yang sudah diberi air hangat lalu mengusapkannya ke tubuh bayi itu dengan penuh hati-hati supaya darah itu bisa hilang.
"Kasian sekali orang yang sudah membuangmu, aku jadi teringat dengan diriku yang dibuang oleh mama," ucap Mauren sambil menangis.
Bayi itu sangat cantik dengan bulu mata lentik dan rambut kepala yang tebal. Kulitnya juga sangat putih dan hidungnya mancung.
"Nah, sudah bersih. Sekarang tinggal menunggu dokter Ana datang"
Bayi itu sekarang sudah bersih, ia tidur sangat pulas karena kelelahan menangis. Mauren yang masih di dalam kamar mandi berpikir bagaimana berbicara dengan sang suami.
Beberapa menit kemudian, Dokter Ana datang. Dia sebelumnya sudah diberitahu oleh Mauren jika Mauren menemukan bayi yang masih menempel tali ari-arinya.
Mauren membawa bayi itu dengan hati-hati ke ruang tamu. Dokter Ana segera memotong tali pusarnya dengan hati-hati lalu memeriksa keadaan bayi itu.
"Bayi ini di perkirakan baru lahir beberapa jam yang lalu dan keadaannya sehat. Lebih baik besok di bawa ke rumah sakit untuk pemeriksaan lebih lanjut. Oh ya Tuan Sean tidak tahu bayi ini?" tanya Dokter Ana.
"Belum tahu, dia sudah tidur"
"Yasudah nona, lebih baik anda memberikan susu formula dulu dan membeli perlengkapan bayi jika anda ingin merawatnya malam ini. Kasian, pasti bayi ini kedinginan," ucap Dokter Ana.
Setelah itu dokter Ana berpamitan pulang dan Mauren semakin kebingungan. Mauren lalu meletakan bayi yang masih di balut jaketnya di sebelah Sean yang tertidur pulas.
Mauren lalu membeli keperluan bayi di minimarket depan yang buka 24 jam.
10 menit kemudian.
"Oeeee... oeeee... oeeee.... oeeee...."
Bayi itu menangis kencang, Sean yang tertidur pulas terkejut lalu terduduk sambil menatap bayi yang berada di sebelahnya.
"Oeeee... oe.... oeeeee...."
Sean mengucek matanya, ia seolah tidak percaya pada yang ia lihat.
"Kenapa ada bayi? Bayi siapa ini?" tanya Sean. "Hoi kau bayi, datang dari mana kau?" sambung Sean.
Tangisan bayi itu semakin kencang membuat Sean semakin bingung. Dia menelpon sang asisten untuk datang ke apartemennya.
Sean berdiri dari tempat tidurnya, ia memegang dagu sambil memikirkan hal tak masuk akal ini. Dia lalu teringat dengan Mauren yang belum pulang.
"Istri kurang ajar, jam 12 juga belum pulang. Keluyuran kemana saja dia?" ucap Sean kesal.
__ADS_1
Tiba-tiba pintu apartemen terbuka yang ternyata Mauren dan Asisten Kim datang bersamaan. Mauren terkejut melihat bayi manis itu menangis kencang.
Dia lalu meletakan barang yang di belinya dan menggendong bayi tersebut.
"Cupp... sayang..."
Sean dan Asisten Kim kebingungan.
"Bayi siapa itu?" tanya Sean.
"Oppa, bantu aku buatkan susu. Kasian, pasti bayi ini lapar," ucap Mauren sambil menimang bayi tersebut.
"Bayi siapa itu Mauren?" ucap Sean membentak.
"Kak Kim, tolong buatkan susu! Ada di dalam tas plastik itu. 2 sendok saja dan beri air hangat dalam dotnya," pinta Mauren tidak mendengarkan pertanyaan Sean.
Asisten Kim segera membuatkan susu sedangkan Mauren mencoba menimang bayi malang itu.
Sean masih kebingungan.
Setelah susu buatan Asisten Kim datang, Mauren segera meminumkannya pada bayi tersebut dan benar saja belum ada 2 menit susu itu habis, kemungkinan bayi itu kelaparan.
"Bayi siapa itu, Oren?" tanya Sean.
"Sssst... jangan keras-keras Oppa! Dia sudah bobok. Aku menemukannya saat pulang, dia masih berlumuran darah dan tali ari-arinya masih menempel. Aku tidak tega lalu membawanya pulang," jelas Mauren sambil menidurkan sang bayi di ranjang.
Sean mengusap kepalanya, ia lalu menyuruh sang asisten untuk mencari keberadaan orang tua bayi ini. Asisten Kim menganggukan kepala lalu kembali ke kamarnya mengingat malam sudah semakin larut.
Sean terduduk di ranjang melihat sang istri tengah memakaikan pakaian pada bayi itu.
"Sudah kau tidur Oren! Kita bahas bayi ini besok," ucap Sean sambil merebahkan dirinya membelakangi bayi itu.
Mauren memandangi wajah bayi mungil itu, ia lalu merebahkan dirinya di samping bayi itu.
"Kasian sekali kau bayi, orang tuamu tega membuangmu," batin Mauren.
DI BAB INI AUTHOR KECOLONGAN...
HARUSNYA BELUM UPDATE...
__ADS_1
KARENA YG SUDAH DI UP TIDAK BISA DI HAPUS MAKA ANGGAP SAJA INI PROLOG SEASON 2...
HARI-HARI BESOK MASIH LIBUR ALIAS BELUM UPDATE LAGI.