
"Ayo kita pulang Oren sayang, sudah diobati 'kan?" ucap Sean.
"Sudah, Oppa," jawab Mauren turun dari ranjang.
Mereka lalu keluar dari rumah sakit dan pulang ke apartemen. Sean menyetir mobil sambil melirik Mauren yang termenung. Sean merasa kasian dengan nasib gadisnya yang selalu sial akibat dirinya.
"Kau butuh bodyguard Oren, aku akan carikan bodyguard untukmu. Supaya melindungimu jika ingin bepergian," ucap Sean.
"Tidak perlu Oppa. Hari-hariku hanya bekerja dan di apartemen saja. Tidak perlu bodyguard"
"Jika kejadian seperti tadi terulang lagi bagaimana? Aku mempunyai teman yang jago beladiri. Dia bisa menjadi bodyguardmu"
Mauren menganggukan kepala seolah pasrah karena saking mengantuknya.
Dia lalu menyandarkan kepalanya di kursi dan terlelap menuju ke alam mimpi.
**
Di kantor milik presdir Young Group telah berdiri seorang yang sangat tampan sedang berbincang dengan Sean. Dialah yang akan menjadi bodyguard Mauren sekaligus melatih Mauren untuk bela diri.
Mauren membuka pintu lalu matanya terbelalak melihat ketampanan pria itu.
"Sini Oren! Perkenalkan dia Dasha yang akan menjadi bodyguard sekaligus pelatihmu. Setiap akhir pekan dia akan mengajarimu karate," ucap Sean.
Hahaha... jika bodyguardnya tampan seperti ini siapa yang akan menolak? Batin Mauren senang.
"Tapi aku tidak butuh bodyguard. Tetapi jika Tuan Dasha mau mengajariku karate tidak apa-apa"
"Panggil saya Dasha saja! Walaupun anda tidak membutuhkan saya setiap hari saya akan siap siaga menjadi pengawal anda. Saya juga akan mengajari anda karate," ucap Dasha.
Mauren menganggukan kepala, ia lalu menaruh berkas di meja dan berpamitan keluar. Setelah itu Sean mengobrol dengan temannya itu. Mereka dulunya adalah teman SMP dan bisa dibilang cukup dekat. Karena Dasha dipercaya oleh Sean untuk mengurus bisnisnya di luar negeri membuat mereka berpisah beberapa tahun dan kini Dasha pulang untuk menjadi guru karate Mauren.
"Kenapa tidak Kim saja yang mengajari pacarmu itu? Dia juga pandai bela diri," tanya Dasha.
Sean menyeruput kopinya, kopi yang tidak terlalu manis itu melewati tenggorokan yang kering akibat sedari tadi mereka bercengkrama.
"Pekerjaan Kim sudah banyak, kasian jika dia melakukan hal ini itu tanpa kenal lelah," ucap Sean sambil meletakan secangkir kopi di meja. "Oh ya Dasha, bagaimana malam ini kita bermain biliyard?" sambung Sean.
"Boleh juga"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sean, Mauren dan Asisten Kim menuju ke sebuah bengkel yang direkomendasikan Valto, mereka terkejut jika bengkel tersebut adalah milik Arkan.
Setelah memarkirkan motornya, mereka masuk kedalam bengkel dan disambut antusias oleh Arkan.
"Abang kesini juga? Aku tidak menyangka jika abang akan kesini," ucap Arkan senang.
"Aku mau service motor karena akan kubawa touring besok sabtu," jawab Sean.
Arkan menganggukan kepala, ia menyuruh pegawainya untuk membawa masuk kedua motor itu lalu segera mengecek dan memberi perawatan pada motor itu.
Arkan menyuruh mereka bertiga duduk di sofa lalu membuatkan minuman.
"Tidak usah, Arkan. Kami sudah minum tadi," ucap Sean.
Arkan menganggukan kepala, ia lalu ikut duduk bersama mereka bertiga.
Mauren memperhatikan wajah Arkan, ia begitu mirip dengan Sean.
"Abang mau touring dimana?" tanya Arkan basa-basi.
__ADS_1
"Keliling kota sebelah saja, kami mau ke tempat wisata baru dan sempat viral. Kau mau ikut?"
"Ah tidak bang. Aku harus mengurus bengkel"
Sean memperhatikan sekelilingnya memang bengkel tersebut ramai berkat bantuannya yang mengiklankan di internet secara diam-diam.
Bengkel itu sangat rapi dan bersih apalagi Sean tahu jika sang adik gila akan kebersihan.
"Ada apa dengan rambutmu? Kau tidak bisa mencat hitam lagi?" tanya Sean merasa risih dengan warna rambut Arkan yang sangat pirang.
"Jangan dengarkan, Oppaku! Bagus kok warna rambut Kak Arkan," ucap Mauren.
"Bagus apanya? Seperti sapu ijuk begitu"
Sean dan Mauren lalu beradu mulut karena berbeda pendapat, Arkan lalu melerainya dan mengatakan akan mencat rambutnya menjadi hitam kembali.
"Jika kau ingin kuanggap adikku, maka penuhi semua aturanku," ucap Sean.
"Baik, bang"
"Aku boleh lihat tempat tinggalmu?" tanya Sean.
"Ayo bang! Ada dilantai atas," ucap Arkan.
Arkan mengajak Sean untuk ke lantai dua. Dia menjelaskan jika ia tinggal di lantai dua baru beberapa bulan dan sebelumnya ia ngekos disekitar bengkel.
Karena bengkelnya sempat di bobol kawanan rampok membuatnya harus tinggal dilantai dua.
Di lantai dua sangat bersih dan nyaman terdapat kamar beserta ruang tamu.
"Kau tidak pakai AC?" tanya Sean.
"Tidak, bang"
"Jika hujan tidak bocor?"
"Bocor bang dan memang belum sempat diperbaiki"
Sean mengeluarkan sebuah kartu kredit dan ia berikan kepada Arkan, Arkan hanya menatap kartu itu tanpa menerimanya.
"Belilah AC dan perbaiki atapnya! Sisanya terserah kau mau pakai apa. Oh ya dan belilah pakaian bagus karena bulan depan ulang tahun Young Group, aku akan memperkenalkan mu kepada publik jika kau adikku," ucap Sean memaksa Arkan untuk menerima kartu tersebut.
"Tapi bang...."
"Tidak ada tapi-tapian. Sudah ayo kebawah! Aku tidak ingin meninggalkan Oren bersama Kim. Bisa berbahaya," ucap Sean.
Setelah menunggu selama 2 jam, motor ninja Sean dan Asisten Kim sudah selesai di service. Sean meminta nota pembayaran tetapi Arkan seolah menolaknya dan ia tidak ingin dibayar sepeserpun.
"Oh.. baguslah jika begitu. Jika gratis motorku akan ku service tiap bulan disini," ucap Sean sambil memasukan uang kedalam dompetnya kembali.
"Cih... Oppa tidak tau malu. Biasanya orang akan basa-basi dulu, ini malah seolah senang jika tidak membayar," ucap Mauren.
"Jiaaah... dia yang bilang tidak mau dibayar kenapa aku yang harus repot-repot memaksa?" jawab Sean santai.
Pelit sekali Oppaku.
Setelah itu Sean dan kawan-kawan berpamitan pulang mengembalikan motor. Memang Sean hari ini meluangkan waktunya setelah makan siang untuk memperbaiki motornya sebelum touring nanti.
Mauren lalu naik keatas motor membonceng Sean, mereka lalu pergi meninggalkan bengkel.
"Oppa 'kan bisa menyuruh orang untuk menservice motor Oppa. Kenapa Oppa membuat capek diri Oppa sendiri harus bolak balik ke kantor," ucap Mauren diatas motor.
__ADS_1
"Jika aku pergi sendiri dan melakukannya sendiri berarti aku memang ingin keluar dan merasa jenuh di kantor"
Kasian sekali hidup Oppaku. Batin Mauren.
Dalam suasana siang yang cukup terik, mereka berada diatas motor sambil bercengkrama supaya tidak bosan.
Mauren nampak menikmati ketika dibonceng Sean, ia lebih suka naik motor ketimbang naik mobil.
Sedangkan Asisten Kim berada di belakang mereka melihat keromantisan pasangan aneh itu.
"Oppa itu ada kedai es krim. Aku mau makan es krim Oppa," ucap Mauren.
"Baiklah," jawab Sean sambil menepikan motornya dan diikuti Asisten Kim dibelakangnya.
Mauren segera memesan es krim favoritnya dan untuk Sean dan Asisten Kim. Mereka berdua yang sudah duduk dikursi menjadi pusat perhatian karena ketampanan mereka.
Mauren merasa cemburu, ia duduk diantara kedua pria tampan itu.
"Mana es krimnya?" tanya Sean.
"Nanti diantar"
"Tuan Sean. Dokter Juna akan ikut touring bersama kita," ucap Asisten Kim.
"Mau naik motor dengan siapa si Junaedi?"
"Dengan saya, Tuan"
Sean menganggukan kepala lalu beberapa menit kemudian pesanan mereka datang. Mereka langsung melahapnya, rasa dingin dan lumer dimulut membuat pikiran mereka seketika tenang. Memang nikmat makan es krim di siang yang terik ini.
"Oppa?"
"Apa kau?"
"Terus jika saat touring nanti aku kebelet pipis di jalan bagaimana?" tanya Mauren sambil menjilati sendok es krim miliknya.
"Kau tinggal pipis di semak-semak. Gitu aja kok repot," jawab Sean.
"Terus jika Oppa kebelet pipis bagaimana?"
"Pipis di kamar mandi umumlah"
"Cih... curang sekali. Terus jika aku kebelet e'ek bagaimana Oppa?"
"Jiaaaah... sinting kau! Masih makan es krim sempat-sempatnya tanya begituan," ucap Sean sambil membanting sendok kedalam mangkuk es krimnya.
Asisten Kim dan Mauren menahan tawa, sedangkan Sean melirik es krim capucino milik Asisten Kim.
"Kim? Es krim yang kau makan mirip seperti e'ek kuda yang aku injak kemarin," ucap Sean membuat Asisten Kim menghentikan makannya.
Kenapa pasangan aneh ini sama-sama jorok dan menjijikan? Batin Asisten Kim merasa mual.
Kini Sean dan Asisten Kim menghentikan makannya sedangkan Mauren masih lahap memakan es krim itu.
"Kau perempuan tidak ada jijiknya?" ucap Sean merasa heran.
"Apanya yang jijik? Ini es krim enak kok, jika Oppa dan Kak Kim tidak mau biar aku makan saja milik kalian," jawab Mauren sambil mengambil mangkuk milik mereka.
Sean melirik sang istri yang makan dengan lahap, ia menggelengkan kepalanya seolah heran dengan Mauren bisa menghabiskan 3 mangkuk es krim.
"Jika touring nanti jangan rewel kau, Oren!" ucap Sean.
__ADS_1
"Siap bos!"