Mendadak Menikah (Sean & Mauren)

Mendadak Menikah (Sean & Mauren)
Bab 145 : Touring 7 ( Burung )


__ADS_3

"Huh... kalian berisik sekali," ucap Mauren yang terbangun dari tidurnya.


Sean langsung mencium kepala Mauren, ia khawatir jika Mauren terjadi apa-apa.


Sedangkan Dokter Juna mengelus dada Asisten Kim untuk menyabarkannya.


"Apaan sih dok?" protes Asisten Kim.


Mauren lalu melihat sekitarnya hanya pepohonan gelap dan disekitarnya ada 3 tampan tapi aneh yang sedang memperhatikannya.


"Kenapa kita tidak melanjutkan perjalanan?" tanya Mauren.


"Kita tersesat Oren," jawab Sean.


"Oooooh tersesat," ucap Mauren lalu bersandar pada dada Sean yang nampak biasa saja.


Hawa semakin mencekam dan dingin membuat bulu kuduk mereka berdiri. Apalagi perut yang kosong membuat mereka semakin takut kelaparan.


Mereka kini terdiam menahan rasa lapar dan waktu sudah menunjukan pukul 7 malam.


"Kalian tidak ada yang membawa makanan?" tanya Dokter Juna yang merasa perutnya keroncongan.


Sean dan Asisten Kim menggelengkan kepala sedangkan Mauren mengambil tasnya lalu mengambil sesuatu dari dalam tas.


Mauren mengeluarkan beberapa snack dan roti sobek yang cukup besar lalu tidak lupa sebotol air putih besar ia keluarkan.


"Makanlah! Setidaknya mengganjal perut kita," ucap Mauren.


"Mauren, kau tidak boleh mengkonsumsi makanan micin seperti ini," ucap Dokter Juna sambil membuka dan melahap makanan ringan itu.


"Kenapa kau makan pe'ak?" ucap Sean ketus.


"Terpaksa... hehe"


"Cih..."


Mereka lalu memakan makanan yang dibawa Mauren dan mereka minum air putih secara bergantian. Rasa lapar mereka kini berkurang dan mereka kini bisa bernafas lega.


Dokter Juna memperhatikan Sean dan Mauren, ia penasaran dengan awal pertemuan mereka.


"Kalian bertemu pertama kali dimana?" tanya Dokter Juna.


Sean dan Mauren saling memandang lalu melempar senyum.


"Kita pertama kali bertemu saat di rumah Valto," jawab Mauren.


"Mana ada? Kita bertemu pertama kali saat kau masih kecil dan ingusan. Ketika itu kau menangis mencari bapak ibumu dan kau ku gendong malah ingusmu menempel di baju mahalku," ucap Sean.


Mauren mengerutkan dahi, ia tidak mengingat kejadian itu sama sekali.


"Mulut Oppa jika mengarang pandai sekali," ucap Mauren.


"Kau tidak ingat Oren pertemuan pertama kita?"

__ADS_1


"Itu tidak penting," jawab Mauren santai sambil mengunyah makanan.


Sean menarik kepala Mauren untuk menghadap wajahnya. Dia tidak menyangka jika Mauren tidak mengingatnya.


"Kau tidak ingat hari yang sangat indah itu Mauren, aku sangat kecewa," ucap Sean sedih.


Mauren menepis tangan Sean lalu melahap roti sobek tanpa rasa berdosa. Sedangkan Sean merasa sedih, ia tidak menyangka jika Mauren melupakan hari spesial itu.


"Jadi Sean dengan Kim lebih duluan mana bertemu denganmu, Mauren?" tanya Dokter Juna.


"Lebih duluan Kak Kim"


DEG


Jantung Sean merasa sakit, ia memalingkan wajah karena saking kesalnya. Sedangkan Asisten Kim mencoba menghibur Sean tetapi Sean seolah tak acuh kepadanya.


Hawa semakin dingin, jangkrik semakin berkerik menyaut satu sama lain dan terlihat lampu motor milik Asisten Kim semakin redup pertanda aki mulai habis.


Dia mematikan lampu motornya lalu suasana menjadi sangat gelap.


Seketika Mauren mengambil lampu badainya yang ia keluarkan dari dalam tas.


"Hebat sekali kau Mauren membawa begituan. Kau bawa powerbank juga?" tanya Dokter Juna.


Mauren lalu mengeluarkan powerbanknya dan memberikan kepada Dokter Juna.


"Tidak ada kabelnya?"


"Sebentar dokter kucarikan di tas dulu"


Tapi...


Plooook...


Mata mereka berempat terfokus pada benda kotak ungu. Sean, Dokter Juna dan Asisten Kim memandangi Mauren.


"Kalian ini bagaimana? Sedang program hamil malah memakai kndm," ucap Dokter Juna.


"Ini bukan punyaku," ucap Mauren.


"Wah... kau berbahaya Oren. Dengan siapa kau nganu-nganu di belakangku? Pasti salah satu dari kalian," tanya Sean sambil melihat kedua temannya.


"Oppa, kenapa oppa bilang seperti itu? Ini bukan punyaku," ucap Mauren hampir menangis karena di tuduh Sean.


"Tapi itu di tasmu," bentak Sean.


"Sean, kau tidak boleh membentak istrimu!" ucap Dokter Juna.


Mauren terdiam, ia takut jika Sean salah paham dengannya. Padahal ia memang tidak membawa alat kontrasepsi itu.


Sean tersenyum, ia memeluk Mauren dan meminta maaf.


"Itu punyaku," ucap Sean akhirnya mengaku.

__ADS_1


"Untuk apa, Sean?" tanya Dokter Juna.


"Haha.. seperti tidak tau saja kau"


Sean dan Dokter Juna tertawa sedangkan Asisten Kim hanya diam menyimak karena belum pernah merasakan seperti itu sebelumnya.


Langit terlihat sangat cerah, burung hantu mulai terdengar membuat kegalauan hati Dokter Juna bertambah. Dia teringat akan pernikahannya akan kandas seminggu lagi. Rasa sakit hati terasa jika mengingat akan hal itu membuatnya gundah gulana lalu ia menyanyikan sebuah lagu.


"Di depan orang tuamu kau permainkan aku.... kau bandingkan aku dengan pria itu .... kau hina diriku... kau banggakan pria itu... kasihku sadar diriku tak sempurna..." ucap Dokter Juna menyanyi dan sangat sedih mengingat Anita berselihkuh di belakangnya.


"Hei Juna, lagunya bukan seperti itu," ucap Sean lalu mulai bernyanyi.


"Di depan orang tuamu kau mainkan burungku... Kau bandingkan burungku dengan burung pria itu... Kau hina burungku... kau banggakan burung dia... kasih ku sadar burungku tak besar..." balas Sean dengan menyanyi nyeleneh.


Dokter Juna mengerutkan dahi sedangkan Mauren tertawa terbahak-bahak mendengar nyanyian Sean. Dia tertawa sampai jingkrak-jingkrak. Sungguh mengocok perut nyanyian sang suami yang konyol. Sedangkan Asisten Kim menahan tawa.


"Sialan kau, Sean!" ucap Dokter Juna.


"Benarkan jika Kak Anita menceraikanmu karena itu? Hahaha...," jawab Sean sambil tertawa.


"Ketimbang kau disunat saja menangis," ejek Dokter Juna tidak mau kalah.


"Eh... masalah sunat menyunat. Kau sunat, Kim?" tanya Sean penasaran.


"Kalian berdua tidak malu membahas begituan di depan Nona Mauren?" ucap Asisten Kim.


Mauren masih terlihat tertawa karena mengingat nyanyian konyol itu sampai Dokter Juna heran.


"Senang sekali kau Mauren ketika membahas itu. Bagaimana punya Sean besar? Jika kurang besar ayok sama abang Juna," goda Dokter Juna.


"Sialan kau, Juna! Ku kasih balsam baru tau rasa kau," jawab Sean tidak terima.


Mauren lalu memeluk Sean, besar kecil tidak masalah yang terpenting uangnya. Itu prinsip hidup Nyonya Mauren.


Dokter Juna berdecih melihat pasangan yang selalu romantis di depannya sampai ia merasa muak.


"Sudahlah kita lanjut perjalanan lagi, sudah 2 jam lebih kita berhenti," ajak Dokter Juna.


Mereka pun setuju lalu melanjutkan perjalanan mereka. Mereka mengikuti naluri mereka walau jalanan semakin tak di kenalinya. Jalanan sangat gelap, pepohonan yang rindang saat siang hari justru kini sangat menyeramkan di malam hari yang gelap ini.


Sedari tadi mereka merapal doa menurut keyakinan mereka.


Jalanan berkelok, lurus, naik, turun mereka sudah tempuh tetapi mereka tak kunjung keluar dari hutan itu sampai mereka menemukan sebuah warung yang berada dekat tikungan curam. Mereka lalu berhenti.


"Ditengah hutan begini ada warung?" tanya Mauren heran.


"Kita lanjut perjalanan saja, warung itu sangat mencurigakan. Bagaimana di tengah hutan ini ada warung itupun hanya satu dan bagaimana listrik bisa sampai di warung itu padahal kanan kirinya hanya pepohonan," ucap Asisten Kim mulai takut.


"Bagaimana kalian ini? Sudahlah jangan berpikiran aneh-aneh! Ayo kita mampir minum kopi atau makan dulu! Perutku lapar," ucap Dokter Juna langsung berjalan kearah warung itu.


Sean hanya terdiam memandang warung tersebut, ia juga curiga jika warung itu bukan warung dunianya melainkan warung dunia lain.


Bersambung...

__ADS_1


"""""""


Pliss komen like votenya dong....


__ADS_2