
"Mauren. Maafkan mama! Mama sudah jahat denganmu," ucap Mama.
"Kata maaf sudah tidak berarti. Mama memang sengaja membuangku bahkan mama sudah tahu keberadaanku tetapi mama tidak menemuiku. Mama memang sengaja?" ucap Mauren sambil terisak.
Mama memeluk Mauren, ia sungguh meminta maaf atas perlakuan tidak adil kepada anaknya itu. Tetapi Mauren melepas pelukan itu, ia sangat marah kepada sang mama.
"Maafkan mama sayang, mama juga akan membantumu caranya untuk bisa hamil lagi. Mama mempunyai kenalan dokter kandungan yang terbaik untuk program hamilmu," ucap Mama.
"Tidak perlu. Urus diri mama sendiri! Mama juga sudah mempunyai anak yang cantik," ucap Mauren sambil memandang Manisha.
Mauren berjalan menuju tangga, ia turun ke lantai satu dan keluar dari butik itu. Tetapi pandangannya tertuju pada Sean yang sudah berada di dalam butik seolah menunggunya.
"Oppa?"
"Sudah bertemu ibu kandungmu, Oren?"
Delia ikut turun ke lantai satu bersama Manisha. Dia terkejut ketika Arsean William datang ke butiknya. Sean berjalan ke arah ibu mertuanya untuk memberi salam tetapi langsung dicegah oleh Mauren.
"Kenapa, Oren?"
"Ayo pulang, Oppa!"
Sean kebingungan, ia langsung keluar bersama Mauren. Para pegawai yang kebingungan segera bekerja kembali sebelum mendapat amukan dari Delia.
Delia sambil menitikan air mata mengejar Mauren yang akan masuk mobil. Delia menarik tangan Mauren lalu memeluknya lagi. Dia sangat menyesal akan perbuatannya. Perbuatan yang tidak tanggung jawab bahkan ia kini seolah menutup mata tentang Mauren padahal masih di sekitarnya.
"Maafkan mama! Maafkan mama! Maafkan mama!" ucap Delia.
Sean yang akan masuk mobil mengurungkan niatnya dan memandangi mereka. Mauren ingin marah semarah-marahnya tetapi ia tidak sanggup seperti itu mengingat Delia adalah ibu kandungnya.
"Maafkan mama! Mama menyesal Mauren. Pasti kehidupanmu sangat berat selama ini," ucap Mama sambil mengelus rambut Mauren.
"Aku sayang mama," jawab Mauren.
Sean sangat terharu, ia jadi teringat dengan Arkan. Mauren dan Arkan mempunyai nasib yang sama yaitu sama-sama tidak diinginkan tetapi yang membedakan Mauren masih mempunyai orang tua asuh yang menyayanginya sedangkan Arkan harus berjuang sendiri setelah sang mama meninggal dan keluarga Adinata mengusirnya.
"Ehem... maaf menggangu momen kalian. Tapi ku sarankan kalian melakukan tes DNA," ucap Sean.
Delia melepaskan pelukannya lalu menganggukan kepala pertanda setuju untuk melakukan tes DNA.
"Yaudah ma.. aku mau pulang. Sampai jumpa di pernikahanku," ucap Mauren.
"Tunggu Mauren! Kau tinggal dimana sekarang?"
"Aku tinggal di apartemen X lantai teratas"
Delia menganggukan kepala lalu Mauren mencium pipi sang mama sebelum pulang. Delia juga terlihat mencium kening Mauren. Dia tidak menyangka Mauren tumbuh sangat cantik dan baik.
"Mama akan datang ke pesta pernikahanmu dan semoga saja kau setelah ini bisa hamil lagi. Doa mama menyertaimu," ucap Delia.
Setelah itu Mauren masuk mobil, Delia masih memandangi putrinya. Dia melambaikan tangan kepada Mauren.
"Hati-hati Mauren!"
Mauren juga membalas lambaian sang mama.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di dalam kamar apartemen, Mauren memandangi gaun pengantinnya yang sebanyak 3 buah. Dia tidak sabar untuk segera memakainya. Sedangkan Sean terlihat memainkan ponselnya, ia menghubungi Arkan untuk menyuruh datang ke apartemennya.
"Oppa?"
"Apa?"
"Gaunku apakah bagus, Oppa?"
"Kau sudah bertanya 7 kali dalam hari ini. Sekali lagi kau bertanya dapat payung kau," jawab Sean.
Mauren berdecih, ia lalu memegang gaun favoritnya dan menghadapkan ke kaca.
"Oren?"
"Oi"
__ADS_1
"Dipanggil suami mu begitukah jawabanmu?" tanya Sean kesal.
"Ada apa Arsean yang tampan?"
"Coba kau telpon bapak ibumu. Kata Kim baju pesta mereka sudah dikirim ke rumah," pinta Sean.
Mauren mengambil ponselnya. Dia menelpon kedua orang tuanya untuk memastikan apakah jas mahal dan baju kebaya mahal sudah sampai di rumahnya.
"Sudah sampai mak?" tanya Mauren dari panggilan telepon.
"Sudah Mauren. Apa ini tidak terlalu mahal?"
"Tidak mak. Itu pemberian dari menantu emak yang tampan. Bapak dan emak harus memakai itu saat hari pernikahan kami," jawab Mauren.
Setelah itu Mauren juga menceritakan tentang pertemuannya dengan ibu kandungnya. Ibu Mauren sedikit takut jika Mauren akan melupakannya karena sudah menemukan ibu kandungnya.
"Emak dan bapak tetap orang tuaku. Kalian yang membesarkanku dan aku tidak mungkin bisa melupakan kalian," ucap Mauren. "Oh iya mak. Sean sudah menyelesaikan perkara hutang bapak dan emak. Jadi kalian tidak perlu membayar hutang lagi," sambung Mauren.
"Kenapa begitu Mauren? Hutang adalah hutang dan harus di bayar"
"Tenang saja mak. Menantu emak yang super duper tampan ini sudah membayarnya sampai lunas," ucap Mauren sambil melirik Sean.
Sean tersenyum kearah Mauren. Hatinya terasa diterbangkan setinggi langit karena merasa menjadi pahlawan bagi sang mertuanya.
Setelah itu Mauren mengakhiri telponnya lalu ikut tidur bersama Sean.
"Banyak hal yang sudah kita lewati, Oren," ucap Sean sambil memainkan rambut Mauren.
"Iya Oppa. Tapi aku masih belum bisa memberikanmu anak"
"Kita saja baru 3 bulan menikah. Masih banyak waktu untuk kau bisa hamil lagi," jawab Sean menghibur Mauren.
Mauren membenamkan wajahnya ke ketek Sean. Dia merasakan kenyamanan yang luar biasa. Sean mengelus rambut sang istri dan menciuminya. Mereka saling mencintai dan menyayangi. Mauren yang awalnya iseng menerima tawaran menikah Sean kini seolah terjebak dalam cinta yang begitu dalam.
"Oh ya Oren. Kau ingin lihat dekor gedung pernikahan kita?" tanya Sean.
"Mau Oppa"
Sean mengambil ponselnya lalu melihatkan video dan foto yang dikirim Mama Sean. Mauren sangat terkejut. Betapa mewahnya dekor pernikahannya.
"Benar, ingat saat kita makan siang di lantai 404 yang fenomenal itu?" tanya Sean.
"Ingat Oppa"
"Disitulah kita akan menyelenggarakan pernikahan"
"Tapi orang-orang biasa seperti teman-temanku apa bisa masuk?" tanya Mauren.
"Bisa saja asal mempunyai undangan pernikahan kita"
Wow... Oppa terniat sekali. Ku pikir dia sangat pelit. Oppa sungguh keren. Aku semakin mencintaimu Oppa.
Dalam obrolan mereka tiba-tiba seseorang mengetuk pintu apartemen. Sean menyangka jika Arkan yang datang, dia lantas membukakan pintu untuk adik tirinya.
Arkan di persilahkan masuk terlihat rambutnya sudah di cat hitam membuat dirinya semakin mirip dengan Sean.
Mereka duduk di depan kolam renang, Arkan sedikit canggung karena untuk pertama kali ia singgah di rumah sang kakak yang selalu membencinya.
"Bengkel semakin ramai?" tanya Sean basa-basi.
"Iya bang. Sangat ramai sampai aku menambah karyawan lagi," jawab Arkan sambil tersenyum.
"Baguslah. Oh ya aku mengundangmu kesini untuk menawarimu pekerjaan," ucap Sean.
Arkan mengerutkan dahi seolah kebingungan dengan ucapan Sean.
"Kau mau jadi manajer di perusahaanku? Perusahaanku sudah bergonta-ganti manajer dan tidak ada yang pas. Bagaimana jika kau menjadi manajernya?" tanya Sean.
"Tapi bang. Aku tidak paham masalah bisnis punya abang. Lagi pula aku harus mengurus bengkel," jawab Arkan.
"Kau bisa belajar dulu selama 3 bulan dan untuk masalah bengkel akan diurus orang lain," ucap Sean.
Arkan lalu berdiri, ia akan memikirkannya setelah sampai di rumah. Arkan berpamitan pulang tetapi Sean mencegahnya.
__ADS_1
"Makanlah dulu disini! Istriku masak enak," ucap Sean.
Arkan setuju lalu Sean mengajaknya ke meja makan. Disana sudah tersedia lontong opor buatan Mauren. Entah kenapa Sean ingin makan lontong opor buatan sang istri.
Mauren memotongkan lontong untuk mereka dan mengambilkan opor di piring mereka. Setelah itu mereka mulai menyantap lontong opor yang lezat itu.
"Makanlah yang banyak! Ini buatanku lho," ucap Mauren dengan bangganya.
"Iya benar, abang juga yang merebus lontongnya sendiri. Sialan... sampai mata abang perih karena meniup arang selama 5 jam," ucap Sean sangat bangga.
CEO ngrebus lontong? Hebat bener nih abang. Batin Arkan.
Mereka memakan dengan lahap, Sean sangat senang ternyata Mauren pandai memasak. Dia juga menyuruh Mauren menyiapkan makan malam setiap Sean pulang kerja. Sean lebih ingin makan masakan dari sang istri ketimbang chef handal yang berada di apartemennya.
"Kita dapat rekor Oppa. Merebus lontong di ketinggian apartemen mewah pakai arang pula," ucap Mauren.
"Hahaha... mau bagaimana lagi? Tidak mungkin di parkiran 'kan?"
Keluarga ini somplak bener. Ngrebus lontong di kompor 'kan bisa. Batin Arkan.
Tiba-tiba ponsel Mauren berbunyi ternyata dari Delia. Delia ternyata sudah ada dibawah menunggu Mauren. Mauren membungkuskan opor dan lontong untuk mamanya setelah itu ia turun menemui sang mama yang menunggu di lobi.
"Mauren?" ucap Mama sambil memeluk Mauren.
"Mama 'kan bisa naik ke lantai teratas"
"Aku tidak enak dengan Tuan Sean. Oh ya mama mau memberikanmu pakaian. Ini baru datang dari Korea. Mama habis bongkar di butik lalu teringat anak mama yang cantik ini," ucap Delia sambil memberikan papper bag untuk Mauren.
"Kenapa tidak mama berikan ke anak perempuan mama yang itu," tanya Mauren sambil menerima papper bag.
"Manisha sudah sering mama kasih dan ini khusus untukmu"
Mauren tersenyum lalu mengajak duduk di sofa dekat lobi dan memesan minuman untuk mereka berdua. Delia masih ingin melihat Mauren sampai ia rela datang malam-malam ke apartemen Mauren.
"Gaun pernikahanmu sudah ada?" tanya Mama.
"Aku sudah ada 3 ma..."
"Sayang sekali. Mama ingin memberikan mu sebuah gaun pernikahan yang sangat indah. Maukah kau memakainya Mauren? Walau hanya sebentar di pernikahanmu nanti," pinta Delia.
Sambil minum jus Mauren berpikir, ia menatap Delia yang sepertinya sangat menyayanginya. Tetapi seketika teringat bayangan akan Delia membuangnya membuat Mauren masih kecewa.
"Berikan pada Manisha saja!"
Dengan ekspresi sedih Mama menghela nafas, ia tahu jika Mauren pasti sangat iri dengan Manisha.
"Jika kau tidak mau tidak apa-apa. Memang mama yang salah tapi kau tidak ingin menanyakan keberadaan papamu?"
"Untuk apa? Papa lebih jahat di banding mama. Papa tidak bertanggung jawab atas kehamilan mama lalu akhirnya mama membuangku," jawab Mauren.
Delia terdiam, ia menyadari jika mereka berdua sangat berdosa dengan Mauren.
"Ma.. aku masak lontong opor. Ini untuk mama dan Manisha. Ma... pulanglah! Ini sudah malam"
Delia menitikan air mata lalu memeluk Mauren. Mauren membalas pelukannya.
Delia berjalan ke luar gedung itu tetapi ucapan Mauren menghentikan langkahnya.
"Besok aku mau ke butik untuk mencoba gaun dari mama," ucap Mauren.
"Datanglah sayang, mama akan menunggumu," ucap Delia terharu.
_____________
Hai hai... bab 150 adalah final episode season 1...
Jika kalian tidak mau novel ini tamat maka VOTE LIKE KOMEN sebanyak-banyaknya....
Author juga bikin chat story tentang trio somplak Sean, Kim, Juna...
Terus untuk cerita Kim gimana thor?
__ADS_1
Lihat dulu.. jika di MANGATOON memungkinkan untuk update bakal ku pindah di apk tersebut.. tetapi mengingat apk itu selalu bikin kecewa jadi masih ku pending dulu.... Kalian bisa baca di youtube dulu.